Wanita misterius Zein

1075 Words
Zein semakin hari semakin bucin saja pada Chaerin. Bahkan, kemanapun Zein dinas, Chaerin selalu di bawa. “Wah, sekretaris mu saat ini berkelas, ya. Beda dengan yang biasanya, bahkan aku pikir kamu itu hanya menyukai sesama jenis saja.” Zein kali ini berada di Sidney menghadiri pesta persatuan para taipan seluruh Asia. “Jangan menggodaku, dia spesial. Bahkan jika Hendra memohon ikut ke sini, aku tetap membawanya.” Kata Zein belum mengakui Chaerin sebagai istrinya. “Sebegitu spesialnya sekretaris ini. Apa sudah pernah kamu pakai?” candaan kali ini terasa sangat tidak berfaedah. Zein hanya tersenyum dan segera mengajaknya pergi dengan cara memanggil salah satu kenalannya. “Jeremy....” siapa yang tidak kenal dengan Jeremy? Pengusaha muda yang baru saja mengukuhkan powernya dengan menikahi putri perdana Mentri di negaranya? Penerus tunggal dari perusahaan besar di Korea yang bergerak di bidang real estate. Pernikahan yang di sebut-sebut sebagai pengalihan rumor. Membuat lelaki itu terlihat jauh lebih dewasa. “Oh, Zein. Apa kabar?” pandangan Jeremy terkunci pada satu sosok di samping orang yang menyapanya. “Hei, Kim Chaerin. Apa kabarmu?” Kehidupan Chaerin memang sudah terbilang sangat bahagia sekarang. Tapi, Jeremy adalah cinta pertamanya yang selama bertahun-tahun menjadi tumpuannya, berakhir dengan pengkhianatan. Ingatan Chaerin hampir di d******i dengan kenangan buruk di akhir cerita mereka berdua. Air mata Chaerin menetes begitu saja tanpa ia kehendaki. Jeremy merasa bangga sudah membuat seorang Kim Chaerin yang terkenal angkuh itu menjadi seperti sekarang ini. Padahal yang di pikir Chaerin sangat berbanding terbalik dengan pikiran Jeremy. “Ayolah mantan kekasihku, jangan menangis di depan atasanmu. Aku jadi tidak enak begini, apa pikiran atasanmu sekarang? Aku sudah bahagia dengan istriku sekarang.” Senyum mengejek dan suara di buat sekeras mungkin, Jeremy terlihat seperti seorang lelaki setia pada istrinya. Chaerin bingung, tapi itu tidak bertahan lama. Sampai akhirnya dia mengumpulkan ketenangan dan kekuatannya untuk menjawab mantan kekasihnya. “Ya, aku menangis bahagia sekarang. Apa kamu tidak lihat senyumanku? Aku bahkan berterima kasih padamu saat itu. Kalau tidak karena kamu, aku tidak akan tau siapa kekasihku dulunya dan siapa orang yang aku pikir sahabat.” Chaerin menghapus air matanya dan tetap tersenyum mengeratkan pegangannya pada lengan Zein. “Terima kasih banyak sudah membuat perusahaan keluargaku goyah saat itu. Kalau tidak, aku tidak akan pernah bertemu dengan suamiku, Zein. Perkenalkan, dia suamiku.” Chaerin merasa puas saat ini bisa membalas Jeremy. Melihat gadisnya begitu pemberani, Zein tidak sungkan untuk mengulurkan tangan untuk menyalami kembali kenalan yang baru di kenal Zein setahun belakangan. “Zein Akbar Anggara, suami sah Kim Chaerin Akbar Anggara.” Semua mata tertuju pada empat orang yang ada di tengah perjamuan. Mereka berempat seakan menjadi bintang pada malam hari ini, terutama Chaerin. Dengan arogansi dan keangkuhannya memukul balik serangan mantan pacar yang masih merasa menang darinya. “Oh iya, ini. Istrimu, kan? Aku tidak menyangka kalau kamu membuang begitu saja sahabatku yang kau gadang-gadang sebagai cinta sejatimu. Aku kok jadi berpikir, ya. Apa jangan-jangan.... Rumor itu benar? Kasihan sekali istrimu. Eonni, dulu dia juga mengatakan akulah cintanya, akulah belahan jiwanya. Tapi dia berselingkuh dengan artis yang berada di naungan agensiku. Dia juga sahabat yang aku kenalkan pada kekasihku dulu yang menjadi suamimu sekarang.” “Aku sarankan, hati-hati. Aku dengar, selingkuh itu bukan penyakit melainkan kebiasaan.” Senyum penuh kemenangan, Chaerin menggandeng Zein yang bangga pada istrinya itu. Orang yang tadi menganggap Chaerin sebagai sekretaris bisa pakai pun merasa malu sendiri. Padahal Zein, sudah mengatakan betapa spesialnya Chaerin untuknya. Tapi sayangnya, itu tidak juga membuat pengusaha itu menyadari posisi Chaerin untuk Zein. