194

1111 Words

"Mbak, tunggu!" "Seperti halnya kau sibuk dengan pekerjaanmu aku juga sibuk dengan urusan hidupku jadi aku telah mengatakan apa yang kau inginkan tinggal kau saja yang harus memikirkan!" Suara hentakan kaki Kakak maduku menggemaran hampir memenuhi seluruh lorong rumah sakit. Siluet wanita dengan tunik biru selutut itu, benar-benar mempengaruhi dan sedikit menakutiku. Aku merasa gentar dan gugup di hadapannya, aku begitu ingin mengatakan banyak hal dan menjaga perasaan dan sedikit tahu diri maka aku lebih banyak menahan diri. Dia ingin bahwa aku tidak menerima warisan dari Mas Tama, dia ingin menguasai semuanya dengan dalih bahwa itu memang adalah haknya sejak awal. Dia berhak atas segala sesuatu karena dialah yang mendampingi hidup suamiku dari nol dulu. Dia ingin mengesampingkan aku kar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD