Sasa yang tak terlihat

1140 Words
“Enak sekali mau buka baju di hadapan para karyawan. Memangnya mau tebar pesona ke siapa? Dasar suami gilla.” Chaerin menggerutu sepanjang lorong menuju ruangan Zein. Baginya, orang seperti Zein ini harus segera di tangani. Kalau tidak, bisa-bisa dirinya akan kehilangan suami suatu saat nanti. “Zein, buka pintunya! Kenapa di kunci?” Setelah beberapa kali mencoba membuka pintu ruangan suaminya. Chaerin yakin jika ruangan itu di kunci dari dalam. Pikiran Chaerin kembali ke masa lalu, di mana Nara sebagai sahabatnya. Berduaan dengan sang kekasih Jeremy. “Zein....! Sama siapa kamu di dalam....! Buka pintunya....!” mulut Chaerin mulai bergetar, air mata juga mulai berjatuhan membasahi lantai. Setetes demi setetes, kini sudah membanjiri pipi Chaerin. Sasa yang kebetulan mau ke ruangan bos besarnya tak sengaja melihat Chaerin yang seperti ini. Ada hubungan apa Chaerin dengan bosnya? Bahkan Chaerin dengan berani membentak nama tanpa ada embel-embel “Pak”. “Buka pintunya Zein! Kalau tidak, aku yang akan mendobraknya!” Teriak Chaerin yang masih tak sadar adanya Sasa di belakangnya. Tingkah Chaerin ini sungguh mencurigakan. Kalau di ingat lagi, di mana bos besarnya ada dinas di luar. Chaerin pasti akan cuti dan kembali saat bosnya masuk kerja pula. Dari arah belakang, Zein berlari melewati Sasa yang hanya bisa diam di tempat. Sudah seperti bayangan tembus pandang, sepertinya Zein tak melihat Sasa. Dengan langkah seribu, Zein menghampiri Chaerin lantas memeluknya erat. Chaerin yang menangis pun malah memukul Zein. “Kenapa di kunci pintunya?” tanya Chaerin sesenggukan. “Aku renovasi ruangan. Makanya aku kerja di ruanganmu. Kamu sendiri mau apa ke sini?” tanya Zein lembut. Kelembutan yang di perlihatkan hanya pada Chaerin, membuat Sasa tersentak. Inikah atasan yang selalu menciptakan suasana canggung dan mencekam? “Mereka suami istri. Anggap nona Sasa tidak melihat ini semua.” Hendra menyamakan posisi dengan Sasa dan berbisik pada wanita muda itu. “Lebih baik kita meninggalkan mereka berdua. Nona belum makan siang, kan? Mari makan bersama saya.” Hendra mengajak paksa Sasa yang blank untuk apa dia berada di lorong itu. Sepanjang perjalanan, pikiran Sasa sungguh rumit. Memikirkan apa ia lihat baru saja. Seperti sebuah drama yang ia tonton di layar ponselnya. Sasa merasa ini tidak nyata. Chaerin yang memang seorang kartunis berbakat, tidak mungkin dia kekasih tersembunyi bos perusahaan. Karena Chaerin dari keluarga miskin di negaranya. Maka dia mendapat penolakan dari keluarga sang kekasih. Menyamar sebagai karyawannya mungkin baginya adalah satu-satunya cara untuk berdekatan? Tidak, kata kekasih pak Charles, bukankah dia wanita arogan dan congkak? Di mana sifat yang sering di miliki gadis kaya di luar negeri. Princess syndrom. Tapi, kenapa masih di tolak keluarga pak Zein? “Makan makananmu sebelum dingin.” Lamunan Sasa di buyarkan oleh sosok yang biasanya di kenal sebagai pembasah kanebo perusahaan. Siapa lagi kalau bukan Hendra si asisten pribadi Zein. “Ah, maaf....” “Ya, tak apa. Kamu mungkin masih berpikir masalah tadi. Tenang saja, mungkin fantasi liarmu tidak sama sekali benar.” Hendra menjelaskan semuanya, tanpa ada satu cerita pun yang di tutupi. “Jadi, bersikaplah tak tau apa-apa. Ini permintaan langsung dari nyonya yang jujur saja sulit di terima oleh bos. Di tambah dengan Santi masih terus merusuh di kantor.” Pernyataan Hendra semakin membingungkan Sasa. “Bukankah, Bu Santi sudah di pecat? Kenapa masih bisa mengacau?” tanya Sasa penasaran. “Perusahaan ini bergerak di bidang industri hiburan. Yang ada di dalam kantor ini bukan hanya karyawan tetap saja. Tapi juga banyak artis yang berlalu lalang di sini. Bahkan artis juga kadang membawa beberapa orang sebagai teamnya keluar masuk. Nah, itu yang membuat Santi bisa keluar masuk dengan leluasa. Di tambah dengan pak Charles adalah Abang sepupunya.” “Penjelasan yang masuk akal. Aku tidak menyangka, pak Zein sebucin itu ke chaerin.” Sepertinya ada khayalan lain yang saat ini berkeliaran di kepala Sasa. Tuk Sebuah sendok mendarat di kepala Sasa. Sendok siapa lagi kalau bukan milik Hendra. “Jangan mikir macam-macam. Makan dan kembali ke ruangan.” Makan siang kali ini sungguh menyenangkan. Bukan hanya di temani oleh Hendra yang parasnya lumayan dari pada Jeki si rusuh itu. Sasa juga bisa makan gratis. Ternyata Hendra cukup gentle juga jadi cowok. Tak membiarkan cewek membayar makanannya. “Biar aku saja yang membayar.” “Belum waktunya kamu membayar makananku. Jadi biar aku yang membayarnya, nanti suatu saat juga pasti tiba waktu kamu yang bayar makananku.” Hendra memberi uang pada pelayan restoran tempat makan mereka. Wajah Sasa cerah, secerah cuaca hari ini. Tidak ada mendung atau gerimis yang membasahi bumi semakin becek. Sepanjang perjalanan menuju ruangannya, Sasa menunjukkan senyum. Entah untuk siapa, yang jelas untuk saat ini adalah menyampaikan kebahagiaannya. Semua harus tau kalau hari ini Sasa tengah bahagia. Dia yang baru pertama kali di traktir cowok, merasa kalau cowok itu sangat jantan sekali. Aduh, hati Sasa tiba-tiba berdetak kencang. Badannya bahkan berguncang hebat saat ini. Mungkin, jika ada colokan di colok ke hidungnya, lampu satu kantor bisa nyala karena tegangan tinggi yang di miliki Sasa. The power of Hendra pokoknya “Kamu kesambet di mana, Sa?” Jeki yang baru dari restoran juga pun merasa heran dengan Sasa. “Kesambet di restoran bawah.” Jawab Sasa asal. Restoran bawah? Bukankah barusan Jeki juga dari sana bersama Dimas? Apa benar kalau restoran itu menggunakan penglaris? “Serius, Sa?” Dimas masih tak percaya. Orang yang terlihat cool ini aslinya penakut. Bahkan, jika di bandingin dengan Chaerin. Dimas masih kalah jauh. “Diem, Chaerin mana?” Sasa tak ingin memperpanjang obrolan tak berfaedah ini. “Entahlah, dia sejak tadi ilang. Pasti Chaerin lagi di bully pak Zein.” Jeki menyangka sembarangan. “Hus... Ngak mungkin. Chaerin, kan....” tiba-tiba Sasa mengingat cerita dari Hendra. “Kan apa?” tanya Dimas penasaran. “Chaerin kan lebih berani dari kalian berdua.” Apa yang di katakan Sasa benar, ini membuat kedua lelaki ini kena mental. Tak ingin memikirkan Chaerin yang hilang lagi. Ketiga orang itu masuk ke dalam ruangan. Di luar dugaan, di dalam ruangan Chaerin dan Zein tengah makan siang. Menunya juga sepertinya biasa saja. Namun itu biasa bagi Chaerin. Karena itu makanan yang biasa ada di Korea. Jajangmyeon, nasi goreng kimchi, bibimbap dan beberapa rol condong. Dan yang paling mencolok adalah tteokbokki pedas. “Waduuuhhh sepertinya enak ini.” Liur Sasa sudah seperti mau menetes saja melihat beberapa makanan di meja. “Kamu mau yang mana? Ini cicipi punyaku.” Chaerin menyuapkan nasi goreng kimchi yang saat ini ada di tangannya. “Boleh.” Chaerin menyuapi Sasa dengan senang hati. Namun ternyata, Sasa tidak menerima dengan benar. “Huaaahhh, pedes banget.” Wajah Sasa langsung memerah karena kepedesan. Tapi Chaerin? Dia biasa saja. Ini mungkin ada yang salah dengan lidahnya. Bukan hanya pedes, ternyata makanan itu masih sangat panas. Bagaimana bisa? Ah, Sasa baru melihat ada kompor listrik di bawa makanan itu. Sial sekali dia, kenapa setelah keberuntungan harus di imbangi dengan kesialan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD