Seperti malam-malam sebelumnya, Aurel tampak sibuk dengan buku-buku. Kali ini ruang tamu menjadi tempatnya untuk menetap sebentar, dengan alasan ia bosan dengan meja belajar di kamarnya yang sebenarnya cukup baik.
Meregangkan tangan, ia meneguk air putih dari botol ungu muda kesayangannya. Sebenarnya, ia tidak suka dengan warna ungu. Tetapi karena botol minum ini adalah pemberian dari sepupunya, maka benda ini dipaksa menjadi favoritnya.
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lewat. Karena sudah merasa malas, Aurel pun memutuskan untuk menyudahi kegiatan produktifnya itu. Ia bangkit dari posisi duduk dan membuang diri di sofa empuk di belakangnya. Tak lupa ponsel yang sudah ia genggam di tangan.
Men-scroll timeline i********: merupakan suatu kegiatan yang sudah mendarah daging bagi Aurel. Tidak masalah tidak ada pria yang mengiriminya pesan, selama akun Instagramnya tidak terblokir.
"Dek, dek," panggil Aurel saat Putri melewati ruang tamu hendak ke luar. Gadis yang dipanggil itu menoleh.
"Papa sama Mama tadi katanya ke mana, sih?"
"Ke acara nikahan anaknya temen kantor Papa," jawab Putri cepat.
"Hah?"
Putri menarik napas. Ia mengulangi kalimat yang diucapkannya tadi dengan lebih dipelankan. Dan Aurel membalas dengan membuka mulutnya membentuk huruf O. "Terus lo mau kemana?" tanya Aurel kemudian saat baru sadar kalau adiknya itu semula berjalan mengarah ke pintu depan.
"Ambil pesanan go-food."
Mata Aurel sontak berbinar dan ia membiarkan adiknya itu keluar sebentar kemudian masuk kembali dengan menenteng plastik bening berisi box pizza.
Aurel yang semula sedang mengistirahatkan tubuhnya, langsung bangun dari posisi tidurnya dan duduk di lantai. "Lo yang mesen?"
Putri menggeleng. Ia ikut duduk di lantai, menggeser semua buku-buku milik kakaknya. Kemudian menaruh box pizza yang sudah ia buka di atas meja. Pun Aurel langsung mencomot salah satu potongannya.
"Gak, Papa yang pesenin. Katanya, Mama tadi pas pergi gak sempet masak."
"Ah, Papa sama Mama emang dabest," kata Aurel sebelum menggigit pizzanya.
"Nggak belajar, lo, Kak?"
"Udah selesai. Mau lanjut sih sebenarnya. Cuman males gue."
Putri lantas berlalu. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa laptop yang sudah tersambung headseat putih. Melanjutkan menonton drama yang direkomendasikan Aurel. Padahal Putri bukan tipe cewek yang suka menonton drama, bahkan kerap kali mengejek Aurel. Sekalinya diajak Kakaknya untuk nonton bersama, malah perempuan itu menjadi sangat antusias setelah menonton satu episode.
Putri hanya berbeda dua tahun dari Aurel dan sekarang ia duduk di bangku kelas 2 SMP. Walaupun Aurel lebih tinggi dari Putri, namun berat badan adiknya itu lebih besar darinya. Aurel memang lumayan kurus. Dan itu membuatnya kesal karena Mama selalu membandingkan badan mereka berdua jika Aurel malas makan. Sebenarnya itu menjadi salah satu hal yang terkadang membangkitkan rasa kurang percaya diri dalam dirinya.
"Kak, gue kemarin ditembak." Putri berucap hati-hati. Suaranya yang terlalu pelan tidak terdengar Aurel.
"Kak!" seru Putri. Aurel menoleh.
"Kemarin gue ditembak."
Sedetik.
Dua detik.
Putri mengetuk-ngetuk laptopnya sambil menunggu bagaimana respon sang kakak yang belum bisa ia duga.
"Kok bisa?" tanya Aurel santai.
"Nggak tau juga, tetiba aja dia datang, trus bilang suka sama gue, dan tanya gue mau nggak jadi pacarnya," jelas Putri, terlihat seperti anak kecil yang mengadu. Ya, mereka berdua memang sangat dekat, tak ada apapun yang tidak diceritakan Putri pada Aurel.
"Trus lo jawab apa?"
"Ya, nggak, lah, Kak! gue aja kaget, langsung lari ke kelas."
Mendengar itu Aurel terbahak, dasar remaja, batinnya. Tak sadar kalau ia juga sebenarnya masih remaja dan sering sekali melakukan hal-hal memalukan. Putri hanya memutar mata, sedikit kesal dengan kakaknya karena tidak berhenti tertawa.
"Untungnya tadi kata temen-temen gue, dia gak masuk. Tapi gue takut besok. Males banget ketemu dia," kata Putri.
"Yaudah, besok nggak usah sekolah aja."
"Ya kali, Kak. Ah, males ah, lo mah gak bisa kasih saran yang bagus apa gitu, Kak!"
Aurel tertawa lagi, gemas dengan adik semata wayangnya. "Kalo semisal besok lo ke sekolah trus papasan, tuh, sama dia, udah kacangin aja, anggap aja dia gak ada, selesai."
"Ngomong mah gampang," Putri mendengus.
"Emang gampang," sahut Aurel dengan nada menyebalkan, mengundang dengkusan Putri.
Keduanya kembali terdiam, melanjutkan kegiatan masing-masing. Aurel kembali menonton video-video vlog di youtube saat mendapat satu notifikasi yang membuat matanya membulat. Dengan semangat 45, ia langsung membukanya.
Kak Alfi✨
dek
iya kak?
ganggu ya?
nggak kok kak
kenapa?
ga
pen chat ae
Aurel berusaha agar tidak memekik kegirangan. Berusaha menetralkan detak jantungnya dan bersikap tenang. Sedikit melirik pada adiknya untuk memastikan kalau Putri masih fokus pada layar laptop
oh iya kak wkwk
gue gabut
?
lagi apa?
nemenin adek kak
kirain lo anak tunggal
ga kak aku dua bersaudara
susu
apa?
susu apa yang bikin bahagia?
"Dek, s**u apa yang bikin bahagia?" Aurel menyuarakan isi pesan Alfi pada Putri. Setelah sebelumnya ia sempat menaikkan alis sebelah karena bingung dan berpikir sebentar.
Aurel mengguncang bahu Putri agar adiknya itu mengalihkan perhatian padanya. Tadinya ingin langsung menunjukkan layar ponsel, tetapi Putri pasti akan melihat nama kontak Alfi atau pun isi chat mereka yang lain. Dan ia tidak ingin hal itu terjadi. Kalau pun ia tetap menunjukannya dengan menutup nama kontak, adiknya itu pasti akan lebih mencurigainya.
"Tau, deh," jawab Putri acuh tak acuh. Walaupun mata tetap melihat layar tetapi wajahnya menahan tawa, sebab sebetulnya mengerti dengan yang ditanyakan Aurel.
susu apa?
susu dancow
"s**u dancow?" Sekali lagi Aurel membaca pesan Alfi, dengan nada bertanya.
Putri yang terus memasang telinga untuk mendengar, mengulum bibirnya. Anak itu menarik tangan yang kemudian ia gunakan untuk menutup mulut. Mendadak sadar kalau sebenarnya Aurel bukan bertanya padanya, tetapi malah kakaknya itu yang mendapat pesan–entah dari siapa. Ia sampai menghela napas guna menghalau rasa ingin terbahaknya.
"Maksudnya gimana, sih?" gumam Aurel.
Aurel melirik adiknya karena tidak sengaja sadar akan gerakan aneh. Kendati demikian ia tetap tidak mempedulikan itu dan terus berpikir keras akan maksud pesan Alfi.
hah?
gimana kak?
dancow hadir
merubah segalanya
menjadi lebih indah
Aurel membaca deretan kalimat yang dibalas Alfi. Wajahnya memerah, bukan karena merasa senang melainkan lebih kepada malu. Keningnya berkerut karena tidak menyangka guyonan Alfi akan se - cringe ini. Sementara Putri yang akhirnya melihat reaksi Aurel, malah tertawa.
"Kenapa lo?" tanya Aurel karena suara Putri yang tiba-tiba memenuhi ruang tamu rumah mereka.
Putri menarik napas lagi. "Nggak, lucu," katanya sambil mengedikkan dagu pada layar yang sedang ia tonton. Merasa senang karena sampai beberapa saat kemudian Aurel masih belum tahu akan perilakunya.
Aurel kembali menatap ponselnya. Apakah Alfi sedang menggombalinya? Oke, ia tahu ini menjijikan bahkan ia sangat sering mengejek orang lain jika mengalami hal seperti ini. Dan ia sendiri tidak akan menduga kalau akan digombali oleh lelaki dengan segaring ini. Tetapi di satu sisi ia merasa lucu dan sedikit menyukai cara Alfi yang terlihat seperti berusaha ingin menggodanya walaupun lelaki itu tidak tahu hasilnya bagaimana.
apa sih kak??
sorry
gue tau itu garing
ga kok, kak alfi lucu :v
btw, kak, film temen tapi menikah bagus loh :v
lu ngode gue?
aish, ketahuan?
gue gak bisa keluar
sorry
oh iya kak ga papa kok
santai aja
iya