“Sepertinya, pemecatan mu ternyata mempengaruhi otakmu. Pakai bajumu dan pergi dari sini!” Zein tak berniat untuk masuk ke dalam ruangannya.
Dia merasa jijik untuk masuk ke dalam ruangan meski hanya untuk mengambil laptop, Zein menyuruh Hendra untuk mengambilnya.
“Jangan munafik, pak Zein. Aku tau permainan mu dengan Chaerin. Bahkan aku sudah memberikan foto-foto kalian di luar negeri kemarin pada para pemegang saham. Kalau bapak masih ingin mempertahankan jabatan anda, bermainlah sekali denganku….”
“Dasar sinting! Siapa yang takut dengan pemegang saham? Bukankah kakek dan papaku sendiri yang mendirikan perusahaan ini? Oh iya, mereka bahkan tak memegang lebih dari persen saham perusahaan ku. Jelas aku pengambil keputusan tertinggi di perusahaan ini. Dan hubunganku dengan Chaerin memang benar adanya, aku pun tak berniat menutupinya.” Zein meninggalkan Santi dan segera mencari ruangan yang bisa membuatnya tenang.
Tujuan Zein bisa di tebak sebenarnya. Lantai delapan di divisi animasi. Di mana lagi selain ruangan Chaerin? Apalagi Zein merasa tak mau terlalu lama berpisah dengan istrinya.
“Selamat pagi semuanya, untuk sementara pak Zein akan menempati ruangan ini. Tidak usah merassa terbebani, karena pak Zein hanya meminjam ruangan saja. Bukan untuk mengawasi.” Hendra dengan sigap menjelaskan hal yang sebenarnya tidak penting.
Bagaimana penting, orang keberadaan Zein sendiri sudah menciptakan atmosfer yang lain di ruang kerja. Ya… bayangkan saja bagaimana rasanya bekerja dengan adanya petinggi perusahaan. Pasti merasa do awasi setiap geraknya.
“Silakan pak.”
Bohong kalau mereka ber empat menerima kehadiran Zein. Tapi apa Zein peduli akan hal itu? Baginya berdekatan dengan Chaerin adalah kepuasan tersendiri baginya. Sedangkan Chaerin juga merasa tak nyaman, meski pun dia bekerja di dampingi oleh suaminya sendiri.
“Pak Zein mau minum apa?” tanya Chaerin mencoba mencari alasan untuk keluar ruangan.
“Tidak usah repot-repot, kamu bekerja saja dengan santai.” Zein mengatakan itu memang dengan senyum manis, tapi yang di rasakan oleh keempat orang itu justru tak nyaman sekali.
Tak ada alasan untuk keluar ruangan, Chaerin pun membuang napas beratnya dan mencoba mengabaikan keberadaan Zein di ruangannya. Menggunakan headset untuk mendengarkan musik demi pengabaian Zein.
Cara Chaerin ternyata juga di tiru oleh Sasa dan yang lainnya. Cukup ampuh memang, tapi suasana seperti ini, seakan membangun kuburan pindah. Sunyi, senyap dan sepi. Mungkin ini yang membuat Zein bisa bekerja dengan tenang hampir setengah hari di ruangan divisi animasi yang terkenal berisik.
Waktu makan siang sudah dekat. Kalau karyawan normal, mereka akan segera memesan makanan terlebih dulu. Tapi mereka adalah divisi animasi, di mana pekerjaan yang memerlukan sebuah konsentrasi yang bisa membuat mereka melupakan waktu seperti sekarang.
Zein heran, kenapa satu pun dari mereka melihat jam seperti karyawan lainnya? Bahkan mereka terlihat lebih tenang dan sunyi dari yang sering dia dengar dari gosip para karyawan laiinya.
Zein mendekati Chaerin dan mengambil satu headset yang terpasang di salah satu telinganya. Memakai dan mendengarkan. Baru saja mendekatkan headset, Zein sudah kaget dengan volume lagu yang terdengar tak karu-karuan itu.
"Astaga Chaerin, berapa besar volume yang kamu pasang ini?" tanya Zein kaget.
Karena kaget, Chaerin langsung melepas headset sebelahnya. "Maaf pak. Ini volume penuh, soalnya aku harus bisa konsentrasi." jawabnya.
"Astaga, berarti benar apa yang di katakan karyawan lain itu benar? Kalian ini ruangan terberisik yang ada di gedung ini? Apa tidak bisa kalian bekerja dalam keheningan?" Zein merasa alasan yang di berikan Chaerin sangat mengada-ada. Di tambah lagi, volume di titik tertentu bisa membuat pendengarnya mengalami ketulian permanen.
"Sekarang begini deh, bapak kerjakan satu halaman ini saja. Ada tujuh panel dan setiap panel ada dua sampai tiga karakter. Gambar saja tanpa ada musik dan membangun mood anda. Saya akan masak untuk bapak selama seminggu kalau misalnya bapak bisa." Chaerin merasa di remehkan pun memberi dua kertas kosong pada Zein untuk menggambar.
"Ya, kalau saya bisa. Kamu tidak hanya memasak untukku. Tapi mencuci bajuku, dengan tangan kosong." Zein tau, Chaerin adalah orang yang sangat mandiri. Tapi selama dia menjadi istrinya, Chaerin sama sekali belum pernah mencuci bajunya. Hal ini yang membuat Zein sedikit penasaran.
"... Ya." Chaerin akhirnya setuju, setelah berpikir sejenak.
"Bagus!" Zein mengambil kertas yang di berikan Chaerin dengan paksa.
Zein menggambar sesuai dengan karakter yang sebelumnya. Hanya dengan menggunakan waktu makan siangnya, Zein mampu menyelesaikan gambarannya. Sedangkan Chaerin sendiri merasa was-was.
Apa dengan begini, hubungannya dengan Zein akan terbongkar secara perlahan? Tidak, dia tidak ingin hal itu terjadi. Namun dia juga harus profesional karena dia sudah kalah.
"Aku sudah menyelesaikan tepat di depan mata kamu. Jadi, kapan kamu mau mencuci bajuku? Dan lagi, jangan menggunakan musik yang begitu kencang. Kasihan telinga kalian." Zein berpesan sebelum melepas bajunya untuk Chaerin cuci.
Di ruangan itu mungkin hanya ada lima orang dengan Zein. Tapi, pada saat ada satu orang yang mendengar ada sebuah kompetisi. Jelas, banyak yang penasaran siapa pemenangnya. Terlebih itu adalah bosnya sendiri yang di tantang.
Zein melepas kemejanya di hadapan Chaerin. Bukan, tapi di hadapan para karyawan yang penassaran dengan kompetisi. Satu persatu kancing di buka, pemandangan indah yang biasanya hanya di lihat oleh Chaerin. Kini gadis itu harus berbagi dengan sekian banyak karyawan yang penasaran sekaligus menantikan Zein melepas bajunya.
"Stop. Nanti saja pulang kerja aku akan mencuci untuk bapak." Kata Chaerin menutup paksa kemeja yang sudah hampir terlepas dari badan yang sekilas terlihat sangat bagus.
"Kenapa?"
"Nggak ikhlas berbagi." Bisik Chaerin. Zein hanya tersenyum melihat wajah merah istrinya.
Zein tak menyangka kalau Chaerin bisa semenggemaskan sekarang. Bukannya dia sudah terbiasa dengan badan miliknya, tapi kenapa Chaerin terlihat sangat malu sekali? Apa badannya tidak cukup bagus untuk di pamerkan? Atau ada alasan lain yang membuat dia seperti sekarang?
Zein mengikuti apa yang di mau Chaerin, dia menutup kembali bajunya. Bukan hanya itu saja, Chaerin bahkan memakaikan dasi milik Zein tak lupa dengan jas. "Jangan macem-macem!"
"Apa kau tengah cemburu?" tanya Zein namun tak di jawab oleh Chaerin. "Hahaha, tenanglah. Aku tidak akan pernah bisa di bagi. Karena aku juga tidak mau berbagi dengan siapa pun."
Zein meninggalkan ruangan yang sudah penuh dengan orang-orang yang penasaran.
"Chaerin, gila! Kamu berani sekali melawan pak Zein. Dia bahkan kuliah mengambil jurusan seni secara sembunyi-sembunyi di masa lalu. Itu karena pak Zein sangat mencintai seni. Tapi sayangnya dia harus meneruskan bisnis papanya yang di tinggalkan untuknya." ini adalah kenyataan terbaru yang Chaerin temukan.