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Zein merasa ada yang aneh pada istrinya. Chaerin yang sejak tadi membelakangi suaminya selama di perjalanan. Kali ini, dia dengan sengaja menunjukkan wajahnya yang penuh dengan air mata. “Bohong kalau aku jawab, aku baik-baik saja. Karena kenyataannya aku sangat sakit hati.” Hati Zein teriris, bagaimana tidak? Istrinya masih menangisi lelaki lain di depan matanya. Tapi, apa yang bisa di lakukan oleh Zein? Jelas dia hanya bisa menghapus air mata dengan tangannya sendiri. “Jangan menghapus air mataku. Ini bukan air mata untuk si ba*jin*gan itu. Tapi untuk kebodohanku sendiri.” Apa yang di ucapkan Chaerin benar, dia sudah sangat bodoh belakangan ini. Sampai dia tidak tau kalau dirinya sudah dipermainkan oleh orang yang mengaku mencintainya bertahun-tahun lalu. “Cinta menutup hati dan otakmu untuk berpikir yang benar. Aku menghapus air matamu karena aku tidak mau melihatmu melihat ke belakang lagi. Ingat, dari kejadian itu ada aku sekarang.” Chaerin paham, adanya hari ini karena kemarin dan cerita sebelumnya. Tapi, apa dia layak mendapatkan semua ini? Biar sudah berlalu, Chaerin tampaknya ingin mencari keadilan. “Bantu aku mengambil alih agensi orang tuaku. Itu jerih payahnya menyerahkan hidupku padamu. Dan aku tidak terima jika perusahaan itu jatuh ke tangan Hyung yang gila judi itu.” Perusahaan itu oleng sebenarnya bukan Cuma adanya scandal Nara dan Jeremy. Tapi juga keuangan yang amburadul karena kakaknya Chaerin gilla judi. “Biarkan saja, aku mau kamu buang semua yang berhubungan dengan Korea. Terutama usaha orang tuamu itu. Kamu sudah menjadi istriku dan nyonya Zein Akbar Anggara, bukan wanita biasa. Chaerin terlihat tenang, namun dia tidak mau menyerah. Chaerin harus menyelamatkan perusahaan itu sekali lagi. Bukan untuk keluarganya, tapi untuk ibunya kelak. Nenek dan ibunya harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Diskriminasi tentang anak perempuan di keluarga Chaerin memang sangat kental. Maka dari itu, keluarga besar ayahnya selalu tutup mata jika sudah menyangkut Chaerin atau ibunya. “Chae, kamu tadi belum makan. Mau makan di restoran atau di kamar saja?” tanya Zein sebelum keluar dari mobil. “Mau di kamar saja, rasanya aku lelah sekali.” Chaerin memang terlihat sangat lesu, di tambah dengan riasan yang sudah luntur kesana kemari. “Ya sudah, kamu istirahat saja. Aku pesankan makanan saja.” Keduanya berjalan menuju ke kamarnya yang ada di lantai tiga puluh. Zein dan Chaerin tidak menyadari dan tidak memperhatikan sekitar. Karena menurut mereka tidak ada yang penting. Padahal, tanpa mereka ketahui. Paparazi selalu berada di setiap sudut kota. Termasuk di lobi hotel ini. Satu foto dua foto, paparazi itu mendapatkan foto orang yang sangat terkenal dalam dunia bisnis. Berjalan berdua dengan seorang wanita yang tampaknya sangat misterius. Wanita itu yang selalu berada di belakang sosok tangguh seorang Zein. Dari sekian lama rumor sang pebisnis pecinta sesama jenis. Ini adalah kali pertama Zein Anggara membawa seorang wanita masuk ke hotel bersama. Bahkan, tidak terlihat sang asisten berada di sampingnya saat ini. Apa Zein sudah normal?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD