Bram duduk di kasurnya, kertas folio yang baru dibelinya tergeletak di atas meja kecil di sudut kamar. Namun pikirannya masih melayang ke kejadian tadi di depan kos.
Pemandangan para penghuni kos yang bersiap bekerja malam benar-benar sesuatu yang asing baginya. Di desa, jam segini sudah sepi, hanya suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing yang terdengar. Tapi di kota, hidup baru saja dimulai.
la menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya.
Tak lama, suara pintu depan kos berderit. Suara langkah kaki dan obrolan samar terdengar semakin menjauh. Beberapa gadis yang tadi bersiap kini sudah pergi. Kos terasa lebih sepi, hanya menyisakan beberapa penghuni yang tidak ikut keluar.
Bram mengalihkan fokusnya ke kertas di depannya, la mengambil pulpen dan mulai menulis lamaran pekerjaannya.
Lamaran Pekerjaan - Kurir
Tangannya bergerak pelan, menulis setiap kata dengan hati-hati. Meskipun hanya untuk pekerjaan kurir, ia ingin memberikan kesan bahwa ia serius.
Namun, baru beberapa kalimat, pikirannya kembali terganggu.
Ia mengingat kembali bagaimana para penghuni kos berpakaian, cara mereka berbicara, dan terutama bagaimana mereka menatapnya. Bukan tatapan meremehkan seperti yang sering ia dapatkan di desa. Sebaliknya, ada sesuatu di balik mata mereka -entah itu rasa penasaran atau mungkin sekadar main-main.
Bram menggeleng, mencoba mengabaikan pikirannya, la harus fokus.
Masa lalunya di desa sudah ia tinggalkan. Sekarang, ia ada di kota, dan langkah pertamanya adalah mendapatkan pekerjaan. Tidak peduli bagaimana lingkungan di sekitarnya, ia harus tetap pada tujuannya.
Beberapa menit berlalu, dan akhirnya ia menyelesaikan surat lamarannya. Ia membaca ulang beberapa kali, memastikan tidak ada kesalahan sebelum melipatnya rapi.
Baru saja ia hendak berbaring, suara ketukan pelan di pintu kamarnya membuatnya terkejut.
"Mas Bram?"
Suaranya lembut, terdengar akrab meskipun baru pertama kali didengarnya dari balik pintu.
Bram berdiri dan membuka pintu perlahan.
Di depan pintu, seorang gadis berdiri. Ia salah satu penghuni kos yang tadi tidak ikut pergi keluar. Rambutnya dikuncir kuda, mengenakan kaus longgar dan celana pendek yang tampak nyaman.
"Ada apa, Mbak?" tanya Bram bingung.
Gadis itu tersenyum tipis, lalu mengangkat sebuah gelas berisi teh hangat. "Aku lihat kamu baru pindah, pasti masih asing di sini. Ini buat kamu. Anggap aja sebagai sambutan kecil dari kami."
Bram sempat terdiam sejenak, tak menyangka ada yang memperhatikannya.
la menerima gelas itu dengan sedikit canggung. "Oh... Makasih banyak, Mbak...?"
"Ara," jawab gadis itu singkat. "Aku tinggal di kamar depan. Kalau butuh sesuatu, tanya aja."
Bram mengangguk. "Makasih, Ara."
Ara tersenyum lagi, lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
Bram menatap teh hangat di tangannya, lalu menghela napas pelan.
Kota ini memang penuh kejutan.
Bram membawa gelas teh hangat itu masuk ke dalam kamar dan duduk di kasurnya. Uapnya masih mengepul, memberikan sedikit rasa nyaman di tengah pikirannya yang masih berkecamuk.
la menyesapnya pelan. Manis, hangat, dan entah kenapa, membuat perasaannya sedikit lebih tenang,
Nama gadis itu, Ara,
Dari sekian banyak penghuni kos yang menggoda dan bercanda sejak tadi, hanya dia yang datang secara langsung dan menawarkan sesuatu dengan tulus. Entah itu hanya kebiasaan atau memang caranya menyambut orang baru, Bram merasa sedikit lebih dihargai.
Bram meletakkan gelasnya di meja kecil dan berbaring, menatap langit-langit kamar yang sederhana.
Di kota, ia merasa benar-benar berbeda dari desanya. Bukan hanya lingkungannya, tapi juga orang-orangnya.
Di desa, ia adalah pemuda yang tidak dianggap. Tapi di sini? Baru sehari, ia sudah mendapatkan perhatian yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia tidak tahu apakah ini akan menjadi sesuatu yang baik atau justru jebakan dalam kehidupannya di kota.
Namun yang jelas, ini adalah awal dari sebuah perjalanan baru.
Besok, ia akan mulai melangkah menuju tujuannya, mencari pekerjaan dan membuktikan bahwa dirinya bisa bertahan di kota ini.
Dan siapa tahu, kejutan apa lagi yang akan datang?
Dengan pikiran itu, Bram menutup matanya, membiarkan rasa kantuk perlahan membawanya ke dunia mimpi.
Di luar, lampu kota masih menyala terang, dan hiruk-pikuk malam baru saja dimulai.
Bram terbangun ketika suara langkah-langkah kaki terdengar samar dari luar kamarnya. Matanya masih sedikit berat, tapi ia bisa menangkap cahaya remang yang masuk dari jendela kecil di atas tempat tidurnya.
Ia melirik jam di ponselnya. Pukul 3:17 pagi.
Ia mengernyit.
Siapa yang masih begadang di jam segini? Suara tawa pelan terdengar dari luar kamar, diikuti suara pintu yang dibuka dan ditutup dengan hati-hati. Bram masih terbaring, tapi rasa penasaran mulai mengusik pikirannya.
Ia bangkit perlahan, berjalan menuju pintu tanpa suara, lalu membuka sedikit celah untuk mengintip ke luar.
Di koridor, beberapa penghuni kos baru saja kembali. Mereka masih mengenakan pakaian mencolok yang mereka kenakan saat berangkat tadi malam.
Seorang gadis dengan gaun merah yang ketat melepas sepatu hak tingginya dan bersandar di dinding sambil menghela napas panjang. Wajahnya tampak sedikit lelah, tapi senyumnya tetap mengembang saat ia bercanda dengan temannya.
"Tadi hampir aja ada razia, ha ha ha...." ucapnya sambil tertawa kecil.
"Untung kita cepet kabur, ya?" sahut yang lain, seorang gadis dengan tank top hitam dan celana pendek yang Bram lihat sebelumnya.
Bram menahan napas, mendengarkan percakapan mereka tanpa berniat menguping.
"Kampret, aku capek banget. Besok mau istirahat dulu, deh," kata salah satu dari mereka, sebelum membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam.
Bram mundur pelan, menutup pintunya dengan hati-hati.
Kini ia mulai mengerti.
Mereka memang "bekerja malam", tapi bukan sekadar pekerja kantoran yang pulang lembur seperti yang sempat ia bayangkan.
Ada banyak jenis pekerjaan malam di kota ini. Dan tampaknya, sebagian besar penghuni kos tempat ia tinggal terlibat dalam dunia yang... berbeda.
Bram menghela napas panjang.
Ia tidak ingin berprasangka. Bagaimanapun juga, mereka bersikap baik padanya. Tapi satu hal yang pasti, hidup di kota ini benar-benar bukan sesuatu yang mudah ditebak.
Ia kembali ke kasurnya, mencoba tidur kembali.
Besok, ia harus pergi melamar pekerjaan. Dan ia harus tetap fokus pada tujuannya.
Pagi datang lebih cepat dari yang Bram harapkan. Sinar matahari mulai masuk melalui jendela kecil di kamarnya, menyilaukan matanya yang masih sedikit berat karena tidur yang kurang nyenyak.
Ia bangkit dari kasur, mengusap wajahnya untuk mengusir sisa kantuk. Di luar, suasana kos tampak lebih tenang dibandingkan semalam. Beberapa penghuni mungkin masih tertidur setelah pulang larut.
Bram segera bersiap. Ia mengenakan kemeja sederhana dan celana panjang, pakaian terbaik yang ia punya untuk melamar pekerjaan sebagai kurir. Setelah memastikan surat lamarannya tersimpan rapi di dalam map, ia keluar dari kamar.
Saat melangkah ke luar, ia bertemu dengan Ara yang sedang duduk di teras kecil depan kamarnya. Gadis itu mengenakan kaus oversized dan celana pendek, rambutnya masih sedikit berantakan, menandakan bahwa ia baru saja bangun.
Ara menatapnya sekilas, lalu tersenyum.
"Pagi, Mas Bram. Mau kemana pagi-pagi begini?"
Bram tersenyum kecil. "Pagi, Ara. Aku mau ngelamar kerja."
Ara mengangguk, lalu menyesap kopi di tangannya. "Oh, yang kurir itu? Semoga diterima, ya."
"Makasih banyak Ara," ucap Bram sebelum melangkah keluar kos.
Namun, baru beberapa langkah, ia mendengar suara dari dalam rumah.
"Ugh... capek banget, aku."
Bram menoleh dan melihat salah satu penghuni kos yang baru saja keluar dari kamarnya. Gadis itu masih mengenakan pakaian semalam, dengan make-up yang sedikit luntur. Ia menguap lebar sambil meregangkan tubuhnya.
Bram buru-buru mengalihkan pandangan dan kembali melanjutkan langkahnya.
Hiruk-pikuk kota mulai terasa saat ia berjalan ke arah tempat yang disebutkan pria di angkringan kemarin. Kendaraan lalu lalang, orang-orang berjalan cepat di trotoar, dan suara klakson sesekali terdengar memenuhi udara pagi.
Sesampainya di depan sebuah bangunan ruko sederhana dengan plang bertuliskan "Ekspedisi Nusantara", Bram berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu melangkah masuk.
Di dalam, suasana cukup sibuk. Beberapa pria berseragam kurir tengah sibuk mengangkat paket, sementara di meja depan, seorang pria bertubuh besar dengan kemeja putih sedang berbicara dengan seseorang.
Bram mendekat, menunggu hingga pria itu selesai, lalu dengan sopan berkata, "Permisi, Pak. Saya ingin melamar kerja sebagai kurir."
Pria itu menatapnya sebentar, lalu mengangguk. "Oh, kamu yang dapat info dari temen-temen di terminal itu ya?"
Bram mengangguk. "Iya, Pak." Pria itu tersenyum tipis. "Baik, kita lihat dulu. Kamu punya pengalaman kerja sebelumnya?"
Bram menggeleng. "Belum, Pak. Tapi saya siap bekerja keras."
Pria itu menatapnya sebentar, lalu menghela napas. "Baiklah. Di sini kerjaannya berat, angkat-angkat paket, kadang harus jalan jauh kalau nganter ke tempat yang susah dijangkau. Kamu yakin kuat?"
Bram mengangguk mantap. "Saya siap, Pak."
Pria itu tersenyum kecil. "Oke, kalau gitu besok pagi kamu datang lagi. Kita coba dulu sehari. Kalau cocok, kamu bisa lanjut kerja."
Bram mengangguk, merasa lega. "Terima kasih, Pak. Saya pasti datang besok."
Dengan hati yang lebih ringan, Bram melangkah keluar dari kantor ekspedisi. Setidaknya, ia sudah mendapatkan kesempatan.