Siang ini Mas Ikbal menemuiku di halaman belakang, aku yang sedang menjahit pakaian untuk Raisa merasa heran dengan kedatangannya, kupikir ia belum pulang dari pekerjaannya dari raut wajahnya bisa kutangkap ia ingin mengatakan sesuatu yang penting.
"Boleh aku bicara?" ucap Mas Ikbal padaku.
"Ada apa Mas?"
"Tabunganmu masih ada, kan?"
"Ada, tapi kenapa Mas tanya tabunganku?" Hatiku mulai merasa tak nyaman.
"Mas boleh pinjam dulu, Bund ...."
"Buat apa, Mas?" Tanyaku yang melihat gesturnya yang sedikit gugup dan gelisah.
"Uhm ... Mas mau pinjam 15 juta, Bund," jawabnya.
Aku terkesiap mendengar jumlah yang ia inginkan, untuk apa dia ingin meminjam uang yang telah kutabung selama beberapa tahun untuk sekolahnya Raisa nanti.
Pekerjaannya sabagai staf di sebuah bank swasta membuat kami harus sering berhemat dan mengencangkan ikat pinggang. Memang gajinya tidak bisa kukatakan besar namun tidak juga terlalu kecil, meski begitu, aku tetap berhati-hati dalam membelanjakan uang.
"Buat apa Mas, apa yang mau Mas beli?
"Aku ingin, kontrakkan rumah baru untuk Soraya."
Deg!
Dadaku seolah berhenti berdegup, mendengar ucapan seperti itu saja membuatku langsung naik pitam dan ingin menjambak rambutnya, namun perlahan kutarik napas panjang dan mengembuskannya sambil mengucapkan istighfar.
Kuraba keningnya lembut lalu tersenyum tipis pada suamiku itu.
"Kok, Bunda raba kening Mas, kenapa?"
"Aku hanya memastikan kalo Mas gak lagi demam atau sakit?"
"Memangnya kenapa?"
"Kenapa? Mas masih mau tanya kenapa?" Kuletakkan jarum dan benang yang gunakan untuk menjahit sambil menatap tajam manik matanya.
"Kamu masih punya akal, kamu ingin pinjam uang dari istri pertama untuk membelikan rumah istri kedua? Kamu waras Mas?"
"Aku .... Tabunganku belum cukup untuk memenuhi harganya?"
"Tabungan pribadi Mas?" Selidikku.
"Habis."
"Ah ya, aku lupa Mas baru menikah," ucapku sambil menepuk kening sendiri dengan maksud mencibirnya.
"Kumohon Bunda, aku gak ada solusi untuk saaat ini, sementara kamu sendiri ingin agar Soraya cepat pergi dari sini."
"MAKANYA MIKIR DULU SEBELUM POLIGAMI!!"
Aku berteriak padanya hingga ayam-ayam yang sedang mematuk beras ikut berlompatan. Mas Ikbal juga terperanjat mendengarku.
"A-a-aku memang salah, karenanya aku ingin memperbaiki segalanya, aku akan membawa Soraya pergi dari sini."
"Kenapa harus minta uangku! Minta uang pada ayahnya atau cari kemana saja, itu bukan urusanku, jauhkan dia dariku atau jika tidak aku akan semakin menggila!"
"Aku datang bicara kesini baik-baik padamu, mengapa engkau malah berteriak," jawabnya dengan melengos.
"Hei Mas, istrimu urusanmu, tidak Ada hubungannya denganku, kenapa kau malah menyeretku dalam masalahmu sedangkan masalahku sendiri tak habis kutangani," jawabku cuek lalu menjauhinya.
Ia mengacak rambutnya sendiri tanda frustasi dan kembali ke garasi lewat lorong samping rumah dan menuju kantornya lagi.
"Berani sekali ia ingin meminjam uangku," sungutku.
Ia telah memberiku penderitaan dan kini ingin memiskinkanku, yang benar saja?
Sewaktu masuk ke dalam rumah kulihat Soraya terlihat gelisah di depan ruang cuci. Ketika bertatapan denganku ia langsung kaget dan salah tingkah.
"Ada apa?!" tanyaku sambil melotot padanya.
"Anu ... Ini, mbak .... Mesin cucinya mogok," jawabnya dengan ragu.
Kulirik mesin cuci dan kulihat pakaian di dalamnya sangat penuh melebihi kapasitas mesin.
"Mesin cuci itu kapasitasnya hanya 8 kilo jangan melebihi itu, aku tak punya uang untuk membeli baru!" kataku ketus.
Ia segera mengurangi isinya dengan cepat dan kembali bertanya.
"Belum juga mau berputar, Mbak," ucapnya dengan raut sedih.
"Hei kau, wanita yang melankolis sebelum memasang raut sedih dan gelisah pastikan dulu mesin cucinya sudah kau coloki di sambungan listrik."
Aku melirik steker yang belum ia sambungkan dan beranjak sembari menggeleng dan memutar bola mata menjauhinya, menyebalkan, Sungguh menyebalkan.