Kabut turun pelan di atas Lembah Serayu, menutupi atap-atap rumah kayu yang berbaris di sepanjang sungai. Di antara bunyi serangga dan desir bambu, terdengar suara langkah pemuda yang berjalan sendirian, menelusuri jalan setapak menuju hutan.
Namanya Raka, anak kepala suku yang sejak kecil lebih akrab dengan sepi daripada pesta.
Ia berhenti di tepi tebing. Dari sana terlihat matahari yang baru naik, memantulkan warna merah di permukaan air.
Baginya, lembah ini bukan sekadar tanah kelahiran — tapi juga penjara yang tenang. Semua yang hidup di sini percaya bahwa darah leluhur tidak boleh dicampur dengan darah lain. Raka, satu-satunya pewaris suku, tahu bahwa aturan itu suatu hari akan menjeratnya.
“Raka!”
Suara berat seorang pria memanggil dari kejauhan. Paman Giri, penjaga gerbang lembah, datang membawa tombak upacara.
“Kepala suku mencarimu. Dewan ingin kau hadir di balai. Mereka akan membahas perjanjian dengan suku utara.”
Raka menatap ke arah matahari lagi sebelum menjawab pelan, “Perjanjian atau ancaman, Paman?”
Giri terdiam. Ia tahu anak muda ini terlalu cerdas untuk sekadar jadi pewaris tahta.
“Tak semua hal perlu kau lawan dengan kata, Nak. Kadang diam lebih tajam dari pedang.”
Raka tersenyum tipis. “Tapi diam juga bisa membunuh, Paman.”
Mereka berjalan beriringan, menuruni jalan setapak menuju desa. Di sepanjang jalan, terlihat wajah-wajah cemas penduduk. Anak-anak berhenti bermain, para ibu berbisik pelan. Semua tahu—suku utara tak datang untuk berdamai.
Di balai pertemuan, suara gong bergema tiga kali. Para tetua duduk melingkar, wajah mereka tegang. Raka berdiri di tengah, menatap ayahnya, Raden Seta Serayu, yang kini tampak letih meski masih berwibawa.
“Anakku,” kata sang kepala suku dengan suara berat, “kita akan bersatu dengan suku utara. Mereka menawarkan kekuatan, dan kita tak punya pilihan.”
Raka menunduk, lalu menjawab lirih, “Kalau kita bersatu karena takut, maka bukan kekuatan yang kita dapat… melainkan perbudakan.”
Hening panjang.
Hanya bunyi bambu di luar yang bersentuhan dengan angin. Dalam keheningan itu, Raka tahu: kalimatnya baru saja menyalakan bara pertama dari perang yang tak akan mudah padam.
---
Senja merambat perlahan. Langit Lembah Serayu berwarna jingga kemerahan, seperti luka yang belum kering.
Raka keluar dari balai pertemuan dengan langkah berat. Kata-kata ayahnya masih berputar di kepala — persatuan karena ketakutan. Ia tahu, sesuatu sedang berubah di tanah ini.
Di tepi sungai, seseorang sudah menunggu. Rambutnya tergerai, berkilau keemasan terkena cahaya sore. Aruna, gadis dari suku laut yang datang bersama rombongan utara, sedang menenun jaring kecil dari serat pandan.
Raka berdiri beberapa langkah di belakangnya, ragu untuk menyapa.
“Kalau kau ingin bersembunyi, kau terlalu tinggi untuk pohon itu,” ucap Aruna tanpa menoleh.
Nada suaranya lembut tapi tajam, seperti riak air yang menggoda batu.
Raka tersenyum samar. “Aku tidak bersembunyi. Hanya memastikan ombak tidak mencuri sesuatu yang bukan miliknya.”
Aruna tertawa kecil. “Lalu apa yang bisa diambil ombak dari seorang pewaris lembah? Darahnya? Atau sumpahnya?”
“Dua-duanya, mungkin,” jawab Raka pelan, menatap arus sungai yang membawa dedaunan ke arah utara. “Darah bisa diwariskan, tapi sumpah harus dipilih.”
Aruna menatapnya kini, matanya sejernih air senja.
“Dan apa sumpahmu, Raka dari Serayu?”
Ia terdiam sesaat. Lalu dengan suara rendah, hampir seperti bisikan:
“Bahwa aku tidak akan membiarkan tanah ini disatukan oleh ketakutan, atau oleh pedang.”
Hening menggantung di antara mereka. Suara burung mulai redup, hanya gemericik air dan desir bambu yang menyertai.
Aruna menunduk, jari-jarinya bermain di atas jaring yang belum selesai. “Kau terlalu berani untuk seorang yang belum memegang takhta.”
“Berani?” Raka tersenyum pahit. “Aku hanya tidak ingin menjadi nama lain yang dilupakan sejarah karena tunduk.”
Sore itu berakhir tanpa janji, hanya pandangan yang lebih lama dari seharusnya.
Ketika Aruna melangkah pergi, Raka tahu — entah bagaimana — bahwa perempuan itu akan menjadi bagian dari sumpahnya. Dan mungkin juga, kehancurannya.
Di kejauhan, gong suci kembali berdentang tiga kali.
Pertanda perjanjian telah disetujui.
Tapi di hati Raka, perang baru saja dimulai.
---
Bertahun-tahun kemudian, orang-orang masih membicarakan hari itu.
Hari ketika seorang pemuda dari lembah menantang perjanjian yang ditulis dengan tinta ketakutan.
Mereka menyebutnya Sumpah Serayu — sumpah yang tak pernah dicatat dalam naskah kerajaan, tapi selalu hidup dalam cerita rakyat, berbisik di antara bambu dan sungai.
Dari sinilah darah pertama tertumpah.
Dan dari sinilah pula lahir legenda yang kelak disebut Trilogi Nusantara — kisah tentang tanah yang menolak tunduk, cinta yang menolak padam, dan manusia yang melawan takdirnya sendiri.