Inge telah kembali, pikir Arif. Kembali dalam artian dia kembali menunjukkan terang-terangan kebenciannya, bukan Inge beberapa hari lalu yang seolah telah memaafkan dan bahkan meratap, seperti hh mengharapkan mereka kembali bersatu. Sejak awal Arif sudah tahu ada gelagat tak beres, untung saja ia tak sampai masuk perangkap. “Kamu sengaja?” Arif mengonfirmasi pengakuan bahwa Inge lah yang menyuruh Aini berbohong. “Kenapa? Buat apa?” lanjutnya. Inge menghendikkan bahu enteng. “Ya … ingin aja,” jawab Inge acuh tak acuh. “Ingin aja?” ulang Arif seolah tak habis pikir. “Memainkan perasaan orang dan bikin dia sedih, kamu bilang karena ingin aja?” Sebelah sudut bibir Inge menyeringai. “Kayak kamu nggak pernah memainkan perasaan orang tanpa alasan aja.” Tanpa memutus garis tatapannya dari Ar

