Sepuluh-Malang I'm Coming

1797 Words
“Dean!!!” Kina berteriak sambil melambaikan tangan melihat lelaki berkacamata yang berdiri di sebelah pilar. Kina menoleh, menarik tangan sahabatnya yang tampak ogah-ogahan sejak tadi itu. “Kita balik aja yuk!” “Nanggung, Dree. Buang-buang duit.” Audrey menarik tangan Kina agar berbalik. Jika semalam Audrey sangat antusias ingin ke Malang, berbeda dengan sekarang. Dia ingin kembali ke Jakarta, ah tidak lebih tepatnya dia ingin ke suatu tempat di mana Dean tak ada. “Dree!! Ayo dong! Kan sebelumnya lo yang semangat ke Malang,” kata Kina membujuk. Menurutnya sayang saja jika sudah sampai Malang tapi ingin kembali pulang. Audrey menghela napas panjang. “Itu semalem, sebelum gue tahu kalau Dean juga di kota ini.” Wajah Audrey yang ogah-ogahan terlihat jelas dari lelaki berkacamata itu. Dean tersenyum tipis, lalu berjalan mendekat. “Wah. Kalian semangat banget ya!” kata Dean yang tentu saja menyindir Audrey. Melihat wajah lelaki menyebalkan di depannya itu Audrey melengos. Dia lebih memilih menatap pengunjung bandara Abdul Rahman Saleh lainnya. Kina dan Dean saling melirik. Kina mengangkat bahu, bingung dengan reaksi Audrey yang bertolak belakang dengan semalam. “Kalian ternyata udah sampai,” lelaki lain ikut bergabung. Remy mengulas senyum melihat Kina yang tampak kaget di depannya itu. Lelaki itu mendekat lalu merangkul Kina. “Ikut gue yuk.” “Eh apaan sih!” ucap Kina sambil mundur beberapa langkah. Sahabat Dean itu tak menyerah begitu saja. Dia mendekat dan menarik koper Kina. “Jangan ganggu mereka. Yuk sama gue aja.” “Apaan sih lo!!” Audrey menyela. Remy menatap gadis berwajah ketus itu dengan satu alis terangkat. “Gue jagain sahabat lo. Yuk!” ajaknya ke Kina. Lelaki itu lalu berjalan lebih dulu sambil menggeret koper milik Kina. Sebagai pemilik, Kina tak serta merta membiarkan kopernya dibawa, apalagi dibawa seorang lelaki. Kina langsung mengikut Remy. “Hei. Balikin koper gue.” Dean memperhatikan gadis berambut pendek yang sekarang didekati Remy itu. “Pas, kan? Remy sama Kina lo sama gue.” Bibir Audrey terbuka hendak protes tapi belum sepatah katapun keluar, dia merasa percuma menjawab ucapan lelaki itu. “Ya udah yuk. Gue anter ke penginapan.” Dean menggapai koper hitam di sampingnya itu. Audrey berusaha menjauhkan barang pribadinya tapi dia kalah cepat. Audrey berdecak, lalu berjalan lebih dulu. Di belakang Audrey, Dean terkekeh geli. Dia tak menyangka jika Audrey akan memilih liburan di Malang. Sejak siang itu—makan siang bersama, esok harinya Dean pergi ke Malang. Papanya memang memiliki anak cabang di Malang dan dia diberi tugas untuk mengevaluasi untuk menjadi bahan rapat akhir bulan nanti. “Eh, Dree!! Salah jalan.” Langkah Audrey seketika terhenti. Sudah kesal, salah jalan pula membuatnya makin kesal. Audrey berbelok ke kiri berjalan saja, padahal tak tahu di mana mobil Dean terparkir. “Udahlah. Jangan cemberut terus. Malang terlalu indah buat dicemberutin,” goda Dean sambil mencolek dagu Audrey. Seketika Audrey menoleh, melotot beberapa detik lalu melanjutkan langkah. “Malang lebih indah daripada lo.” “Iya deh iya. Kali ini gue ngalah. Sekarang ikut gue!” kata Dean sambil menggenggam tangan Audrey ke arah mobilnya yang terparkir. Audrey berjalan bersisian dengan Dean. Sambil berjalan, dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Kina yang meninggalkannya. Jika tahu seperti ini, Audrey akan memilih kota lain untuk menjadi tempat liburan. “Udah nerima, ya?” Dean mulai membuka percakapan. “Apa?” “Perjodohan.” Wajah Audrey seketika memerah. Dia ingat pesan Dean semalam. Dia dikira menyetujui perjodohan karena pergi ke Malang dan merindukan Dean. Audrey yang mengetahui itu tentu kesal bukan main, padahal dia ke Malang untuk liburan. Ah satu lagi, dia baru tahu tadi pagi kalau ini semua rencana mamanya. Sial kan menjadi Audrey? “Diem gue artiin ya,” ucap Dean sambil melirik gadis di sampingnya itu. Saat mendekati mobil dia berjalan lebih dulu, memasukkan koper ke bagasi lalu duduk di balik kemudi. “Ish!!” Rasa kesal Audrey semakin bertambah. Baru beberapa menit di Malang, dia sudah berdebat dengan Dean. Audrey balik badan membuka pintu lalu duduk di bangku belakang. Dean yang masuk mobil lebih dulu seketika menoleh. Dia menatap Audrey tak suka. “Duduk depan! Lo kira gue sopir lo!” Audrey menahan tawa tapi dia berusaha biasa saja di depan Dean, gengsi. “Loh lo bukan sopir, ya? Lo tadi udah nyambut gue, bawain koper gue. Gue kira sekalian sopirin.” “Nggak tahu terima kasih ya lo,” kata Dean kesal. Dia menatap depan dengan kedua tangan berada di kemudi. “Duduk depan, Dree.” “Enggak!!” “Ya udah, tetep di sini sampai lo duduk di depan.” Ancaman itu membuat Audrey menghela napas. Dia memajukan tubuhnya lalu memukul lengan Dean. “Ngalah dong sekali-kali.” “Lo juga harusnya ngalah!” jawab Dean sambil menatap Audrey dari spion tengah. Jika tak ada yang mengalah, mungkin sampai malam kondisinya seperti ini. “Iya deh, gue duduk depan. Asal lo jangan modus,” akhirnya Audrey yang mengalah. Dean menoleh. “Ketahuan banget kalau ngarep gue modusin!” katanya yang diakhiri dengan kedipan. Audrey geleng-geleng. Ini baru beberapa menit di Malang bersama Dean, sudah terjadi perdebatan dan godaan. Audrey berdoa semoga liburannya tak hancur karena ulah lelaki itu. “Nggak usah cemberut. Orang yang nyebelin bisa jadi orang yang lo butuhin. Jangan sebenci itu,” kata Dean menggoda. “Udah deh! Cepet jalan! Jangan banyak omong.” Perintah itu membuat Dean geleng-geleng. Dia lalu melajukan mobilnya meninggalkan area bandara.   ***   Audrey menata baju-bajunya ke dalam almari. Sesampainya di vila, dia langsung mengeluarkan barang-barangnya dan menata di tempat tinggal sementaranya itu. Tubuhnya tak begitu lelah, karenanya dia memilih sibuk daripada berdiam diri apalagi tidur. “Audrey!!” Panggilan itu membuat perhatian Audrey teralih. Dia melihat sahabatnya yang berdiri dengan kresek di tangan. “Lo nggak apa-apa kan, Kin?” Kina berjalan sambil menggeret kopernya lalu menyerahkan kantong kertas ke Audrey. “Enggak. Gue beliin roti boy buat lo.” Audrey mencium aroma roti yang mengugah perutnya itu. Dia menerima bungkusan itu lalu beranjak ke atas ranjang. “Udah lama?” tanya Kina sambil mengistirahatkan tubuhnya. “Lumayan. Padahal lo pergi duluan, kenapa sampai vila terakhir?” Mendapat pertanyaan itu Kina tersenyum tipis. Dia menatap langit-langit kamar sambil membayangkan kejadian tadi. “Gue habis pergi dulu sama Remy. Dia yang maksa.” “Lo PDKT ya sama Remy?” Kina menggeleng tegas. “Nggak. Tapi dia sering deketin gue.” “Lo kok mau-mau aja sih dideketin Remy? Dia kan playboy!!” Kina bangkit duduk. “Tahulah, Dree. Dia deketin terus. Tapi menurut gue dari anggota Dean CS. Cuma Remy yang nggak playboy.” “Ish! Tetep aja. Mereka bisa temenan karena sifatnya sama.” “Nggak selalu, Dree.” Audrey mengangkat bahu tak acuh. Dia berjalan keluar kamar lalu berdiri di balkon. Dia menatap langit Malang yang cerah. Langit berwarna biru, awan putih terlihat sedikit menghiasi serta terlihat burung-burung yang beterbangan ke sana kemari. “Dree.” Panggilan Kina terdengar. Audrey menoleh dan melihat sahabatnya itu berdiri bersandar di kusen pintu. “Ada yang mau lo omongin?” tanyanya saat melihat wajah sendu Kina. “Soal Remy,” jawab Kina sambil mengeratkan cardigan yang masih dia kenakan. Audrey balik badan menyandarkan pinggulnya di pinggiran balkon. Dia menatap wajah Kina, menebak apa yang menjadi kegundahan sahabatnya itu. “Kenapa sama Remy? Dia macem-macem ke lo?” Buru-buru Kina menggeleng. Selama ini Remy tak pernah mengganggunya, terkadang pesan singkat itu mengganggu waktunya saat menulis. Namun, lebih dari itu tak ada yang membuat Kina merasa terganggu. “Dia deketin gue.” Sebenarnya Audrey sudah menebak kelanjutan kalimat Kina. Saat tadi di bandara, dia melihat bagaimana Remy tersenyum penuh arti saat menatap Kina. “Terus lo mau apa?” Telapak tangan Kina terangkat, tanda dia sedang bingung. “Lo tahu kan kebingungan gue selama ini?” Audrey mengangguk, paham dengan kebinungungan Kina. Atau bahkan ketakutan gadis itu. “Terus mau lo gimana? Gue pengen yang terbaik buat lo.” Kina mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Dia belum bisa berpikir dengan jernih. “Kadang gue ngerasa pengen dapet pasangan. Kadang gue takut. Apa ini saatnya gue berubah?” “Bisa jadi. Asal jangan lo paksain, Kin.” Perlahan senyum Kina mengembang. Dia balik badan dan kembali ke ranjang. Dia tak ingin gegabah dengan perasaannya hanya karena Remy gencar mendekatinya. Urusan cinta memang harus dipikirkan matang-matang, karena menyangkut kehidupan masa depan. Selepas kepergian Kina, Audrey balik badan kembali menatap langit. Dia memikirkan sahabatnya yang jarang dekat dengan seorang lelaki. Dia masih beruntung karena pernah mencintai seseorang meski akhirnya dia disakiti. Sedangkan Kina tidak. Audrey memejamkan mata, merasa jika dia dan Kina harus mengubah pola pikirnya selama ini. Bagaimanapun mereka tetap butuh seorang lelaki yang mencintai dan mereka cintai. “Ehm!” Dehaman itu membuat pikiran Audrey terputus. Dia menunduk, melihat ke arah kolam renang. Saat melihat siapa yang duduk berjajar di sana, seketika dia balik badan dan kembali ke kamar. “Kin!! Kenapa bisa Dean CS ada di bawah?” Kina yang sedang menata baju mendongak. Dia ingat percakapannya dengan Remy di mobil tadi. “Lo kong kali kong sama Dean?” tuduh Audrey karena Kina tak kunjung menjawab. “Enggak.” “Terus kenapa Dean CS di bawah?” Kina mengangkat bahu. Dia sama sekali tak tahu jika Dean CS sedang berada di Malang. “Ya gue nggak tahu. Lagi ada kerjaan kali.” Audrey menghempaskan tubuhnya di ranjang lalu memijit pelipisnya. Liburan yang dia bayangkan seketika runtuh karena ada Dean CS. “Dree. Remy tadi ngasih tahu, kalau vila ini punya mamanya Dean.” “What the hell!!” Audrey berteriak seraya kembali duduk dan menatap Kina kaget. “Gue baru tahu tadi.” Audrey tersenyum kecut membayangkan nasib liburannya. “Kacau deh liburan gue.” “Jangan bilang gitu. Nanti kejadian beneran gimana?” Audrey membuang napas. “Terus kita harus satu vila sama mereka?” “Enggak. Mereka di vila sebelah.” “Terus ngapain mereka di bawah?” Lagi-lagi Kina mengangkat bahu. “Ya mana gue tahu. Kan ini vila punya Dean.” “Nasib gue gini banget.” Tubuh Audrey rasanya lemas. Baru beberapa jam di Malang dia mendapat banyak fakta yang selalu menghubungkannya dengan Dean. Audrey memejamkan mata berharap ketika bangun ini semua hanya mimpi. Tring!! Tring! Dering ponsel terdengar mengalun. Audrey membuka mata lantas mengambil ponsel, yang seingatnya dia letakkan di nakas. Dia melihat ada satu pesan masuk. Dean: mau gabung sama kita? Picture received Audrey bergidik melihat Dean berfoto dengan anggota sahabat lelaki itu. Bertelanjang d**a dan duduk di pinggir kolam renang. “LIBURAN GUE BURUK!!!” Teriakan itu membuat Kina berjingkat. Dia beranjak lalu duduk mendekati Audrey. “Mereka gangguin lo?” “Bisa lo tebak sendiri,” jawab Audrey sebal. “Kok cemberut gitu?” Suara dari arah pintu membuat keduanya menoleh. Mereka kaget melihat siapa yang berdiri di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD