.
Subhanallah, walhamduillah, walailahaillallah, Allahu Akbar. (Dzikir dulu, sebelum nulis)
Saya blank permisa hehehe ❤️❤️.
Soraya sedang menikmati sarapannya ketika kutemui dia di dapur untuk menyiapkan makan putriku. Melihatku datang,
Ia terlihat sedikit tak nyaman dengan gestur menarik diri dari meja makan.
"Dengar Soraya, apakah kamu akan segera pindah," tanyaku.
"Be-belum tahu Mba, tunggu Mas Ikbal," jawabnya lirih.
"Suamiku meminjam uang untuk mengontrakkan rumah untukmu ... Apa pendapatmu kalo kamu jadi aku, akan kupinjamkan atau tidak?"
Dia berfikir sejenak lalu menjawab "Gak tahu mbak."
Aku bersedekap sambil menyender di meja marmer dapur.
"Kau sendiri ... kenapa tidak pakai uangmu saja? Kalian semua sungguh tidak tahu malu, aku baru menemui manusia yang sama sama dua-duanya gak tahu malu," desisku.
"Maaf Mbak mohon hentikan itu, maaf, tapi uangku habis Mbak, untuk membeli kebutuhan pribadi kemarin." Ia menunduk dalam.
"Kebutuhan kosmetik dan lingerie yang harga produk BH nya saja satu juta, iya kan?"
"Hmm ...." Ia menggumam mengiyakan.
"Uang maharmu kemarin berapa dari Mas Ikbal."
"Gak banyak, mbak."
"Berapa?!"
"26 juta, Mbak."
Apa? Banyak sekali, Bahkan biaya pernikahanku dulu yang amat sangat sederhana hanya lima juta, itupun hanya ijab kabul dan mengundang orang terdekat saja untuk memberi doa, mahar dari Mas Ikbal pun sebatas seperangkat alat shalat.
Mungkin benar ya, jaman sekarang sudah jarang wanita yang mau hanya di maharkan dengan alat shalat sebagai syarat sah menikah dan menjadi istri.
"26 juta itu semuanya?" lanjutku lagi.
"Gak Mbak, itu untukku saja, biaya acara dan resepsi itu lain lagi," jawabnya lirih. jujur namun menyakitkanmu.
"Apakah Ayahmu yang membayar?"
"Gak, Mas Ikbal."
"Berapa?"
"45 juta."
Subhanallah, jadi gajinya sungguh terkuras untuk biaya pernikahan dengan seorang wanita yang bahkan mencuci piring saja tidak becus.
Kuambil tampat duduk yang berhadapan dengannya.
"Begini soraya, aku mau bicara dari hati ke hati," kataku.
"Coba bayangkan Soraya, ketika kamu sedang begitu bahagia dengan pernikahanmu tiba-tiba orang ketiga muncul dan menjadi duri di antara kalian?"
Ia menunduk dalam sambil mempermainkan ujung sendoknya.
"Bayangkan kau harus berbagi tempat tinggal dan menyaksikan semua cinta dan perhatian suamimu terbagi."
"Aku insyallah bisa menerima Mbak," jawabnya lirih.
"Jangan munafik, Soraya," desisku, "Aku minta kamu segera menjauh dari tempat ini."Aku menyambungnya
"Tapi ini rumah Mas ikbal mbak, kita semua berhak tinggal di sini," jawabnya membantah.
"Kau tahu ... Dalam rumah ini ada jerih payahku juga, aku rela berhemat dan lebih sering pulang kerja jalan kaki, makan hanya lauk kerupuk demi membeli material rumah ini, kau tidak tahu?" Nada suaraku mulai meninggi sedangkan ia semakin menunduk dalam sambil meremas jemarinya.
"Kupikir kamu punya hati yang luas untuk berbagi kebahagiaan Mbak," desahnya lemah.
"Sebenarnya aku sudah sungguh lelah untuk marah dan membuat masalah di antara kita, andai dari awal semuanya terbuka, mungkin saja aku bisa ikhlas andai seseorang tak mencuri dariku," jawabku.
Ia seketika mengangkat wajahnya, "Aku tidak mencuri Mbak."
"Kau anak Ustadz harusnya kau beradab dan punya akhlak, harusnya kau menimbang perasaan istrinya sebelum bertindak merebut suami orang ."
"Itu bukan salahku!" jeritnya.
"Salah siapa?! lantas salah siapa yang mau dinikahi dan ditiduri?!"
"Kamu kasar sekali, Mbak," desisnya mendelik.
"Karena kamu pelakor," jawabku sengit sambil menggebrak meja.
"Aku bukan pelakor!"
"Lantas apa sebutannya, perawan suci yang putus asa dan ingin buru buru menikah," ejekku.
"Cukup!" Teriaknya.
"Silakan pergi dari sini," jawabku sambil menunjuk pintu.
"Arrggg ...."
Ia menjerit frustrasi dan di saat yang sama sepertinya aku tak akan melewatkan kesempatan untuk melampiaskan sakit hati, karena Mas Ikbal di kantor dan putriku sedang bermain dengan teman sebayanya.
Kuhampiri ia dan kutarik gamisnya, hingga ia terseret, ia pun tak kalah melawannya berusaha mencakar wajahku dan menjambak rambutku, kubalas juga jambakannya dengan kasar hingga rambutnya tercabut banyak dari akarnya dan tertinggal di telapak tanganku.
Satu tangan mencengkeram rambutnya dan satu lagi menghujani wajah wanita itu dengan bogem mentah.
Ia menjerit-jerit kesakitan dan berusaha menendangku sedangkan aku terus meninju wajahnya, dagunya, pangkal telinga dan saja yang bisa kujangkau.
Ketika asyik saling bergelut dalam amarah tiba-tiba kutangkap sosok Mas Ikbal berdiri di pintu dapur, kamu terperangah dan segera saling melepaskan.
Mas Ikbal menatap nanar dengan sorot mata berkilat penuh amarah pada kami bergantian.
"WANITA MACAM APA KALIAN INI?!"