Chapter 13

1333 Words
Aurel bosan. Keadaan akhir-akhir ini di sekolah tampak sewajarnya. Tak ada hal yang istimewa. Hubungannya dengan Alfi pun juga sama, biasa-biasa saja. Tak lebih dari saling memberikan sapaan lewat senyuman saat tak sengaja berpapasan. Padahal lima hari lalu cowok itu berhasil membuat ia semakin larut dalam rasa suka lewat gombalan recehnya. Huft! Memang apa yang diharapkannya? Ah, dasar! Apa semua pria memang seperti itu? Hari ini sama seperti kemarin, di mana guru mata pelajaran berhalangan hadir dan hanya menyisakan tugas. Aurel sudah menyelesaikannya dari sepuluh menit yang lalu dengan sedikit bantuan dari Syabila, tentunya. Waktu istirahat masih sangat lama. Masih ada sekitar empat puluh menit sebelum pergantian jam pelajaran selanjutnya, Kimia—yang ia harap gurunya juga tidak masuk—, pelajaran yang paling dibencinya. Aurel meletakkan kepala di meja menghadap ke samping kiri. Lalu gantian ke samping kanan. Kira-kira itulah kegiatannya tiga hari terakhir ini jika ada jam kosong di kelas. Padahal sebenarnya semester baru sudah diawali. "Bil, gabut," adunya pada Syabila yang tidak bergeming. Perempuan itu sedang membaca cerita favoritnya di w*****d. Suasana masih tampak ribut saat sepasang siswa masuk ke dalam kelas sepuluh mipa tiga. Mereka belum menyadari ada yang berdiri di depan kelas. Sampai si lelaki, yang diduga adalah anak kelas sebelas membuka suara. Membuat sebagian anak menoleh untuk memperhatikan, tak lain Aurel yang langsung mengangkat kepalanya. "Selamat siang. Kami dari Klub Musik, ingin memberitahukan beberapa hal. Mohon perhatiannya." Cowok itu terdiam sebentar mengambil napas. "Yang pertama kami ingin merekrut anggota baru untuk klub kami. Jika teman-teman ada yang mempunyai minat atau bakat dalam bidang musik, kami mohon partisipasinya." Beberapa terlihat berpikir sebentar, saling berbisik kemudian mengangguk dan mengacungkan tangan. Satu-satunya cowok yang berdiri di kelas itu mengisyaratkan teman perempuannya untuk segera menjalankan tugas, menghampiri tak lebih dari empat orang yang mengangkat tangan dan mencatat data diri mereka. "Yang kedua, pada hari Jumat nanti klub kami akan mengadakan pentas musik sederhana di ruang teater, dimulai pada pukul sembilan pagi. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kehadiran dari teman-teman untuk menyaksikan program pertama kami di semester ini. Sekian dan terima kasih." Si cowok tersenyum lantas berjalan keluar bersama temannya. Aurel kembali menaruh kepala di atas meja. Kembali merasakan bosan. "Eh, eh, katanya, Kak Alfi juga tampil ya nanti?" Mendengar nama Alfi disebut membuat Aurel sontak berbalik ke belakang. Impulsnya memang bekerja lebih cepat jika berhubungan dengan kakak kelas satu itu. "Kak Alfi anggota Klub Musik juga?" "Emang lo nggak tahu? Aurel menggeleng. "Katanya suka sama Kak Alfi, ekskul yang diikutin aja nggak tahu," cibir temannya yang lain. Aurel mengabaikan dua teman di belakangnya. Ia memegang lengan Syabila erat, mengalihkan fokus dari ponselnya. "Gak mau tahu, Jumat temenin gue ke ruang teater." ??? Terlihat dua orang siswi sedang berjalan ke arah ruang teater. Yang satu tampak tergesa-gesa menarik tangan temannya, sementara yang ditarik seperti ogah-ogahan berjalan. Sampai di depan, mereka membuka sepatu dan menaruhnya rapi di antara banyaknya sepatu. Kedua orang siswi itu lalu masuk ke dalam melalui pintu utama dimana bersampingan langsung dengan panggung. Aurel sempat tak sengaja berpapasan dengan Alfi yang sedang sibuk dengan kabel-kabel. Ia tak menegur Alfi, sebab tidak mau mengganggunya yang tengah fokus. Jam menunjukkan pukul 08.45, masih ada sekitar lima belas menit sebelum pentas dimulai. Kursi di ruang teater sudah terisi sebagian. Mayoritasnya adalah perempuan yang pasti ingin memanjakkan mata mereka karena hampir semua anggota klub musik adalah cowok-cowok manis. Aurel merasa kurang update sendiri, sebab tidak tahu mengenai klub itu yang ternyata merupakan populasi cogan sekolah ini. Lalu ada delapan sampai sepuluh lelaki yang sepertinya adalah penikmat musik, dan beberapa orang mahasiswa yang Aurel yakini adalah alumni sekolah ini dan merupakan senior-senior dari klub musik itu sendiri, tampak jelas dari para anggota yang kelihatan akrab pun dengan mereka yang sesekali membantu mengurus hal-hal kecil. Tak berapa lama, pentas dibuka oleh seorang guru muda yang merupakan penanggung jawab dari klub itu, setelahnya ada kata sambutan dari ketua panitia pelaksana program ini. Kemudian selanjutnya rangkaian acara yang dinantikan semua penonton. Penampilan pertama adalah solo dari seorang gadis, kemudian disusul band sekolah yang membuat hampir sebagian isi ruang teater berteriak histeris. Setelah kehebohan itu barulah penampilan duet dari kelas dua belas yang kali ini mengundang teriakan baper dari para siswi karena genre lagu yang dinyanyikan. Sebenarnya Aurel tidak terlalu memerhatikan setiap orang yang menampilkan bakat mereka di depan. Walaupun Aurel suka mendengar lagu, tapi ia bukan sepenuhnya seorang penikmat musik. Lagu-lagu yang dibawakan juga merupakan lagu trending dan tampak sempurna dinyanyikan mereka. Tapi, Aurel merasa tidak terlalu berminat dengan orang-orang di depan sana. Ia malah memainkan ponsel sambil menunggu kapan giliran penampilan Alfi. Saat riuh penonton meneriakkan nama Alfi, barulah ia mematikkan ponsel dan menyimpannya baik-baik di saku seragam dengan senyuman. Memperbaiki posisi duduknya, siap mendengar nyanyian cowok itu. Alfi sudah duduk di kursi yang telah disediakan. Di pangkuannya ada gitar, yang kini sudah mulai ia petik. Aurel menaikkan sebelah alis, tampak familiar dengan instrumen awalnya. Andai engkau tahu Bila menjadi aku Sejuta rasa di hati Aurel membeku seketik kala Alfi mulai melantunkan liriknya. Lagu ini sesungguhnya adalah lagu kesukaan gadis itu. Juga yang ia requestkan pada Alfi beberapa minggu lalu. Ia pikir cowok itu sudah lupa tapi ternyata ia malah menyanyikannya sekarang. Lama tlah kupendam Tapi akan kucoba mengatakan Kuingin kau menjadi milikku Entah bagaimana caranya Lihatlah mataku untuk memintamu Kuingin jalani bersamamu coba dengan sepenuh hati Kuingin jujur apa adanya Dari hati Tak ada suara dari penonton. Semuanya diam menyaksikkan penampilan Alfi. Larut dalam nada yang dibawakannya. Hampir isi dari ruang teater menggerakkkan tangan ke kiri dan kanan, bahkan tak sedikit yang menyalakan flashlight dari ponsel mereka. Kini engkau tahu Aku menginginkanmu, tapi takkan kupaksakkan Dan kupastikan, kau belahan hati bila milikku. "Beb, kayaknya Kak Alfi nyanyiin ini buat lo deh, untuk ngungkapin perasaannya." Suara yang masih bisa didengar Aurel mengundangnya untuk mengalihkan pandangan dari Alfi. Tahu sekali bahwa si pengucap sengaja membesarkan suaranya agar didengar orang lain. Dasar mulut besar! Pikirnya. Dan karena ada nama Alfi yang dibawa-dibawa, mendadak pandangan Aurel berubah sinis menatal mereka. Ia memperhatiakn perempuan lain yang menjadi lawan bicara si pengucap. "Iya, Beby, beneran, dari tadi liatin ke arah sini mulu," kata teman yang satunya lagi dari gadis yang dipanggil Beby itu. "Ah, enggak apaan, sih!" ucap yang di tengah, terlihat salah tingkah, jelas ialah yang bernama Baby. Aurel mendengus kesal. Ia kembali melihat ke arah Alfi dan si Beby itu bergantian. Ingin memastikkan. Dan benar saja, mereka berdua sekarang tengah bertatapan dan saling melemparkan senyum. Alfi dengan eskpresi kalemnya yang bisa membuat siapa saja jatuh cinta dan Beby yang semakin salah tingkah karena memikirkan ucapan teman-temannya. Beberapa siswi yang menyadari dan sempat mendengar yang dikatakan si mulut besar, seketika langsung berseru menggoda mereka. Aurel mengalihkan pandangan ke arah lain sambil memutar mata. Merasa hal yang terjadi barusan sangat menggelikan. Apalagi dengan tingkah Beby yang membuatnya semakin ingin muntah. Dan melihat Alfi yang masih tetap fokus dengan gitar dan tampak santai bahkan cenderung menikmati godaan penonton, Aurel semakin dibuat dongkol. Dia meminta Alfi menyanyikan lagu ini karena merupakan favoritnya. Kemudian pria itu membawakannya di acara pentas seperti ini. Saat ia merasa senang, tetapi kemudian mengetahui bahwa Alfi membawakan lagu itu untuk perempuan lain. Bagaimana ia tidak kesal, coba? Gadis itu mengepalkan tangannya emosi, entah kenapa merasa tidak terima. Bukan karena Alfi menyanyikan lagu untuk cewek bernama Beby itu. Tapi lebih kepada lagu yang dibawakan Alfi untuk perempuan yang disukainya. Kenapa juga harus memakai lagu favoritnya, yang kebetulan sekali pernah ia minta untuk dinyanyikan. Mata Aurel berkaca-kaca. Ia segera keluar dari ruangan yang terasa sangat panas itu lewat pintu belakang, mengundang tatapan aneh dari Syabila. Dengan tergesa ia memakai sepatu dan berjalan dengan langkah panjang. Ingin cepat-cepat menjauh dari ruangan itu. Sampai di kelas, Aurel langsung duduk di tempatnya, masih mengepalkan tangan. Ia mengabaikan tatapan heran beberapa temannya. Dion yang datang dari luar tersenyum cerah begitu melihat Aurel. Ia menghampiri gadis itu dan duduk di sampingnya. Dan sedetik kemudian wajahnya berubah panik. "Rel, lo nangis?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD