Kontrak

1284 Words
Kutemui pemilik kost-kostan dan menceritakan maksud kedatanganku untuk mengontrak salah satu kamar yang ia sewakan. Tadinya wanita berkaca mata itu agak heran dan ragu terlebih lagi saat dia melihat putriku, namun ketika kutunjukkan kartu indentitas dan menceritakan sebagian alasan mengapa akhirnya memilih untuk mengontrak saja, akhirnya ia mau memberikan satu kamar kosong untuk kutempati. "Silakan Mbak Jannah, maaf masih kosong belum ada apa-apa," katanya sambil membuka pintu kamar. Kuedarkan pandanganku pada kamar berukuran 4 kali 6 meter tersebut. Ada kamar mandi dan dapur mini di dalamnya, lalu sebuah kasur dan bantal di pojok ruangan. "Makasih, Bu, besok pagi saya bayar ya, hari ini saya belum mengambil uang," kataku. "Iya, gak masalah Mbak Jannah." Kumasukkan koperku dan kuajak putriku untuk beristirahat, setidaknya untuk sementara aku akan berlindung di tempat ini. Kebetulan lokasinya searah rumah sakit dan tidak jauh dari rumah orang tuaku. Jadi aku tak perlu khawatir jika suatu hari aku sibuk, aku bisa menitipkan Raisa pada kakek dan neneknya. Keesokan harinya, aku dan Raisa pergi ke pasar untuk menjual gelang yang dipinjamkan Ibu padaku, aku akan membayar uang sewa dan membeli bahan makanan. Namun karena gelangnya hanya gelang rantai tipis dengan berat tidak lebih dari tiga gram, maka hanya laku dengan harga yang murah. Jadi kuputuskan untuk membagi uang tersebut untuk mencukupi kebutuhanku sementara. Beruntungnya Raisa belum sekolah, sehingga aku tidak terlalu galau memikirkan tentangnya. Kadang terbesit dalam benakku, mengapa aku begitu bodoh meninggalkan suami yang menafkahi dan nyamannya rumahku demi mengontrak di petakan sempit dan pengap. Jawabannya adalah, ketenangan jiwa tak bisa dibeli dengan harta. Sesampainya di rumah, kutemui ibu kost dan membayar satu juta untuk durasi dua bulan sewa sementara, lalu kembali ke kamar dan kubongkar belanjaan ikan dan beras yang kubeli di pasar tadi, kubeli juga sebuah kompor listrik mini, namun aku lupa membeli panci dan beberapa peralatan lainnya. Kulirik isi dompet dan kutemukan sisa uang hanya 240 ribu rupiah. Sementara aku harus punya bekal hingga satu bulan ke depan. Ah, mungkin Allah sedang mengujiku dengan berbagai ujian, dimana dulu aku punya hidup bahagia dan sempurna. Rumah yang indah, anak dan suami yang manis, tabungan yang lumayan adanya dan beberapa perhiasan juga. Namun semenjak aku menjauh dari rumah, dan mendapati Bapak sakit, kujual semua untuk menyokong biaya perawatan Bapak, selama seminggu lebih di rumah sakit. Kalung dan cincin terjual, surat mobil kugadaikan sehingga tak lagi tersisa apa pun sekarang. "Ya Allah, bantu aku menjalani beratnya hari-hari ke depan," batinku. "Raisa ... Kamu main di sini dulu, ya, tutup pintunya, Bunda mau beli alat masak." Putriku yang tidak manja dan penurut itu, mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Bunda." "Jangan kemana-mana ya, Bunda cuma sebentar." Kutitip Raisa pada ibu kost, aku meminta tolong padanya untuk mengawasi putriku sebentar. Kukendarai mobil menuju rumah dan selang 15 menit kemudian mobilku sudah berhenti tepat di depan gerbang kediaman impianku dulu. Kubuka pintu gerbang dan memperhatikan keadaan sekitar. Bunyi gesekan pintu gerbang ditambah kondisi halaman yang dipenuhi dedaunan kering membuat suasananya menjadi berbeda. Horor. Kuedarkan pandangan ke seluruh sudut pekarangan membuat hatiku kembali sedih memikirkan nasib rumah ini, begitu banyak kenangan yang tercipta dan terjadi di sini, namun semuanya hancur sejak kedatangan Soraya dalam mahligai kami. "Mbak jannah ...." Tiba tiba Soraya sudah berdiri di depan pintu menatapku dengan tatapan yang entah apa. Kulangkahkan kaki memasuki rumah, kulepas alas kaki di pintu utama dan aku sungguh terbelalak melihat keadaan rumah yang sangat menyedihkan, lantai kotor bahkan terasa lengket di kaki, debu-debu menutupi perabotan, bantal bantal sofa berhamburan berikut juga taplak meja yang teronggok begitu saja tanpa dipungut atau dibenahi. Aku segera menuju dapur untuk mengambil peralatan masak milikku yang yang kubeli dengan uang sendiri. Sedang Soraya membuntutiku dengan mimik yang sangat tak nyaman kupandang. Kuedarkan pandanganku dan sungguh menyedihkan sekali keadaan dapur impianku ini, meja yang terbuat dari marmer, kompor canggih keluaran terbaru semuanya tertutupi oleh sampah makanan kemasan dan karton makanan pesanan. Aku hanya mampu mengelus d**a melihat semuanya. Soraya masih berdiri sambil meremas ujung jarinya tak jauh dariku. "Ada apa?" tanyaku heran karena melihat gelagatnya. "Untung Mbak datang, sebenarnya ... Mas Ikbal lagi sakit," jawabnya. "Kenapa dia?" "Demam dan menggigil," jawabnya. "Ya rawat dia, beri makan dan obat," jawabku singkat. "Aku udah melakukan semua, tapi Mas Ikbal tidak mau makan apa pun, tubuhnya makin panas sejak sore kemarin," jawabnya. "Mungkin masuk angin," gumamku singkat. "Kata Mas Ikbal ... Uhm," ucapnya sambil mengigit bibir, "Cuma mbak Jannah yang bisa merawat dia," imbuhnya dengan nada bergetar. "Oh ya? Suamiku bilang begitu? Sayangnya sekarang dia juga suamimu," kataku dambil terus sibuk mengemas alat dapurku dalam box plastik besar. "Tolong lihat dia sebentar, Mbak," pintanya. "Aku harus buru-buru pergi," tolakku. "Kumohon Mbak," pintanya lagi dengan wajah memelas. Kuhela napas panjang lalu beringsut menuju kamar tidur di mana Mas Ikbal terbaring. "Kamu kenapa, Mas," tanyaku yang berdiri di sisi pembaringannya. Ia mendengarku seketika membuka mata dan bangkit dari tidurnya namun, karena mungkin merasa pusing ia kembali merebahkan diri. "Aku ... Ak-aku sakit, Jannah," ucapnya parau sambil mengulurkan tangan agar aku mendekat padanya. "Kamu sudah minum obat?" tanyaku dingin tetap tak menghampirinya. "Ak- aku belum makan," ucapnya lirih. "Astagfirullah," gumamku. Aku segera ke dapur mengadukkan bubur dan menyeduhkan wedang jahe untuknya, Soraya berdiri di sampingku memperhatikan dengan seksama. "Mas Ikbal gak bisa makan sembarangan atau telat makan, asam lambungnya bisa naik dan membuat dia mual dan sakit," kataku. "Dia gak mau makan, Mbak." Ia mengadu padaku. "Bikinkan ia bubur dengan tambahan kentang dan labu, juga wedang jahe dengan madu," kataku. "Aku tidak bisa melakukan sesuatu untuknya bahkan aku gak tahu harus berbuat apa, melihat mas Ikbal menggigil," katanya sqmbil qmenatapku dengan mata berkaca-kaca. * Kubawakan makanan yang kubuatkan tadi untuknya dan kuletakkan di meja sisi pembaringannya. Tiba-tiba Mas Ikbal menarik lenganku dan mencekal dengan kuat. "Jangan pergi, Jannah," bisiknya lirih. "Maaf ya, Mas, aku gak bisa tinggal di sini lagi." Suamiku menatap manik mataku dengan seksama dan perlahan buliran bening menitik dari matanya. "Aku ... ternyata aku tidak bahagia tanpamu, aku tidak baik-baik saja," ucapnya lalu menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang mengadu. Soraya yang menyaksikan itu hanya mampu terpaku dari balik daun pintu. "Mas ... Sekarang ada istrimu yang aka melayanimu dengan baik," kataku. "Tapi, kau juga masih istriku," balasnya menyela. "Aku tidak sanggup bergabung di sini," balasku lagi. "Tapi ini juga rumahmu." "Meski begitu, Mas harta semahal apapun, tetap tak mampu menenangkan hati yang luka, Mas." Kuaduk buburnya dan perlahan kusuapkan ke mulutnya, ia menerima suapanku dengan tatapan lekat dan perlahan air mata itu menitik lagi dan lagi, membuat mataku ikut mengembun menahan rasa sedih, mengapa kami harus berakhir seperti ini. Seusai menyuapinya, kuberikan ia obat yang selalu kusimpan untuk cadangan kalau-kalau ia mendadak sakit. Ketika kembali ke dapur hendak mengambil barang yang kukemas tadi aku tertegun menyaksikan ruang cuci dan sampah yang menumpuk hampir menutupi lantai kamar mandi, menggunung dan menimbulkan bau, ditambah lagi tempatnya lembab membuat nyamuk dan lalat semakin banyak berkembang biak. "Subhanallah, bagaimana situasi rumah ini menjadi sarang penyakit bagi penghuninya." Aku bersenandika. "Soraya ..." Ia menghampiriku dengan wajah sedikit malu, "Kamu tidak ada waktu untuk membersihkan semua ini?" Kataku sambil menunjuk seluruh ruangan rumah. "Ak-aku ... Biasanya Mas Ikbal yang nolong bersihin, Mbak." "Astaga, Soraya, lalu fungsimu sebagai istri apa?" "Beberapa hari lagi, akan datang pembantu yang dikirim Abi, untukku, Mbak," imbuhnya seketika. "Baik. Namun tanggung jawabmu sebagai wanita dan istri tetap tak bisa diambil alih oleh pembantu," balasku. "Aku gak biasa Mbak," jawabnya pelan. "Astagfirullah, ya Allah." Aku berlalu dan meninggalkannya. Kuambil box yag sudah kukemas tadi lalu kuangkat menuju pintu depan. "Jannah, jangan pergi, kembalilah, aku rindu Raisa," pinta mas Ikbal lirih ketika melihatku lewat hendak pergi. "Maaf Mas, sepertinya aku harus memikirkan kembali tentang hubungan ini," jawabku lalu berlalu dengan getirnya hati dan rasa sedih yang menjadi-jadi. Suamiku Malang oleh perbuatannya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD