culas

1409 Words

Sepanjang perjalanan dari rumah Mas Ikbal tak mampu kubendung air mata di pipi, terus terbayang di pelupuk mata bagaimana rumah impianku dulu kini beralih menjadi istana wanita lain, dekorasi, perabot dan aksesorisnya semuanya diubah. Aku gak habis pikir juga entah uang dari mana suamiku membeli dan mengikuti keinginan Soraya, mungkin ayahnya yang pemilik sebuah lembaga pendidikan berbasis agama yang memberinya begitu banyak dana. Mas Ikbal, kueja namanya, kusayangkan sekali sikapnya yang tidak keberatan sedikit pun jika barang-barangku dikeluarkan dari kamar utama, seolah ada pembiaran seakan-akan aku tidak akan kembali ke rumah itu. Padahal aku belum resmi bercerai darinya. Ah, jiwaku sesak, dan luka itu ikembali menganga, andai saja tadi aku tak perlu ke sana, dan terpaksa menyak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD