Mobil

985 Words
Setelah seminggu di rawat akhirnya kesehatan Bapak semakin membaik, napasnya sudah tidak sesak dan Bapak sudah bisa bangkit dari tempat tidur, selang-selang terpasang di tubuhnya juga sudah tidak terpasang lagi. "Terima kasih Dok, atas bantuan dan perawatannya," kata Ibu pada dokter Rafiq ketika terakhir kali menjumpai Bapak sebelum kami membawanya kembali. "Oh ya, Mbak Jannah, kapan Mbak Jannah mulai siap masuk kerja?" tanyanya. "Besok, insyallah, Dok." "Baik jika begitu, saya pamit dulu," ucapnya sambil menyalami kedua orang tuaku. * Kubaringkan Bapak perlahan di pembaringan yang menghadap jendela agar Bapak bisa leluasa menatap ke pekarangan rumah untuk menikmati udara dan rindangnya pepohonan dari dalam rumah. "Jannah, Nduk, kamu gak kembali ke tempat suamimu, kamu sudah lama lho merawat Bapak," kata Bapak dengan lembut. Ingin kuberitahu beliau yang sebenarnya bahwa rumah tanggaku diterpa prahara dan berada di ujung tanduk. Sulit bagiku untuk bertahan dalam beratnya ujian ini. Namun ... Jika aku memberi tahu Bapak, aku khawatir, darah tingginya akan naik dan penyakitnya akan kambuh lagi. "Mas Ikbal ngerti kok kalo Jannah juga harus berbakti pada Bapak," jawabku sambil menyunggingkan senyum. "Assalamualaikum," tiba tiba dari depan ada suara seseorang yang kurasa .... Benar saja, ia suamiku. Ia datang membawa sekeranjang buah untuk Bapak. "Assalamualaikum, Pak." Mas Ikbal meraih tangan bapak dan menciumnya takzim. "Walaikum salam Ikbal, apa kabar?" "Alhamdulillah,saya sehat Pak." "Saya ingin datang menjemput Jannah," katanya pada Bapak. "Oh boleh," jawab Bapak sambil meraih gelas di dekatnya lalu meneguk airnya. "Terima kasih sudah izinkan Jannah untuk merawat orang tuanya," sambung Bapak. "Iya, Pak." Mas Ikbal tersenyum bahagia sementara aku merasa sangat gelisah dengan percakapan mereka. "Eh, Nduk, kenapa berdiri saja di situ, ayo bikinin minum buat suamimu," kata Bapak yang sukses membuatku tersentak dari lamunan dan tegang. Kulangkahkan kaki menuju dapur dengan langkah lesu, namun aku berpapasan dengan Ibu di ambang pintunya. "Ada apa?" bisik Ibu. Aku tak menjawab namun hanya memberi isyarat agar Ibu melihat sendiri ke ruang tamu. Segera ibu menuju ruang tamu dan tak lama disusul olehku yang hanya membawa segelas air putih dingin di nampan. "Lho kok gak bikin teh?" ucap Bapak. "Gak usah repot, Pak. Ikbal cuma sebentar," sanggahnya cepat. "Kamu ngapain kesini?" tanya Ibu ketus dan membuat Bapak mengernyit heran dan memberi isyarat agar Ibu meralat ucapannya. "Saya mau jemput Jannah, Bu." Kata katanya singkat namun sukses membuat napas ini naik turun menahan emosi. "Lho, kenapa tho, Bu? Kok nyesek?" tanya Bapak. Ibu hanya mengguratkan seulas senyum tipis yang menandakan bahwa semuanya baik baik saja. "Gak ada Pak, saya akan bicara sama Jannah," mata Ibu sambil menggandengku ke dapur. * "Gimana ini, Nduk, Bapakmu bisa minat lagi kalo tahu kamu dipukul dan dipermalukan di depan tetangga dan maduku," kata Ibu dengan nada tegang dan prihatin. "Aku ga tahu Bu, kalo pun kita terus terang sekarang ...." "Kamu ada uang, Nduk?" tanya Ibu. "Gak ada Bu, uang Jannah habis buat nebus obat Bapak, sebagian dibantu Dokter Rafiq sehingga Jannah hanya membayar 3/4 dari biaya perawatan, selebihnya Dokter Rafiq telah menjamin kita, Bu." "Iya, dia baik sekali ya, Nduk. Lalu bagaimana kalo kamu ikut Ikbal ... Kalo ada masalah bagaimana Nduk?" "Ndak tahu, Bu." Kataku menunduk. "Sebentar, ya." Ibu masuk ke kamarnya dan kembali ke dapur membawa sebuah kotak kayu yang ia gunakan untuk menyimpan benda benda perhiasannya. "Ambil ini Nduk, buat bekal kalo terjadi sesuatu smaa kamu, Nduk." Ibu menyerahkan sebuah gelang emas miliknya. "Gak usah, Bu. Jannah bisa jaga diri, kok Bu." tolakku pada Ibu, namun Ibu memaksa agar aku mengambilnya. Kupikir, aku memang membutuhkannya untuk keadaan darurat, BPKB mobil kemarin kugadaikan untuk menambahi biaya rumah sakit Bapak. "Ya Allah, semoga engkau membantu hambamu ini," bisikku dalam hati. * Kucium tangan Bapak dengan penuh rasa sayang bakti, kupeluk ia pelan sambil menumpahkan kegundahanku. "Ndak usah nangis, Nduk. Kamu kan mau pulang ke keluargamu lagi," hibur Bapak. Kusunggingkan senyum yang terasa getir di bibirku ini. "Jannah pamit ya, Pak." Aku menarik diri dan bangkit memeluk ibu. "Jaga diri yo, Nduk," ucap Ibu lirih, "Kalo gak tahan lagi, pulanglah ... Ibu akan menjaga kalian Nduk," ucap ibu yang sedikit berat melepasku. ** Mobil berjalan membelah jalanan sore yang dirintiki hujan gerimis. Sepanjang perjalanan aku hanya diam dan tak banyak bicara. "Jannah, aku minta maaf ya," ucap Mas Ikbal lirih. "Kamu tahu kalo Bapak baru pulih dan kamu mengambil kesempatan dari kelemahanku untuk menjemputku, kamu licik Mas, tak kusangka setelah berpoligami sifat baikmu perlahan tergerus dan hilang." "Itu bukan licik, tapi jeli melihat peluang," sanggahnya sambil terus mengemudi. "Turunkan aku sekarang," kataku tegas. "Jangan gila, ini hujan dan jauh dari pemukiman," balas Mas Ikbal sambil menatap kanan kiri yang sejauh mata memandang hanya areal persawahan. "Lebih baik dicabik hujan dari pada semobil denganmu Mas," jawabku. "Lho ini kan mobil kita, mobil Mas juga iya, Kan?" "Siapa bilang? Ini mobilku!" "Baiklah kita jual dan bagi, bagaimana?" Katanya. Aku tertawa mendengarnya. "Astagfirullah, kau begitu putus asa ya, Mas hingga mau jual mobil." "Mau bagiamna lagi, daripada jadi rebutan, mendingan jual terus bagi dua, lalu masing masing beli motor," usulnya. "BPKB sudah kugadaikan," ucapku santai. "Apa? Kok kamu gak tanya aku dulu, kok kita gak diskusikan ini," tanyanya dengan tatapan menuntut. "Kamu juga, melakukan hal yang sangat besar tanpa berdiskusi dulu denganku." "Abinya sakit, dan sekarat Jannah." "Bapakku juga sakit!!" Aku berteriak dan membuatnya terperanjat hingga ia mengerem mobil dengan mendadak. "Mas turun sekarang juga dari mobil ini atau aku akan berteriak Mas menculik kami di tengah kampung ini," kataku sambil melirik pemukiman yang tak jauh dari tempat mobil berhenti. "Kamu sudah gila," desisnya sambil membuka pintu mobil dan bangkit. * Kupacu mobil menuju entah kemana, namun satu hal dalam hatiku, jika aku tak menemukan ketenangan di satu tempat maka akan kucari di tempat lain. Hingga kutemukan sebuah jejeran bangunan dengan tulisan menyediakan kamar kost, kutepikan mobilku di sana dan memutuskan untuk menyewa saja, apalagi aku sudah menerima tawaran Mas Rafiq untuk bekerja di dapur rumah sakit. Kurasa aku bisa menjaga dan menghidupi diri sendiri dan putriku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD