Ting tong ... Pagi pagi bel rumah sudah berdenting dan entah siapa berkunjung di pagi buta seperti ini. Sesaat aku sempat bertanya-tanya sekaligus kesal, denting yang terus menerus mengganggu telingaku. "Siapa di luar?" tanyaku. "Aku," jawab suara yang familiar kudengar itu. "Kamu ngapain pagi-pagi gini, bahkan embun pun belum kering di pucuk daun," ujarku. "Biarkan embun, yang penting aku menatapmu di awal hari sudah cukup membuatku seolah memiliki semua kebahagiaan." "Hentikan gombalan recehmu!" teriakku di pengeras suara yang tersambung ke gerbang. "Jangan marah pagi-pagi aku datang ke sini membawa sesuatu untuk Raisa dan Rayan,". ujarnya santai. "Tidak usah bawakan apapun anak-anakku baik-baik saja," jawabku ketus. "Tapi Raisa menyukaiku kok. Buktinya ia senang menerima sepak

