Hari pertama masuk kerja setelah Chaerin mengambil cuti. Dengan alasan neneknya sakit, tidak ada yang tau kalau Chaerin ikut menemani perjalanan dinas Zein.
Selain itu, Chaerin juga kurang begitu dekat dengan para karyawan lainnya. Karena lingkungan yang tak menerima dirinya, perusahaan Zein juga terkenal dengan ambisi yang menggebu. Persaingan yang kentara, membuat Chaerin tak nyaman.
Selain Lulu bagian resepsionis dan empat rekan kerjanya di divisi animasi. Sepertinya, Chaerin tak memiliki teman lain.
“Chaerin.... Lama sekali kamu cutinya? Gimana kabar nenekmu, sudah sehat?” tanya Lulu yang berpapasan dengan Chaerin di pintu masuk.
“Puji Tuhan, sudah membaik. Kamu sendiri apa kabar?” tanya Chaerin mengincupkan payungnya karena hari ini hujan sangat deras.
“Puji Tuhan? Kamu non muslim?” Lulu kaget karena selama ini tidak mengetahui agama temannya ini.
“Ayolah, jangan bahas masalah sensitif seperti ini. Ayo masuk.” Chaerin sama sekali tak nyaman dengan apa yang di tanyakan oleh Lulu. Menurutnya, kepercayaan itu sangat tidak pantas untuk di umbar.
“Ya, aku tau. Kamu orang Korea yang terbilang sangat sensitif dengan hal ini. Mi anhae.” Dengan menunjukkan wajah bersalahnya, Lulu terlihat sangat lucu di mata Chaerin.
“Aniyo.” Chaerin tersenyum begitu menawan. Siapa saja pasti akan terpesona jika melihat senyum Chaerin pagi ini.
Secara kebetulan, Zein yang berada di belakangnya, melihat senyum Chaerin. Zein tak mampu menahan diri untuk tidak mencubit pipi tembem milik istrinya.
Bukan hanya Chaerin yang kaget dengan tangan yang seenak hati mendarat di pipinya. Tapi juga Lulu yang ada di samping Chaerin.
“Pak Zein.” Lulu segera masuk ke dalam ruang ganti setelah melihat sosok mengejutkan itu.
Sedangkan Chaerin hanya bisa mematung tak mampu bergerak. Ini tak seperti Zein yang biasanya.
Dia memang biasa menyentuhnya di manapun dalam diri Chaerin. Tapi yang jelas bukan di kantor seperti ini. Lebih-lebih ini di lobi kantor yang banyak orang berlalu-lalang.
“Sudah mau telat.” Satu kalimat yang tak bisa di terima telinga Chaerin begitu saja. Suara dingin dan tegas terdengar mengintimidasinya.
Haruskan Chaerin menerima itu setelah membuatnya terkejut? Cubitan itu memang lembut, tapi bagi jantung Chaerin itu seperti Sambaran petir di pagi mendungnya.
“Chaerin. Buruan!” teriak Jeki yang menghadang pintu lift untuk Chaerin.
“Ah, ya.” Chaerin segera berlari dan melewati Zein dan Hendra yang berjalan lebih dulu.
Napas memburu, Chaerin seperti berada di tengah gurun pasir yang tandus. Air, dia butuh air saat ini. Tenggorokannya kering, mungkin sebentar lagi akan mengkerut kalau tak mendapat air.
Dia sudah seperti ikan yang di tangkap pemancing dengan memasukkan ke dalam kepis. Tak ada air.
Chaerin melihat Sasa membawa sebotol air mineral. Mengambil secara paksa dan menenggaknya seketika.
“Pelan-pelan. Nggak ada yang minta, buatmu aja.” Kata Sasa menenangkan Chaerin.
“Terima kasih.”
“Kamu kenapa sih? Apa gara-gara pak Zein mencubit pipimu?” wajah merah Chaerin seakan menjawab pertanyaan Sasa.
“Lagian, aneh sekali pak Zein tu.”
“Jaka, memangnya kamu nggak nyadar? Lihat bakpao yang ada di wajah Chaerin, siapa yang nggak pingin mencubitnya?”
“Dim, jangan pikir kamu juga mau mencubit pipiku?” tebak Chaerin yang dengan sigap memegangi pipinya.
“Telat.” Kata Dimas dengan wajah kecewanya.
Berbeda dengan Dimas, Jeki dan Sasa malah menertawakan ekpresi salah satu rekan kerjanya. Ini pemandangan yang sangat luar biasa di pagi yang mendung berselimut hujan.
