193

1114 Words

"Apa rencana jangka panjangmu untuk kehidupan kita, Mas?" tanya aku saat kita sedang duduk di meja makan, suamiku yang sedang mengesap minumannya berhenti sejenak dan seakan paham dengan kata kataku, dia menarik napas dalam lalu menjawab. "Aku berencana untuk membagi aset dengan adil lalu menjalani kehidupan sebisaku," jawabnya. "Sepertinya Mbak Aira tidak akan pernah menyerah untuk memisahkan kita," keluhku sambil menyendokkan makanan. "Jika begitu sulit, maka akan kuceraikan saja dia," jawabnya sambil menyeruput mie dari mangkuk. Kedengarannya itu melegakan untukku andai saja suamiku benar-benar berpisah dengan istri pertamanya, aku akan lepas dari teror wanita arogan yang hanya ingin menang sendiri itu. Tapi di sisi lain aku juga punya rasa iba, rasanya tidak elok sekali berbahagi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD