Pacarnya Leo

1019 Words
Akhirnya pagi yang dinanti telah tiba, lelah bergelut dengan kesunyian malam, pagi menyambutnya dengan sebuah kemenangan. Cahaya hangat yang sangat dirindukan oleh sang pembenci dinginnya malam. Sinarnya yang menyilaukan nampak membahagiakan bagi sang pembenci gelap malam. Pagi ini Zila bangun sedikit telat dari yang ia taksir tadi malam. Maklum, gadang sambil gibah memang tidak di sarankan untuk para penyandang ladur labang, yaitu lama tidur lama bangun, karena lawan dari itu adalah cedur cabang yang artinya cepat tidur cepat bangun, begitulah Zila. Bangun dengan kepala pusing tentunya sangat tidak enak. Matanya terbelalak saat melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul 8 pagi. Ia yang berniat bangun jam 6 pagi gagal sudah. Padahal tepat jam 8 ia harus sudah berada di kantor penerbit untuk mengurus masalah bukunya yang sebentar lagi akan terbit, namun kini sudah jam 8 dan ia masih mengumpulkan nyawanya untuk sekedar jalan ke kamar mandi. "Ya ampun pusing!" teriaknya tak jelas. "Dek! Ambilin Kakak roti di kulkas!" teriaknya lagi. Tak ada yang menanggapi teriakannya itu, membuatnya semakin terlihat frustasi. "Adek gue kan banyak," "Ara!" panggilannya. Ia memanggil Ara adik perempuannya yang merupakan anak ke 4. Berumur 8 tahun, ia masih kelas 2 SD, Zila memanggilnya karena tahu dia lah yang sang penurut yang tak pernah berkomentar apapun jika disuruh sang kakak. "Ara!" panggilnya sekali lagi. "Iya sebentar," teriak Ara dari luar kamar. Zila masih memijit-mijit kepalanya yang terasa pusing. "Kayaknya gue karma deh gara-gara kemarin gibah sampai tengah malam," gerutunya. "Ceklek," "Ini kak," ucap Ara seraya menyodorkan roti dan juga s**u. "Kok ada s**u, kakak nggak pernah suruh buat s**u lo," ucap Zila. "Aku sengaja buatin," jawabnya Ara yang masih sangat imut dan polos. "Wah baiknya adek kakak yang satu ini," sambung Zila sambil mengelus kepala sang adik. Tak heran, Ara memang selalu memperlakukannya begitu, beda dengan Syana yang merupakan anak ke-3 ia merupakan Kakaknya Ara, 3 tahun lebih tua daripada Ara. Syana lebih sering membuat keributan dengan Zila. Beda lagi dengan Fariq, sensasi anak bungsu memang melekat pada diri Fariq, usianya yang masih muda yaitu 5 tahun sering membuat sang Kakak naik pitan gara-gara sering mengomel, tapi beda dengan Syana, walau sering membuat sang Kakak marah namun Fariq termasuk adik kesayangan Zila. Yang terakhir Thoriq. Umurnya dengan Zila tak berpautan jauh yakni 2 tahun, Thoriq lebih menjadi adek rasa Abang menurut Zila. Namun seperti adik kakak pada umumnya mereka juga masih sering bertengkar, namun tak sesering adik-adiknya yang lain. Selesai pembahasan dan perkenalkan mengenai adik Zila. Kini berlanjut pada aktifitas Zila, dimana ia saat ini sedang bersiap-siap setelah sebelumnya ia mandi dengan cepat. Anehnya, tak ada telepon dari pihak penerbit membuatnya terasa santai. Ia sedang memoles lipstik pada bibir kecilnya, namun tiba-tiba pikirannya berkata, "apa jangan-jangan mereka marah terus ngambek gara-gara gue telat," "Oh shitt, nggak bisa nih begini!" Zila langsung bergegas untuk berangkat, namun ada lagi. Sepertinya ini adalah sebuah resikonya memiliki adik yang banyak. "Tapi bukan gue yang buat! Salahin nyokap bokap gue!" Ya begitulah, Syana belum berangkat sekolah karena ditinggal oleh temannya. "Siapa suruh lo lama, mampus kan lo ditinggalin," umpat Zila. "Mau nganterin nggak?! Kalau nggak mau jangan ngebacot deh!" begitu kata Syana menjawab Zila. "Oo dah pinter ya mulut lo, sini gue sumpel mulut lo!" kesal Zila. "Eh udah udah, sini Syana lo berangkat bareng gue aja, mungkin Zila lagi buru-buru," ucap sang malaikat yang selalu datang meredakan suasana tegang. Ya, itulah Thoriq. Kini ia sedang menjalani ujian akhir agar bisa masuk perguruan tinggi, uang lagi uang lagi. "Nah emang keren adek gue yang satu ini, anterin deh tu!" pungkas Zila lalu pergi begitu saja. Thoriq hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak sulung yang seperti anak bungsu itu. *** "Gini deh, kalau buku kamu lagi-lagi nggak laku banyak, untuk next saya nggak mau lagi nerbitin karya kamu," ucap bapak-bapak tua itu. Di samping bapak-bapak tua, ada seorang pria tampan yang terus memperhatikan Zila yang sedang kena omel karena telat. Setelah panas telinganya mendengar celotehan Pak Lukman, kini Zila memilih untuk duduk santai sambil menenangkan diri di kantin. Tiba-tiba pria tampan yang berada di samping Pak Lukman tadi datang sambil ia membawa sebuah minuman untuk Zila. "Masih sedih gara-gara omongan Pak Lukman?" tanya pria tampan yang disinyalir bernama Aldan itu. "Nggak juga sih, gue cuma bingung aja sama diri gue sendiri," jawab Zila yang terus bengong ke arah depan tanpa melihat Aldan. "Maksud lo?" tanya Aldan lagi. "Gue akhir-akhir ini sering murung, nggak tahu deh tu kenapa," lanjut Zila. "Hmm, kayaknya lo perlu liburan deh, ntar malem free nggak?" tanya Aldan sungguh berani. "Gue ada janji sama cowok gue," jawab Zila begitu lugas. Jelas Aldan shock, ia tak tahu bahwa Zila sudah memiliki pacar. Mengenal Zila dari SMA membuatnya sedikit terkejut karena memang rumah mereka juga lumayan dekat dan ia sangat tahu Zila adalah tipe pemilih. Selera cowoknya tinggi, agak aneh jika ia sangat cepat mendapatkan pacar. "Oh lo udah punya pacar?" tanya Aldan sedikit julit. "Iya, kenalin namanya Leo," ucap Zila sambil memberikan foto pria penuh make up di wallpaper handphonenya. "Sapi lo! Gue udah jantungan, kirain lo beneran udah punya pacar," rasanya sangat lega bagi Aldan saat Zila menyebut nama Leo, dan memperlihatkan fotonya. Aldan memang bukan penggemar K-Pop tapi terlalu sering mendengar cerita halu dari Zila membuatnya mengenal pria-pria yang menjadi suami Zila itu. "Lah kenapa? Dia beneran pacar gue Al!" tegas Zila dengan sangat meyakinkan. "Iya gue tahu kok, eh btw," "Thoriq sama Fany makin deket aja tuh, rumornya sih mereka udah jadian," lanjut Aldan. "Terus?" "Adek kita aja udah pacaran, masa kita belum, hehe," ujar Aldan. "Jangan harapkan hal itu terjadi kawan, mending lo nikah aja sono sama mpok Nina, lumayan langsung punya anak satu lo," balas Zila. "Tega lo, nyuruh gue nikah sama janda," "Udah deh, gue mau pulang, ntar kalau ada apa-apa hubungi gue ya," kata Zila seraya pamit kepada Aldan. "Oke hati-hati lo," Zila mengangkat tangannya meninggalkan Aldan sendiri disana. Zila pun pulang, sambil ia menunggu kabar dari penjualan bukunya. Sedikit kesal dengan Pak Lukman yang membentaknya karena telat. Ia tahu ini salahnya, tapi bisa biasa aja kan marahnya, nggak perlu buat gue malu di depan banyak karyawan juga. "Awas aja lo Lukman," kesal Zila.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD