Bujukan Ben

1770 Words
Mobil mewah yang digunakan untuk mengantar Ben ke sekolah berhenti di depan perkarangan sebuah sekolah yang merupakan sekolah terbaik di New York itu. Saat mobil sudah terparkir, Lily langsung memberikan tas dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan oleh Ben di sekolahnya. Tidak lupa kotak makan siang yang juga sudah Lily sediakan sebelumnya. "Bersenang-senanglah di sekolah Tuan Muda," kata Lily memberi semangat seperti biasanya. Ben yang menyandang tasnya hanya tersenyum kecil membalas. "Oh iya Bi." Ben sepertinya teringat sesuatu sehingga ia mengurungkan niatnya saat hendak membuka pintu mobil bersiap untuk keluar.  "Ya, ada apa Tuan Muda? apa ada yang tertinggal?" "Tidak. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu."  "Menyanyakan sesuatu? apa itu?" "Apa Bibi sudah bicara pada ayah tentang permintaanku kemarin?" tanyanya. Seketika semangat Lily sirna sudah mendengar pertanyaannya. Bisa-bisanya anak ini msih mengingat tentang hal itu. Padahal Lily sendiri sudah berusaha melupakannya yang beranggapan bahwa Ben tidak pernah meminta hal itu darinya. Tapi melihat Ben yang masih mengingatnya, itu tandanya anak itu benar-benar bersungguh-sungguh. "Bukankah Bibi sudah bilang, Bibi akan mengabulkannya jika tuan Dean yang meminta. Lagi pula di dunia ini ada sesuatu yang memiliki kemungkinan untuk bisa terjadi, namun juga ada yang tidak memiliki sedikitpun kemungkinan untuk bisa terjadi. Permintaan Tuan Muda ada pada opsi yang kedua," kata Lily terdengar sangat frustasi. Entah harus seperti apa lagi Lily menjelaskan bahwa permintaan Ben yang meminta Lily untuk menikah dengan ayahnya itu benar-benar konyol. "Tapi kemarin malam aku melihat Bibi keluar dari mobil ayah. Apa kalian tidak membicarakan hal itu sama sekali? ceritakan saja padaku jika Bibi sudah membicarakannya dengan ayah. Bagaimana dengan respon ayah?" Lily terlihat terkejut mendengar penuturan Ben. Apakah Ben melihat saat ia ikut dengan mobil Dean untuk kembali ke mansion kemarin? ah mengingat kejadian kemarin membuat Lily kembali merasa malu bukan main atas tindakan tanpa sengajanya saat itu. Ia bahkan berharap tidak akan bertemu Dean lagi dalam waktu dekat ini karena sejujurnya ia masih belum siap. "Tidak, bibi tidak membicarakan apapun pada tuan. Kami hanya tidak sengaja bertemu dan tuan memberi tumpangan ke pada bibi untuk pulang. Itu saja." "Ah pasti Bibi berbohong. Apa sebenarnya diam-diam Bibi sudah berkencan dengan ayah?" Lagi-lagi Lily dibuat melongo. Bagaimana bisa anak berusia 9 tahun ini mengucapkan kalimat seperti itu. Llily melirik sopir pribadi Ben yang sedari tadi hanya diam. Pasti dia diam-diam mendengarkan, ah rasanya Lily sangat malu sekarang. Bagaimana jika ia memikirkan yang tidak-tidak. "Sudahlah Tuan Muda, kita bicarakan lain waktu. Sekarang masuklah sebelum terlambat." "Tapi Bibi harus berjanji untuk segera membicarakannya pada ayah, kaliankan sudah berkencan jadi apa salahnya menikah." "Ah bicara apa Tuan Muda ini, ayo segera keluar, cepatlah." Mendengar ucapan Ben yang semakin melantur membuat Lily semakin panik dan frustasi.  "Baiklah, sampai jumpa Bibi." Lily menghembuskan nafas lega saat Ben sudah keluar dari mobil. Di hempaskannya punggungnya ke sandaran kursi merasa luar biasa leganya. Sepertinya ia akan terus mendapat cercaan pertanyaan-pertanyaan seperti itu lagi dari Ben. Jika kali ini ia bisa lolos, bagaimana untuk hari-hari berikutnya? ah memikirkannya saja membuat kepala Lily rasanya sakit. "Kita kembali ke mansion Pak," kata Lily saat sang supir tidak kunjung melajukkan mobilnya. Mendengar ucapan Lily ia seolah tersentak dari lamunannya dan langsung melajukan mobilnya. Pasti ia sedang memikirkan tentang percakapan antara Lily dan Ben tadi. Ah Ben membuat orang-orang salah paham saja. *** "Lily..." "Lily..." "Lily!" panggilan terakhir yang lebih seperti sebuah gertakan itu akhirnya berhasil menyadarkan Lily dari lamunannya. Lily yang sedang duduk menopang dagu di bar pantry langsung menatap seseorang yang sudah mengejutkannya itu. "Bibi Ellianor, kau mengagetkanku saja." "Salah sendiri kenapa kau malah melamun disini." Lily menyengir sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena tertangkap basah sedang melamun. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Ellianor mengambil posisi duduk di samping Lily kemudian meneguk jus jeruk, nanas dan apel yang ia campur jadi satu menciptakan rasa yang sangat segar di tengah siang yang cukup terik ini. "Tidah ada, aku hanya bosan saja saat menunggu jam pulang Tuan Muda seperti ini," jawabnya membuat Ellianor mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Ellianor mengeluarkan ponselnya kemudian melihat-lihat sesuatu. Meskipun usianya sudah paruh baya, namun ia terlihat masih awet muda, lihatlah ia bermain ponsel selayaknya anak muda lainnya. "Bibi, bukankah kau sudah lama bekerja disini?" tanya Lily tiba-tiba.  "Tentu saja, aku bahkan sudah bekerja untuk tuan Dean hampir 12 tahun," ungkapnya. "Apa benar ibu tuan muda meninggal saat melahirkannya?" tanya Lily. Ellianor berhenti memainkan ponselnya kemudian fokus menatap Lily. Dahinya mengernyit heran, mungkin ia heran mengapa Lily tiba-tiba menanyakan hal itu. "Apa kau sedang mengajakku untuk bergosip?" tanyanya penuh selidik. "Tidak, aku hanya ingin memastikan. Aku tahu dari tuan muda," jelasnya. Meskipun ia yakin bahwa selama ini apapun yang diceritakan oleh Ben padanya adalah sebuah kebenaran, namun tetap saja ia ingin bertanya pada kepala pelayan mansion yang pasti lebih tahu dengan jelas. Jika ia sudah bekerja hampir 12 tahun, itu artinya ia sudah bekerja bahkan sebelum Ben lahir.  "Ya, ibunya meninggal beberapa hari setelah melahirkannya." "Apakah tuan Dean memang bersikap dingin pada Ben karena masih belum menerima kepergian istrinya?" tanya Lily lagi semakin ingin tahu. "Ah kenapa kau sangat ingin tahu sekali? jika tuan Dean dengar, kau pasti akan habis dicincang," ucap Ellianor menakut-nakuti yang sukses membuat Lily bergidik ngeri. Benar juga, mengapa ia jadi sangat ingin tahu seperti ini, itu kan bukan urusannya. "Akukan hanya penasaran." "Ibumu bahkan dulu tidak pernah ingin tahu sepertimu." "Itu karena ibuku sudah tua, rasa ingin tahunya sudah menipis." Ellianor memutar bola matanya malas mendengar alasan Lily sementara Lily hanya menyengir tanpa dosa.  Ellianor dulu memiliki hubungan yang cukup dekat dengan mendiang ibu Lily. Hal itu karena usia mereka yang tidak terpaut cukup jauh. Membiarkan Lily bekerja disini menggantikan ibunya juga merupakan salah satu bentuk kedekatan Ellianor dan ibu Lily . Ia tahu bahwa saat itu Lily belum memiliki pekerjaan, lagi pula gaji menjadi pengasuh Ben cukup besar, oleh karena itulah Ellianor langsung menawarkannya pada Lily. *** "Bibi sudah menyampaikan pada para koki tadi jika malam ini Tuan Muda ingin makan pasta." "Apakah Bibi juga sudah sapaikan bahwa aku ingin extra keju?" "Tentu saja, sudah bibi sampaikan juga." "Terima kasih Ibu." "Tuan Muda..." Ben terbahak mendengar nada protes dari Lily karena panggilan baru yang ia berikan. Seharian itu anak itu tidak berhenti memanggil Lily dengan panggilan 'Ibu' hingga membuat Lily merajuk. Bukannya Lily tidak suka, hanya saja ia merasa tidak nyaman, apalagi jika orang lain mendengarnya. Pasti akan menimbulkan kesalah pahaman. Ben yang tahu bahwa Lily tidak suka malah semakin menjadi-jadi untuk mengerjai Lily. Hingga akhirnya sebelum menuju ruang makan ini ia sudah berjanji untuk tidak memanggil Lily seperti itu lagi, namun lihatlah, baru tadi berjanji ia malah sudah melarangnya. Entahlah, Ben hanya suka saja menggoda Lily. Ben duduk di salah satu kursi di ruang makan. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Hal ini bukanlah pemandangan yang asing karena biasanya Ben selalu makan sendiri. Tentu saja ditemani pengasuhnya. Dean? entahlah, Ben bahkan jarang melihat Dean makan malam. Entah ia memang sudah makan sebelum Ben datang ke meja makan, atau ia makan setelah Ben, atau dia makan di kamar, Ben benar-benar tidak tahu. Melihat kedatangan Ben, seorang pelayann langsung datang membawakan makanan dan menatanya di atas meja. Meskipun Ben sudah meminta menu makan malamnya, tetap saja para koki dan pelayann menyiapkan makanan yang lain termasuk makanan pendamping maupun pencuci mulut. Saat semua makan sudah tertata rapi, Ben mulai memakan makanannya dengan lahap. Ia sangat mandiri, tidak membutuhkan orang lain untuk menyuapinya makan karena ia akan makan sendiri dengan lahap. Tidak hanya Ben, Lily juga menyantap makan malamnya dengan menu yang sama dengan Ben. Sebenarnya diawal hari kerjanya saat itu Lily selalu berniat untuk makan setelah Ben makan, atau saat Ben bersantai dan tidak membutuhkannya, saat itulah ia akan makan. Namun Ben protes dan mengatakan bahwa Lily harus menemaninya makan. Oleh karena itulah Ben tidak benar-benar makan sendiri sekarang karena selalu ada Lily yang menemaninya.  Keduanya makan dengan lahap. Sesekali Ben menceritakan apa yang terjadi di sekolah hari ini yang ia rasa menarik untuk diceritakan. Jika dulu Ben bersikap cukup dingin dan tidak begitu banyak bicara, kini ia jauh lebih santai saat berhadapan dengan Lily. Ia bahkan bisa dengan begitu cerewetnya menceritakan apapun yang terjadi padanya kepada Lily. Tentu saja Lily menyambutnya dengan tidak kalah antusiasnya. Respons Lily yang baiklah yang sepertinya menjadi salah satu alasan Ben untuk bisa merasa nyaman bercerita dengannya. Setelah makan, Ben berencana untuk langsung ke kamar. Ia ingin melukis sembari menunggu perutnya bisa mencerna makanan yang baru saja ia makan kemudian istirahat. Namun saat ia hendak berjalan menuju lift menuju kamarnya, langkahnya terhenti saat melihat ayahnya dan seseorang yang terlihat tidak begitu asing dengannya itu tengah duduk di ruang santai. Ternyata tidak hanya Ben yang menyadari keberadaan mereka, merekapun menyadari keberadaan Ben yang langsung menoleh ke arahnya. "Paman Arthur?"  "Haii jagoan..." Arthur yang saat itu bersama Dean langsung menghampiri Ben saat menyadari kehadirannya. Wajah Ben langsung sumringah. Meskipun badannya tidak kecil lagi, namun Arthur tetap membawanya ke dalam gendongannya.  "Wah kau sudah semakin besar ternyata," kata Arthur.  "Paman kemana saja? sudah sangat lama paman tidak datang." "Apakah kau merindukanku?" "Tentu saja." Arthur tersenyum mendengar jawaban tulus anak kecil menggemaskan itu. Setahun tidak bertemu, pertumbuhannya sangat pesar sepertinya. Rasanya dulu ia bahkan tidak seberat ini saat digendong. "Paman membelikanmu sesuatu," kata Arthur menurunkan Ben dari gendongannya. Ia berlalu sejenak kembali me tempat dimana ia duduk tadi kemudian mengambil bingkisan yang sengaja ia bawa untuk Ben kemudian kembali menghampiri Ben dan memberikan bingkisan itu. "Wah, perlengkapan melukis." Mata Ben berbinar senang mendapat hadiah dari Arthur membuat Arthur tersenyum lega, ternyata Ben masih suka melukis. Ia sempat mengira bahwa anak itu sudah kehilangan minatnya dalam melukis.  Lily diam-diam ikut tersenyum melihat Ben yang sangat antusias. Ia tidak pernah melihat Ben seantusias itu sebelumnya. Meskipun ia tidak tahu siapa pria tinggi jangkuk di hadapannya kini, namun sepertinya ia sangat dekat dengan Ben. Lily sempat melirik ke arah Dean sejenak yang menatap mereka dengan tatapan datarnya. Apakah ia tidak iri melihat kedekatan putranya bersama orang lain seperti ini? apakah tidak pernah terlintas di pikirannya untuk melakukan hal yang sama? ah Lily tidak akan pernah mengerti jalan pikiran Dean. "Aku hampir menyelesaikan lukisanku, apa Paman ingin melihatnya?" tanya Ben mendongakkan kepalanya untuk menatap Arthur. Ia bahkan sudah menggandeng tangan besar Arthur dengan tangan mungil miliknya. "Tentu saja, ayo kita lihat." Ben mengangguk bersemangat kemudian membawa Arthur menuju kamarnya.  "Biarkan mereka berdua pergi. Kau, ikut aku." Lily yang hendak melangkah menyusul mereka langsung menghentikan langkahnya saat mendengar suara berat khas milik Dean yang sepertinya sedang berbicara padanya. Tentu saja padanya, sebab tidak ada orang lain lagi disini. Dean terlihat berlalu pergi membuat Lily menjadi ragu. Kenapa Dean memintanya untuk mengikutinya? memangnya harus kemana? Lily menggelengkan kepalanya menghalau pikiran-pikirannya dan bergegas mengikuti Dean sesaui dengan titah tuannya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD