Permintaan Ben

1638 Words
Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi ini Dean sama sekali tidak memperlihatkan pergerakan untuk berangkat bekerja. Biasanya meskipun akhir pekan, Dean pasti akan tetap meninggalkan mansion untuk mengurus bisnis otomotif atau club miliknya, atau pergi ke luar kota untuk bertemu rekan-rekan bisnisnya yang lain. Entah mengapa hari ini rasanya Dean ingin beristirahat saja di rumah. Tubuhnya tidak begitu sehat. Bukan demam, hanya merasa lelah saja hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengambil istirahat sehari di mansion. Dean tentu saja tidak benar-benar istirahat. Ia sebenarnya hanya memindahkan pekerjaannya di mansion saja. Tadi pagi Ellena, sekretarisnya sudah datang untuk membawa laporan mobil-mobil yang baru masuk dan akan terjual hari ini. Dean akan memeriksa laporan itu di ruang kerjanya yang berada di mansion. Tidak lama lagi Harry juga akan datang. Dean kemarin memintanya untuk mencarikan ladang anggur yang sekiranya cocok untuknya. Dean berencana untuk mengembangkan bisnisnya. Ia tidak hanya ingin memiliki club, namun juga ingin menghasilkan sendiri minuman berbahan dasar anggur untuk ia jual di club-club miliknya maupun ia masukkan ke club-club lain untuk bekerja sama. Entahlah, ide Dean untuk berbisnis seolah tidak ada habisnya. Saat Dean sedang membolak balikkan berkas-berkas yang dibawa sekretarisnya tadi, seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. "Masuk." Pintu terbuka memperlihatkan Harry yang datang. Ia selalu datang tepat waktu. Dean menutup berkasnya. Ia harus mengesampingkan terlebih dahulu bisnis otomotifnya untuk membicarakan bisnis club-nya. Memiliki jenis bisnis yang berbeda membuat Dean tidak ingin salah fokus. Ia ingin keduanya sama -sama berjalan maju dan pesat. Harry mengambil posisi duduk di hadapan Dean. Ia mengeluarkan sebuah map dari tas jinjing yang sedari tadi ia bawa kemudian memberikannya pada Dean. Dean mengambil map itu kemudian melihat-lihat isi kertasnya. Wajahnya terlihat serius seperti biasanya. "Ada perkebunan anggur di Colorado yang akan dijual Tuan. Tempatnya sangat strategis, selama ini juga hasil anggurnya selalu berlimpah setiap panen dan menjadi anggur-anggur kelas satu yang paling diminati sebagai bahan dasar wine. Tuan bisa melihat foto-foto perkebunannya." Dean melihat satu persatu foto yang terlampir pada berkas itu. Terlihat memang sangat subur. Colorado juga merupakan tempat yang terkenal paling strategis untuk menanam anggur. "Bagaimana masalah harganya?" "Itu dia masalahnya Tuan. Mereka mematok harga yang sangat tinggi. Mereka juga tidak ingin kita hanya membeli bagian lahan perkebunannya saja. Mereka juga ingin menjual bagian pabrik yang berada tidak jauh dari lahan. Padahal seperti rencana Tuan sebelumnya, untuk masalah pabrik pengolahannya akan kita lakukan di Boston." "Tidak masalah, kita beli juga pabriknya. Kita bisa merobohkannya dan menambah lahan untuk perkebunan anggur nantinya. Tapi beri harga yang sesuai. Mereka sepertinya tahu siapa aku hingga mematok harga yang sangat tinggi." "Baik Tuan," balas Harry patuh setelah mendapat titah dan tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Tuannya itu benar-benar memiliki kepekaan yang luar biasa dalam berbisnis.  "Oh iya Tuan, hari ini tuan Arthur sudah keluar dari penjara. Saya mendapatkan kabar dari pengacaranya." "Begitukah? berarti sidangnya berjalan dengan lancar. Tanyakan pada dia apakah membutuhkan sesuatu. Besok malam atur pertemuanku dengan dia. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya." "Baik Tuan." "Kau bisa pergi sekarang." Harry mengangguk patuh kemudian berlalu keluar dari ruang kerja Dean untuk mengerjakan semua perintah Dean. Memang perintah Dean tidak akan ada habisnya, tapi Harry selalu bisa diandalkan dalam hal apapun. Dean termenung sejenak. Informasi tentang keluarnya Arthur dari penjara membuat pikiran Dean menerawang jauh. Jika ia keluar hari ini, itu tandanya hampir satu tahun ia mendekam di penjara. Waktu yang cukup lama dari perkiraan mereka sebelumnya. Besok Dean harus menemuinya setelah sekian lama. Dean kembali fokus pada berkas-berkasnya. Ia ingin secepatnya menyelesaikkan pekerjaan ini karena tujuan awalnya mengambil libur hari ini adalah untuk bersantai, bukannya untuk berkutat dengan pekerjaan seperti ini. ***  "Tuan Muda, kenapa dari tadi melamun?" tanya Lily menyudahi lamunan Ben. Sejak tadi ia menunggu dengan setia Ben yang malah melamun mengaduk-aduk serealnya tanpa minat. Jika sereal itu bernyawa, pasti akan terasa sangat pusing diaduk tanpa henti seperti itu. "Apa Tuan Muda ingin makan yang lain?" tanya Lily. Ben menggeleng. "Ah bagaimana kalau kita jalan-jalan di hari libur seperti ini," tawar Lily mendapatkan ide yang menarik. "Ini bukan waktunya berlibur Bibi," balasnya terdengar gusar. Bukan waktunya berlibur? bukankah ini memang hari libur?  "Memangnya kenapa? kenapa Tuan Muda terlihat sangat gusar? apakah ada masalah? apa hutang negara sedang dibebankan pada Tuan Muda?" Ben hanya memutar bola matanya malas mendngar rentetan pertanyaan dari pengasuhnya itu yang tidak ada hubungannya sama sekali sementara Lily terkekeh geli berhasil menggoda Ben. Bisa-bisanya anak kecil itu memasang wajah seperti orang dewasa yang sedang banyak pikiran dan beban seperti itu. "Aku ada tugas sekolah." "Ah begitu.. ya sudah, kerjakan saja setelah makan." "Masalahnya tugas itu harus dikerjakan bersama keluarga dan berupa video yang akan diberikan kepada guru."  "Kebetulan, bibi dengar tuan Dean sedang tidak bekerja hari ini. Bagaimana jika Tuan Muda meminta tuan Dean untuk membuat video bersama."  "Ayah tidak mungkin mau Bi. Lagi pula jika ayah tidak pergi bekerja, itu artinya ayah sedang ingin istirahat dan tidak ingin diganggu," jelasnya. Meskipun hubungannya dan ayahnya tidak dekat, tapi Ben seperti sudah sangat tahu kebiasaan ayahnya itu. Lily mengangguk-anggukkan kepalanya paham, ada benarnya juga. "Bagaimana kalau Bibi membantuku." "Ha? Bibi?" Lily menunjuk dirinya dan Ben mengangguk membenarkan. "Aku akan memperkenalkan Bibi sebagai Bibiku sendiri. Bisakan?" "Tentu saja bisa," balas Lily bersemangat membuat Ben akhirnya bisa tersenyum.  "Jadi apa yang akan kita lakukan?" "Membuat sebuah eksperimen sains." "Wah apa kita akan menjadi profesor?" Ben tidak menjawab. Ia melanjutkan memakan serealnya. Lily mengerucutkan bibirnya, Ben dan Dean sama saja memiliki sisi dingin. Tapi tetap saja Ben menggemaskan. *** Saat ini Lily dan Ben sudah berada di taman belakang mansion. Mereka berdiri di belakang sebuah meja panjang yang sudah terisi dengan berbagai alat-alat dan bahan yang akan mereka gunakan untuk bereksperimen. Lily dibuat geleng-geleng kepala melihat perkembangan zaman sekarang, bahkan anak sekolah dasar sekalipun sudah memiliki tugas seperti ini. Untung saja diminta didampingi oleh keluarga, jika di lakukan sendiri mungkin akan cukup berbahaya. Sebuah kamera profesional di hadapan mereka sudah terpasang untuk merekam aktivitas mereka. Ben meminta pekerja mansion untuk menyiapkannya membuat Lily kembali berdecak kagum. Bahkan untuk tugas sekolah seperti ini saja alat-alatnya sangat canggih dan profesional. Setelah Ben menjelaskan secara garis besar apa yang akan mereka lakukan kepada Lily, mereka langsung memulai. Ben mulai menjelaskan sembari mencampurkan beberapa bahan sedangkan Lily ikut membantu pada bagian-bagian yang sulit seperti menyalakan api, mengaduk bahan-bahan yang agak berat. Keduanya tampak begitu kompak. Lily bahkan sangat menikmati karena merasa sudah sangat lama tidak melakukan hal-hal seperti ini. "Wahhh berhasillll..." pekik keduanya senang saat melihat gelembung-gelembung bak lahar panas keluar dari tumpukan yang mereka buat. Mereka bahkan samapi melompat-lompat kegirangan tidak menyangka akan langsung berhasil dipercobaan pertama. Padahal tadinya mereka berencana ini hanyalah percobaan dan mereka akan terus mencoba hingga terus berhasil.  "Lihat Bibi, kita berhasil." Lily mengangguk senang. Diam-diam di tengah kehebohan mereka yang kegirangan karena keberhasilannya, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka dari balkon ruang kerjanya yang berhadapan langsung dengan halaman belakang. Suara mereka menarik indra pendengarannya yang tengah bersantai di balkon ruang kerjanya usai beberapa saat yang lalu berkutat dengan pekerjaannya. Di tangannya terdapat segelas coffe late untuk menemani santainya. Matanya terfokus melihat dua orang yang terlihat sedang sibuk di bawah sana. Sejujurnya ia tidak mengerti apa yang mereka lakukan dan mengapa sekarang mereka terlihat begitu bahagia? sejujurnya pandangannya lebih terfokus pada sosok wanita itu dari pada anak kecil yang sedang bersamanya.  Dean menyesap kopinya kembali namun pandangannya masih belum beralih. Ia ingin berhenti memperhatikan karena otaknya mengatakan bahwa hal itu sama sekali sekali tidak menarik, wanita itu juga tidak begitu menarik, namun matanya seolah tidak bekerja sama. Ia enggan untuk mengalihkan pandangannya barang sedetikpun. Tanpa sadar Dean tersenyum saat melihat wanita itu terkejut mendengar ledakan-ledekan kecil atas apa yang sedang ia lakukan. Wajah terkejutnya bahkan langsung berhenti dengan gelak tawa membuat senyum Dean semakin merekah. Kenapa kelihatannya sangat menyenangkan?  Ben yang merasa video yang ia ambil sudah cukup langsung bergegas untuk mematikan kameranya. Jika begini itu artinya tugasnya akan lebih cepat. Sembari melihat sedikit hasil rekamannya, Lily mencoba sendiri memasukkan bahan yang bisa menciptakan ledakan kecil dan gelembung-gelembung yang malah membuatnya terkejut kemudian tertawa sendiri. Ia bahkan terlihat lebih kekanak-kanakan dari pada Ben sekarang. Ben yang edang melihat hasil rekamannya tidak sengaja melihat ke arah sebuah balkon yang berada di lantai dua. Dari ekor matanya sebenarnya ia bisa merasakan ada seseorang disana. Ben membeku seketika saat melihat ternyata ada ayahnya disana. Yang membuat Ben lebih terkejut lagi adalah saat menyadari bahwa ayahnya tengah tersenyum. Senyum yang begitu jarang Ben lihat. Naun Ben menyadari bahwa ayahnya tidak sedang tersenyum padanya. Ben mengikuti arah pandangan Dean, pandangan itu tepat jatuh kepada Lily, pengasuhnya. Apa ayahnya tersenyum karena Lily? Ben kembali menatap Dean. Hatinya menghangat melihat senyuman ayahnya itu. Ayahnya bahkan jauh berkali-kali lipat lebih tampan saat sedang tersenyum seperti itu. Seketika pupil Ben membesar saat pandangan Dean yang tadinya fokus pada Lily perlahan beralih menatap Ben hingga tatapan mereka saling bertemu. Dengan cepat Ben langsung mengalihkan pandangannya dari Dean. Jantungnya berdegup kencang saat ketahuan diam-diam memperhatikan ayahnya itu. Ben bisa merasakan dari ekor matanya bahwa ayahnya itu bergegas pergi dari balkon. Setelah beberapa saat, Ben kembali menoleh ke arah balkon, Dean sudah tidak ada disana.  *** "Bibi, terima kasih sudah membantuku," kata Ben tulus setelah Lily mengantarkannya untuk kembali ke kamar sesudah kegiatan mereka yang cukup melelahkan itu. "Ah tidak masalah Tuan Muda. Tuan Muda bisa meminta bantuan apapun pada Bibi," balas Lily diiringi senyumannya. Ia berlalu ke lemari Ben untuk mencarikan baju yang akan bisa dipakai Ben setelah ia mandi nanti seperti biasanya. "Bi," panggil Ben yang sedang duduk di sofa yang terdapat di kamarnya. Lily menghentikan sejenak aktivitasnya kemudian melirik ke arah Ben. "Bolehkah aku meminta sesuatu." "Tentu saja, Tuan Muda butuh apa?" Ben terlihat berpikir sejenak. Ia bahkan memilin celananya merasa ragu harus mengatakannya. Lily yang melihat keanehan tuan mudanya itu bergegas menghampiri Ben dan duduk di samping. "Katakan saja Tuan Muda butuh apa." "Aku ingin Bibi menikah dengan ayah."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD