“Angkat aja,” Audrey bersuara. Dia mengalihkan tatapannya ke arah lain. Air matanya mendadak ingin turun. Dia merasa jika Dean selalu panik saat menerima telepon dengan emoticon senyum itu. Entahlah Audrey merasa itu pasti Qanesa. “Nggak penting.” Dean menjawab sambil melirik ponselnya yang terus bergetar itu. Dia penasaran mengapa Qanesa menghubunginya. Sejak peristiwa di rumah Qanesa minggu lalu Dean tak pernah berhubungan dengan kakak sepupunya itu. Dia tak tahu kabar Qanesa bagaimana, apa gadis itu sudah sembuh atau belum. Dia juga tak ada niatan datang ke rumah Qanesa. Bukan, dia bukan sombong atau melarikan diri. Namun, dia merasa butuh waktu untuk kembali berdekatan dengan Qanesa lagi, sebagai seorang sepupu. “Kak Qanesa, kan?” tanya Audrey penasaran. Dia membuang napas lalu me

