Untuk seorang pengusaha, Rudi tidak akan mudah untuk mempercayai siapapun sebelum mendaatkan buktinya sendiri, “Tolong kau lacak siapa pengirim surel ini!” Tegas Rudi pada sekretaris memalui sambungan telfon.
Ia kembali teringat dengan beberapa tahun silam, saat ada orang yang mengirim surel padanya tentang permasalahan Becca, kala itu dirinya benar-benar panik dan langsung memboyong semua keluarganya untuk pergi ke rumah sakit.
Dan tanpa sadar, semua data perusahaan lenyap begitu saja, sekaligus membuat saham perusahaannya turun drastis.
Kenapa bisa begitu? Yak arena, fikiran dan otak Rudi terdistrack oleh surel yang memberitahukan jika anak sulungnya yang bernama Rebecca Hardinata telah jatuh dari lantai 4 sekolahnya.
Dalam surel itu juga membertahukan, jika Rudi harus mengisi formulir pada link yang diberikan untuk bisa bertemu dengan putrinya di rumah sakit. Tanpa mengecek lebih jauh, naluri orang tua Rudi langsung membuka link tersebut dan mengisinya.
Sampai akhirnya ia mendapatkan kabar pertama dari rumah sakit yang ia datangi, jika pasien bernama Rebecca Hardinata tidak ada, “Kalian jangan menipu saya, ya! Saya jelas mendapatkan surel dari rumah sakit ini, yang menyebutkan jika anak saya di awat di sini!” Ujar Rudi dengan amarah yang meluap-luap, pada salah satu resepsionis rumah sakit ternama di Jakarta.
TOKTOKTOK'
Ketukan itu membuyarkan semua kenangan llama Rudi, yang sama sekali tidak ia inginkan, “Bagaimana? Kau sudah dapat semua informasi?” Tanya Rudi pada sekretaris yang sedang melangkah masuk.
“Benar adanya, Pak Rudi. Saya sudah mengecek melalui ponsel pribadi saya, jika link tersebut adalah kumpulan foto-foto putrid sulung Pak Rudi, yang berada di Singapore.”
Rudi menelan saliva dengan berat, karena mengetahui jika kabar yang dijelaskan di surel adalah fakta, membuat fikiran nya ber-travelling ke Negara tetangga dan membuat ceritanya sendiri.
‘Benar-bear bikin malu, anak itu.’ Batin Rudi, yang seolah merasakan marah, kecewa dalam satu waktu.
“Tolong kau hubungi kontak yang tertera di dalam surel, dan minta orang itu untuk menemui saya!”
“Pak Rudi yakin? Jika boleh saya berpendapat, lebih baik bapak tanyakan dulu pada nona Rebecca, agar tidak terjadi kesalah paham---“
“Anak itu tidak akan menjawabnya, jadi saran dari kau tidak menguntungkan. Jadi, lakukan perintah saya!” Rudi membentak sekretarisnya yang bernota bene wanita, hingga membuatnya tersentak sekaligus takut dengan sikap Rudi yang sudah naik pitam.
**
Balik lagi ke kediaman Hardinata, di bilangan Jakarta Selatan. Rian sedang menjelaskan pada Rudi maupun Rita untuk membawa pulang Becca.
“Hentikan omong kosong itu! Enak saja, anakku mau dideportasi padahal tidak menyalahkan hukum Negara sana!” Rita yang tidak terima dengan usul Rian, langsung berdiri sempurna seolah mengintimidasi.
Namun, semua itu tidak cukup untuk membuat Rudi setuju atas perbuatan istrinya. Dalam relung hatinya, ia menyetujui rencana dan strategi dari Rian, agar membawa Becca pulang dengan cara itu.
Tapi, ada satu kegelisahan yang mengannjal di hatinya, “Saya mempunyai banyak teman di pusat imigrasi, jadi semua itu akan mudah di lakukan,”
Hatinya tersentak hebat, saat mendengar kembali ucapan dari Rian, yang seolah mengetahui isi hatinya, “Jika Mr. Rudi, bersedia memberikan cuan sedikit untuk mereka.” Sambung Rian yang berisik tepat di kuping Rudi.
Membuat pria paruh baya melengkungkan senyum bengisnya, “Apa yang akan kalian lakukan?!” Kali ini suara ketus dari Rita terdengar.
Sebagai seorang Ibu dari dua orang putrid, membuat dirinya sangat bersalah telah melahirkan mereka ke dunia, dengan mempunyai ayah seperti Rudi.
Bukan tanpa alasan ia membenci sosok suaminya, tapi bedasarkan puluhan tahun mereka hidup bersama, Rita merasakan jika Rudi adalah sosok yang selalu menuntut kedua anaknya seperti yang ia inginkan.
Mulai dari Becca harus selalu bersekolah di sekolah unggulan impian Rudi, hingga membuat masa mudanya dihabiskan dalam kamar, ruang les, dan perpustakaan.
Dan sampai sekarang, saat Becca sudah menginjak usia sempurna untuk memulai lembaran dewasanya, Rudi turut ikut campur dengan urusan Becca, hingga akan menghalalkan segala cara.
Untuk Rita yang sangat mempercayai Becca, merasakan semua ucapan dari Rian yang menyebutkan jika anaknya adalah seorang penghibur pria, ditepis mentah-mentah dari hatinya.
Ia meyakini jika Becca tidak akan melakukan hal kotor seperti itu, “Kau tidak terima dengan semua ucapan saya?!” Lagi-lagi Rudi membentak istrinya di depan Rian, hingga membuat Rian tidak tahu harus apa.
“Jika kau begini terus, silahkan tinggalkan kediaman Hardinata, dan tidak bisa bertermu dengan kedua anak emasmu lagi.”
“Mr. Rudi?” Rian yang sudah tidak kuat, mendengar pertikaian mereka, langsung melerai dan meghentikan ucapan tidak pantas yang keluar dari mulut seorang suami pada istrinya.
“Kau mau? Tidak kan? Kalau begitu, diam saja!” Rudi kembali membentak Rita yang terdiam di depannya.
Bukan karena takut kehilangan semua barang-barang mewah dari suaminya, Rita diam untk mengalah karena kedua putrinya masih harus mendapatkan perlindungan darinya.
Jika bukan karena itu semua, mungkin Rita sudah meninggalan Rudi berapa tahun yang lalu. Karena dirinya sudah sangat mengetahui dari watak suaminya saat masih dalam tahap pendekatan.
**
Setelah rencana tersusun rapih, Rian kembali ke bandara diantar oleh wanta tadi yang menjemputnya, “Kau mau langsung pulang, Mas Rian?” tanya wanita itu yang Rian ketahui namanya adalah Fiola.
“Hmm, rencananya begitu. Tapi entah kenapa tubuhku lelah, padahal tadi kita sudah makan.” Balas Rian yang seraya mengulet di depan Fiola.
Membuat wanita itu mengalihkan pandangannya, karena tubuh Rian terbuka sedikit akibat perbuatannya, “Kau tahu hotel yang murah, dan nyaman di sini?” Tanya Rian dengan kikihan saat melihat Fiola yang belum menatapnya kembali.
Dan setelah menunggu beberapa saat, barulah Fiola menatap Rian kembali, “Saya tidak tahu mengenai hotel, paling hanya ada capsule room yang bisa Mas Rian sewa dalam harga murah, tapi nyaman.” Jelas Fiola, dengan menatap mata Rian.
Hatinya seolah bingung dengan semua yang terjadi, Fiola masih belum percaya jika orang seperti Rian mampu menciptakan semua rencana busuk untuk membuat Becca kembali ke Jakarta.
‘mata itu, tidak ada mata liciknya, tapi kenapa hatinya sangat licik? Aku kira kau baik, Mas, ternyata aku salah.’ Batin Fiola meringis, dan mengasihani Becca, yang merupakan wanita baik yang banyak bergaul dengannya di luar jam kantor.
“Hallo, Fiola?” Rian mengelus pipi Fiola, untuk menyadarkan wanita tersebut yang seketika melamun di depannya, “Ada apa, Mas Rian?” Sontak membuat Fiola agak menjauh dari Rian, karena terkejut.
“Kau tadi bilang ada capsule room. Jadi, tolong antarkan saya ke sana.” Balas Rian dengan kikihan, hingga membuat pipinya bolong, dengan senyum pipitnya.
Mendengar perkataan Rian, ia langsung mengajaknya untuk pergi ke pintu terminal 4 yang menyediakan capsule room untuk para-para pelancong, yang tidak mau keluar dari Bandara. Dengan jantung yang sedikit berdegup cepat, karena Fiola masih belum percaya dan takut, jika nanti Rian akan melakukan hal buruk padanya.
Maklum, Fiola adalah gadis awam yang belum tahu dunia seorang pria maupun dunia hubungan. Jadi, hal ini terasa wajar jika ia takut pada Rian, karena terlebih lagi, tadi Rian mengusap pipinya tanpa izin dari Fiola.