Andien kau buat masalah

1149 Words
Andjani masih sibuk berpikir apa yang akan dia lakukan untuk menghindar dan berbuat kesalahan yang pastinya membuat Andien marah dan mencak-mencak ketika memergoki pandangan Remi yang aneh. “Ngapin, sih, lihatin aku kaya gitu. Risih, tau, gak?” kata Jeani. “Hah?” Eh, kenapa di cowok kaget begitu? Memangnya apa yang salah? “Kok, kamu bicaranya seperti itu? Kamu sakit?” tanya Remi setelah kagetnya hilang. Astaga…Jeani melupakan cara bicara Andien yang super lembut dan manja, cara bicara yang menurut Jeani seperti orang mau ditidurin alias ngajak. “Eh, maaf, aku heran aja lihat kakak mandangi aku seperti itu,” kata Jeani memperbaiki ucapannya. Kalau saja, dia tidak terpaksa ada di sini dan menemani cowok yang gak pernah bisa menjauhkan tangannya dari tubuhnya, Jenai pasti sudah melabrak dan memakinya kasar. Sayang dia tidak tahu seberapa jauh Andien tertarik pada Remi. Sekedar menambah koleksi atau hanya tameng karena dia baru masuk sekolah? "Gak apa-apa. Aku ngerasa ada yg aneh sama kamu aja," jawab Remi bingung. "Aneh apaan, Kak? Sepertinya aku biasa aja, masih belum berubah sejak tadi,” jawab Andjani tertawa. Sambil berjalan, walaupun Jeani sudah berusaha berjalan agak berjauhan untuk menghindari tangan Remi yang selalu berusaha merangkulnya, Jeani mengalihkan pandangannya pada etalase super market. Dan…. Mata Jeani tidak berkedip pada saat dia melihat pantulan dirinya di etalase toko. Bukan bayangan wajahnya yang menjadi buruk rupa atau tiba-tiba ganti orang, melainkan pantulan lengan bajunya yang ada badge lokasi sekolah. Dia baru menyadari apa yang mungkin menurut Remi aneh dan Jeani beruntung dia belum menyadarinya atau belum sempat berpikir karena perhatiannya hanya tertuju bagaimana caranya bisa merangkul tubuhnya lagi. Berulang kali, Jeani melihat Remi yang selalu meliriknya hingga tanpa sadar bibirnya yang penuh berkerut maju ke depan. Jeani tidak tahu kalau gerakan bibirnya membuat Remi tersenyum. Sejak pertama melihat Andien pada masa pengenalan sekolah, Remi sudah tertarik pada adik kelas yang memiliki kecantikan yang menurutnya berbeda. Berhasil mengajak Andien keluar dan berjalan-jalan di mall memiliki kesenangan tersendiri di hati Remi. Dia adalah kakak kelas pertama yang berhasil menarik perhatian adik kelasnya setelah masa pengenalan sementara siswa yang lainnya masih berusaha tebar pesona. "Kak...aku mau beli sesuatu dulu ya," kata Jeani tiba-tiba. "Eh, mau beli apaan? Bukannya kita mau nonton?” tanya Remi. “Nonton? Kenapa Andien gak bilang kalau mereka mau nonton? Sorry, Ndien, kalau soal beginian kamu salah orang,” ucap Jeani dalam hati. “Sebentar aku ke dalam dulu, Kak. Biasa urusan perempuan. Kakak tunggu di sini aja, aku gak lama kok,” kata Jeani bergegas memasuki supermarket yang serba ada termasuk menjual pakaian. Mengambil kemeja kaos yang bisa dia pakai dengan cepat, Andjani melepaskan barkot kemeja yang dia pakai setelah berada di depan  kasir. "Andien, kenapa beli kemeja di sini, di depan, kan, ada butik yang jual pakaian yang lebih bagus," tanya Remi heran. "Tadi, kan, aku bilang urusan perempuan," jawab Andjani mengeluarkan dompet untuk membayar kemeja yang dia beli. “Gak usah, biar aku aja yang bayar,” cegah Remi tetapi dia terlambat karena kasih sudah menerima uang dari Jeani. Tidak mungkin Jeani mengatakan kalau dia sengaja membeli kemeja tersebut agar Remi tidak melihat lokasi sekolah yang menempel di lengan bajunya. Bagi Andjani yang terpenting adalah dia sudah berhasil menutup lokasi sekolahnya. Wajahnya dan wajah Andien mirip begitu juga dengan pakaian yang dia pakai karena mereka masih memakai seragam SMA. Yang membedakan hanya badge lokasi sekolah mereka. Dan dia beruntung Remi tidak mempermasalahkan keanehan yang dia rasakan hingga Jeani bisa menutupi pakaiannya dengan kemeja yang baru dia beli. “Gimana kalau kita makan dulu?” kata Remi yang kembali berusaha menggandeng tangan Jeani. “Dimana?” “Terserah kamu saja. Aku akan ikuti kemauanmu,” kata Remi seolah keinginan Jeani adalah kebahagiaan yang paling besar. Kembali dengan bibir yang monyong digerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan, Jeani seolah berpikir tempat makan yang membuat Remi tidak akan pernah lupa. Masuk restoran mahal dan berkelas? Tidak mungkin karena mall yang mereka datangi adalah mall yang umum dan tidak ada restoran mahal karena pemiliknya pasti tidak mau rugi. Tempat yang menurut Jeani cukup berkelas adalah restoran cepat saji yang menyediakan makanan dan masakah Jepang. Jadi, Jeani membawa Remi ke restoran tersebut. Ternyata susah juga menjadi orang lain pada saat keinginan menjadi diri sendiri begitu besar. Jeani yang biasanya melakukan sesuatu yang dia inginkan semaunya dan secara tiba-tiba dia harus menahan diri dan semuanya dia lakukan mengikuti sifat Andien. Sepertinya Jeani harus mengatakan pada Andien bahwa adiknya sudah melakukan kebohongan karena semua sifat dan sikap yang dimiliki Andien terlihat terlalu sempurna.Jeani tidak yakin adiknya itu mampu melakukan tindakan yang nyaris sempurna seperti gadis yang sudah sekian tahun mendapatkan pendidikan pengembangan diri. "Kita pulang, ya!" “Hah? Kau mau pulang sekarang?” tanya Remi. Mereka baru selesai makan dan dia sudah merencanakan membawa Andien ke bioskop. Dia tahu para siswi di kelasnya sudah sangat berisik kalau di bioskop sedang berlangsung film yang sangat bagus. “Iya. Aku sudah keluar sejak pagi jadi aku mau istirahat,” jawab Jeani bersungguh-sungguh. “Yaaah, padahal aku mau ngajak kamu nonton dulu. Kau tahu mendapatkan tiket-nya perlu perjuanngan, loh,”  kata Remi merajuk. ‘Lah salah elu sendiri, emangnya gue minta, lagian gue kan bukannya Andien’. “Maaf, ya, Kak. Sebenarnya pergi bersama kakak sekarang aku harus bohongi mama aku. Mama gak pernah ngasih ijin pulang sekolah langsung pergi ke tempat lain,” kata Jeani menunduk. “Oh, maaf, ya Ndien, Seharusnya aku ngomong dulu sama kamu. Kira-kira karcis bioskop ini di kasih ke siapa ya,” tanya Remi seolah tidak rela kalau Andien pulang. “Andien yakin kakak punya banyak teman. Kakak pasti bisa minta teman kakak datang ke sini,” jawab Jeani lagi. “Ya udah, kalau gitu aku antar kamu, ya!” “Gak usah, Kak. Aku naik taxi aja. Sebaiknya kakak telepon temen kakak biar dia cepat datang ke sini. Sayang, kan, karcis bioskopnya,” kata Jeani lagi. "Terima kasih untuk semua traktirannya, ya, kak," kata Jeani saat dia berpamitan. Bukan Jeani namanya kalau dia tidak bisa bermain peran walaupun semuanya dia lakukan dengan terpaksa dia juga tidak bisa membiarkan Andien mengalami kesulitan. Seolah berharap Andien berubah bisa dia lakukan seperti membalik telapak tangan. “Andien, malam Minggu aku boleh datang ke rumah kamu?” tanya Remi sebelum Jeani memesan taxi online. “Malam minggu? Sepertinya masih lama, ya, Kak. Ini baru hari Selasa. Aku takut pas hari itu ada acara keluarga,” kata Jeani. “Jadi, kamu belum bisa ijinin aku bisa ke rumah kamu atau engga?” tanya Remi sekali lagi berusaha memastikan. “He eh.” Sekali lagi Jeani harus bisa berakting seperti Andien yang suka mengulur waktu. Kalau saja Jeani bisa menjawab sesuai dengan keinginannya, dia pasti langsung bilang kalau malam Minggu ini dia ada janji dengan temannya. Sayang, Jeani bukan Andien yang selalu berkata lain dengan yang dia rasakan. Saat ini Jeani hanya berusaha agar Andien tidak mengalami kesulitan bila nanti dia bertemu dengan Remi kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD