Chapter 18

1623 Words
"Makasih ya, Kak." Tepat pukul tujuh malam, Alfi berhasil membawa pulang Aurel ke rumahnya. Saat ini kedua remaja itu sedang berdiri di depan pagar rumah Aurel. "Papa Mama lo di rumah, Dek?" "Nggak, Kak. Kenapa?" "Nggak, gue mau pamit sekalian. Tapi yaudah, gak papa." "Nggak mau masuk dulu, Kak?" tanya Aurel kemudian. Alfi menggeleng. "Nggak usah, makasih. Gue mau langung pulang aja, ada urusan soalnya." Aurel mengangguk. Alfi pun pamit sekali lagi pada cewek itu. Membiarkan Aurel masuk ke dalam pagar dan menutupnya, baru laki-laki itu kemudian masuk ke dalam mobil dan pulang. Aurel berjalan memasuki rumahnya dengan pikiran yang masih terus melayang pada beberapa saat lalu. Waktu yang ia habiskan untuk jalan-jalan bersama Alfi tidaklah banyak seperti sebelumnya. Mereka hanya pergi ke toko buku sesuai permintaan Aurel, lalu mampir sebentar di cafe kecil sambil mengobrol. Obrolan yang bisa terbilang singkat itu juga memberi Aurel kesempatan untuk bisa mengenal lebih jauh orang yang disukainya tersebut. Dari pada membaca buku, pria itu lebih suka bermusik. Kalau pun disuruh pilih antara belajar dan bermain, tentu saja pria itu akan lebih memilih bermain. Aurel juga kini mengetahui, kalau Alfi sebegitu cintanya denan olahraga basket. Hampir empat kali dalam seminggu lelaki itu akan berlatih pada sore hari di taman dekat kompleks perumahannya. Alfi juge bercerita kalau ia bercita-cita ingin menjadi pemusik handal. Ia juga sering berlatih bermain gitar, atau pun menyanyi di kamarnya. Aurel juga sekarang tahu kalau Alfi tidak terlalu suka minuman hangat. Itu terbukti saat mereka jalan bedua, pria itu selalu memesan minuman dingin berasoda. Pria itu juga mengatakannya sendiri tadi. Katanya, meminum minuman hangat hanya akan membuat dirinya semakin lelah dan tidak semangat. Aurel terkekeh saat kembali mengingat ucapan cowok itu. "Lho, Bil?" Wajah Aurel keliatan sangat terkejut begitu menemukan Syabila sedang duduk bersama Putri di ruang tengah rumahnya. Sedang menonton di televisi. Putri dan Syabila yang mendengat suara Aurel langsung berbalik. Sahabatnya itu memberikan senyum riang sebelum menyapanya. "Hai, Rel. Akhirnya lo pulang." Aurel menghampiri kedua orang itu. "Kok, lo bisa di sini, sih, Bil?" "Lo nggak buka hp, kan, pasti?" Syabila yang sebelumnya melihat Aurel, kembali mengalihkan wajah pada layar lebar di depannya. Aurel membuka tasnya dan meraih ponsel, mendapati lebih dari lima puluh pesan di grup yang isinya Ia, Syabila juga Dion. Ternyata kedua orang temannya itu memang sedang gabut, tidak ada tugas atau pun jadwal ulangan esok hari. Dan rencana ma dadakan bermain di rumahnya tiba-tiba saja muncul. "Gue ganti baju dulu," kata Aurel sembari berjalan ke kamarnya. Tak berapa lama Aurel kembali ke ruang tengah dengan pakaian yang lebih santai. Ia membuang diri di sofanya sambil sibuk men-scroll timeline i********:, saat bunyi suara motor dari luar membuat Syabila beranjak dari tempatnya duduk. "Itu pasti Dion!" seru Syabila dan berlari keluar. Semenit kemudian Syabila masuk dengan box pizza di tangan dengan Dion yang berjalan santai di belakangnya tengah menggenggam plastik berisi beberapa minuman kaleng bersoda dingin. Aurel langsung berpindah ke karpet merah di lantai begitu Syabila membuka box. Tanpa menunggu lama ia langsung mencomot salah satu loyangnya dan dimasukkan ke dalam mulut. Dion mengambil alih remote dan mengganti pada serial Netflix yang kebetulan menjadi kesukaan mereka. Sebenarnya itu hanya disukai Syabila dan Aurel. Tetapi kedua gadis itu terus saja meracuni Dion. Alhasil kini pria itu sangat excited dengan filmnya. "Udah mulai nih," kata Dion. Ia menenggak kaleng soda yang sudah dibukanya lantas mengambil seloyang pizza yang sedang dikelilingi tiga gadis di sampingnya. "Btw, Rel, abis dari mana lo?" tanya Syabila membuka pembicaraan. Matanya tidak beralih dari layar televisi. "Jalan ...," kata Aurel, sengaja menggantung ucapannya. "sama Kak Alfi." Sontak saja Syabila langsung menoleh. "Lagi?" Aurel mengangguk-angguk lucu dan rambutnya ikut tergerak. Dion yang merasa percakapan dua gadis itu lebih menarik dari layar lebar di depannya, mulai menajamkan pendengarannya. "Jadi lo beneran jalan sama dia?" Aurel menatap temannya itu tak percaya. "Perasaan gue udah ceritain semuanya, deh, kemarin. Dan lo masih tetep nggak percaya? Wah, parah, lo, Yon," katanya dramatis dengan menggeleng-gelengkan kepala. "Pala lo nggak sakit digituin mulu?" celetuk Syabila. "Habisnya tampang lo nggak meyakinkan, sih," canda Dion lantas mengambil seloyang pizza lagi. "Yang ada lo kali yang tampangnya nggak meyakinkan," sahut Syabila, bukan bermaksud membela Aurel, ia hanya ingim berbicara fakta sekaligus mengejek pria itu yang nyatanya bukan kesal tetapi malah tertawa. "Gini-gini temen kalian ini banyak yang naksir, loh," kata Dion, menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum bangga. Ya, bisa dibilang ucapan lelaki itu sepenuhnya benar. Banyak murid perempuan di angkatan mereka yang tertarik pada Dion. Sebagian diam-diam menyukai, dan beberapa di antaranya dengan terang-terangan menunjukkan itu. Bahkan ada juga kakak kelas yang digosipkan tengah mengincarnya untuk dijadikan pacar. "Tapi, sayang. Orang yang ditaksir malah gak peka-peka," gumaman yang keluar dari mulut Aurel itu sengaja dibesar-besarkan sehingga Dion yang mendengarnya langsung memegang dadanya dramatis. "Duh, tajem banget ucapannya." "Jadi gimana, Yon, lo sama Kakel itu?" tanya Syabila tiba-tiba. "Bi–" Sedetik kemudian Dion baru tersadar kalau tidak ada yang mengetahui ia tertarik dengan si kakak kelas selain Aurel. Sehingga matanta langsung mengarah pada satu-satunya gadis yang sedang menahan tawa di sana. "Lo–" "Keceplosan." Cengiran yang ditunjukkan Aurel itu hanya dibahas dengkusan Dion. "Kenapa jadi bahas gue, sih? Bahas Aurel aja, udah. Rel lo tadi ke mana sama Kak Alfi?" Syabila menoleh pada Aurel, menanti jawabannya. "Cuma ke toko buku, abis itu ngobrol bentar di cafe." "Ah, gak seru," cetus Dion. Aurel berdecak. "Yaudah, sih! Seenggaknya, kan, ada progress, dari pada lo?" "Ngomong-ngomong," Putri yang sedari tadi diam kini membuka suara. Dion, Syabila, dan Aurel langsung mengalihkan pandangan padanya. Sementara gadis itu menatap Dion yang sekarang tampak bingung karena tatapan bocah di depannya. "Kak Dion manis, aku suka," ucapnya pelan dengan tatapan yang masih mengarah pada Dion. Semua yang ada di situ berusaha mencerna ucapan Putri. Sampai akhirnya ruangan itu penuh dengan tawa dari Aurel dan Syabila. Sedangkan Dion harus mati-matian memasang ekspresi biasa saja padahal ia sudah malu luar biasa karena pengakuan jujur adik temannya itu yang bahkan masih SMP. ??? Hari Minggu, seperti biasa, dihabiskan Aurel untuk bersantai sepuasnya. Tumben sekali ia bangun pagi hari ini. Jam delapan ia sudah bersiap dengan pakaian olahraganya dan berlari mengelilingi lapangan di kompleks perumahannya sebanyak sepuluh kali. Walaupun lapangan itu tidak seluas lapangan di sekolahnya, ia tetap saja merasa ngos-ngosan. Setelahnya ia memilih pulang ke rumah, beristirahat sebentar lantas mengerjakan pekerjaan rumah yang menjadi tugasnya, lalu sedikit membantu Mamanya menyiapkan makan siang. Setelah itu ia mandi, lantas menyantap makan siang bersama keluarga dengan diiringi percakapan ringan. Gadis itu masih saja terus menggoda Putri atas kejadian dua hari lalu di mana adik kecilnya itu secara langsung membuat temannya salah tingkah. Aurel kembali ingin tertawa saat membayangkan ekspresi Dion malam itu. Tetapi bukannya merasa malu pada kedua orang tuanya, justru Putri dengan terang-terangan menceritakan rasa sukanya pada Dion kepada mereka. Setelah menghabiskan hampir dua jam di ruang makan bersama keluarganya, Aurel kembali ke kamarnya. Ia melanjutkan menonton drama korea kesukaannya sampai waktu menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Kedua orang tua juga Putri bahkan sudah selesai makan malam. Mamanya sempat memanggilnya untuk makan, tetapi karena keasikkan nonton, ia menyuruh wanita separuh baya yang sangat disayanginya itu untuk tidak perlu menunggunya. Aurel bangkit dari tempat tidurnya. Perutnya terasa melilit. Ia memutuskan untuk mandi sebentar dengan air hangat dan berniat untuk makan. Tetapi saat ia keluar, rumah tampak sepi. Padahal biasanya Ayahnya akan menonton televisi di ruang tengah atau Putri yang rusuh sendiri. Sedetik kemudian baru ia mengingat kalau adiknya itu tadi sempat mengajaknya keluar bersama kedua orang tua mereka. Tetapi Aurel lebih memilih tidak pergi karena fokus menonton drama korea. Ponsel di genggaman Aurel berbunyi, menampilkan pesan dari seseorang. Kak Alfi✨ dek, boleh keluar bentar nggak aku di luar Aurel terkejut bukan main. Ia langsung berlari cepat ke arah jendela dan mendapati mobil yang terparkir di depan pagar rumahnya. Dengan cepat gadis itu melangkah keluar, tetapi terlebih dahulu merapikan dirinya. "Kak," panggilnya. Alfi mendongak dari benda pipih di tangannya. Terasenyum tipis melihat gadis itu. "Hai." "Kakak ngapain?" "Kamu udah makan?" Aurel tampak bingung. "Hah? Eh, belum, sih, Kak." "Di rumah ada orang?" tanya Alfi lagi. "Nggak. Papa, Mama, sama Putri lagi keluar bentar." "Kalo gitu mau aku temenin makan?" "Hah?" Alhasil Aurel makan malam bersama Alfi di tempat nasi goreng langganan cewek itu. Mobil Alfi ia tinggalkan di depan rumah Aurel. Sementara mereka berjalan berdampingan ke tempat penjual nasi goreng yang berada di ujung kompleksnya, tepatnya berada di dekat lapangan. Sepanjang makan bersama sebenarnya tidak ada hal yang luar biasa terjadi. Hanya saja tidak bagi Aurel, ia memang sesuka itu pada kakak kelasnya sehingga tiap momen dan hal kecil yang mereka habiskan menjadi sangat luar biasa bagi dirinya. Rasanya ia bersyukur karena hari ini ia menjalani hari dengan baik, tidak malas-malasaan seperti biasanya, sehingga berkat dalam bentuk Alfi--yang tiba-tiba saja muncul di depan rumahnya dan mengajak makan bersama--, datang padanya. Ia berjanji pada diri sendiri jika minggu depan—setiap hari akan menjadi lebih rajin agar berkat-berkat lain terus datang. Kembali, mereka berdiri di depan rumah Aurel. Terdapat mobil di garasi yang artinya keluarga gadis itu sudah pulang. Beruntung ia sempat memberi tahu kalau ia juga sedang keluar sebentar bersama teman pada Mamanya "Makasih, ya, Kak. Aku ditraktir lagi. Nanti kapan-kapan gantian aku yang traktir," ucap Aurel diringi cengiran. "Kamu mau balas budi?" Aurel mengangguk. "Kalo gitu aku mau kamu balas budinya tepat pas tanggal jadian kita yang pertama," ucap Alfi dengan wajah yang kelewat datar. Sama sekali tidak menampilkan ekspresi apa pun. Aurel menatap Alfi dengan pandangan cengonya. "Maksudnya, Kak?" "Kamu mau nggak jadi pacar aku?" Aurel masih terus terdiam. Belum bisa mencerna dengan baik ucapan pria di depannya yang masih tanpa ekspresi. Sedetik kemudian Aurel melotot, merasa bola matanya nyaris keluar. "Hah?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD