130 kuakhiri saja

1462 Words

Aku mengendara dengan hati remuk redam sambil menyembunyikan air mata dari tatapan putriku yang terus mengajakku mengobrol sepanjang perjalanan pulang. "Bunda, kok Bunda diam aja sih?" "Anu ... Bunda, kehabisan topik," candaku. "Oh begitukah?" "Kenapa emangnya?" "Nggak ada, biasanya kan Bunda juga cerewet ngajakin aku ngobrol." "Oh, begitu ya, hehehhe." Dia terus menatap dan menelisik gestur dan pembawaanku yang canggung dan gugup kepadanya. "Tapi kok Bunda kayaknya sedih," ujarnya. "Tidak juga nak, apa yang membuat Bunda sedih Bunda baik-baik saja dan bahagia," jawabku. Dia hanya mengangguk sambil membuang tatapannya ke arah luar jendela mobil sedang aku tetap tersenyum mengalihkan perhatiannya dari kecurigaan. Sesampainya di rumah kusuruh putriku untuk naik dan langsung beris

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD