Tidak Sengaja Bertemu

1816 Words
"Aku ingin Bibi menikah dengan ayah." Ucapan Ben itu sontak membuat sel sel di dalam otak Lily seolah berhenti bekerja hingga ia tidak dapat menyerapnya dengan baik. Apa tadi yang Ben katakan? Menikah dengan ayahnya? Itu artinya menikah dengan Dean? Ah ia pasti salah dengar. "Tuan Muda salah bicarakan? Ayo katakan yang sebenarnya Tuan Muda butuhkan." "Itu yang aku butuhkan Bi. Aku ingin Bibi menikah dengan ayah." "Ah Tuan Muda pasti sedang bercanda." Tidak ingin menggapi omong kosong ini membuat Lily ke lemari besar yang berada di dalam kamar untuk mencari pakaian untuk Ben. Ben langsung mengikutinya dari belakang. Ben rasa raut wajahnya sudah serius. Apa masih belum cukup meyakinkan? "Aku serius Bi." "Sudahlah Tuan Muda, lebih baik segera mandi. Sebentar lagi guru les piano Tuan Muda akan datang." "Aku tidak akan melakukan apapun jika Bibi tidak mau menjawab permintaanku." Ben melipat kedua tangannya di depan d**a. Wajahnya ia buat berkali lipat lebih serius lagi agar Lily yakin bahwa ia sedang tidak bercanda. Lily menghela nafas kasar. Ia berbalik kemudian berlutut di hadapan Ben agar tinggi mereka sejajar. Dipegangnya kedua sisi bahu Ben agar bisa fokus menatapnya. "Tuan Muda sadarkan apa yang baru saja Tuan Muda katakan?" "Tentu saja." "Bagaimana bisa Tuan Muda berpikir untuk meminta bibi menikah dengan tuan Dean. Bibi ini adalah seorang pengasuh. Lagi pula kami tidak memiliki hubungan apapun. Bahkan bibi ragu apakah tuan Dean mengenal bibi atau tidak. Jadi tolong berhentilah berpikir sesuatu yang tidak mungkin seperti itu." Lily terlihat begitu memelas. "Tapi hanya Bibi yang bisa membuat ayah tersenyum. Ayah pasti akan bahagia jika bisa menikah dengan Bibi. Dengan begitu ayah tidak akan marah lagi denganku," ungkap Ben. Lily dibuat tercengang oleh ucapan Ben itu. Bagaimana bisa anak seusia Ben memikirkan hal sejauh itu. "Tuan Muda pasti salah paham. Tidak mungkin bibi bisa membuat tuan Dean bahagia. Dia saja selalu menatap bibi begitu dingin. Ah membayangkannya saja membuat bibi merinding." Lily bergidik ngeri sendiri membayangkan sosok Dean. Bagaimana bisa Ben berpikir bahwa Lily bisa membuat Dean tersenyum. Selama ini setiap bertemu saja Dean selalu memasang wajah dinginnya. "Tapi itu benar Bi. Aku sudah beberapa kali menangkap secara tidak sengaja memperhatikan Bibi hingga tersenyum. Ayah benar-benar sering memperhatikan Bibi," ungkapnya bersungguh-sungguh. "Tidak mungkin Tuan Muda. Tuan Dean pasti tersenyum karena melihat Tuan Muda, anaknya. Tidak mungkin karena melihat pengasuh seperti bibi." "Percayalah padaku Bi. Ayah jarang sekali tersenyum. Tapi beberapa hari ini aku sering melihat ayah tersenyum saat sedang memperhatikan Bibi dari kejauhan. Tidak apa jika ayah masih tidak ingin dekat denganku, asalkan aku bisa melihat ayah lebih sering tersenyum dari jauh saja rasanya sudah cukup." Lily bisa melihat binar penuh harap dari mata anak itu. Ia pasti sangat terpukul karena keadaan hubungannya dengan ayahnya hingga ia sampai memikirkan cara-cara seperti ini agar bisa lebih dekat dengan ayahnya. Sejujurnya Lily tidak tahu harus meresponsnya seperti apa. Ia tidak sanggup mematahkan harapan anak manis seperti Ben. Mungkin bagi Ben sekarang ia seolah memiliki harapan untuk memperbaiki hubungannya dengan ayahnya meskipun itu bukanlah tugasnya. Harusnya Dean yang lebih memikirkan tentang hal ini. Tapi apa mungkin Lily harus memberinya harapan? Konyol sekali rasanya jika Lily mengiyakan sementara rasanya tidak mungkin jika Dean benar-benar tertarik padanya. Yang benar saja, Dean memiliki semua yang diinginkan para pria untuk disebut sebagai pria yang ideal dan sempurna. Pasti banyak wanita di luar sana yang tergila-gila padanya hingga Dean hanya perlu memilih mana yang ia suka. Jadi tidak mungkin Dean suka pada pengasuh yang tidak ada apa-apa seperti dirinya. Ah rasanya Lily benar-benar pusing sekarang harus seperti apa. "Begini saja, bibi akan menikah dengan tuan Dean, asalkan tuan Dean yang meminta," ucap Lily akhirnya. Sepertinya ini adalah jawaban yang paling tepat. Ia tidak terkesan memberi harapan, namun juga tidak menolak permintaan Ben. Ben terdengar mendesah kecewa. "Tidak bisakah Bibi saja yang mengajak