Perasaan Terbuang

1749 Words
VIO hanya diam sepanjang perjalanannya menuju rumah mama Andra. Bukan hanya Vio, Andra juga hanya diam seribu bahasa. Sesampai dirumah Andra, Vio menatap Andra meminta penjelasan. "Makan siang dirumah dulu ya, habis itu aku antar ke kampus lagi." Pinta Andra tanpa menoleh pada Vio. "Anggap aja usah saatnya harus berhadapan sama Tante Aliya lagi Vi." Batin Vio dalam hati. Andra sudah membuka seatbelt nya dan membuka pintu mobilnya. Tetapi Vio menahannya. "Tante Aliya marah gak sama aku?" Tanya Vio takut. Andra menaikkan alisnya sebelah. "Kenapa mama marah?" Bingung Andra. "Karna pergi gak pamit, udah gitu perginya lama." Jujur Vio dengan wajah takut. Andra tersenyum tipis, otaknya memikirkan banyak pertanyaan untuk dirinya. Salah satunya bagaimana bisa dia menyakiti hati wanita selembut Vio. "Gak marah, mama cuman sedih aja gak punya teman main kayak kamu." Ujar Andra jujur. "Nanti aku gak dimarahin kan?" Tanya Vio lagi. Andra turun dari mobilnya dan menutup pintu kemudi, kemudian mengitari mobilnya untuk membuka pintu Vio. "Ayok turun, nanti kamu telat kekampus nya." "Tapi An." Andra membuka seatbelt Vio kemudian menarik lembut tangan Vio dan menuntunnya masuk kedalam rumahnya. Berbeda dengan biasanya kali ini Vio harus dituntun terlebih dahulu, kali ini Vio benar-benar bertingkah layaknya tamu. "Ma, mama." Teriak Andra. "Mama, keluar dulu sini. Liat siapa yang datang." Teriak Andra lagi. Dengan segenap rasa malas melihat putra bungsu nya itu, Tante Aliya keluar dari dapur. "Kena- Vio!" Panggil Tante Aliya. Vio menatap Tante Aliya dengan perasaan takut. "Hai Tan-" Belum sempat Vio menyelesaikan kalimatnya, Tante Aliya langsung memeluk tubuh mungil Vio, dan langsung menangisi Vio. Vio hanya diam dan membalas pelukan Tante Aliya sambil mengusap punggung Tante Aliya menenangkan. Bagaimana pun Tante Aliya sudah layaknya orang tuanya disini. "Kamu dari mana aja sayang? Kenapa gak pernah ngasih kabar ke Tante?" Tangis Tante Aliya. "Maaf Tante." Ucap Vio pelan dengan perasaan bersalah didalamnya. "Enggak enggak, bukan salah kamu. Semua salah Andra. Kamu gak perlu minta maaf sama Tante, kamu gak salah." Balas Tante Aliya cepat. "Ma." Tegur Andra sambil menatap tajam mamanya. Tante Aliya tidak memperdulikan Andra, baginya Vio lebih penting dari apapun saat ini. Setelah saling melepaskan rindu dihati masing-masing. Vio pamit untuk mengajar lagi pada Tante Aliya. "Kamu gak mau pergi jauh lagi kan Vio?" Tanya Tante Aliya memastikan untuk kesekian kalinya. "Enggak Tante." "Iya enggak, enggak sekarang. Tapi mungkin nanti kalau udah saatnya." Batin Vio. "Yaudah, nanti makan malam disini ya. Tante mau ajak yang lain juga. Kita makan bareng-bareng." Ucapan Tante Aliya membuat wajah Vio mengetat seketika. Ajak yang lain itu berarti ada papa, Abang, kakak dan keponakan Andra dan juga mungkin ada Kiara selaku istri Andra disana nanti. Masih dengan standar kesopanan terhadap orang tua yang tinggi. Vio menjawab, "Iya Tante." Setelah berdrama ria, akhirnya kini Andra dan Vio sudah berada dimobil Andra menuju kampus Vio. Setelah diterpa keheningan beberapa saat. Akhirnya Vio memulai obrolan. "An." "Iya Vi." "Hmm, gak jadi." Ucap Vio cepat. Andra mengangkat bahunya singkat. "Hmm an." Panggil Vio dengan nada takut. "Apa Vio?" Vio menoleh pada Andra, begitu pun dengan Andra menoleh pada Vio. Vio menarik nafas panjang. "Gak jadi, sorry." "Apa Vi? Ada yang mau ditanya? Atau ada yang mau diminta? Bilang aja." Geram Andra. "Gak jadi kok. Kali ini beneran." Ucap Vio santai. Benar saja, sampai dikampusnya Vio sama sekali tidak memanggil nya lagi. Membuat Andra penasaran, apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Vio. Bukan Andra namanya kalau dia mengalah pada Vio. Andra menahan tangan Vio ketika Vio hendak turun. "Kenapa?" Tanya Vio sambil mengangkat tangannya. "Apa?" "Hmm? Apanya yang apa An?" Tanya Vio balik. "Kamu mau bilang apa tadi? Apa yang mau kamu omongin atau apa yang mau kamu tanya atau apa yang kamu mau?" Vio tersenyum pada Andra sambil melepaskan tangan Andra dari tangannya. "Gak ada an, gak jadi. Beneran deh. Lagian gak penting juga." Ucap Vio lembut. "Bilang Vi, tanya atau minta apapun sama aku. Asal itu bukan permintaan untuk aku pergi menjauh dari kamu akan aku turutin semuanya Vi." Ucap Andra frustasi. Vio tersenyum singkat sambil menatap Andra. "Gak ada Andra, percaya deh sama aku. Aku turun ya, udah mau jam buat ngelab." Jawab Vio. "Vi." Panggil Andra frustasi. Vio menghadap ke Andra, lalu menatap lembut pria yang sudah dicintainya selama hampir 7 tahun itu. "Gak ada beneran an." Ujar Vio lembut. "Bukan, bukan itu." "Hmm?" Bingung Vio sambil menyatukan alisnya. "Jangan pergi, aku mohon jangan pergi menjauh dari aku dan jangan minta aku untuk menjauh dari kamu." Mohon Andra dengan nada yang benar-benar frustasi. ••••• Ini Vio sudah berada di laboratorium bahkan setengah jam sebelum jam seharusnya masuk lab. Menurut Vio ada baik nya jika dia tidak kekantor dan berhadapan dengan Disya. Karna Vio takut akan menangis saat di interogasi. Tetapi semakin dihindari, Disya malah datang ke laboratorium untuk bertemu Vio. Tepatnya datang untuk mengintrogasi kenapa Vio izin tiba-tiba pagi ini. Ya begitu lah hidup. Hal yang paling kita hindari adalah hal yang datang pada kita. Jangan hindari sesuatu, karna dia akan terus datang padamu. "Vio, mau sampai kapan Lo bungkam hmm?" Tanya Disya sambil menatap Vio untuk yang kelima kalinya. "Disya, gua berhenti kerja aja apa ya? Terus gua berkelana kemana-mana biar gua gak ketemu sama Andra lagi." Ungkap Vio sedih. "Lo ketemu Andra? Dimana? Duh Vio kok bisa sih? Vio gimana nih? Gua jadi takut." Cemas Disya. "Tadi pagi, dia nyulik gua pergi ke mall. Makanya gua gak masuk, gua udah diparkiran padahal tadi." "Terus terus." "Dia bawa gua ke mall buat beliin kado untuk anak kak Nia, setelahnya dia bawa gua kerumah mamanya." "Terus?" "Mamanya ngajak gua makan malam nanti, dan dia bilang mau ngajak yang lain juga. Itu artinya semua keluarganya termasuk Kiara, istri nya Andra." Terang Vio sambil menahan air matanya. "Jangan nangis Vi! Udah cukup Lo nangis karna Andra Vio!" Kesal Disya. "Bukan itu, gua bukan nangis karna dia. Gua lagi mau nangisin kebodohan gua." Isak Vio lucu. Disya menghela nafas panjang. "Apa ini masih karna standar kesopanan Lo yang tinggi itu? Karna Lo gak bisa nolak permintaan mama Andra. Dan ngebuat Lo akan berhadapan dengan istri Andra beberapa jam lagi?" Tebak Disya Vio hanya mampu mengangguk pelan, semua tebakan Disya benar, bukan hanya benar tetapi sangat benar. "Salah Lo sendiri punya standar kesopanan tinggi! Lo makan tu akibatnya! Lagian gua heran Lo sama dia udah jadi mantan, kenapa harus berteman baik?" Vio berdehem sambil menghapus air matanya, seraya berkata. "Pintu disebelah situ, jadi silahkan keluar ibu Disya. Anak-anak gua udah mau masuk bentar lagi." Usir Vio sambil menunjuk pintu keluar. "Gak usah ngelak Vio!" "Enggak kok, Lo masih jadi orang yang gua cari kalau gua sedih. Lo masih tempat gua cerita." Ujar Vio sambil menatap jauh ke mejanya. Disya menghela nafas panjang. "Lo masih hutang cerita Vio!" Kesal Disya. "Hmm yayaya." Ujar Vio acuh sambil mencari sesuatu dari dalam tasnya. "Disya!!!!" Panggil Vio membuat Disya yang berdiri diujung pintu berhenti saat itu juga. "Astaga Vio gua kaget tau gak Lo!" "Kunci mobil gua gak ada!" Panik Vio. "Haa? Kunci mobil? Lo letak dimana?" Ujar Disya ikut panik. Disaat kedua wanita aneh itu sedang panik, seorang mahasiswa mengetuk pintu lab dimana keduanya berada. "Bu vio." Vio langsung menoleh pada sumber suara. "Ya, ada apa?" Tanya Vio dengan wibawanya. Mahasiswa itu masuk kemudian memberikan kertas pada Vio, membuat Vio dan Disya mengernyitkan dahinya. "Tadi ada laki-laki yang minta tolong untuk memberikan kertas ini pada ibu." Setelah mengambil kertas dan mengucapkan terima kasih, mahasiswa itu keluar. Tinggal lah Disya dan Vio yang saling bertukar pandang. "Buka Vi, gua penasaran." Pinta Disya. "Gua enggak." "Elah Vi, buka aja." "Kunci mobil gua lebih penting Disya!" Kesal Vio. Disya menarik kertas itu dari tangan Vio, membuka dan menbaca isi kertas tersebut. "APA itu siapa Vi?" Tanya Disya membuat Vio bingung. "Maksud Lo apa, nanya apa itu siapa dis, gua jadi bingung!" Balas Vio. "Ini dikertas ini, tertanda koma APA titik. Tapi apa nya itu kapitas semua Vi." Vio menarik kertas yang dipegang oleh Disya, kemudian membaca isinya. °°° Gak usah dicari kuncinya, kunci mobil kamu sama aku. Jangan tanya kenapa, karna biar kamu gak kabur buat makan malam nanti malam. Tertanda, APA. °°° Vio menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan. Ingin rasanya dia berteriak, tapi untungnya Vio masih mengingat bahwa dia sedang berada dikampus, dia tidak mau merusak imej nya. Dengan menahan kesal, Vio meremuk kertas tersebut sambil bergumam, "Awas aja kamu Andra." Ya APA itu adalah Andra, lebih tepatnya Andra Putra Aydin, nama lengkap Andra. ••••• Sorenya, setelah selesai ngelab. Vio masuk ketahap kebingungan yang hakiki, dia sudah tidak tau harus bagaimana kali ini. Dia tidak punya kunci mobil untuk pergi kerumah Tante Aliya atau untuk kabur. Dan dia tidak punya nomor Andra untuk memaki laki-laki yang mencuri kunci mobilnya itu atau untuk menjemputnya. Dengan kesal Vio pergi ke depan kampusnya. Otaknya berfikiran untuk memesan ojol saat ini, namun baru saja hendak memesan. Bunyi klakson menghentikannya, itu adalah bunyi klakson mobil nya.  Dia sangat hapal itu. "Matanya biasa aja Vi, masuk buruan." Perintah Andra padanya dari dalam mobil. Vio bergeming ditempatnya sambil menatap tajam Andra. "Gak mau Vi?" Tanya Andra sekali lagi. Dengan kesal Vio mengitari mobilnya dan masuk dikursi samping kemudi. Lalu menatap tajam pada Andra. "Harus sampai nahan mobil aku an? Aku gak bakal kabur Andra. Aku masih punya tanggung jawab beberapa bulan sampai semester ini habis!" Kesal Vio sambil melipat tangannya. Andra menjalankan mobil jazz merah Vio keluar dar pekarangan kampus. "Semester ini? Semester depan? Jangan bilang kamu mau berhenti kerja kayak yang kamu bilang tadi siang sama teman kamu?" Tanya Andra tenang. "Bodoh Lo Vi bodoh." Hardik vio pada dirinya didalam hati. "Vi, jawab." Tuntut Andra. "Kerja, masih kerja. Tapi mungkin gak disini lagi." Ucap Vio dengan suara yang semakin lama semakin mengecil. Tubuh Andra menegang seketika, raut wajah Andra menunjukkan ketidaksukaan nya pada ucapan Vio barusan. Demi tuhan, dia membenci situasi mereka saat ini. "Aku bukan kembali untuk menetap disini seperti dulu. Udah gak ada tempat untuk aku disini. Aku kembali untuk mengucapkan selamat tinggal sebelum aku benar-benar pergi." Pelan tapi pasti yang ditangkap dari nada bicara Vio. "Siapa yang bilang kamu gak ada tempat disini Vi?" Tanya Andra kesal. "Gak ada, gak ada seorang pun an, tapi situasi dan keadaan yang menunjukkan itu semua." Ucap Vio lembut. "Vi." Panggil Andra. "Aku akan pergi sebelum perasaan itu semakin besar, perasaan tidak diterima dan terbuang." Ucap Vio dengan nada bergetar. Andra menoleh pada Vio, jelas sekali bahwa Vio sedang menahan air matanya. "Stop sampai disini. Jangan nangis! Aku gak suka!" Ucap Andra dengan amarah tertahan. Dia benci situasi ini, Andra benci melihat Vio menangis. Sangat benci, rasanya segenap perasaan nya ikut hancur bersama dengan perasaan Vio.   “Minta aku apapun selain itu bukan meminta ku pergi untuk menjauh maka akan ku berikan padamu.” •••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD