We all lies

1070 Words
Sekembalinya Rey, membuat Rita sangat bahagia, meskipun ada satu permasalahan yang sebentar lagi membuat anak bungsunya kecewa. "Mamah kenapa? Sakit?" Tanya Rey, dengan tangan yang sibuk memasukan buku ke ranselnya. Rita tidak langsung menjawabnya, dan malah menggantungkan pertanyaan Rey, "MAMAH, MAU KEMANA?" Pekik Rey, yang melihat sang ibu keluar dari kamarnya, dengan wajah yang sangat gusar. Padahal sebelumnya, wajah Rita nampak berseri dan bersyukur, jika Rey memutuskan untuk kembali ke rumah. Kenapa perubahan emosinya semakin tak karuan, banyak pertanyaan bersarang dalam fikiran Rey. Namun dirinya memilih untuk tak acuh. Karena dirinya harus fokus, menyiapkan diri untuk mendengar teriakan Becca, jika mengetahui keberadaannya sekarang. Drrttt drttt drttt' Becca membiarkan ponsel tersebut bergetar terus menerus di atas nakas, karena sang empunya sedang berada di kamar mandi, dan dirinya juga malas untuk merubah posisinya yang sedang enak. "Rebecca," Sayup-sayup terdengar suara dari Randi, "Tolong ambilkan handuk!" Randi menyelesaikan perintah, hingga membuat Becca berdecih. Dengan sangat terpaksa, dirinya harus menyetop drama korea yang sedang ia tonton, demi mengindahkan perintah Randi. "Ini, jangan kebiasaan makanya, Rand. Masa setiap mandi gak bawa handuk." Celoteh Becca, pada Randi yang sedang mematung di pintu. "Cepat pakai, kok malah diam?" Tanya Becca, seraya memalingkan wajah karena dirinya yang belum terbiasa melihat Randi tanpa seutas kain pada tubuhnya. Kebalikan dengan Randi, yang malah sedang berimajinasi jika gadis di depannya, menanggalkan piyama bermotif keroppi itu, dan bergabung mandi dengannya. Yang padahal, Randi telah menyelesaikan kegiatan mandinya. Namun jika imajinasinya terkabul, ia merasa sangat ikhlas untuk kembali mandi, "RANDI!" Pekik Becca, dengan menggoyangkan tangan, dengan maksut mempeecepat Randi mengambil handuk dari tangannya. "Ouchhh..." Goyangan itu salah sasaran, hingga membuat lamunan Randi terhenti. DREP' "RAND!!!" Rengek Becca, dengan suara sedikit terkejut, akibat tarikan Randi. "Kau mandi sekarang ya, mau?" Tanya Randi pada Becca, dengan tatapan yang penuu pengharapan. "Tidak, ini hari libur. Waktu mandiku nanti sore." Jawab Becca, dengan tatapan yang tak kalah lekat dari Randi. Membuat Randi sedikit kecewa, namun dirinya tetap melancarkan ucapan pertamanya. Dengan perlahan, Randi mengelus pipi Becca sambil mengobrol santai dengan gadis itu, namun dengan pasti ia menyentuh semua titik sensitif Becca, membuat gadis itu menggeliat. "Aku tidak mau mandi lho, Rand. Kenapa kau tetao membuka kancing piyamaku?" Pertanyaan yang tidak perlu diucapkan oleh Becca, membuat otak Randi menyiapkan jawabanya dengan cepat. "Tidak apa jika kau tidak mau mandi, tapi aku tetap mau menyuruhmu mandi." Pernyataan mendominasi dari Randi, membut Becca terintimidasi. Ditambah lagi, bibir lembut Randi yang sudah mendarat sempurna di tengkuk leher Becca. Memaksa hormon Becca untuk naik, agar meladeni kembali permainan yang sudah sering mereka lakukan. "Come in, Sayang. Mandi denganku, yaa" Bisik Randi tepat di telinga Becca, membuatnya menggeliat kembali. Mulut Becca sama sekali tidak mengiyakan dan mengindahkan permintaan dari Randi, namun tangan Randi tetap membuka kancing demi kancing, setelah Becca mengedipkan sebelah matanya. Karena itu merupakan kode, yang sudah Randi ketahui. Ia tidak memaksa jika Becca mungkin masih malu untuk membalas permintaan mainnya, dengan ucapan. Tapi yang jelas, selama Becca mau dan tidak keberatan seperti sekarang. Randi akan selalu mengetahui kode-kode yang diberikan oleh Becca. ** Di tempat laim ada Rian yang baru kembali dari Jakarta, dan langsung ke apartemen temannya, untuk melancarkan semua rencana yang sudah ia bangun bersama Rudi. Karena waktu tang diberikan Rudi padanya sangat sebentar, maka memaksa Rian mempercepat semuanya. "Bro Riann, gimana jadinya nih? Janji amankan?" Tanya pria yang hanya memakai boxer dan singlet di depannya. "Aman, tinggal nunggu orangnya transfer. " Balas Rian, yang memberi isyarat pad pria yang akan membantu permasalahan semua surat-surat untuk mendeportasi Becca dari Singapore. Setelah percakapan awal di depan pintu, Rian langsung masuk ke dalamunit apartement yang cukup mewah dan rapih. Membuat dirinya kembali berangan-angan, untuk mempunyai apartement seperti ini, serta mendapatkan pekerjaan tetap seperti temanya sekarang. "Kalo gue boleh tanya ya, lo kenapa ngebantuin orang tua si temen lo itu, pake cara ini?" DEG' Tenggorokanya terasa sangat kering, sehingga Rian sulit menelan salivanya sendiri. Dadanya seolah tertekan benda keras, sehingga ia kesulita bernafas. Padahal, ia sanga mengetahui pertanyaan tadi adalah pertanyaan yang selama ini sudah ia siapkan jawabannya. Namun kenapa saat ini ia tak mampu menjawabnya, mendadak saraf otaknya tidak memberikam perintah apapun pada mulutnya. "Lahh kok bengong?" Gumam pria tersebut. "Minum dulu dah lu. Kecapean kali lu yaaa" Pria itu kembali berbicara, seraya melempar satu botol air mineral yang ia ambil dari kulkas. Barulah Rian tersadar dan kembali seperti semula, setelah dadanya terhantam air minelar dingin. "Jakarta gimana? Bagus banget ya?" Pria itu kembali berceloteh, hingga membuat Rian terkikih geli. Mungkin orang itu berfikir jika Rian berwisata saat di Jakarta, hingga pertanyaan iti muncul dengan sangat natural. Yang padahal, Rian hanya melihat Jakarta dari atas pesawat, dan hanya melihat ruas-ruas jalanan Jakarta dari balik jendela mobil orang suruhan Rudi. "Bagus banget, kapan-kapan kita ke Jakarta yaaa." Balas Rian, dengan satu kebohongan, agar tidak menjatuhkan harga dirinya sendiri. Namun seharusnya, hal itu tidak perlu ia lakukan. Karena, menjadi apa adanya tanpa melebih-lebihkan sangatlah indah. Sebab, akibat satu kebohongan yang ia ciptakan tadi, membuat pertanyaan-pertanyaan baru muncul dari mulut pria penasaran yang berada di depannya. Membuat Rian kebingungan untuk menjawab semuanya, karena salah satu pertanyaan pria tersebut memaksa untuk menjawab makanan khas Jakarta. Yang padahal ia sendiri, hanya menyantap kudapan yang diberikan oleh Rita, ibu dari Becca. Dan setelah itu ia langsung tidur di capsule room. ** Becca setia mendampingi Randi menemui semua tamu undangan, "Ini kekasihku, kenalkan." Ujar Randi, yang dengan bangga memperkenalkan Becca pada beberapa rekan bisnisnya. Membuat senyum Becca merekah, hingga auranya semakin terpancar jelas. Kecantikannya semakin bertambah berkali-kali lipat. BRUGH' Suara itu membuat Randi terkejut dan langsung mencari darimanakah sumbernya, "AAAA SAKIT.." Pekik Becca dengan tangan yang mengelus siku. Membuat Randi langsung mengambil tangan Becca, dan melihay kondisinya. "Aku mimpi kita pergi ke pesta itu, Rand." Lirihan Becca memaksa Randi menahan tawanya, agar tidak menyinggung sang kekasih yang ternyata terjatuh dari ranjang. "Kapan-kapan kan kita bisa pergi ke pesta itu lagi, udah yuk bangun. Aku bantu." Perlahan Randi memapah Becca kembali ke ranjang, "Lagian kenapa tadi kau batalkan si, Rand?" Becca kembali bertanya dengan pertanyaan yang sudah dijawab olehnya tadi. "Perasaanku tidak enak, Becc. Aku takut terjadi sesuatu dengan kita. Maka dari itulah, aku memilih untuk bersamamu di sini, ketimbang pergi ke pesta." Jelas Randi dengan suara lembut, hingga membuat hati Becca luluh dan percaya dengan jawaban itu kembali. Padahal semua itu hanyalah alasan yang Randi buat, agar dirinya bisa memantau pergerakkan Rian melalui Trevor, yang seakan membuatnya curiga terus menerus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD