Angin dari Utara

1024 Words
Tiga minggu telah berlalu sejak gong suci berbunyi. Perjanjian itu membuat pasar di Lembah Serayu lebih ramai dari sebelumnya. Pedagang-pedagang datang membawa garam laut, logam dari utara, dan berita yang terdengar seperti kabar baik. Namun bagi Raka, setiap senyum yang ia lihat terasa seperti topeng. Ia berjalan menyusuri dermaga kecil di tepi sungai. Di sana berdiri bendera baru — dua warna yang dipaksa bersatu, merah tanah Serayu dan biru laut Utara. Dua warna yang seharusnya tak pernah bersentuhan, pikirnya. Dari arah perahu, Aruna turun perlahan. Kini ia bukan lagi gadis penenun yang ditemuinya di senja itu. Di lengannya terikat pita kerajaan — tanda bahwa ia menjadi utusan resmi Raja Lantara, penguasa suku Utara. “Raka,” sapa Aruna dengan suara rendah. “Aku diutus membawa pesan. Utara ingin membangun menara pengawas di puncak Serayu. Katanya demi keamanan bersama.” Raka menatapnya lama, mencoba membaca wajah yang dulu ia percaya. “Menara pengawas… atau menara pengawasan?” Nada suaranya datar, tapi tajam. Aruna terdiam. “Aku hanya menyampaikan.” “Dan aku hanya mengingatkan,” jawab Raka pelan. “Setiap menara yang dibangun atas nama keamanan, suatu hari akan digunakan untuk mengintai kebebasan.” Angin bertiup dari utara, membawa bau logam dan garam laut. Di kejauhan, terdengar bunyi palu-palu besi — tanda pembangunan sudah dimulai bahkan sebelum musyawarah rakyat diadakan. Keputusan telah diambil tanpa suara lembah. Malamnya, Raka menulis di buku kecil peninggalan leluhurnya: “Tanah yang dicintai akan memberi tanda sebelum ia terluka. Tapi siapa yang masih mau mendengar detak bumi, di antara teriakan orang-orang yang sibuk memujanya?” Ia menutup buku itu perlahan. Dari luar, terdengar bisikan Giri, sang paman penjaga. “Raka, beberapa orang dari suku utara mulai berlatih senjata di tepi sungai. Katanya, untuk upacara.” “Upacara?” Raka bangkit. Dalam hatinya, ia tahu — setiap perang di Nusantara selalu dimulai dari satu upacara yang salah niatnya. --- Pagi itu, kabut belum sepenuhnya pergi dari lembah. Udara lembap membawa bau besi yang asing, suara palu besi terdengar dari arah utara—mengganggu kedamaian yang dulu hanya diisi oleh kicau burung dan desir bambu. Raka berdiri di teras balai kayu, matanya menatap jauh ke horizon. Dari sana, samar-samar terlihat menara baru yang tengah dibangun di atas bukit keramat. Menara itu berdiri di atas Tanah Sumpah Leluhur, tempat di mana dulu tujuh suku berikrar untuk tidak menumpahkan darah sesama. Kini, di atas tanah itu, bendera biru utara berkibar. “Anak-anak muda dari Serayu sudah tak tenang,” kata Paman Giri dari belakang. “Mereka bilang para penjaga utara melewati batas larangan dan mencabut batu tanda suci.” Raka menggenggam tombak kayu di tangannya, bukan untuk menyerang—tetapi untuk menahan dirinya sendiri. “Sudah kukatakan, Giri. Persatuan yang dipaksakan akan mengundang luka. Sekarang luka itu mulai berdarah.” Ia menatap ke kejauhan. Beberapa pemuda berlarian menuju bukit, membawa tombak dan busur seadanya. Tak ada perintah. Tak ada komando. Hanya amarah yang menyala karena merasa dilecehkan di tanah sendiri. ••• Di puncak bukit, kabut mulai menipis. Enam prajurit utara sedang menancapkan patok logam di tanah hitam, di bawah rerimbunan pohon beringin