Chapter 15

1064 Words
Kak Alfi✨ dek iya kak? udah istirahat ya? udah kak Aurel merasa lengannya disikut seseorang sehingga ia mengangkat muka dari ponselnya, melihat Syabila. Syabila mengarahkan dagunya ke arah jam sebelas. Aurel pun mengikuti arah pandangnya. Terlihat Alfi sedang bersama dengan beberapa temannya, salah satunya adalah Beby. Gadis itu duduk tepat di samping Alfi yang sedang berdiri sambil memegang ponsel. Aurel refleks mematikan ponsel dan memasukkan ke dalam saku. Takut kalau-kalau orang lain tahu bahwa ia dan Alfi sedang saling mengirim pesan. Padahal sebenarnya itu sangat tidak mungkin. Aurel masih menatap mereka. Kini Alfi tampak kembali berbicara dan tertawa bersama teman-temannya. Aurel melirik sekelilingnya dan merasa kalau sekarang ini Alfi dan Beby menjadi pusat perhatian, sebab ada beberapa cewek yang ia yakini seangkatan dengannya terdengar berbisik soal kedua orang tersebut. Aurel merasa kesal mendengar itu walaupun sadar seharusnya ia tidak memilik perasaan bodoh itu. Ia dengan cepat menarik tangan Syabila untuk masuk ke salah satu warung di kantin. Mereka berdua membeli nasi kuning yang memang sudah tersedia di mika-mika berukuran sedang dan memutuskan kembali ke kelas. Dalam perjalanan ke kelas, Aurel mengeluarkan kembali ponselnya dari saku. Dugaannya benar, ada satu pesan dari Alfi. Ck, padahal lagi sama cewek lain, masih aja ngechat gue, batin Aurel. Biar pun begitu Aurel tidak jual mahal sama sekali, ia tetap membalas pesan Alfi dengan baik. Toh, mereka juga tidak punya hubungan apa-apa, pikirnya. jan makan mie ya kenapa? gak sehat oh iya hehe kak alfi udah istirhat? udah Pertanyaan bodoh sebenarnya, ia bahkan yakin kalau Alfi tadi sempat melihatnya mengingat kantin tidak terlalu ramai dan jarak mereka yang tidak terlalu jauh. Syabila mengintip ponsel Aurel. "Oh, lagi chat-an sama Kak Alfi, toh. Pantes aja jalannya gak fokus gitu," ledeknya. Aurel mendengus. "Bil, lo tadi liat sendiri, kan? Kak Alfi lagi sama Beby, tapi sekarang dia malah chat-an sama gue. Menurut lo gimana?" "Emang Beby siapanya?" Mendengar itu Aurel menaikkan sebelah alisnya. "Ya, gak gimana-gimana. Terserah dia lah mau chat siapa." "Tapi, kan dia lagi sama Beby." "Emang Beby siapanya dia? Pacar?" "Kata orang-orang sih ... gitu." "Kata orang-orang, kan? Belum tentu bener," sahut Syabila. "Kalo bener gimana?" "Yah, berarti dia emang beneran playboy. Dan lo harusnya udah ngejauhin dia kalo semisal lo masih waras." "Kok, lo ngomongnya gitu, sih?" Syabila berhenti berjalan. "Gue cuman ngomongin fakta, kok." "Iya, deh, iya." "Yo, girls!" suara teriakan membuat Aurel dan Syabila berhenti dan menoleh bersamaan. Saat melihat Dion berjalan ke arah mereka, kedua gadis itu kembali melanjutkan langkah. Dion menyerobot dan memisahkan Aurel dan Syabila. Ia merangkul kedua gadis manis itu. Aurel tentu saja langsung menepisnya, berbeda dengan Syabila yang biasa saja karena sudah lelah dengan aksi cowok itu sedari awal mereka menempati kelas yang sama. Aurel yang sempat melihat teman-teman Dion tadi, ia pun berkata, "parah banget lo nggak ngasih tahu kalo punya temen-temen ganteng." Dion berbalik dan melihat teman-temannya yang masih asik nongkrong sambil bercanda. "Iya, lah! Orang gue aja ganteng." Aurel menampilkan wajah jeleknya begitu mendengar perkataan Dion. Sedetik kemudian, Dion menurunkan tangannya dari punggung Syabila. Ia tampak memerhatikan sedikit penampilannya lalu berjalan sedikit kalem. Syabila menyadari perubahan Dion yang tiba-tiba. "Kenapa, dah, lo?" Aurel mengikuti pandangan Dion. Seorang gadis dengan wajah imut yang tidak terlalu tinggi tampak berjalan ke arah mereka. Aurel melirik Dion dan tersenyum. Ia menyikut Dion dan mengarahkan dagu pada gadis itu. Ketika gadis yang Aurel ketahui bernama Taya itu lewat, ia sempat melemparkan senyum pada Dion yang setelahnya membuat wajah pria cowok itu memerah. Aurel sontak terbahak. "Kenapa, Rel?" tanya Syabila yang sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. "Gak, gak papa," kata Aurel, ia mencoba untuk berhenti tertawa. Sementara wajah Dion yang putih semakin memerah karena Aurel yang terus menertawainya. Syabila mendengus dan berjalan lebih dulu meninggalkan Aurel yang masih terus tertawa dan Dion yang kesal setengah mati. "Rel, udah, ah! Lebay lo, mah!" ketus Dion dan berjalan duluan. Aurel menyusul teman-temannya itu. Sampai di kelas ia masih saja menggoda Dion dengan terus memainkan alisnya. "Gue gak pernah tahu, loh, kalo lo bisa blushing. Kulit lo juga putih, makin keliatan tau gak." "Gak lucu, ah, Rel!" "Lucu, kok. Banget malah." Aurel menjulurkan lidahnya. "Sebenernya apa yang lo ketawain, sih, Rel?" Syabila kini menjadi kesal sendiri. Pasalnya ia sama sekali tidak tahu alasan di balik interaksi baru antara Dion dan Aurel Menyebalkan. "Ada, deh," kata Aurel menunjukkan wajah misteriusnya yang disambut putaran kedua bola mata Syabila. ??? Aurel melangkah ke kamar dengan dua mangkok sedang berisi kacang hijau yang masih hangat. Di belakangnya, ada putri yang mengekor sambil memegang dua gelas tinggi dalgona coffe. Tidak sia-sia mereka mengocok bubuk good day cappuccino yang dicampur gula. Walaupun sebenarnya percobaan mereka tidak bisa dikatakan seratus persen berhasil. "Tumben Papa nggak ngomelin karna kita begadang," ucap Putri membuka pembicaraan. "Emang kamu diomelin?" "Everytime." Putri mengunci pintu begitu mereka sampai di kamar Aurel. "Lo gak pernah, Kak?" "Kadang, sih." Dua mangkuk tadi Aurel taruh asal di atas kasur, melupakan benda itu bisa tumpah kapan saja dan membuatnya harus mengungsi ke kamar adiknya. Ia mengambil laptop dari meja belajar dan menyalakannya. "Dek, kita nonton yang film apa drama?" Putri menghampiri kakaknya. "Drama aja, deh. Yang kemarin lo racunin gue, tuh. Apa sih judulnya, gue lupa." "A World of Married?" Putri mengangguk. "Sampe episode berapa loh, Kak? Gue sih 9." "10," jawab Aurel. Tangannya bergerak di atas touchpad laptop, mencari drama yang akan mereka tonton. "Nggak papa deh, gue ikutin lo aja." Kini keduanya sudah berbaring di atas kasur empuk Aurel. Mangkuk hijau berada di tangan masing-masing dan laptop yang menyala berada di antara mereka berdua. Mereka memang kadang sering berdebat karena hal kecil, biar pun begitu ada beberapa hal yang sangat kompak di antara keduanya. Dan movie marathon seperti ini sudah menjadi rutinitas mereka. Di tengan drama, Aurel meraih ponselnya yang sengaja ia atur dalam mode hening. Membukanya dan tersenyum saat melihat satu notifikasi pesan. dek iya? lagi apa? movie marathon kak sama adek oh iya btw iya kak? ini malming yah? eh iya deng wkwk malming selanjutnya sama gue, mau gak? Aurel menahan napas. Mencoba sekuat tenaga untuk berteriak. Ini sudah tengah malam dan Putri bisa saja meledekknya nanti. Tapi mau ditahan bagaimana pun, ia tetap tak bisa menahan diri untuk tidak terus menarik sudut bibirnya. Akhirnya ia hanya mendekap ponselnya di d**a dan mengulum senyum. ehm, iya kak, boleh oke
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD