Hari mencekam telah berakhir di jam setengah empat sore. Keempat orang yang berada di ruangan pun bernapas lega. Meski sebagai istri, Chaerin juga cukup merasa tidak nyaman bekerja bersama Zein.
Karena bagi Chaerin, hubungan suami istri itu sangat berbeda dengan atasan dan bawahan. Meski dia pernah menjadi seorang bos, menjadi bawahan atau pekerja. Kali ini adalah pengalaman pertamanya.
Chaerin yang juga tegang sejak tadi, pekerjaannya banyak sekali yang keliru. Dia tidak fokus.
Sepeninggalan Zein, Jeki langsung menyalakan musik sekencang dia bisa untuk rileksasi. “Jeki! Emangnya yang punya kuping Cuma kamu saja?”
Sasa yang kaget pun langsung memukul lengan Jeki yang ada di sampingnya. “Aduh! Sakit. Aku kan Cuma meregangkan otot-otot tubuh yang tegang seharian ini. Sial, kenapa pak bos bisa kerja di ruangan kita sih? Horor!” adu Jeki yang tak bisa leluasa saat kerja.
Sasa melirik Chaerin yang sepertinya juga merasakan tekanan yang sama dengan dirinya. Sial, sandiwara yang sangat epik. Chaerin!
Pada saat yang sama, dari arah luar terdengar sebuah langkah yang sangat familiar. Sesosok gadis berwajah cantik, namun berpakaian selayaknya cowok masuk ke ruangan.
“Apa bang Zein tak mengizinkan mu pulang? Ini sudah lebih jam tiga. Ayo pulang.” Tak ingin ada penolakan, Sonia datang langsung menarik Chaerin.
“Sonia yang cantik, kakak mu itu baru saja keluar. Derren mana sih? Kenapa orang ini bisa lepas begini...”
“Au, sakit.” Chaerin mengaduh karena kepalanya di pukul pelan oleh Sonia.
“Ya, kamu ngomongnya lepas. Emang aku apa? Sudah tinggalin kerjaannya, sekarang kita pulang. Aku mau ngajak kamu belanja.” Sonia menunjukkan kartu hitam miliknya.
“Gass.” Chaerin sudah lama tak berbelanja. Dulu saat masih di Korea, dia bisa belanja setiap bulan. Setelah mendapatkan gaji yang lumayan untuk mentraktir teman-temannya.
Tapi, semenjak di Indonesia....? Katanya dia istri orang terkaya di negara ini. Tapi kenapa belanja saja dia tidak pernah? Ketika iparnya mengajaknya berbelanja, godaan yang gak pernah bisa di tolak.
Chaerin yang tadinya menolak pun hanya membuat melongo ketiga rekan kerjanya.
“Orang kaya memang beda.” Ucap Sasa tanpa sadar.
Belanja adalah kebahagiaan wanita, jadi kalau kedua gadis ini lupa waktu. Ya wajarlah.
Jam setengah sebelas malam, Chaerin baru masuk ke dalam kamar. Dia melihat keadaan sudah gelap dan sunyi. Chaerin berusaha untuk tidak bersuara untuk membersihkan diri.
Setengah jam dia di kamar mandi dengan sehati-hati mungkin. Tapi, pada saat dia keluar dari kamar mandi. Zein sudah menyalakan lampu dan duduk di sofa sambil membaca buku.
“Apa saja yang sudah kamu beli? Kenapa tidak izin?” tanya Zein dingin.
“Maaf...” Chaerin membiarkan rambutnya basah membasahi lantai karena ketakutan.
Zein melangkah mendekati Chaerin, mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya. Chaerin merasa bersalah, jadi dia tidak banyak komentar akan hal ini.
“Besok-besok, biar pun yang ajak adalah nenek. Kamu harus tetap izin denganku. Kamu istriku, bukan karyawan biasa yang bekerja di perusahaanku.” Zein dengan lembut menyisir rambut Chaerin sebelum mengeringkan dengan pengering rambut.
“Aku tau salah, siap menerima hukuman.” Bibir Chaerin cemberut, terlihat lucu dan menantang di hadapan Zein. Tapi, kali ini Zein dalam keadaan marah, jadi dia harus tetap mempertahankan wibawanya.
“Baiklah, kamu harus aku hukum. Hukumannya berat, kamu harus membuat sarapan, makan siang dan makan malam untukku. Mulai besok kita pindah ke villa.” Chaerin bersalah dan dia juga tidak bisa membantah hukuman apa yang di berikan Zein padanya. Tapi, bukankah dia juga harus bekerja? Bagaimana bisa dia membuatkan makan siang untuk suaminya?
Dan lagi, pindah ke villa? Bukankah itu akan membuat mereka semakin jauh dari kantor?
Begitu banyak pertanyaan di dalam kepala Chaerin. Tapi sayangnya, hanya bisa menjadi sampah di dalam kepala, tidak bisa di salurkan.
Zein sudah kembali tidur dan mematikan lampu. Sedangkan Chaerin masih mematung di tempatnya. “Mau jadi pengganti patung Roro Jonggrang diam di sana?”
Patung Roro Jonggrang? Mungkin Zein tidak asing dengan nama itu. Tapi Chaerin? Jelas dia bingung. Dia lompat ke tempat tidur dan mengintrogasi suaminya. “Katakan, siapa Roro Jonggrang itu? Kekasih kamu? Atau selingkuhan mu?”
Zein yang baru mau memejamkan mata menjadi kaget. “Selingkuhan? Kalau ngomong di saring, neng. Biar kamu cemburu, aku nggak sebodoh itu akan menyebut nama wanita lain di depan istri.”
“Terus, siapa Roro Jonggrang? Roro itu perempuan kan? Oh, perempuan beda dengan wanita?” Chaerin tetap tidak membiarkan suaminya tidur padahal matanya sudah merah karena mengantuk.
“Astaga, susah sekali sih mau tidur. Mending kamu nggak usah pulang tadi. Tidur di emperan mall.” Jengkel Zein.
“Ya, aku mau tidur di emperan mall!” Chaerin seketika membuka jubah mandinya dan mempertontonkan tubuhnya yang seksi terbalut lingerie hitam transparan.
Jika tadi Chaerin yang lompat ke atas tempat tidur karena Zein menyebut nama cewek lain. Namun sekarang Zein lah yang melompat menghadang Chaerin yang hendak keluar kamar.
“Jangan keluar.” Teriak Zein memeluk Chaerin.
“Buat apa di sini? Kamu saja menyebut nama wanita lain. Dan juga kamu sudah menyuruhku tidur di emperan mall. Ya sudah....”
“Tidak... Tidak... Ayo tidur, aku kelonin.” Zein mengangkat Chaerin langsung ke tempat tidur. Setelah itu dia mengunci pintu sebelum membungkus istrinya dengan selimut dan memeluknya selama tidur.
“Mau tidur di emperan mall dengan baju begini? Hmm, jangan harap!” kata Zein setelah merasakan napas Chaerin sudah stabil.
Chaerin adalah putri pendiri agensi di Korea, jelas dia sangat mahir dalam bidang akting. Sedikit banyak dia juga terjun langsung untuk membantu orang tuanya. Dengan begitu, dia juga belajar akting dan bernyanyi.
Biar Zein menganggap Chaerin sudah tidur, nyatanya dia belum tidur. Batinnya tertawa, tapi dia harus berpura-pura untuk tidur saat ini. Demi mengetahui apa yang ada di pikiran dan hati suaminya.
“Kamu tau Chae? Sejak aku melihatmu di pesta saat itu. Aku sudah berusaha menjalin kerjasama dengan kakakmu. Membuatnya memilihku untuk menikahimu. Tapi sayang seribu sayang, dia mengecewakanku. Dia menyalahi kontrak, dia membuatmu terbuang. Tidak salah lagi, aku sendiri yang akan merebut perusahaanmu dan memberikan padamu. Aku bersumpah itu.”
Chaerin kaget, kenyataan dia tidak tau apa-apa tentang perusahaan dan hubungan antara kakaknya dengan suaminya. Tapi, Chaerin merasa suaminya adalah orang baik.
Chaerin membalikkan badannya dan memeluk Zein. Siapa yang peduli dengan apa yang dia lakukan saat ini. Chaerin hanya ingin memeluk Zein erat dan tak berharap di pisahkan lagi.
Dia dan Zein adalah satu kesatuan, tapi mereka lebih sering tak mengakuinya.