Ting, bunyi lift sebelum terbuka. Pada saat pintu terbuka, Chaerin dan kawan-kawan di sambut oleh Nara. Gadis berparas cantik yang berlaku sombong karena dia berada di sisi salah satu manager.
“Wooo, nona besar baru sampai. Kamu itu sekarang seorang pegawai, bukan bos besar seperti dulu. Seharusnya kamu datang setengah jam lebih awal dari bosmu.” Nara mencibir Chaerin yang datang di belakang Charles.
“Nona siapa, ya?” tanya Sasa seakan lupa dengan gadis yang di bawa oleh salah satu atasannya.
“Ternyata otak dari pegawai di sini kecil-kecil, ya. Baru seminggu tidak bertemu saja, sudah lupa. Ok, saya perkenalkan diri. Park Nara, calon istri dari bosmu, Charles.” Nara seperti sudah mendapat pengakuan, dia memperkenalkan diri sebagai calon istri dari Charles.
“Ooo, calon istri pak Charles. Salam kenal ya, saya calon istri pak Zein.” Sasa mengejutkan rekan yang lain. Dia bahkan dengan berani memperkenalkan diri sebagai istri bos besarnya.
Sasa memimpin meninggalkan Nara yang masih mematung. Chaerin sebagai istri sah pun terlihat sangat syok. Tapi, dia tetap tidak bisa mengaku, kalau dirinya adalah istri sahnya.
“Haduuuu.... Di depan lift ada cctv nggak sih? Aku gemetaran sekali.” Tubuh Sasa langsung meleleh ketika masuk ke dalam ruang divisinya.
“Kayaknya enggak, emang kenapa?”
Sasa langsung berdiri dan memukul Jeki sekeras dia bisa. “Otakmu sepertinya sekecil yang dia katakan deh.”
“Aduh, sakit! Apa salahku?”
“Kalau ada cctv, mati aku. Kayak nggak tau pak Zein aja, dia itu segumpal gunung es yang sewaktu-waktu bisa meletus. Apalagi aku mengaku jadi calon istrinya, jelas akan segera meletus balon hijau.” Masih ketakutan, Sasa tak mampu membayangkan konsekuensi apa yang akan ia terima nantinya jika bosnya tau.
“Lagian kamu cari penyakit aja. Sudah tau pak Zein begitu, masih aja ngaku-ngaku.” Chaerin kali ini memanfaatkan ketakutan rekannya itu untuk menyalurkan ketidaksukaannya.
“Begini, kalau misalnya dia mulai memamerkan diri dia memiliki pasangan di atas kita. Maka, cara membungkam mulutnya ya.... Mengaku menjadi pasangan yang lebih atas lagi....”
“Dan atasnya pak Charles, ya pak Zein. Begitu menurut mu?” tebak Dimas.
“Yups, bener banget.”
Chaerin tersenyum, dia merasa lebih tinggi lagi dari pada Nara. Meski dia harus kehilangan Jeremy.
Sakit hati Chaerin sedikit terobati dengan celotehan ringan dari Sasa. Gadis yang selalu berpikiran di luar nalar, menurutnya. Kali ini Chaerin setuju dengan pernyataan Sasa.
Menurutnya, kebenaran adalah jika kita tetap berada di atas orang yang menyakiti kita. Dan tamparan yang paling menyakitkan itu ketika musuh menemukan kenyataan itu kala dia kepo.
Chaerin bekerja sebagaimana seharusnya. Dia bahkan tak mempedulikan rekan kerjanya yang tetap bergosip. Gosipin suaminya? Mana mungkin Chaerin ikut campur.
Kebenaran Zein, hanya dia sendiri yang tau. Meski mengakui Chaerin sebagai orangnya, di hadapan rekan kerjanya dia tetap bukan siapa-siapa untuk Zein.
Sedangkan di ruang kerja Zein, ada seorang perempuan yang menunggu orang tertinggi di perusahaan Anggara.
Santi, wanita yang sudah di usir oleh Zein sendiri, dia datang dengan tujuan ingin menggoda pewaris tunggal perusahaan Anggara.
Zein dan Hendra yang baru membuka pintu pun di buat kaget dan sedikit tekanan batin. Pasalnya, Santi menggunakan baju yang begitu seksi.
Zein jijik melihatnya, meski Chaerin semalam menggunakan baju yang sama seperti Santi. Sungguh murahan sekali wanita ini, tidak tau malu berpenampilan seperti itu untuk menggoda mantan bosnya.