Ketika selesai melepas celana panjang dan membelitkan selimut tebal itu di sekeliling pinggangnya, Adinda tidak beranjak dari balik pohon. Ia menatap punggung Jesse yang lebar, yang berada agak jauh darinya.
Pria itu memegang janjinya dengan tidak menoleh sedikit pun karena Adinda tidak melepaskan mata dari Jesse saat melucuti celananya. Bukannya ia tidak percaya, tetapi Adinda tahu jika ia harus tetap waspada.
Dengan santai, Jesse duduk bersila di atas rumput. Tanpa alas karena benda itu kini menjadi satu-satunya yang bisa menyelamatkan Adinda dari mati rasa karena kedinginan. Pria itu meraih tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
Sarapan? Batin Adinda saat ia melihat dua kantong kertas dan botol minum. Apa Jesse benar-benar sarapan di tempat ini?
Merasa penasaran, Adinda keluar dari balik pohon dan melangkah menuju ke tempat Jesse duduk. Pria itu menoleh saat mendengar langkahnya, kemudian bangkit dan meraih celana panjang Adinda yang basah. Jesse berjalan ke tepi sungai, lalu menjemur celana Adinda di atas batu yang tadi ia duduki.
Sinar matahari mulai menembus dari balik dedaunan pinus, dan Adinda yakin tidak akan butuh waktu terlalu lama untuk membuat celananya kering.
Namun sementara ia menunggu, apa yang bisa dilakukannya? Berdua saja bersama Jesse di sini? Tetapi bagaimana mereka akan berkomunikasi nanti? Meskipun bisa membaca gerak bibir pria itu, Adinda merasa itu tidak akan membuat Jesse nyaman dengannya.
Lagi-lagi ia menyesal karena tidak mengerti bahasa isyarat sedikitpun. Seandainya ia benar-benar pintar, seharusnya Adinda mempelajari semua bahasa di dunia yang ia tahu termasuk bahasa isyarat. Namun, tentu saja seumur hidupnya, Adinda tidak pernah membayangkan akan bersinggungan dengan pria seistimewa Jesse.
Jesse kembali ke tempatnya duduk semula dan melambaikan tangan untuk mengajak Adinda bergabung bersamanya. Agak ragu, Adinda mendekat dan duduk dengan hati-hati agar lilitan selimutnya tidak terlepas.
Sebenarnya, selimut itu juga agak tidak terlalu nyaman karena celana dalamnya yang basah membuat kain itu lembab. Akan tetapi, tidak ada yang bisa Adinda lakukan untuk itu. Tidak mungkin ia juga melepas celana dalamnya dan menjemurnya di samping celana panjangnya.
Apa yang akan Jesse pikirkan saat melihat celana dalamnya yang berenda-renda itu dijemur? Lalu, jika misalnya benda itu terbang terbawa angin, apa Jesse akan bersedia mengejarnya demi Adinda?
Pikiran itu membuat Adinda terkikik sendiri. Bayangan Jesse dengan tubuhnya yang besar dan jantan, mengejar celana dalam berenda warna merah muda, agak sulit diterima akal sehatnya. Walaupun mungkin, Adinda tidak akan keberatan melihat itu.
Adinda menangkap mata Jesse yang memandangnya dengan heran saat ia terkikik sendirian. Mata biru itu tampak bertanya-tanya apa yang Adinda tertawakan.
“Maaf, aku tidak menertawakanmu. Aku mengingat saat aku jatuh ke sungai tadi,” dustanya dengan santai. Seharusnya ia menyalahkan Jesse ‘kan? Pria itu datang tanpa suara dan mengagetkannya hingga ia jatuh ke sungai.
Seakan tidak peduli, Jesse mengangkat bahu kemudian membuka satu kantong kertasnya dan mengulurkan setangkup sandwich yang terlihat besar dan menggiurkan. Tumpukan daun selada, tomat, dan daging iris yang melimpah terlihat dari sela tumpukan roti.
Ketika Adinda tidak juga menerima uluran itu, Jesse menggoyangkan tangannya hingga Adinda menatap wajah Jesse. Pria itu tidak tampak marah seperti semalam dan tadi. Apa Jesse benar-benar sudah tidak kesal padanya?
Bibir Jesse bergerak, bertanya apakah Adinda sudah makan yang ia sambut dengan gelengan.
‘Kalau begitu ambil ini,’ ucap Jesse lagi tanpa suara.
Dengan ragu, Adinda menerima dan menggenggam sandwich yang sangat besar itu. Ia ragu untuk memakannya karena takut tidak akan sanggup menghabiskannya. Apa itu akan menyinggung Jesse nanti jika ia tidak bisa menghabiskannya? Pria ini tampak mudah sekali marah. Bisa saja ia juga akan marah karena Adinda tidak menghabiskannya nanti.
Telunjuk Jesse menyentuh lengan Adinda pelan hingga ia kembali menoleh pada pria itu. Di antara sinar mentari pagi yang menyusup dan pepohonan di belakangnya, Jesse tampak begitu memukau. Mata biru pria itu hampir sewarna dengan langit yang tadi dipandangi Adinda. Jesse bahkan terlihat jauh lebih muda lagi pagi ini.
Pria itu mengenakan kemeja wrangler warna biru tua dengan lengan yang digulung hingga siku, celana jeans berwarna hitam dan sepatu bot. Yang kurang hanyalah topi koboi, tetapi Adinda tidak akan keberatan dengan itu karena ia bisa melihat rambut gelap Jesse yang berantakan. Poni pria itu terjatuh ke depan dahinya dan Adinda merasa gatal ingin menyentuhnya.
Bagaimana mungkin ada pria setampan ini di dunia? Dan kenapa pria itu harus Jesse? Bukan karena Jesse tidak bisa bicara, bukan itu. Ia hanya menyayangkan pria seperti Jesse harus menutup hatinya dari perempuan lain karena masa lalunya. Namun, bahkan tanpa masa lalu itu, apa Jesse akan melihatnya? Umur mereka terlalu jauh berbeda. Lima belas tahun. Pria itu menganggapnya masih kecil.
Tangan Jesse melambai di depan wajah Adinda ketika sadar bahwa ia melamun lagi.
“Ah, maaf. Aku…”
Adinda bingung memikirkan apa yang harus ia katakan pada Jesse. Aku terpesona padamu? Jesse pasti akan melotot marah padanya dan pergi meninggalkannya jika Adinda mengatakan itu.
‘Jangan pandangi aku seperti itu. Aku tidak nyaman.’
Kepala Adinda menunduk malu. Jesse pasti salah mengartikan tatapan kekagumannya pada pria itu. Pasti Jesse masih berpikir jika Adinda memandang bekas luka di lehernya. Ia bahkan benar-benar lupa tentang itu tadi. Sampai Jesse bilang merasa tidak nyaman.
“Aku bukan memandang bekas lukamu,” ucap Adinda pelan sambil menunduk. “Aku minta maaf kalau kau tidak nyaman. Tadi malam itu kesalahanku. Aku menyesal menatapmu dengan cara seperti itu.”
Sebenarnya, Adinda ingin mengangkat kepalanya lagi dan melihat bagaimana ekspresi Jesse, tetapi ia takut. Jesse tidak akan bisa memanggilnya jika pria itu ingin membalas perkataannya kecuali ia memandang Jesse atau pria itu menyentuhnya seperti tadi.
Bagaimana suara Jesse terdengar? Apa Adinda bahkan akan pernah memiliki kesempatan untuk itu? Mendengar lagi suaranya? Youtube. Ya, pasti walaupun itu sudah lama, ada seseorang yang pernah merekam saat Jesse bernyanyi ‘kan? Ia akan mencarinya nanti di internet.
Lagi-lagi jemari Jesse menyentuhnya hingga Adinda kembali menatap pria itu.
‘Makanlah.’
Adinda tersenyum dan mengangguk lalu mulai menggigit. Selama beberapa saat, Adinda hanya diam dan menikmati sandwichnya. Ternyata itu sangat enak. Isi ikan tuna dan bukannya ayam seperti dugaannya semula. Adinda bahkan tidak menyadari makanan itu hampir tandas saat Jesse mengulurkan botol minumnya.
“Apa kau yang membuat ini? Rasanya enak sekali,” katanya sambil menerima botol itu.
Tadi pagi, Adinda sempat melihat kesibukan di dapur dan ia tahu jika sandwich bukan menu sarapan hari ini. Lagipula, mana ada koboi yang kenyang hanya dengan makan roti kecuali menghabiskan bertangkup-tangkup roti atau…oh, apakah sandwich ini jatah sarapan Jesse yang kedua?
Jesse mengangguk. Adinda menunggu pria itu mengatakan sesuatu, tetapi ia hanya terdiam dan kembali menyantap sandwichnya.
“Apa kau tidak akan kelaparan nanti?”
Jesse memandangnya sambil mengangkat alis.
Adinda menunjukkan sandwichnya yang tinggal sedikit. “Ini pasti jatah sarapanmu. Seharusnya kau tidak memberikannya padaku. Kau bisa kelaparan nanti.”
‘Makanlah.’ Hanya itu yang Jesse katakan dan ia kembali memandang ke depan, ke hamparan sungai yang mengalir dengan tenang.
“Aku tidak pernah menggoda Chase,” ucap Adinda kemudian. Ia merasa perlu untuk menjelaskan kebenarannya pada Jesse. Pria itu menatapnya. “Dia…”
Apa Jesse akan marah jika ia bilang Chase yang mendekatinya? Atau apakah selama ini Chase tidak pernah bersikap seperti itu pada gadis lain?
‘Tetapi kau tersenyum padanya tadi.’
“Itu…aku hanya ingin membalas sapaannya. Tidak ada maksud lain. Aku…”
‘Kau tahu dia menyukaimu. Jangan memberi harapan padanya. Aku tidak ingin anakku kecewa.’
Setelah sekian lama tidak pernah peduli pada Chase, apa sekarang Jesse merasa khawatir anaknya akan kecewa karena ia menolak pria itu? Adinda bahkan yakin jika Chase tidak akan pernah mau dikhawatirkan oleh ayahnya. Akan tetapi, Adinda tahu jika ia tidak berhak mengatakan hal seperti itu kepada Jesse. Pria itu tidak tahu jika dirinya sudah tahu apa yang terjadi.
“Aku tidak memberinya harapan. Aku hanya…”
“Adinda!!” teriakan Clara terdengar di belakangnya.
Mereka menoleh dan mendapati Clara juga Chase turun dari kuda lalu berlari ke arah mereka duduk.
“Aku mencarimu ke mana-mana! Bagaimana kau bisa sampai di sini?” tanya Clara saat sampai di hadapannya.
Gadis itu lalu menoleh pada Jesse dan mulai berbicara bahasa isyarat dengan pria itu. Adinda merasa kesal karena tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Apa Clara tidak bisa bertanya dengan suara saja?
“Kenapa kau membawanya ke sini, Jesse?” tanya Chase dengan nada tidak suka saat sampai di dekat mereka. “Kau tahu di sini tidak ada siapapun.”
Jesse? Chase bahkan memanggil nama pada ayahnya??
Sebelum Jesse sempat menggerakkan tangannya, Adinda lebih dulu menjawab. “Dia tidak mengajakku kemari. Aku ke sini sendirian dan bertemu dengannya secara tidak sengaja.”
“Dan celanamu? Kenapa ada di atas batu seperti itu?” Lagi-lagi Chase mengucapkannya dengan nada yang sama dan mata yang menatap curiga pada Adinda dan Jesse bergantian.
“Aku terpeleset dan jatuh ke sungai. Celanaku basah. Jesse menawarkan selimutnya selagi menunggu celanaku kering.”
“Jadi kau membuka celana di hadapannya?” Chase melotot.
Wajah Adinda memerah sementara ia melihat Jesse bergerak dan berdiri di depan Chase. Bukannya mundur, Chase malah menaikkan alis, tampak menantang ayahnya. Jadi benar hubungan mereka tidak baik?
“Apa yang ingin kau katakan sekarang?” tantang Chase. “Bahwa kau kembali menarik perhatian gadis yang kusukai seperti yang sudah-sudah? Untuk membuktikan padaku bahwa aku tidak ada apa-apanya dibanding dirimu? Begitu?”
Adinda terkesiap. Apa? Jesse menarik perhatian para kekasih Chase dulu? Itu tidak mungkin terjadi! Jesse tidak mungkin pria yang seperti itu ‘kan?
Tangan Jesse bergerak dan Adinda berharap setengah mati ia benar-benar bisa berbahasa isyarat. Apa yang Jesse katakan? Menyangkal atau mengiyakan?
“Omong kosong!” kata Chase kesal. “Semua yang kau katakan padaku adalah omong kosong. Oh, aku lupa kau tidak bisa berkata-kata padaku. Kau ‘kan bisu.” Cemooh Chase sambil memandang ayahnya dengan mata birunya yang membara penuh amarah.
Hati Adinda diliputi kesedihan yang tidak pernah ia rasakan saat melihat bahu Jesse yang menegang, kemudian pria itu berbalik. Adinda melihat wajah Jesse yang sedih dan malu.
Ya Tuhan, apa yang Chase katakan pasti menyakitinya. Bagaimana mungkin seorang anak tega berkata seperti itu kepada ayahnya sendiri?
Jesse meraih tasnya kemudian berbalik tanpa mengisyaratkan apa-apa lagi pada Clara ataupun Chase. Adinda melirik botol minum yang masih tergeletak di sampingnya. Padahal, tadi itu terasa menyenangkan. Ia hampir saja dekat dengan Jesse.
“Apa yang kau lakukan di sini dengannya? Apa kau tidak tahu seberapa jauhnya ini dari rumah? Apa kau tidak takut dia berbuat sesuatu yang tidak pantas padamu? Di seorang pria, Adinda! Pria!”
Suara Chase yang terdengar marah, membuat Adinda kesal. Jika bukan karena apa yang Chase katakan tadi, ia juga tidak akan sampai di sini. Lagipula, apa hak Chase berteriak seperti itu padanya? Adinda justru merasa lebih aman di sini bersama Jesse daripada harus bersama Chase.
“Ini semua salahmu! Kau membuatku malu di hadapan para pekerja!” teriaknya dengan marah.
Sebelumnya, Adinda tidak pernah bersuara dengan keras dan kesal seperti ini. Ia selalu terbiasa diam dan memendam kekesalannya sendiri. Namun, itu adalah Adinda yang di rumah keluarga Abimanyu. Di sini, ia tidak akan diam saja jika ada yang membuatnya kesal.
“Chase, lebih baik kau pergi. Aku yang akan pulang bersama Adinda,” potong Clara saat Chase hendak membuka lagi mulutnya.
“Aku tidak yakin kalian bisa naik kuda berdua. Lebih baik Adinda berkuda bersamaku dan kau pulang lebih dulu.”
Saran Chase membuat Adinda terkesiap. Ia menatap Clara dengan memohon dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Aku akan menuntun Molly sementara kami berjalan kaki.”
“Tetapi itu lumayan jauh. Adinda akan kelelahan. Bukankah begitu, Adinda?” Chase menoleh padanya.
Adinda menggeleng. “Aku berjalan kaki kemari. Tidak masalah jika harus kembali dengan berjalan kaki juga.”
“Nah ‘kan? Jadi lebih baik sekarang kau pergi,” ucap Clara penuh kemenangan.
“Aku akan menunggu di rumah.” Chase menatap Adinda sejenak sebelum berlalu dan menaiki kudanya.
Adinda menarik napas lega saat hanya tinggal mereka berdua saja di sana. “Kenapa kau mengajaknya?”
“Aku kebingungan mencarimu! Kubilang jangan ke mana-mana, tetapi saat aku kembali kau sudah tidak ada!” Clara melotot padanya. “Aku pulang ke rumah dan mencarimu di kamar tetapi kau juga tidak ada! Aku kebingungan.”
“Dan Chase pasti ingin tahu kenapa kau kebingungan.”
Clara mengangguk dan duduk di sampingnya. “Aku sudah bilang padanya tentang dirimu dan dari mana asalmu.”
“Lalu? Dia akan mundur ‘kan?”
Clara menatapnya dengan pandangan bersalah. “Kau salah. Dia akan tetap maju dan mendapatkanmu.”