Pagi-pagi sekali ponselku berdering dan dengan mengucek mata, aku segera bangkit dan meraihnya dari dalam tas. Malam tadi aku tidur di rumah sakit menjaga Bapak sedangkan Raisa masih di rumah Bi murni, syukurnya Bik murni punya cucu yang umurnya sebaya dengan anakku sehingga Raisa merasa nyaman dan betah di titipkan di sana, peraturan rumah sakit juga melarang membawa balita, membuatku juga mau tak mau menitipkannya.
Kulirik layar ponsel dan nama Bik murni tertera di sana.
"Ya, halo, Bi," sapaku.
"Aduh, Nduk ... Bibik harus bagaimana," ucapnya setengah panik.
"Kenapa, apa terjadi sesuatu pada anak saya?"
"Anu, Nduk, tadi pagi ayahnya datang dan membawa Raisa, Bibik udah coba tahan dengan banyak alasan, ayahnya bersikeras mau membawa, katanya cuma mau Jajan di Alfamart tapi, kok ya, belum kembali juga, Nduk."
Deg.
Seketika aliran darahku rasanya tersengat dan tiba tiba emosiku mendidih, kuraih kunci mobil dan segera meninggalkan ruangan Bapak.
"Mau kemana, Nduk?" tanya Ibu.
"M-mau lihat Raisa sebentar, Bu?"
"Terjadi sesuatu, Nduk?"
"Gak apa apa, Bu. Cuma mau lihat aja, sekalian Jannah mau mandi di rumah," kataku memberi alasan.
"Hati hati, yo, Nduk," kata Ibu dengan penuh perhatian.
Segera aku bergegas menyusuri lorong rumah sakit dengan hati yang sudah demikian panik dan takut.
"Mas Ikbal, beraninya dia menjemput putriku, akan kubuat dia menyesali perbuatannya." Aku bersenandika.
Dengan cepat aku sudah sampai di parkiran dan segera kumasuki mobil, hatiku masih 'ketar ketir' hingga jari jemariku ikut bergetar karena cemas.
Kunci yang coba kumasukkan untuk menghidupkan mobil sampai terjatuh dari cekalan tanganku. Aku khawatir mereka membawa putriku ke tempat aku tidak akan bisa menemukannya.
Kutarik persneling dan menginjak gas sesegera mungkin meninggalkan Rumah sakit.
Sepanjang perjalanan tak mampu kubendung air mata ketakutan dan rasa panik ini, aku khawatir jika Mas Ikbal berkeras dan tidak membiarkanku membawa putriku.
Setelah sepuluh menit berkendara sampailah aku di depan rumah Bi murni yang berhadapan langsung dengan rumah Ibu.
"Aduh Nduk ...." Bik murni menyongsongku ke pintu pagar.
"Mana Raisa, Bik," tanyaku panik.
"Gak tahu Nduk, katanya mau diajak jajan, tapi sudah satu jam belum pulang," jawab Bik Murni tak kalah panik.
"Ya sudah, saya coba cari dulu," kataku sambil menaiki mobil. Kucoba menghubungi ponsel Mas Ikbal, satu, dua kali, ponselnya terhubung namun tidak diangkat. Hal itu membuatku semakin panik dan curiga.
"Ya Allah, ya Allah_" hanya itu yang sanggup kurafalkan sepanjang jalan.
Sudah dua kilometer aku berkendara dari sekitar rumah Ibu untuk menyusuri Alfamart atau taman terdekat namun nihil aku tak menemukan mereka.
"Ya Allah, beri aku kesempatan bertemu putriku, ya Allah," bisikku.
Tak jauh dari situ kulihat sesosok pria yang tingginya hampir sama dengan Mas Ikbal sedang menggendong anak kecil, kuperlambat laju mobil untuk memastikan dan ternyata benar saja, itu mereka, Mas Ikbal, Soraya dan Raisa tengah bermain di tempat bermain sebuah restoran ayam siap saji.
Kutepikan mobil dan tanpa sempat lagi kumatikan mesinnya kutinggalkan dengan berlari cepat, kutarik putriku dari wahana kolam bola dan kugendong dia erat-erat.
"Berani sekali kamu," teriakku yang sontak mengundang perhatian banyak orang di sekitar situ.
"Apa maksudmu? Ini anakku." Dia berdiri dengan terkejut.
Aku tertawa jahat mendengar ucapannya sembari mendelik melihat istri mudanya yang sedang memegang sebuah balon dengan nama Raisa.
" Dan kau pelakor, Apa modusmu, kini setelah mencuri suamiku, kau ingin mencuri hati anakku," teriakku marah.
"Astagfirullah, Mbak," ucapnya sambil menggeleng cepat.
"Berani sekali kalian membawa Raisa tanpa izinku."
"Aku ayahnya!'
"aku yang melahirkannya, aku berhak padanya." Aku membalasnya sengit sehingga orang-orang berkerumun melihat kami.
"Hei, semua yang ada di sini, saya mau tanya, suami saya ini punya istri muda dan membawanya ke rumah saya, saya menjadi pembantu di rumah sendiri, dan akhirnya memutuskan pergi karena sudah tak tahan lagi, apa menurut kalian? Apa saya harus merelakan anak saya?"
Orang orang yang berkerumun menatap kami bergantian dan mulai mencibir Mas Ikbal dan Soraya.
"Ini anak saya!" Mas Ikbal mencoba mendominasi atas cibiran orang yang berkumpul di dekat kami.
"Kau sudah tidak memikirkan kami!" teriakku.
"Wuuuuuuuu ....." Sorakan warga mengudara.
"Mas, sebaiknya kita pergi," ajak Soraya lembut pada mas Ikbal sambil menarik lengannya.
"Awas, Jannah, aku aja datang lagi," ancamnya.
"Wuuuuuuuuuu ...." Teriakan warga semakin gencar bahkan kini mereka sebagian memvideokan kami.
Aku pergi menggendong putriku ke mobil, meluncur meninggalkan tempat itu dan suamiku yang masih terpaku di mobilnya.