ayah untuk menikah?" Lagi-lagi Lily dibuat melongo dengan penuturannya. Sepertinya permintaan Ben semakin aneh-aneh saja. "Tidak... tidak... tidak... meskipun hanya pengasuh, namun bibi ini masih punya harga diri. Ah berhentilah berbicara omong kosong Tuan Muda, kepala bibi rasanya akan pecah. Mandilah setelah itu pilihlah baju yang Tuan Muda suka," setelah mengatakan itu, Lily langsung berlalu keluar dari kamar Ben sebelum anak itu kembali meminta yang aneh-aneh. Ben mendengus kesal melihat kepergian pengasuhnya itu. Bujukannua ternyata tidak mempan. Ia terlihat kecewa, bukankah ayahnya tampan dan kaya, kenapa Lily malah menolaknya? Mungkin Ben bisa membujuknya lagi nanti. *** "Maaf karena tidak bisa mengurus semuanya lebih cepat." "Tidak masalah Dean. Satu tahun bahkan sudah sangat singkat dibanding waktu tuntutan awalnya. Aku tidak bisa bayangian jika harus mendekam di penjara bertahun-tahun." Dean meneguk vodkanya dengan sekali tegukan sementara seseorang di hadapannya terlihat sudah meneguknya beberapa kali. "Ngomong-ngomong, bagaimana caranya kau mengeluarkanku? Aku bahkan tidak yakin bisa menang pada persidangan kemarin karena semua bukti memberatkanku." "Tidak usah pikirkan itu, yang terpenting kau sudah bebas." Pria berdarah Amerika-Belanda itu tersenyum mendengar ucapan Dean yang terdengar ketus namun bisa ia rasakan penuh kepedulian. Bagaimana tidak peduli, ia pasti bekerja keras untuk membantu mengeluarkannya dari penjara. Arthur Sanders merupakan sahabat Dean semasa kuliah. Usai kuliah saat Dean mulai merintis bisnis otomotif dan clubnya, Arthur memutuskan untuk memulai bisnis kuliner kecil-kecilan dengan membuka kios burger. Saat usaha Dean mulai maju, Dean membantu Arthur dengan meminjamkan uang untuk membuka sebuah lounge. Dengan modal yang diberikan oleh Dean, Arthur berhasil mengembangkan bisnisnya itu. Namun suatu hari, polisi datang menangkap Arthur di apartemen miliknya atas tuduhan penyalah gunaan n*****a serta pembunuhan berencana yang membuat ia mendekam di penjara. Arthur mengaku pada Dean bahwa ia tidak melakukan apapun yang berbau kriminal. Awalnya Dean sempat tidak percaya pada Arthur, namun Arthur terus menyakinkannya hingga akhirnya Dean setuju untuk membebaskannya. Karena semua bukti menjurus padanya, Dean membutuhkan waktu yang cukup lama untuk keluar dari penjara. "Lain kali lebih berhati-hatilah. Mungkin salah satu dari musuhmu dalam bisnis yang sengaja menjebakmu. Hal-hal seperti itu berkemungkinan besar terjadi," ucap Dean menasehati. "Ya, aku mengerti." "Jika kau butuh modal untuk kembali merintis usaha, kau bisa mengatakannya padaku." "Aku pasti akan menyusahkanmu lagi. Tapi untuk waktu dekat ini mungkin aku akan beristirahat dulu sambil memikirkan apa yang akan aku lakukan ke depannya." "Baiklah." Dean mengangguk paham. "Aku akan pulang. Jangan terlalu mabuk, aku tidak ingin kau mendapat masalah lagi." "Siap tuan Dean. Ah para wanita yang tergila-gila padamu pasti sangat iri padaku karena kau begitu perhatian padaku," ucap Arthur dengan nada menggoda yang berhasil mendapat tatapan tajam dari Dean. Bukannya takut, Arthur malah tertawa geli. Tidak ingin kembali digoda oleh Arthur membuat Dean langsung berlalu pergi meninggalkan bar itu. Dean berjalan menuju parkiran dimana Porche hitam mengkilapnya terparkir. Sepanjang berjalan keluar, tatapan para kaum hawa tidak lepas dari Dean. Mereka merasa sangat beruntung datang ke tempat itu saat seorang pria dengan wajah bak dewa Yunani ternyata juga ada disana. Dean sama sekali tidak terusik menjadi pusat perhatian karena hal itu sudah menjadi sesuatu yang biasa. Ia sama sekali tidak memikirkannya, lagi pula baginya itu bukan hal yang penting dan sama sekali tidak menarik. Dean memasuki mobilnya kemudian hendak langsung melajukkannya dengan kecepatan tinggi, namun aksinya itu ia urungkan saat ia sedang memakai sabuk pengaman, pandangannya menangkap sosok yang tidak asing baru keluar dari bar. Dean menajamkan matanya memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Saat dirasa bahwa ia tidak mungkin salah, Dean langsung melajukan mobilnya menyusul orang itu yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju jalanan besar. "Masuk," ucap Dean setelah membuka kaca dan berhenti tepat di samping orang itu. "Tu... Tuan Dean?" Ia sepertinya sangat terkejut atas kehadiran Dean. "Masuk," kata Dean mengulang ucapannya. Meskipun ragu-ragu, namun ia tidak bisa menolak permintaan tuan besar dimana ia bekerja itu. Ia pun masuk ke dalam mobil Dean. Setelah dipastikan orang itu duduk dengan nyaman, Dean langsung melajukan mobilnya. Selama diperjalan, keduanya sama-sama bungkam beberapa saat. Dean menyesali perbuatan spontannya yang entah mengapa meminta orang itu untuk masuk ke dalam mobilnya, sementara orang itu juga merasa menyesal mengapa mau mengikuti Dean begitu saja. "Siapa namamu?" Tanya Dean buka suara. Sejujurnya ia memang lupa nama wanita di sampingnya ini. Ia selama ini sering menyebutnya dengan gadis bermata hijau saja dalam benaknya. "Lily, Tuan," jawabnya dengan nada canggung. "Apakah kau memang diizinkan untuk berkeliaran di luar malam-malam begini?" Lily menegang seketika. Apakah ini masih termasuk jam kerjanya? "Bibi Ellianor mengatakan bahwa saya bisa pergi jika tuan muda sudah tidur, lagi pula ini hari minggu Tuan," jelasnya. Memang benar, kepala pelayan di mansion mengatakan Lily masih boleh pergi keluar untuk urusan pribadinya asalkan sudah bisa memastikan bahwa Ben tidak membutuhkannya. "Ah ternyata kau suka bersenang-senang di tempat seperti itu." "Tidak Tuan, saya hanya bertemu teman lama saya," pungkas Lily cepat. Memangnya apa yang dipikirkan Dean? Apa dia berpikir bahwa Lily datang untuk mabuk-mabukan? Bahkan ia bisa memastikan bahwa ia sama sekali tidak minum. Ia malah bisa merasakan bahwa Dean yang baru saja selesai minum. Untuk sesaat suasana kembali hening. Baik Lily maupun Dean sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing. Merasa jalanan sudah sepi dan cukup luas, Dean langsung menekan gas mobilnya hingga menaikkan kecepatan laju mobilnya. Super car yang ia bawa ini tentu saja bukan mobil yang dibawa dengan santai, harus dengan kecepatan yang maksimal baru terasa nikmat berkendaranya. Lily yang terkejut karena tiba-tiba mobil melaju kencang reflek memegang tangan Dean yang ia letakkan di atas pahanya sembari memejankan matanya erat-erat. Ini untuk pertama kalinya Lily menaiki mobil dengan kecepatan tinggi seperti ini dan benar-benar membuatnya takut. Dean melirik ke arah tangannya yang dipegang erat oleh Lily. Pandangannya beralih sejenak melihat Lily yang masih setia menutup matanya membuat Dean tersenyum simpul. Apakah dia takut? Bukannya melambatkan laju mobilnya, Dean malah menambah lajunya hingga membuat pegangan Lily semakin kuat. Dean bisa merasakan ketakutan Lily dari genggaman tangannya. Tapi gadis itu sepertinya mati-matian menahan teriakannya. Sepertinya ia tidak enak jika harus berteriak di hadapan Dean. "Kau takut?" Tanya Dean. Perlahan Lily membuka matanya. "Ti... tidak Tuan." Mendengar balasan Lily, Dean semakin menambah lajunya membuat Lily kembali terpejam. Dean kembali tersenyum puas. Tangannya berganti menggenggam tangan Lily, tangan gadis itu berair karena keringat. Lily yang merasa Dean membalas genggaman tanganya langsung tersadar oleh apa yang ia lakukan. Ia merutuki dirinya dalam hati yang dengan lancangnya malah memegang tangan Dean dalam keadaan seperti ini. Namun sungguh, yang ia lakukan hanya tindakan spontan semata. Lily berniat untuk menarik tangannya, namun Dean menggengam tangannya kuat membuat darah Lily berdesir sampai ke pucuk kepalanya. Tangan Dean sangat hangat. Lily tidak mengerti dengan situasi ini. Ia kembali berusaha menarik tangannya, namun lagi-lagi Dean menahannya hingga Lily hanya bisa pasrah. Saat mobil Dean memasuki mansion, saat itulah akhirnya Dean melepaskan genggaman tangannya. Lily langsung bergegas keluar dari mobil Dean saat mobil itu sudah terparkir sempurna di depan mansion. "Terima kasih untuk tumpangannya Tuan," kata Lily membungkuk sopan kemudian langsung bergegas memasuki mansion. Ia harus segera menuju kamarnya untuk menutupi pipinya yang memerah ini. Sementara Dean hanya memperhatikan kepergian Lily yang terlihat begitu gugup itu. Sangat tidak disangka-sangka bahwa di luar mansion pun ia akan bertemu dengan gadis yang belakangan ini sering terlintas dalam pikirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD