Wanita mukena bunga-bunga
Gelap, dingin nan mencekam terasa begitu melekat di malam ini, hembusan angin sejuk sesekali berhembus pelan membangkitkan bulu kuduk orang-orang yang sadar akan malam yang sunyi ini.
Bintang? Apa itu bintang? Tak ada satu pun bintang yang terlihat di langit malam, semua tampak gelap tak ada cahaya kelap-kelip yang sejauh ini menjadi daya tarik langit malam.
Mendung, tapi hujan seakan seperti wanita, lama. Lama ia datang, padahal wanita kurus itu sedang menunggu kedatangannya untuk sekedar bersua sapa dengan rintikan air yang akan membawa genangan di depan rumahnya.
Suara hembusan nafas yang begitu berat terdengar dibarengi suara jangkrik yang iseng berbunyi di pekarangan depan rumah.Sosok wanita yang duduk di atas jendela dengan mengenakan mukenah bunga-bunga berwarna ungu, sungguh manis namun alay.
Kepalanya ia sandarkan pada sisi jendela, wajahnya nampak lusuh dan kusut. Tidak sepenuhnya kusut, ia masih muda namun beban hidup yang cukup berat hingga membuatnya tak ada waktu untuk merawat wajahnya.
Tak payah berlama-lama ke masalah wajah wanita yang sedikit kusut dan lusuh itu, langsung saja kenalkan dia Zila. Ya, nama lengkapnya Zilaika Aisyafira Faruq, wanita berusia 20 tahun itu terlihat sedang sibuk memikirkan beban dunia yang dilimpahkan kepadanya. Wajah kecil nan imut itu kini sedang terlihat kusut dan lusuh. Entah masalah apa lagi yang telah mendera wanita muda ini. Sepertinya ujian dan cobaan sudah menjadi kawan karibnya, sejak dini ia sudah menjalani pahitnya kehidupan. Pertama perkenalkan dia adalah seorang anak sulung dari 5 bersaudara, terlahir dari keluarga sederhana yang merupakan korban korupsi bansos pihak oligarki.
Ya, bisa dikatakan begitu. Keluarganya sama seperti kebanyakan keluarga di Indonesia, merupakan korban ketamakan pejabat yang terus menguras hak-hak mereka yang kini berteriak kelaparan. Tak perlu lama-lama kita membahas bansos kini langsung lanjut perkenalkan dia adalah seorang Mahasiswa semester 3 yang harus bekerja sampingan untuk membantu keluarganya dalam membiayai sekolah adik-adiknya.
Ia merupakan seorang penulis. Ya betul, karyanya tak seterkenal penulis-penulis novel lainnya. Ia baru menerbitkan beberapa karya dan itu pun tak terlalu terkenal, setidaknya dengan itu ia bisa hidup dan membantu keluarganya. Ia juga lumayan aktif pada platform online menulis novel yang itu juga ternyata ia mendapatkan bayaran yang bisa dibilang lumayan untuk membiayai kuliahnya.
Dengan usia semuda itu ia sudah bisa membantu keluarganya, setidaknya ia bukanlah beban keluarga seperti kalian, bercanda.
Rasanya tak cukup jika tidak menyebut ciri-cirinya. Zila merupakan wanita berwajah bulat dan kecil, penampilannya juga tidak terlalu memperlihatkan wanita-wanita seumurannya, ia lebih terlihat seperti siswa SMP yang baru saja masuk sekolah. Banyak yang bilang ia awet muda, bagaimana bisa hal itu mereka katakan, bahkan Zila saja belum tua bagaimana bisa dikatakan awet muda, awet kecil baru ada. Ia sangat cantik, Zila sering mengenakan hijab pashmina. Wajahnya begitu bulat dan lucu, hidungnya mancung serta alis yang tebal.
***
"Tring," suara notifikasi w******p dari handphone Zila.
"Suami lo lagi perform buruan live streaming!" chatting dari seseorang yang ia namanya
"bestai"
"Kirim link cok!"balas Zila.
Dengan cepat sang pengirim chat itu langsung mengiriminya link untuk live streaming.
Jangan heran dan terkejut, Zola merupakan seorang fangirl, Ya dia adalah fangirl salah satu grup boyband di Korea sana.
Sama seperti fangirl lainnya yang selalu teriak histeris saat melihat pria-pria yang mereka akui sebagai suaminya itu sedang perform. Malam itu salah satu idolanya akan segera perform di sebuah acara awards di Korea. Entah tak tahu kenapa setelah mendapat chat dari "bestai" nya yang disinyalir bernama Mumut itu, wajahnya yang kusut dan kusam itu berubah menjadi berseri-seri dan berbinar cerah.Raut wajahnya yang menampakkan banyak beban hidupnya itu kini hilang seketika setelah ia membuka link yang dikirimkan oleh Mumut.
Senyum-senyum sendiri, menahan jeritan di malam hari, greget sendiri, terkejut, terkaget-kaget, mimisan sampai kayang itulah yang Zila dan para fangirl lainnya rasakan saat menonton pria-pria yang sering mereka akui suami itu.
Seperti terkena pelet dari Korea sana, para wanita seakam terbius dengan visual mereka yang tak biasa itu, ya tak biasa tapi sangat luar biasa.
"Aaakkk! Leo lo ganteng banget!" teriak Zila mampu mendatangkan hujan. Benar saja, akibat teriaknya tadi tiba-tiba muncul geledek dibarengi dengan serbuan air hujan yang menghujam bumi.
Sambil berjoget-joget kecil, itu membuat Zila terlihat lebih b*******h dari sebelumnya, bahkan sangat b*******h.
"Yah kok cuma satu lagu sih?! Serius cuma satu lagu?!" bentaknya, entah siapa yang ia bentak, Zila yang gila.
Seusai para suaminya tampil, ia langsung cus menelpon Mumut. Biasalah, saat para waniat berbicara dengan sahabatnya serasa lagi dengerin ibu-ibu komplek yang lagi gosip di tukang sayur.
"Eh eh Mut, seriusan cuman satu lagu doang?!" tanyanya sembari ngegas membentak lawan bicaranya.
"Biasa aja dong, telinga gue sakit nih dengerin suara lo, gila kenceng banget," jawab Mut terdengar kesal.
"Iya woy, cuma satu lagu hiks," Mut merengek seperti anak kecil.
"Aaaa, nggak seru," kata Zila juga ikut merengek.
"Udah ah, kesel gua tapi btw tadi Daemin keren banget dong!" lanjut Mumut sambil merengek lagi.
"Sama woy! Leo juga cakep banget, sialan capek gue sama ketampanannya," ikut Zila memuja idolanya.
"Eh Zil, btw lo mau ikutan open PO nggak album terbaru?" tanya Mumut.
"Gue pengen banget, tapi duit gue Mut," ucapnya lagi-lagi merengek.
"Tenang, masih lama kok, batasnya 2 Minggu lagi, bentar lagi kan buku lo terbit tuh nah bisa lah,"
"Tapi Mut, gue pengen beli banyak, keterlaluan banget nggak sih gue. Soalnya jujur gue pengen banget ikut fansign online," keluh Zila.
"Nggak apa-apa mimpi dulu, siapa tahu beneran, kalau lo usaha nggak ada yang mustahil Zil," pesan bestie nya itu sangat dalam.
"Widih gila, bisa juga ya lo ngasih gue wejangan,"
"Kalau urusan sama suami-suami kita gue jadi mendadak bijaksana Zil, gue juga heran," ucap Mumut terdengar heran.
Perbincangan mereka terus berlanjut sampai bahasa-bahasa hal berbau halu. Misalnya adat yang apa yang besok mereka gunakan saat menikah dengan idol mereka, lalu besok dimana mereka akan tinggal jika sudah menikah, lalu bisa kah suami-suami mereka dengan budaya yang berbeda itu menerima budaya Indonesia dan jelas keluarga mereka juga. Sungguh gila!
Sudah setinggi itu level halu mereka. Tapi nampaknya itu sudah menjadi hal yang rumlah dikalangan fangirl. Mereka sudah berdamai dengan keadaan nyata maupun halusinasi. Itu bukan masalah yang terlalu serius bagi mereka, ada hal-hal yang lebih penting untuk mereka pikirkan.