212

1131 Words

"Akhirnya kamu pulang juga, aku khawatir nungguin kamu di rumah." "Kenapa?" tanyaku memandang wajahmu, menelisik perasaan dan apa yang dia sembunyikan selama ini. Sayangnya, aku kurang mengerti apa rencana suamiku. "Setelah mengambil keputusan tadi, penting bagiku untuk tahu pendapat dan perasaanmu." Dia memandang mataku dan menggenggam tanganku dengan penuh perasaan. Kupikir aku akan menghindarinya, perasaanku masih tidak menentu setelah dia memutuskan untuk meninggalkan Mbak Aira dan memilihku. Ingin menjauh tapi respon tubuh ini malah semakin dekat padanya. Dia merangkulku, mencium kepala dari balik jilbab ini. "Sayang, aku mengkhawatirkanmu," bisiknya. "Terima kasih karena kamu sudah ambil keputusan," ucapku. "Kamu setuju gak dengan keputusanku?" "Aku bahagia, tapi tidakkah kau m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD