Gadis yang biasanya ber-makeup tebal itu berjalan ke sebuah kafe yang masih tutup. Wajah polosnya membuatnya tetap pede meski orang-orang akan tahu kantung mata dan bintik kecokelatan di pipinya. Dia membuka pintu kaca itu dengan kencang, membuat lelaki yang sedang menyeruput kopi di sudut ruangan itu menoleh. “Je. Belum buka,” kata Noel melihat Jeje berjalan ke arahnya. “Dean di sini?” Jeje mengedarkan pandangannya, tak ada orang lain di kafe ini. Arah pandangnya lalu tertuju ke Noel. “Mana?” Noel yang sebelumnya memperhatikan wajah pucat Jeje seketika tersentak. Lelaki itu menggaruk belakang kepalanya lantas menjawab. “Di toilet. Bentar lagi juga ke sini.” “Jadi dia di sini?” tanya Jeje meyakinkan. “Ya.” Setelah mengucapkan itu Noel kembali memperhatikan wajah Jeje. Gadis itu tamp

