Melihat warga yang mencibir bahkan terang-terangan menyoraki mereka Mak Ikbal menyadari bahwa kini situasinya sudah tidak kondusif. Ia menarik Soraya dan meninggalkan tempat itu dan menjauh dariku dan kerumunan warga.
"Aku bakal jenguk Raisa lagi," ucapnya sebelum pergi.
Aku tak menanggapi dengan kata kata, hanya mendelik saja sambil memeluk putriku.
"Dan ya, kembalikan dokumen rumah.
Deg!
Jantungku rasanya ingin meledak mendengarnya, dadaku seketika sesak menahan amarah, namun, kutahan karena tak ingin memperpanjang keributan di depan orang banyak.
**
Hari ini setelah berganti pakaian dan membersihkan diri, aku membawa Raisa meluncur ke rumah sakit untuk melihat keadaan Bapak lagi.
"Bunda kok kita gak pulang?" tanya putriku.
"Kita gak pulang lagi, Ayah sudah istri baru dan dia gak bisa sama Bunda lagi," jawabku.
"Ayah punya Bunda baru?" tanyanya polos.
Meski aku tahu jawabanku mungkin akan membuatnya kecewa tapi penting bagiku untuk memberitahu yang sebenarnya.
"Ehm ... Iya sayang." Aku tersenyum lembut padanya.
"Artinya Ayah gak sayang lagi sama Raisa?" lanjutnya yang kini mulai terlihat sedih.
"Kita beli donut dari Dunkin's ya," tawarku mengalihkan perhatiannya.
Ia menatapku dengan mata kecilnya yang polos. Kuberikan senyum tulus padanya untuk menguatkan hati dan memberi isyarat bahwa kita akan baik baik saja tanpa mas Ikbal.
"Kita beli mainan selepas menjenguk Kakek ya," bujukku lagi.
Senyum manis tersungging di bibirnya. Dan ia mengangguk cepat.
**
"Hei, siapa yang cantik ini?" sapa Dokter Rafiq pada Raisa setelah tadi memeriksa keadaan bapak yang mengatakan jika kondisi bapak mulai membaik.
"Ayo, Nak, disalimin tangan Pak Dokternya," kataku.
Putriku mendekat dan menyalami Dokter Rafiq dengan penuh hormat.
"Duh, cantiknya, namanya siapa?" Dokter Rafiq berjongkok mensejajarkan diri dengan putriku.
"Raisa."
"Oh Raisa, nama saya Rafiq," balasnya dengan senyum tulus.
"Ok, dr. Rafiq?" gumam Raisa.
"Iya, panggil aja Om Rafiq." Pria itu tertawa kecil.
"Kamu tahu gak, kalo Om bisa sulap?"
Putriku membulatkan matanya tanda antusias.
"Lihat ya, kedua tangan Om kosong," katanya sambil melebarkan kedua telapak tangannya lalu kemudian, "Sim salabim," ujarnya yang tiba tiba mengeluarkan sebuah gulali berbentuk bundar warni-warni yang tadi ia sembunyikan di kantongnya.
"Wah ...." Putriku berseru gembira sambil bertepuk tangan menerima permen kesukaannya itu.
"Terima kasih, Om Dokter," katanya tersenyum.
"Sama-sama," kata Mas Rafiq sambil memeluk Raisa sesaat dan melepasnya untuk bermain sendiri.
"Makasih ya, Mas, udah merawat Bapak dengan baik, dan sudah menghibur anak saya," kataku padanya setelah kami keluar dari ruangan Bapak.
"Ah biasa saja, kebetulan tadi ada sisa satu permen di kantong saya," balasnya sambil menatap mataku lekat.
"Dokter bawa bawa gulali ke rumah sakit?" Aku sedikit mengernyitkan kening tanda heran. "Apakah itu gulali untuk anak Dokter di rumah?" sambungku.
"Ha ha ha, saya gak punya anak, istri pun belum. Saya sering membagikan gulali dan balon ke pasien anak untuk menghibur mereka."
Aku terpana mendengarnya, karena di jaman sekarang jarang sekali orang yang mau meluangkan sedikit waktu dan rezeki untuk berbagi meski itu hal yang sederhana.
"Masya Allah, anda sangat berhati mulia, Dok."
"Tidak, Mbak Jannah, kemuliaan hanya milik Allah, kita sebagai manusia hanya berikhtiar untuk menjadi manusia yang baik."
Ia menepuk bahuku sejenak, "Saya permisi ya," ucapnya tulus lalu berlalu dari tempatku berdiri.
"Semoga Dokter Rafiq mendapatkan pahala dan kebahagiaan dunia akhirat," batinku sendiri.
**
Siang hari.
Pintu kamar Bapak terketuk dan sedetik kemudian Dokter Rafiq menyapa, "Selamat siang, Raisa mana?" tanyanya ramah.
"Ini saya di sini Om dokter," jawab Raisa dengan gembira.
"Kamu mau makan siang bareng om gak, kita beli nasi Padang," tawarnya.
"Mau Om," jawab anakku mengangguk cepat.
"Anda baik sekali Dok, tapi ... Tidakkah merepotkan?"
"Tidak sama sekali, kalo Mbak Jannah senggang bisa gabung dengan kami sekalian, saya mau bicara," tawarnya ramah.
"Uhm ....." Aku berfikir sejenak."
"Pergikah Nduk, gak baik menolak tawaran
baik dan rezeki," ujar Ibu.
"Iya betul sekali 'kan, Bu?" celetuk Mas Rafiq sambil tersenyum.
"Baiklah," jawabku yang disambut dengan tawa gembira darinya dan Raisa.
*
Kami ke kantin dan sesampainya di sana Mas Rafiq langsung memesankan tiga porsi nasi Padang untuk kami dan tiga gelas minuman.
"Mari makan," ucapnya setelah makanan terhidang.
"Oh ya, tadi Mas mau bicara apa?"
Aku kembali teringat kata katanya tadi.
"Oh ... mm ... hmm," ia sedang sibuk mengunyah makanannya.
"Kamu lagi cari kerja kan?"
"Oh, itu sebenarnya sih iya Mas, tabunganku menipis semenjak Bapak dirawat, aku bertanggung jawab karena satu satunya anaknya hanyalah aku Mas," jawabku.
"Oleh karena itu, saya ingin menawarkan pekerjaan di rumah sakit ini," ujarnya sambil menjentikkan jari.
"Pekerjaan apa Dok?"
"Bagian dapur, masak, tapi gajinya lumayan lho, bisa 2,3 juta perbulan," Katanya.
"Alhamdulillah kalo benar-benar ada Mas, saya mau bergabung Mas," jawabku.
"Baik, besok siapkan lamaran Mbak Jannah ya, saya antar ke bagian personalia," jawabnya selalu dengan senyum khas itu.
"Makasih Mas Rafiq."
"Huuhm, aku membantu kamu demi Raisa dan Bapak, jadi kamu harus bersemangat demi mereka."
"Aku janji Mas."
Kembali ia sunggingkan senyum yang begitu tulus. Kutelisik dengan seksama pria yang kini duduk dihadapanku ini, Wajahnya, cara bicaranya yang sopan dan lembut, perawakannya juga gaya pembawaannya yang bersahaja merupakan kombinasi sempurna yang membuatku kagum. Aku tak habis pikir mengapa ia begitu baik dan perhatian pada wanita malang yang dipoligami dengan dzalim oleh suami sendiri.
"Mas ... Kenapa Mas begitu baik pada saya," tanyaku lirih.
Ia menatapku sambil membulatkan pasangannya dan memutar bola mata dengan ekspresi lucu, "Ehmm ... Entahlah, ikuti kata hati saja."
"Saya gak ngerti?"
"Saya juga gak tahu, mungkin Allah menuntun saya untuk meringankan beban sesama."
"Apakah anda memberi perhatian yang sama pada semua orang?" Tanyaku yang tak mamou menahan rasa penasaran.
"Saya membaktikan hidup dan karir saya untuk banyak hal, Mba Jannah, namun dalam hal cinta dan perhatian ...." Ia terlihat menutup mulutnya lalu dengan gugup "Uhm ... anu ... anggap saja bantuan dari Allah, untuk wanita berhati seluas samudera seperti Mbak Jannah."
"Saya belum sesabar itu Mas," sanggahku.
"Semoga Allah memberi yang terbaik buat hidup Mbak Jannah," ucapnya tulus sambil menyentuh punggung tanganku dan menepuknya pelan.
Melihat perhatian dan senyum tulusnya ada rasa hangat menjalari hati dan secercah semangat dan harapan akan hari esok. Namun di sisi lain, Mas Ikbal ... Memikirkan tentangnya membuatku sesak dan selalu sakit hati.
Baru saja berfikir begitu ketika kuangkat tatapan mataku mas Ikbal sudah berdiri di hadapan kami dengan tatapan nanar penuh amarah.
"Jannah, ini ya, kelakuan kamu!!"