Chapter 14

790 Words
Kak Alfi✨ (kemarin) dek iya? di mana? rumah lagi apa? baring sendiri? iya oh ok (hari ini) dek iya udah makan? belum lo kenapa? apanya? gak, gak papa gak ada tugas buat besok? ada udah selesai? lagi ngerjain oh yaudah jan lupa makan iyaa Aurel membaca ulang percakapannya dengan Alfi. Menarik napas dan menaruh ponselnya asal. Tidak seperti sebelum-sebelumnya di mana ia sangat semangat membalas pesan cowok itu, kali ini ia terlihat sedikit enggan. Bukannya ia sudah tidak suka dengan kakak kelasnya itu. Ia masih suka, kok. Hanya saja kejadian di acara pentas musik masih belum ia mengerti sepenuhnya. Rasa kesal juga semakin ia rasakan karena Alfi yang menjadi lebih sering mengirim pesan walaupun tidak setiap hari, hanya menanyakan pertanyaan-pertanyaan dasar seperti apa yang sedang ia lakukan atau apakah ia sudah makan atau belum. Tetapi, entah kenapa pria itu terlihat baik-baik saja dan seolah tidak terjadi apa-apa. Sama sekali tidak merasa bersalah dengan kejadian beberapa hari lalu yang bagi Aurel sendiri sangat tidak mudah untuk ia terima. Bagaimana mau merasa bersalah, Aurel bahkan yakin kalau cowok itu sama sekali tidak menyadari apa yang telah ia lakukan. Apa bahkan Alfi masih mengingat kalau Aurel pernah memintanya menyanyikan lagi Dari Hari dari Club Eightes itu? Aish, sudahlah! Kepalanya terasa pening saat kembali memikirkan ini. Lebih baik ia menyelesaikan sepuluh soal Kimia yang akan dibahas esok hari. ??? Aurel, Syabila, dan Dion berjalan ke arah kelas mereka. Mereka tadi bertemu dengan Dion di kantin yang sedang nongkrong dengan teman-temannya. Tapi kemudian cowok itu memutuskan untuk kembali ke kelas bersama Aurel dan Syabila. Dion memang pada dasarnya lebih senang berkumpul bersama kedua cewek yang merupakan teman sekelasnya itu. "Eh, btw, tumben Rel, lo nggak ngomongin si kakel tercinta lo itu akhir-akhir ini," cetus Dion. Syabila rasanya ingin segera menyumpal mulut lelaki di sampingnya yang sekarang asik mengunyah jajanannya. Ya, Syabila akhirnya mengerti apa penyebab Aurel berlari keluar dari ruang tetaer saat pentas musik padahal saat itu Alfi bahkan belum menyelesaikan penampilannya. Dan barusan saat berjalan ke kantin tadi, mereka tak sengaja bertemu dengan Alfi yang terlihat seakan-akan tidak menyadari kalau mereka sempat berpapasan. Aurel sebenarnya tidak berharap banyak, tapi hal itu berhasil membuatnya kesal. "Apa, sih, Dion!" ucap Syabila. Ia menarik Aurel untuk masuk ke kelas lebih dulu dan meninggalkan Dion yang mengerutkan kening bingung. Berpikir mungkin saja ada yang sudah dilewatkannya. Dion duduk di depan sepasang sahabat itu. Meminjam sebentar bangku temannya karena tempat duduknya yang sebenarnya berjarak satu deret dari bangku Aurel dan Syabila, juga terletak di paling depan. Entah apa yang telah merasukinya sehingga meminta salah seorang teman yang lain untuk bertukar tempat duduk dengannya dari yang semula duduk di paling belakang. "Seriusan, Rel, lo kenapa? Lo udah nggak suka sama Alfi lagi?" "Ya, nggak, lah!" Aurel yang menjawab dengan sangat cepat memperlihatkan betapa ia memuja kakak kelasnya itu. "Ya, terus kenapa?" Dion sangat penasaran. Pasalnya biasanya gadis itu memang sangat sering menceritakan hal-hal tentang Alfi. Tapi akhir-akhir ini, ia tidak lagi melakukannya. Bahkan ia akan mendengus kesal jika nama cowok itu tak sengaja disebutkan oleh teman sekelasnya. Dion yang juga mendapat peran sebagai tempat curhat tentang Alfi dari Aurel—selain Syabila—, tentu saja merasa heran. Aurel mengedikkan bahu sebagai jawaban. "Tau!" Dion mengalihkan tatapan penuh tanya pada Syabila, tetapi gadis itu malah bersikap ketus padanya. "Udah, sana lo, gue mau makan!" usir Syabila. Walaupun sambil bergumam tak jelas, Dion tetap beranjak dan bergabung dengan murid cowok lainnya di belakang kelas yang sedang bermain game online. Aurel ingin melanjutkan mengerjakan tugas yang tadi diberikan gurunya sebelum istirahat. Ia pun memasukkan tangannya ke dalam tas. Tapi yang kini ada di tangannya bukanlah tempat pensil berbahan kain lembut, melainkan sebatang coklat dengan robekan kertas di atasnya yang ditempel menggunakan selotip. Aurel menaikkan sebelah alisnya, menoleh ke arah Syabila yang ternyata juga sedang menatapanya aneh. Aurel lantas membaca tulisan yang ditujukan untuknya. Akhir-akhir ini lo aneh. Kalo gue ada salah, maaf. Bayangan seseorang dengan cepat melintas di pikiran Aurel. Ia membuka aplikasi chatting di ponselnya. Alfi sedang online. Lalu menimang-nimang apakah ia harus mengirim pesan atau tidak. Aurel menggeleng. Ia harus menanyakannya. Ingin memastikan. Jari-jarinya bergerak gesit di atas layar ponsel. Tak berapa lama ia langsung mendapat balasan dari cowok itu. Kak Alfi✨ kak alfi ngasih aku coklat? iya dimakan ya iya kak makasih sama-sama "Kak Alfi?" tanya Syabila. Aurel mengangguk. "Apa katanya?" Aurel menyerahkan begitu saja ponselnya yang masih menampilkan ruang obrolannya dengan Alfi pada Syabila. Perempuan itu tak mau terlalu berbesar kepala atau lainnya. Dibukanya coklat berukuran sedang itu. "Dion!" teriaknya pada Dion yang langsung berbalik. "Mau gak lo?" ucapnya sambil mengacungkan coklat pemberian Alfi. Tentu saja Dion langsung menghampirinya. Ia terlalu baik untuk menolak makanan gratis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD