Bismillah
***
Sudah dua Minggu aku mulai bekerja di rumah sakit atas rekomendasi Mas Rafiq, pekerjaanku tidak sulit karena sesuai dengan jurusan yang aku pilih di masa SMA.
Di dapur rumah sakit aku mulai bekerja dari pukul 7 pagi hingga pukul empat sore. Tugasku adalah menyiapkan makanan para pasien sesuai dengan arahan kepala dapur, jumlah, porsi, dan jenis makanannya menyesuaikan kebutuhan pasien yang tentu saja berbeda-beda.
"Hai Mbak Jannah," sapa Dokter Rafiq yang kebetulan lewat ketika aku menyiapkan makanan ke dalam rak dorong yang akan diantarkan ke ruang pasien.
"Hai, Dok." Aku membalasnya.
"Gimana kerjaannya lancar?"
"Alhamdulillah, Dok."
"Semoga selalu sehat dan bersemangat, ya," katanya.
"Terima kasih." aku menyungingkan senyum
"Oh ya, kamu sore nanti pulang sama siapa?"
"Bawa mobil, Dok," jawabku.
"Kalo begitu saya boleh numpang...." katanya sambil menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum.
"Uhm ..." Aku ragu untuk mengizinkan.
"Mobil saya tadi mogok, dan saya lupa mengambil ponsel saya ketika menitipkan mobil di bengkel. Bisa bantu saya," pintanya.
"Oh, iya. Tentu Dokter," balasku cepat.
"Terima kasih Mbak jannah." Ia langsung berlalu sambil melambai kecil.
**
Sore hari di parkiran
Kususuri lorong rumah sakit yang terhubung langsung ke lokasi parkir, kulihat mobilku dan Mas Rafiq sudah menunggu sambil menikmati sekaleng soda duduk di atas bumper depan.
Klik ... Tit ... Tit .
Kuhidupkan sensor jarak jauh dan itu membuatnya sedikit kaget dan langsung tertawa.
"Ya ampun saya kaget," katanya.
"Heheh, Anda asyik sekali, memikirkan apa?" tanyaku.
"Tentang senja dan keromantisan yang tercipta."
"Oh, rupanya Anda sangat puitis." Aku membalas sambil membuka pintu mobil.
"Hanya kadang-kadang saja, tidak setiap hari," ucapnya sambil ikut memasuki mobil.
"Sayangnya ... dalam hidupku tak akan ada lagi keromantisan dan kehangatan, senja hanya akan berlalu begitu saja," gumamku sambil memasukkan kunci dan mulai menstarter mobil.
Sepanjang jalan kami bercerita tentang banyak hal sambil bercanda.
"Rumah Mas Rafiq di mana?" tanyaku.
"Di komplek Rawdah, tak jauh dari sini," jawabnya.
"Oh," aku manggut-manggut.
"Eh, bisa berhenti sebentar di tukang martabak?"
"Oh tentu." kupinggirkan mobil di depan lapak martabak telur.
Jejeran pedagang kaki lima di sekitar situ cukup ramai, gerobak dan tenda bongkar pasang yang menjual jajanan street food mulai menggelar dagangan mereka, sore hari memang waktunya bagi mereka mengais rezeki hingga malam merangkak larut.
Sepuluh menit menunggu akhirnya Mas Rafiq datang membawa beberapa kantong makanan.
"Sudah ya, Mas?"
"Sudah, aku udah beli martabak, kacang rebus, jagung bakar, dan roti bakar."
"Oh banyak sekali, kesukaan Dokter semua?" lanjutku.
"Bukan. Ini untuk Raisa, aku titip untuk Raisa ya," katanya.
"Lho ..." Aku heran padanya.
"Gak masalah kan, aku sudah sangat menyayanginya," katanya.
"Iya ... ta-tapi ..."
"Ya ampun aku kan cuma titip cemilan dikit, anggap aja, balasan buat tumpangannya," balasnya sopan.
"Ya ampun, Mas."
Ia hanya tergelak dan jujurnya senyumnya yang indah membuat jantungku berdegup kencang, namun segera kutepis debaran aneh tersebut karena menyadari statusku yang masih istri dari mas Ikbal.
*
Kuantarkan Dokter Rafiq hingga ke depan rumahnya, ia turun dan sempat menawariku untuk mampir namun kutolak dengan halus ajakannya dengan alasan aku harus segera menjemput Raisa di rumah Ibu.
Kukendarai mobil dan sampailah aku di depan pekarangan rumah orang tuaku. kudorong pintu pagar dan aku berpapasan dengan Bapak yang sedang memberikan makanan ada burung-burung merpati yang ia pelihara dalam kandang khusus di sudut pekarangan.
"Kamu kerjanya kok jauh banget dari rumahmu, Nduk."
"Iya, Pak, gak apa apa," balasku.
"Tapi kasihan Raisa, kecapekan tiap hari harus bolak balik."
"Ya, gak apa-apa, hitung-hitung bisa sekalian main sama Kakek Neneknya tiap hari," jawabku memberi alasan.
"Tapi kamu bisa kehabisan waktu, sampai di rumah udah malam, kamu harus masak dan mengurus suamimu, akhirnya semua tugasmu terbengkalai, Nduk." Ia memberiku nasehat dengan lembut.
"Gak apa-apa, Pak, aku kerja buat bantu ekonomi keluarga, Mas Ikbal juga gak keberatan, baiklah, Aku ambil Raisa dulu, ya Pak."
Kupanggil putriku di dalam rumah, dan mengajaknya pulang, setelah berpamitan kami naik ke mobil dan meluncur menuju kontrakan kami.
Aku tahu, sebagai orang tua, insting Bapak pada ketidak-beresan rumah tanggaku sangat tajam, ia kelihatannya mulai curiga karena aku tiap hari menitipkan Raisa pada mereka. Aku harus mencari cara, dan satu-satunya adalah mengajak Raisa pergi ke rumah sakit bersamaku. Namun aku ragu, apakah pihak rumah sakit akan mengizinkan hal itu, aku benar-benar pusing.
Sesampainya di depan pintu gerbang kontrakan tiba-tiba mobil Mas Ikbal sudah terparkir di sana menghalangi mobilku masuk halaman kostan.
Kuhela napas kasar lalu membuka pintu mobil.
"Ada apa?kenapa mencariku?" tanyaku yang tak habis pikir bagaimana ia menemukan kami.
"Seharian aku mencari dan bertanya ke sana kemari," jawabnya dengan raut lelah.
"Mau apa?"
"Mau mengajakmu pulang."
"Mustahil itu, Mas, aku gak mau serumah lagi dengan istri barumu," jawabku.
"Aku akan memindahkannya, untuk itu kembalilah ke rumah."
"Selama wanita itu masih ada, aku enggan Mas, lagi pula, aku sudah legowo, Mas. Berbahagialah kalian berdua,"kataku sambil berbalik hendak masuk.
Namun dengan sigap Mas ikbal menarik lenganku dan memaksaku masuk dalam pelukannya.
Meski berusaha melepaskan diri ia memelukku begitu erat sambil membenamkan wajahnya di bahuku.
"Lepasin, Mas. Malu dilihat orang."
"Aku gak bisa Jannah, aku gak sanggup, hidupku berat tanpa kamu, istriku," imbuhnya lirih.
"Ada Soraya mengurusmu, Mas."
"Dia tak tahu apa-apa, dan kau istriku, kau yang tahu dengan detail apa yang menjadi kebutuhanku, selera makan dan jadwal-jadwalku."
"Itu deritamu Mas, kau sendiri yang memilih menduakanku."
"Ak-aku akan memperbaiki semuanya mulai sekarang, jadi, kembalilah," katanya sambil menggenggam tanganku erat dan menatap kedua manik mataku.
"Enggak, Mas. Hatiku masih sakit," tolakku sambil melepaskan tangannya.
"Kita bisa mulai dari awal."
"Apa yang mau dimulai dari awal, sekuat apapun Mas berusaha untuk memperbaiki, hati yang kadung terluka akan sulit untuk pulih seperti semula, aku berbakti dan setia, tapi Mas malam membawa lain wanita? Maaf sepertinya aku lebih memilih berpisah selamanya."
"Maksudmu ... Kau ingin kita bercerai?" tanyanya dengan suara tercekat dan terlihat menelan ludah.
"Iya." Aku membalasnya singkat, meski kusadari hatiku juga sakit harus berpisah dengan sosok yang sangat kucintai itu.
"Aku tak akan melepasmu semudah itu, Jannah," tolaknya.
"Terserah kamu Mas, tapi keputusanku sudah bulat, aku sudah cukup lelah dan bosan, lebih baik kita berpisah saja."
"Apa ini gara-gara dokter tampan itu, dia merayu dan mempengaruhimu?" tanyanya dengan nada keras dan tatap mata tajam.
Napasku seolah berhenti seketika dan tiba-tiba emosiku naik dan membuatku sangat marah.
"Apa maksudmu, Mas?"
"Kau ingin menjalin cinta dan hubungan baru 'kan?" Cecarmya dengan nada mengintimidasi.
Ia ingin menyudutkanku dengan cara mencari kesalahan.
"Kini ... aku semakin tidak ragu untuk meninggalkanmu Mas." Kataku tegas.
"Jannah ... tidak sah kamu menjalin hubungan sementara kamu masih istriku," tuduhnya.
"Oh ya, tahu darimana kalo aku menjalin hubungan, hanya asumsimu, Mas?"
"Aku melihat kedekatan kalian dari cara dia menatapmu," balasnya.
"Terserah apa penilaianmu, namun aku masih dalam batasku."
"Jangan berlindung dibalik jubah agama, Jannah!" sentakknya keras.
"Maaf, aku tak punya waktu untuk berdebat di jalan, aku lelah dan mau istirahat," kataku sambil membuka pintu mobil dan meraih Raisa.
"Pria itu ... aku akan memberinya pelajaran." Ia memasuki mobilnya dengan muka garang dan bersiap pergi.
"Hei, kau mau kemana, Mas. Jangan macam macam kamu," kataku berteriak padanya.
"Aku akan pergi ke Dokter itu dan memberinya pelajaran karena telah menggoda istriku!"
"Jangan bertindak bodoh, kau bisa malu sendiri."
"Aku tak peduli," katanya sambil memacu mobil lalu meluncur, dalam waktu yang kurang dari sepuluh detik ia sudah menghilang dari pandanganku.
Astagfirullah, Ya Tuhan apa yang akan ia lakukan.