Riuh

1213 Words
Aku dan Mas Rafiq terkejut atas sikap anehnya yang sedikit absurd, di datang dan berteriak di kantin yang penuh dengan orang orang yang sedang makan siang, membuat aku dan Dokter Rafiq saling pandang. "Mas Ikbal ...." Aku membalas tatapannya yang membeliak padaku. "Gini ya, kelakuan kamu, kamu lari dari rumah dan malah duduk di sini dengan pria lain," ucapnya ketus. "Hei Mas, Mas gak sadar ya, ini rumah sakit. Kira kira saya mau nongkrong-nongkrong aja di rumah sakit tanpa alasan," jawabku. "Apa peduliku tentang kegiatanmu, mungkin saja kamu sengaja mengunjungi pria ... yang entah siapa dia ini," sambil menuding Mas Rafiq dengan bengisnya. Dokter bersahaja itu bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Mas Ikbal dengan langkah santai namun tegas. Ia menatap mas Ikbal tajam dan mereka beradu pandang bagai musuh kebuyutan. "Anda yang membuat Mbak Jannah lebam dan luka?" tanya Dokter Rafiq yang semakin maju ke arahnya dan Mas Ikbal juga memasang tubuh siap melawan. "Peduli apa kamu tentang ISTRIKU!" Mas Ikbal mencoba menggertak Mas Rafiq. "Istri katamu? Kamu sendiri, peduli apa kamu tentang istrimu, apa yang kamu ketahui tentangnya dan apa yang telah terjadi, kamu tahu?!" Mas Rafiq mendekatkan badan hingga d**a bidang mereka saling bertubrukan. "Oho, jadi kini kamu ingin bilang kamu lebih kenal dengan istri saya?" "Sebentar ... Ini salah paham," selaku yang langsung merangsek di antara mereka. "Gak usah ngeles kamu, kemana aja kamu berhari-hari?" bentaknya yang sukses menarik perhatian pengunjung kantin membuatku malu setengah mati. "Kamu gak usah pura-pura Mas, kemarin kamu jemput Raisa ke rumah Bik Murni yang berhadapan langsung dengan rumah Bapak. memangnya Bik murni tidak memberitahu kalo Bapak sakit." Aku mulai emosi. "Alah ... Jangan bikin alasan," ucapnya sambil mengibaskan tangan ke udara. "Kamu yang sudah buta, Mas. Kamu kehilangan rasa empati pada orang lain," ucapku dengan hati yang merasa miris sendiri. "Jangan menuduhku tidak berempati justru karena itu aku kemari, dan apa yang terjadi malah kamu asyik bermesraan di kantin ini dengan pria yang bukan mahrammu!". "Jaga ucapannmu, Mas. dia Dokter yang merawat Bapak dengan tulus," sergahku. "Jangan banyak alasan ngaku aja, aku udah lihat kok!" Ia tetap kukuh pada penilaiannya. Bugh! Gubrak! Tiba-tiba sebuah tinjuan Dokter Rafiq mendarat keras di pelipis Mas Ikbal hingga ia terjengkang menabrak meja dan tersungkur ke kursi-kursi plastik. "Arggg ...." Mas Ikbal menggeram dan segera bangkit meraih kerah baju Dokter Rafiq dan bersiap memukulnya. Namun Dokter Rafiq segera menangkap lengannya dan memelintir lalu menyentaknya hingga hingga ia kembali tersungkur kedua kalinya. "Mulut anda tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, hah?! Anda berteriak dan menuduhnya di depan banyak orang, Anda ingin bilang anda beradap saat ini?!' Mas Rafiq begitu marah hingga wajahnya merah padam dan rahanngya mengetat keras. "Anda memukulnya dan menelantarkannya, mertua Anda sakit dan anda membuat keributan! Sebagai laki-laki saya malu dengan kelakuan anda," kata Mas Rafiq sambil membenahi kemejanya lalu berlalu dari tempat ini. "Jannah .... Oalah Nduk ..." Tiba tiba ibu menghampiriku dengan tergopoh-gopoh melihat mas Ikbal ada di situ ibu semakin terkejut juga. "Ada apa Bu?" Tanyaku yang melihatnya terlihat begitu cemas dan terburu-buru. "Anu nduk, Bapak ... Bapak ...." Kata kata ibu menggantung di udara membuatku panik. "Dokter Rafiq mana Nduk? Keadaan bapak tiba tiba memburuk nduk," kata Ibu. "Ayo kita lihat Bu," ajakku sambil menarik lengan ibu dan menggendong Raisa sementara mas Ikbal berdiri salah tingkah dan gugup seketika ketika bertemu tatap dengan ibu. "Bu ...." Mas ikbal memanggil, "Ikbal boleh ikut Bu, melihat Bapak?" Ibu hanya memandangnya saja tanpa banyak bicara dan langsung menjauh bersamaku untuk melihat keadaan bapak. Kami segera menyusuri selasar dan koridor dan sesampainya di sana kami telah mendapati Dokter Rafiq sedang memberikan perawatan, memeriksa denyut jantung dan tekanan darah, membenahi selang selang yang tertancap di tubuh bapak. Sesekali ia menyuruh perawat melakukan sesuatu atau mengambil sesuatu untuk membantunya. Aku dan Ibu kami terus berdoa melihat Bapak yang begitu memprihatinkan,ia terus mengeluh dengan gumamam lemah dan napasnya tersengal sengal. Dokter Rafiq berusaha menaikkan saturasi oksigen untuk membantu bapak bernapas. Sedangkan pria yang telah menikahiku, mas Ikbal berdiri di ambang pintu terlihat ragu dan tak mampu mengucapkan kata-kata. "Bapak, Bapak dengar saya, mohon tarik napas pelan-pelan, lalu hembuskan, jangan panik, perlahan perlahan saja, Pak." Dokter Rafiq memberi aba-aba pada bapak. Akhirnya setelah 10 menit keadaan bapak kembali stabil, napasnya tidak lagi tersengal sengal seperti tadi, setelahnya dokter Rafiq memberinya suntikan agar bapak bisa beristirahat. "Ibu, Ibu jangan khawatir ya, tetap jaga ya, kalo beliau mengeluh lagi panggil saja di ruang saya ya," pinta dokter Rafiq. Ibu mengangguk saja menanggapi permintaan dokter Rafiq. "Iya Dokter, terima kasih. Anda sungguh dokter yang baik dan berdedikasi, anda selalu ada ketika keadaan panik," kataku sambil menyeka air mata. "Mbak Jannah Jangan menangis, kita berdoa saja, semoga bapak mbak Jannah cepat pulih dan sehat kembali," katanya sambil menepuk bahuku lembut. "Kalo begitu saya permisi dulu ya," katanya sambil membalikkan badan menuju pintu dan di saat yang sama ia berpapasan dengan Mas Ikbal yang hanya diam saja salah tingkah saat itu. "Maaf Dok ...," gumam Mas Ikbal pada Dokter Rafiq. Dokter Rafiq hanya menanggapi dengan gelengan pelan, mungkin tidak habis pikir dengan sikap Mas ikbal. Kuhampiri pembaringan bapak dan menyentuh lengannya perlahan, kuambil handuk kecil dan kuseka keringat yang membasahi dahi dan wajahnya. Kupandang wajah lemah bapak dan betapa aku sangat takut kehilangan pria paling kucintai dan hormati dalam hidupku. "Bu, Ikbal minta maaf ya, Bu," ucapnya lirih sambil menghampiri ibu. Ibu menatap wajah Mas ikbal lalu berkata, "Ikbal ... Ibu tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga kalian, Ibu tidak pernah banyak bicara dan protes, tapi apa yang terjadi hari ini membuat ibu terkejut, Bal." "Ma-maafkan Ikbal, Bu. Ikbal terburu emosi melihat Jannah dan dokter itu makan siang," ucapnya pelan dengan menundukkan kepala. "Kamu menyakiti hati anak Ibu, kamu berpoligami tanpa izin dia, kamu memukulnya, dan kini kamu menuduhnya berselingkuh, Muda sekali, Bal. Kini kami mau minta maaf sama ibu?" "Ikbal gak bermaksud begitu, Bu," bantahnya pelan. "Ibu tidak ridho, anak Ibu selalu disakiti, dimana ibu sendiri yakin kalo dia wanita yang selalu menjaga kehormatannya," jawab ibu tegas. "Maafkan ikbal ...." "Kamu sudah keterlaluan ...." Ibu membuang muka padanya dan menjauhinya ke lemari. "Ibu dengar kamu mau mengusirnya dan merampas hak-haknya, tidak masalah, sekalian saja, totalkan berapa kerugiannya selama menghidupi anak Ibu, insyallah Ibu akan bayar semuanya." Mas Ikbal mengangkat wajahnya terkejut dan menggeleng cepat "Eng-enggak Bu, gak gitu." "Terserah kau saja, yang jelas Ibu sudah tidak setuju, Jannah bersamamu," jawab ibu tegas lalu berlalu meninggalkan kami sambil menggandeng Raisa. Lama aku dan mas Ikbal saling berpandangan dalam diam, hingga ia berkata. "Hati Mas sakit melihatmu duduk berhadapan dan tersenyum-senyum bahagia, apalagi ketika melihatnya menyentuh tanganmu, dadaku langsung panas Jannah." "Oh ya," balasku tanpa mau menatap wajahnya. Ia menghampiriku dan meraih jemariku pelan dan mengangkat wajahku agar tatapan kami bertemu, "Aku gak suka kami istriku berduaan dengan pria lain, aku gak suka, aku cemburu." "Lalu bagaimana denganku Mas, bagaimana ketika aku melihatmu dengan Soraya, bermesra, tersenyum bahagia, terlebih lagi Mas selalu membelanya." Kuhela napas kasar. "Beri aku waktu untuk sendiri sekarang, aku perlu memenangkan diri," jawabku. "Aku mohon, aku ...." "Pergilah dari sini, Bapak sedang istirahat, aku tak mau mengganggunya," pintaku agar ia segera menjauh pergi. Mau tak mau suamiku terpaksa pergi dengan langkah gontai meninggalkan ruang perawatan Bapak. Aku tahu, dia sakit hati dan merasakan luka namun biarlah, sesekali ia harus merasakan rasanya diabaikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD