Jebakan Batman

1104 Words
Sebulan sudah Andjani dan Andiani menjadi pelajar putih abu-abu dengan kebanggaan tersendiri karena mereka diterima di sekolah yang sangat bagus menurut pendapat mereka masing-masing. Sudah jam 11 siang Anjani dan Andiani masih belum berangkat ke sekolah sementara sopir yang akan mengantar mereka sudah siap. "Jeani kamu pulang jam berapa hari ini?" tanya Andiani tersenyum manis membuat Andjani meliriknya curiga. "Kenapa?" "Aku ada janji sama temen ke mall, tapi aku juga sudah buat janji ketemu sama temen aku yang lain untuk bertemu dengan kakaknya. Kamu bisa bantu aku kan?" "Engga. Aku udah capek dengan terus membantu kamu yang suka berbohong dan mempermainkan orang. Kamu sadar ga, sikap seperti itu sudah membuat orang kecewa." "Iya aku tahu tapi aku tidak tega kalau harus membuat teman ku kecewa. Untuk kali ini aja Jean, aku janji ga akan memintamu untuk melakukannya lagi kok. Aku janji." "Engga. Hari ini aku ada pertemuan dengan anak-anak KIR." "KIR? apa itu?" "Karya Ilmiah Remaja." "Tapi kamu pulang jam berapa?" "Aku ga tahu. Kalau kamu ga bisa memenuhi janjimu, jangan pernah berjanji. Aku mau berangkat sekarang! kamu diantar pak Hendra ga? atau naik angkutan umum?" tanya Andjani. "Dianter Pak Hendra, tapi pulangnya aku bareng sama teman," jawab Andiani. "Kenapa?" "Cuma nanya aja. Mama kemana?" "Pergi. Tadi papa telepon katanya mama di minta datang ke kantor papa." "Ke kantor papa, ngapain?" "Ya aku ga tau Jean, mama cuma bilang kalau papa telepon dan minta mama untuk datang ke kantor. Mungkin ada rapat kali." "Kalau gitu aku berangkat duluan. Kalau kamu mau berangkat jangan lupa bilang sama bibik!" kata Andjani mengingatkan. "Iya." jawab Andiani kesal. Andiani sudah merasa kesal sejak semalam ketika ia tahu bahwa temannya mengatakan kalau kakak sepupunya jadi datang ke rumahnya, sedangkan dia tahu kalau kakak sepupu Erna sangat menarik dan selalu membuatnya tidak bisa tidur sejak ia bertemu dengan Wisnu di rumah Erna. Andiani marah dan kesal karena ia sudah terlanjur membuat janji dengan seniornya kalau dia bersedia mengantarnya ke mall walaupun hanya sekedar cuci mata saja, tetapi Andiani tidak mau melepaskan peluang untuk bisa berjalan dengan seniornya. Andiani tidak pernah serius untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, entah mengapa kesempatan untuk belajar lebih baik tidak dimanfaatkan olehnya ketika ia diterima di Sekolah The Sky, karena tidak mudah untuk di terima di sekolah tersebut tetapi rupanya Andiani tujuannya sekolah di tempat tersebut hanya untuk mencari cowok tajir dan terkenal. Bagi Andiani tidak perlu sekolah tinggi karna dia tahu bahwa dia juga akan mewarisi perusahaan orang tuanya. Berbeda dengan Andjani yang akan melakukan apapun agar bisa mendapatkan nilai yang terbaik meskipun ia harus begadang semalaman asalkan isi buku yang dibacanya sudah benar-benar melekat di otaknya. Seperti kemarin-kemarin Andjani pulang sekolah naik angkutan umum berbeda dengan adiknya yang selalu minta di antar dan jemput oleh sopir mereka yaitu Pak Hendra. "Jean, kita mampir sebentar yuk, lagi pengen yang segar nih," kata Mira pada Andjani ketika mobil angkot melewati mall yang biasa mereka kunjungi karena mall tersebut adalah mall terdekat dengan rumah. "Kamu suka banget mampir-mampir ya? padahal sebentar lagi juga kita sampai rumah." "Di rumah lagi kosong Jean. Ibu aku lagi keluar kota. Jadi kami lebih memilih untuk jadi anak kost selama orang tua ku pergi," jawab Mira. "Bilang aja males. Di rumah ada bibik kan tinggal minta." "Ah kamu mah ga asik. Ayo turun! Depan stop ya pak," katanya pada sopir. Walaupun tidak ingin turun, tetapi apa boleh buat Andjani mengikuti Mira karena tangannya di tarik agar dia ikut. "Udah ah lepasin tangannya! Aku ga akan kabur kok," katanya. "Kamu memang teman terbaik Jean. Ayo aku ajak ke gerai minuman yang ada di lantai 2. Kamu tahu gerai itu keren banget dan aku yakin kamu pasti suka," Kata Mira bersemangat hingga Andjani tertawa mendengarnya. "Sejak kapan kamu jadi marketingnya? aku rasa kamu harus dapat bonus Mir." kata Andjani gemas. "Apaan sih Jean. Aku serius. Sejak kemarin gerai itu penuh terus. Semoga hari ini ada tempat kosong." "Kalau engga?" "Kalau engga kita minum di luar," jawab Mira tertawa. Dengan wajah puas karena Mira berhasil membawa Jeani mengikutinya mereka segera menuju lantai dua dan tanpa di ketahui oleh Andjani di sana juga sudah ada Andiani bersama dengan seniornya yaitu Remi. Andiani melihat Andjani berada di tempat yang sama dengannya membuat ia tersenyum gembira dan ia melihat kalau Mira salah satu temannya berada bersama dengan Jeani. Lalu sebuah rencana akhirnya diabuat dan diatur oleh Andiani sehingga Andjani tidak akan mampu menolaknya. "Ka Remi, aku ke toilet sebentar ya? Kaka tidak keberatan bukan." tanya Andiani dengan senyum merayunya. "Tentu aja aku ga keberatan. Jahat banget kalau aku melarang kamu," jawab Remi tersenyum. "Sebentar ya Kak!" Berusaha agar tidak terlihat oleh Andjani, dia berjalan dengan cepat agar tidak terliah oleh Andjani maupun Mira. Di dalam toilet, Andiani menyusun rencana dan ia ingin Remi menemukan Andjani dan menganggapnya sebagai dirinya. Andiani keluar dari toilet dan dia tidak melihat Andjani bersama dengan Mira dan itu adalah suatu keberuntungan baginya. "Mira, minumannya sudah kamu pesan?" tanya Andiani pada Mira. "Udah. Ini minuman kamu. Di dalam memangnya penuh?" tanya Mira yang menugaskan Andjani untuk mencari bangku kosong. "Penuh, makanya aku langsung keluar," jawab Andiani terlihat tidak sabar dan ingin segera pergi. Mira yang tahu kalau temannya sejak awal tidak ingin ikut hanya terseyum atas sikap tidak sabar Andiani yang disangka sebagai Andjani. Sementara itu Remi dan Andjani mulai tidak sabar karena orang yang mereka tunggu belum juga muncul hingga mereka berdua sama-sama merasa kesal dan memutuskan untuk meninggalkan gerai minuman tersebut. Andjani baru bangun dari duduknya ketika tangannya di pegang dari belakang sehingga dia terkejut dan siap memaki orang yang memegang tangannya karena ia yakin bahwa yang memegang tangannya bukanlah Mira. Tetapi rasa marahnya berlahan mengjilang digantikan oleh rasa kesal dan jengkel yang menjadi satu membuat wajahnya terlihat cemberut saat mendengar ucapan pria yang memegang tangannya. "Kamu kenapa ga bilang dari tadi kalau kamu duduk di sini. Aku sudah sejak tadi nunggu kamu, tahu. Kalau aku tahu kamu duduk di sini, tentu saja aku langsung menemani kamu," kata Remi dengan suara terdengar kesal. "Tapi kamu salah, karena aku bukan yang sedang kamu tunggu," itu adalah kalimat yang akan dia ucapkan sebelum pelayan memberikan catatan kecil yang dititipkan Andiani untuk diberikan pada Andjani. "Aku percayakan Remi pada mu. Jangan sekali-kali kamu mengatakan kalau kamu bukan aku. Kalau sampai ketahuan aku akan membencimu!" Catatan yang ditulis Andiani membuat Andjani menggeram kesal karena ia tahu dirinya tidak bisa menolak permintaan adiknya. "Memo dari siapa? Kok kaya ga suka gitu? Boleh aku lihat?" Tanya Remi penasaran. "Oh ga apa-apa kok, tadi aku ketemu sama temen SMP aku jadi dia goda in. Temen cewek kok," sahut Andjani pelan. Dalam hati Andjani membatin. "Ngomong apa aku ini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD