Bram kembali ke kos dengan langkah santai, merasa sedikit lebih lega karena setidaknya ia sudah mendapatkan kesempatan untuk bekerja. Namun, begitu ia melewati lorong menuju kamarnya, matanya tanpa sengaja tertuju ke pintu kamar Ara, yang sedikit terbuka.
Ia melihat Ara sedang duduk di depan meja kecil dengan ponselnya yang berdiri di atas tripod kecil. Bram langsung bisa menebak kalau wanita itu sedang live streaming.
Namun yang membuatnya tidak habis pikir adalah pakaian yang dikenakan Ara.
Bukan sekadar kaus biasa atau pakaian rumah yang nyaman. Yang dikenakannya terlalu tipis untuk disebut pakaian. Kain itu hampir transparan, membentuk lekuk tubuhnya dengan sangat jelas. Dan yang lebih mengejutkan, sesekali Ara dengan sengaja menggerakkan tubuhnya hingga bagian yang seharusnya tertutup pun nyaris terlihat.
Bram menelan ludah. Ia tidak bermaksud mengintip, tapi pemandangan ini benar-benar mengejutkannya.
Suara Ara terdengar lembut, menggoda, berbicara ke ponselnya dengan senyum menggoda.
"Makasih buat yang kasih gift... Aduh, kalian nakal banget sih..."
Ara tertawa kecil sambil memainkan rambutnya, lalu dengan sengaja menunduk sedikit, membuat sesuatu yang tidak seharusnya terlihat sekilas muncul di layar.
Bram bisa melihat sekilas ke arah ponsel Ara. Komentar-komentar yang berlarian cepat dari para viewers. Sebagian besar dipenuhi pujian dan emoji-emoji yang jelas mengindikasikan bahwa mereka sangat menikmati pertunjukan yang Ara berikan.
Bram langsung mengalihkan pandangan dan bergegas masuk ke kamarnya.
Dadanya berdebar.
Bukan karena ia tergoda, tapi lebih karena ia tidak menyangka bahwa Ara, yang tadi malam memberinya teh hangat dengan wajah tulus, ternyata melakukan pekerjaan seperti ini.
la duduk di tepi kasur, mencoba menenangkan pikirannya.
Jadi inilah salah satu pekerjaan yang dimaksud?
Bram sudah menduga bahwa beberapa penghuni kos ini memiliki pekerjaan yang mungkin sedikit "berbeda". Namun, melihatnya secara langsung seperti ini membuatnya sedikit... tidak nyaman.
Ara, gadis yang tampak biasa saja tadi pagi, ternyata memiliki sisi lain yang sangat kontras dari kesan pertamanya.
Bram menghela napas panjang.
Kota ini benar-benar memiliki dunia yang jauh lebih rumit daripada yang pernah ia bayangkan.
Siang berganti malam, dan suasana di kos kembali tenang. Setelah selesai menyiapkan barang-barangnya untuk besok, Bram mencoba mengalihkan pikirannya dari kejadian tadi siang. Namun, pikirannya tetap saja kembali ke Ara dan apa yang ia lihat sebelumnya.
Ia masih sedikit sulit mempercayai bahwa gadis yang kemarin malam memberinya teh hangat dengan tulus, ternyata memiliki sisi yang berbeda di balik layar ponselnya.
Bram menghela napas panjang dan mencoba fokus pada hal lain, sampai tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.
"Mas Bram?"
Bram sedikit terkejut. Ia mengenali suara itu.
Ia segera berdiri dan membuka pintu. Di depannya, Ara berdiri dengan senyum santai, kini mengenakan hoodie tipis yang agak kebesaran, dengan celana pendek santai.
Rambutnya yang sebelumnya dikuncir kini dibiarkan terurai.
Bram sedikit gugup, mengingat kejadian tadi.
"Eh... ada apa, Ara?"
Ara menatapnya sebentar, lalu tersenyum.
"Masih sibuk?"
Bram menggeleng. "Enggak, kenapa?"
Ara menyandarkan tubuhnya ke kusen pintu.
"Aku bosan di kamar. Gimana kalau kita
jalan-jalan sebentar?"
Bram terdiam sejenak. Ia masih belum terlalu nyaman dengan Ara, terutama setelah apa yang ia lihat tadi.
Namun sebelum ia sempat menolak, Ara menambahkan dengan nada menggoda, "Santai aja, Mas. Aku traktir makan malam, deh."
Bram langsung terdiam.
Makan.
Dí kondisi keuangannya sekarang, makan adalah hal yang sangat krusial. Apalagi makan malam gratis. Itu adalah tawaran yang sangat sulit untuk ditolak, apalagi setelah ia harus mengirit uangnya untuk kebutuhan besok.
Ara terkekeh melihat raut wajah Bram yang tampak berpikir. "Ha ha... Hayo, jangan nolak. Aku tahu kamu pasti butuh makan enak, kan?"
Bram akhirnya menghela napas dan tersenyum kecil. "Okelah... kalau gitu, ayo."
Ara tersenyum puas. "Nah, gitu dong. Yuk, kita cari tempat enak!"
Bram mengikuti Ara keluar dari kos, berjalan menyusuri jalanan kota yang masih ramai meski sudah larut malam.
Di dalam hatinya, ia masih menyim sedikit keraguan tentang Ara. Tapi di sisi lain, ini adalah kota. Segalanya memang terasa baru dan berbeda.
Dan siapa tahu, mungkin ini akan menjadi pengalaman yang lebih menarik daripada yang ia bayangkan.
Ara berjalan menuju kembali ke kamarnya, dan membuka lebar pintu kamar kostnya. Bram sedikit bingung.
Namun, rasa herannya segera terjawab ketika Ara mendorong keluar sebuah motor matic yang cukup besar, Yamaha Aerox berwarna pink imut.
Bram nyaris mengernyit.
Motor ini... benar-benar mencerminkan pemiliknya.
Warna pink pastel dengan beberapa aksen putih serta beberapa stiker kecil berbentuk hati dan kelinci menghiasi bodinya. Kesan imut dan feminimnya begitu kuat, tetapi tetap terlihat berkelas dan mahal.
Ara menghidupkan mesin motornya dengan santai, lalu menoleh ke Bram sambil tersenyum. "Naik, Mas. Aku yang bawa."
Bram sedikit ragu.
Bukan karena motornya, bukan juga karena Ara... Tapi lebih ke situasi yang sedang ia hadapi.
Ini pertama kali dalam hidupnya ia pergi jalan-jalan dengan seorang wanita.
Bahkan di desanya, jangankan bisa sedekat ini, para gadis selalu menghindarinya seolah ia bukan siapa-siapa.
Dan sekarang? Ia justru akan dibonceng oleh seorang perempuan yang jauh lebih cantik dari semua gadis di desanya.
Bram menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya.
"Ayo, Mas. Lama banget sih," kata Ara sambil menepuk jok belakangnya. "Atau jangan-jangan kamu malu dibonceng cewek?"
Bram menggeleng cepat. "Bukan gitu, cuma..."
Ara terkekeh. "Udah, naik aja. Santai aja, nggak ada yang peduli kok. Ini kota, bukan desa."
Bram akhirnya menarik napas panjang dan naik ke motor, duduk sedikit kaku di belakang Ara.
"Awas, pegangan kalau nggak mau jatuh," goda Ara sebelum menarik gas, meluncur pelan meninggalkan kosan.
Bram masih merasa sedikit canggung, tapi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum kecil.
Motor Aerox berwarna pink milik Ara melaju santai di jalanan kota yang masih cukup ramai meski malam sudah mulai larut. Bram duduk di belakang, masih merasa canggung dengan situasi ini.
Ini pertama kalinya ia dibonceng oleh seorang wanita.
Bukan hanya sekadar wanita biasa, tapi seorang gadis yang jauh lebih menarik dibandingkan gadis-gadis di desanya. Jika di desa ia selalu dihindari, di sini ia justru berada dalam situasi yang dulu bahkan tak pernah terlintas di pikirannya.
Bram menatap punggung Ara yang duduk tegap di depan, tangannya dengan luwes mengendalikan motor di antara jalanan kota yang penuh dengan lampu warna-warni.
Perasaan aneh menyelimutinya.
"Aku heran," kata Ara tiba-tiba tanpa menoleh.
Bram sedikit tersentak. "Heran kenapa?"
"Ha ha... Kamu kayaknya nggak biasa jalan sama cewek, ya?" Ara tertawa kecil, nada suaranya sedikit menggoda.
Bram menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. "Ya... emang belum pernah."
Ara tertawa lagi, kali ini lebih lepas. "Ha ha ha... Ya ampun, Bram. Ngenes banget sih hidupmu. Nggak apa, sekarang kamu di kota.
Santai aja."
Bram tersenyum kecil, tapi dalam hatinya ia masih bertanya-tanya. Memangnya sesantai itu?
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya Ara membelokkan motornya ke sebuah warung burjo yang berada di pinggir jalan.
"Di sini aja," katanya sambil memarkirkan motor. "Murah, enak, dan yang paling penting, buka sampai pagi."
Bram mengangguk dan turun dari motor Warung burjo ini tampak sederhana, sebuah bangunan kecil dengan meja-meja panjang dan kursi plastik yang berjajar. Beberapa pelanggan terlihat sedang menikmati makanan mereka, sementara aroma khas Indomie dan gorengan langsung menyeruak ke hidungnya.
Ara masuk lebih dulu dan memilih tempat di sudut. Bram mengikutinya dengan sedikit ragu.
"Pesan apa, Mas?" tanya seorang pelayan pria muda dengan apron sederhana.
Ara menoleh ke Bram. "Kamu mau makan apa? Bebas, aku yang traktir."
Bram melirik menu sederhana yang tertempel di dinding. Semua terlihat enak, tapi yang paling penting, GRATIS.
"Indomie goreng telor, sama es teh aja," jawab Bram akhirnya.
Ara tersenyum, lalu memesan hal yang sama untuk dirinya. "Sama, Bang. Dua."
Pelayan itu mengangguk dan segera pergi ke dapur.
Bram duduk dengan sedikit tanggung, sementara Ara tampak begitu santai.
"Jadi, kamu besok mulai kerja?" tanya Ara, membuka obrolan.
Bram mengangguk. "Iya, masih percobaan sih. Tapi kalau cocok, aku bisa lanjut."
Ara menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Bram dengan senyum kecil. "Bagus. Kamu orangnya kelihatan pekerja keras."
Bram mengangkat alis. "Kok bisa bilang gitu?"
Ara mengedikkan bahu. "Nggak tahu, feeling aja. Biasanya cowok desa tuh lebih tahan banting daripada cowok kota."
Bram tertawa kecil. "Ha ha... Mungkin."
Tak lama, pesanan mereka datang. Dua piring Indomie goreng telur yang masih mengepul diletakkan di depan mereka, bersama dua gelas es teh yang tampak menyegarkan.
Tanpa banyak basa-basi, Bram langsung mengambil sendok dan mulai makan. Ia memang lapar.
Ara tersenyum melihatnya. "Santai aja, Bram. Nggak usah buru-buru, makan gratis ini nggak bakal hilang."
Bram tersipu, tapi tetap melanjutkan makannya.
Malam itu, ia merasa sedikit berbeda.
Di kota ini, hidupnya benar-benar berubah.