tua. Tiga prajurit Serayu mendekat dengan langkah berat. Pemimpinnya, Jana, menahan napas sebelum bicara. “Tanah ini suci. Kalian tidak boleh menancapkan besi di sini,” katanya tegas. Seorang penjaga utara menjawab datar, tanpa menoleh. “Perintah dari Raja Lantara. Semua wilayah di bawah perjanjian kini milik bersama.” Jana mendekat. “Milik bersama bukan berarti tanpa hormat.” Penjaga itu menatapnya, mata mereka bertemu—dingin dan panas dalam satu tatapan. Tak ada yang tahu siapa yang bergerak lebih dulu, tapi suara logam menghantam udara. Sebilah pedang menyambar, dan darah menetes ke tanah keramat. Kabut menelan segalanya. ••• Raka tiba terlambat. Di antara kabut, ia melihat Jana tergeletak dengan darah mengalir dari dadanya. Tombaknya masih menggenggam tanah. Beberapa pemuda Serayu menjerit, sebagian menyerang membabi buta. Prajurit utara membalas dengan disiplin dingin. Jeritan manusia bercampur suara logam, dan di bawah beringin suci, darah mengalir seperti sungai kecil. “Berhenti!” teriak Raka. Namun tak seorang pun mendengar. Ia menubruk ke tengah, menahan dua orang yang hendak saling tikam. “Ini bukan perang kalian!” serunya. Seorang komandan utara melangkah maju, jubahnya berwarna biru kehitaman, wajahnya datar tapi suaranya menggema. “Kau Raka dari Serayu?” “Ya.” “Kalau begitu, kendalikan rakyatmu. Kami hanya menjalankan perintah.” Raka menatapnya tajam. “Perintah untuk menodai tanah suci? Untuk menanam besi di tubuh leluhur kami?” Komandan itu tersenyum miring. “Leluhur? Leluhur tidak butuh tanah. Hanya yang hidup yang butuh tempat berdiri.” “Dan kau baru saja menginjakkan kaki di atas kematianmu sendiri,” balas Raka datar. Hening sekejap. Lalu denting logam kembali pecah. ••• Perkelahian itu singkat tapi kejam. Beberapa prajurit utara mundur, meninggalkan dua korban di sisi mereka. Di tanah lembah yang lembap, darah kedua suku bercampur menjadi satu warna. Simbol persatuan yang mereka paksa kini menjadi warna merah yang tak lagi bisa dibedakan. Raka berlutut di samping Jana, menatap wajah sahabatnya yang telah membeku. “Seharusnya aku melarang kalian pergi,” bisiknya, suaranya serak tertahan. “Tidak, Tuan…” gumam Giri yang kini datang bersama pasukan cadangan. “Kalau bukan mereka hari ini, mungkin kita semua besok.” Raka berdiri. Tangannya gemetar, tapi matanya tenang seperti batu. Ia memandang menara yang masih setengah jadi di kejauhan. “Katakan pada Raja Lantara,” ucapnya dingin, “bahwa Serayu tidak lagi tunduk pada perjanjian yang dicuci dengan darah. Kami akan tetap berdiri, meski harus sendirian.” Angin dari utara bertiup, membawa kabut dan abu sisa pertempuran. Aruna berdiri jauh di balik kabut, menyaksikan semua tanpa suara — air matanya jatuh, menyadari bahwa cinta dan sumpah kini telah menjadi dua jalan yang tak mungkin bertemu lagi. Malam itu, gong suci tidak berbunyi. Desa menyalakan obor bukan untuk pesta, tapi untuk mengenang. Dan dari atas bukit, cahaya menara utara terus menyala—menjadi api penjaga, atau mungkin api penanda kehancuran yang akan datang. Sejak hari itu, lembah Serayu tak pernah benar-benar tidur lagi. Karena di setiap desiran angin malam, selalu terdengar bisikan dari tanah: “Darah pertama telah tertumpah. Dan tanah ini tidak akan diam.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD