The Truth

1933 Words
SETIBA dirumahnya, Andra langsung naik keatas tanpa menghiraukan omelan mamanya, panggilan kakaknya bahkan keberadaan Vio. Setelah memutuskan untuk menghiraukan tingkah aneh Andra. Abang, kakak dan keponakan Andra saling melepas kerinduannya pada Vio. Melihat Bagas dan Aldo membuat Vio kembali tersenyum dan melupakan ekspresi marah Andra beberapa saat lalu. "Anty Vio." Panggil Bagas yang berada di pangkuannya. "Iya sayang." "Anty dari mana aja? Kenapa gak pernah main kerumah nenek lagi, Bagas sering kesini tapi Bagas gak pernah ketemu anty." Protes Bagas. "Iya anty, padahal kan Aldo mau pamer punya dedek baru sama anty." Aldo pun ikut protes sekarang. "Itu karna anty harus kerja panjang biar bisa beliin mainan buat Bagas sama Aldo, sama dedek Dena juga." Ujar ku memberi pengertian. "Sama dedek Faris juga anty." Ujar Aldo lagi. "Hmm? Dedek Faris?" Tanya ku bingung. "Itu dedeknya om-" "Aldo panggil kakek sayang." Perintah Tante Aliya memotong ucapan Aldo. "Iya nenek." Ucap Aldo sembari pergi kekamar kakeknya seakan lupa dengan apa yang ingin dikatakannya. Vio terdiam sejenak. Otaknya kembali berfikir keras, berusaha tidak mengasumsikan hal yang tidak-tidak. Kemudian Vio tersenyum seraya bilang tidak apa-apa saat ditanya kenapa oleh kak Nia yang berada disebelah Vio. Faris, itu nama anak Andra dan Kiara. Begitulah asumsi Vio kali ini. Itu artinya anak mereka laki-laki. Vio merasa senang dan sedih seketika. Vio senang bahwa keinginan Andra memiliki anak laki-laki sudah terwujud, dan Vio sedih karena bukan dialah yang mewujudkan keinginan Andra tersebut. "Ma, Andra keluar." Ucap Andra begitu turun dari atas dan langsung nyelonong pergi keluar. "Satu jam lagi harus dirumah! Mama mau kita makan malam lengkap!" Teriak Tante Aliya pada Andra. "Kenapa tu anak?" Tanya Marko pada El. "Mukanya kusut itu artinya?" Tanya El asal. "Urusan Kiara." Ucap Marko dan El bersamaan. Vio hanya diam melihat punggung Andra yang semakin menjauh. Tak lama Andra kembali kedalam rumah dan menghampiri Vio. Belum sampai Vio, langkah Andra terhenti karna mendengar ucapan Vio. "Tante, Kiara mana? Vio pengen liat anaknya." Ucap Vio berusaha tegar. Bukan hanya Andra, semua orang terdiam mendengar pertanyaan dengan nada rapuh yang berusaha tegar dari mulut Vio. Bukan hanya Andra, seluruh keluarga Andra tau bagaimana perasaan Vio saat ini. Mata Tante Aliya berkaca-kaca saat menatap Vio. Ada perasaan bersalah didalam Tante Aliya. Tante Aliya berdiri. "Kak, bantu mama nyiapin makanan yok." Ajak Tante Aliya pada kedua menantunya. "Jangan dipaksa dek, semakin dipaksa semakin sakit. Ingat ya, batas hari buat kamu nangisin Andra udah habis." Ucap Marko tegas. Andra tidak tahan lagi, Andra jalan menghampiri Vio dan menarik Vio untuk mengikutinya. Namun Vio menahan tangannya dan memandang takut pada Andra yang terlihat sangat marah saat ini. "Ikut bentar bisa Vi!" Perintah Andra dengan nada marah. "Eeits, apa-apaan Lo Ndra narik-narik Vio gitu!" Kesal Marko. " Lo diam bang! Ini bukan urusan Lo!" "Mau ngapain narik Vio, Ndra?" Tanya El tenang. Andra menoleh pada El, abangnya. "Bisa gak jangan ikut campur urusan gua kali ini bang?" Tanyanya melembut. Andra sama sekali tidak takut pada Marko meskipun Marko terbilang ringan tangan jika itu untuk menghadapi segala kelakuan Andra. Berbanding terbalik, Andra sangat takut jika El sudah bicara. Abang pertamanya itu memiliki pembawaan nya lebih tenang. Seperti kata pepatah, yang air yang tenang jauh lebih berbahaya dari pada air yang beriak. "Urusan apa diantara kalian yang belum selesai, ndra? Bukannya semua urusan kalian udah selesai 5 tahun yang lalu?" Tanya El mematahkan semua alasan yang belum sempat dilontarkannya. "Kalau kamu bisa jawab, Abang kasih kamu bawa Vio dari sini." Tantang El pada Andra. Andra terdiam sesaat. "5 menit Andra. Cuman 5 menit waktu yang kamu punya untuk mikir alasannya." Andra menoleh pada Vio yang menangis karna takut pada Andra. Andra melepaskan tangannya dari tangan Vio. "Lagi, mata kamu lagi-lagi memancarkan kesedihan kalau itu ada aku Vio." Batin Andra pelan. Andra menurunkan amarahnya melihat wajah takut Vio padanya. Kemudian berlutut didepan Vio, Vio dan kedua abangnya hanya diam. Begitu juga mama dan kedua kakak ipar Andra yang menyadari ada yang tidak beres saat Marko bicara pada Andra. Tangan Andra memegang lembut tangan Vio. "Udah aku bilang kan Vi. jangan nangis. Jangan pernah nangis didepan aku." Ujar Andra lembut sambil menghapus air mata Vio. Vio masih menangis, hati dan pikiran nya kembali tidak sinkron. Otaknya masih ingin menahan agar tidak menangis lagi, tapi hatinya tidak. Hatinya tidak kuat menahan lebih jauh lagi. "Kamu lihat sendiri kan, kamu punya tempat disini. Bahkan kamu jauh lebih punya tempat dirumah ini dibandingkan aku. Mama, Abang, kakak bahkan keponakan aku lebih berpihak sama kamu dibandingkan aku." Kedua abang Andra saling bertatapan, saling bertanya apa maksud obrolan dua manusia yang selalu menangis setiap bertemu itu. "Aku cuman minta kamu untuk tinggal disini Vi, aku gak minta kamu buat kembali ke sisi aku. Aku cuman butuh ngeliat kamu, ngeliat kamu senyum aja. Aku cuman butuh itu Vi buat merasa hidup." "Aku gak bisa an, aku gak bisa." Tolak Vio sambil menangis. "Vi." "Aku gak bisa, aku bukan takut menetap disini karna kamu dan perasaan kamu. Aku gak perduli itu. Tapi aku takut sama hati aku an. Aku takut hati aku gak sanggup nahan ini lebih lama." "Vio." Mohon Andra. "Dari awal tempat aku bukan disini, aku datang kesini karna aku pikir aku bisa menangin hati kamu. Tapi ternyata semua usaha aku sia-sia. Dari awal sejak tujuh tahun lalu, aku gak pernah menangin hati kamu barang sedetik pun." "Kata siapa Vi?" Sela Andra pada omongan Vio. Vio tidak memperdulikan hal tersebut dan memilih melanjutkan curahan hatinya. "Tujuh tahun an, tujuh tahun aku selalu berbesar hati nerima semua rasa sakit yang terus kamu kasih ke aku. Dan jujur sekarang aku udah gak sanggup, aku udah gak sanggup lagi nahan semuanya. Apalagi kalau harus berlanjut terus kedepannya." Andra memeluk Vio sambil mengelus lembut punggung Vio untuk menenangkannya. "Aku bukan malaikat yang berhati besar, aku cuman manusia. Aku cuman manusia biasa an, aku gak bisa selamanya bersikap seolah aku baik-baik aja. Aku gak sanggup, hatiku gak sekuat itu." "Kalau gitu berhenti bersikap kuat. Berhenti bersikap baik-baik aja. Kamu udah bisa berhenti sekarang." Vio mendorong Andra yang memeluknya kemudian menatap Andra dengan pandangan kabur yang tertutup oleh air matanya. Andra menghapus air mata Vio seraya berkata, "Kamu udah bisa berhenti Vi. Jangan paksa hati kamu lebih jauh lagi." Bukannya semakin tenang, vio malah semakin menangis, air matanya semakin deras. Otak vio mengartikan ucapan Andra barusan sebagai artian bahwa Andra telah mengusirnya pergi dari hidupnya. Andra minta dia benar-benar berhenti untuk menangisi nya dan pergi dari hidupnya. "Kenapa makin nangis, hmm?" Tanya Andra lembut sambil mengusap air mata Vio. "Kamu izinin aku pergi?" Tanya Vio diikuti dengan isakannya. "Enggak. Aku cuman nyuruh kamu berhenti pura-pura kalau kamu baik-baik aja. Bukan mengiyakan kamu pergi." Ujar Andra sambil menyelipkan anak rambut Vio kebelakang telinga nya. Vio masih berusaha menelaah ucapan Andra. Menelaah apa maksud Andra sebenarnya. "Nikah sama aku Vi, mau ya?" Tanya Andra sambil menatap mata Vio yang masih dipenuhi air mata. Vio membelalakkan matanya menatap Andra. Bukan hanya Vio, kedua abangnya yang menjadi penonton langsung drama keduanya pun terkejut. "Please berhenti seakan-akan kamu kuat menghadapi semuanya sendirian. Berhenti kabur untuk berusaha menenangkan diri. Dan berhenti mengelak dari permintaan aku." Sambung Andra lagi. "Vi, sampai sekarang aku masih berdiri ditempat aku berdiri 10 bulan lalu Vi." Ucap Andra lagi. Vio menghela nafas berat mendengar ucapan Andra. Bukankah itu maksud nya Andra masih berada di pihak Kiara bahkan sejak 9 bulan yang lalu? "Aku masih berdiri disisi kamu dari 9 bulan lalu, enggak enggak bukan dari 9 bulan lalu. Tapi sejak 7 tahun yang lalu." Ungkap Andra santai. "Sejak 7 tahun lalu sampai detik ini masih kamu orang yang pengen aku nikahin Vi. Dan sejak 7 tahun lalu sampai detik ini aku belum menikahi siapapun dan tidak akan menikahi siapapun kecuali kamu." Deg! Mata Vio membulat sempurna. Apa maksud perkataan Andra barusan. Apa Andra sungguh tidak jadi menikah dengan Kiara? Atau Vio sedang tidur dan  bermimpi bahwa Andra membatalkan pernikahannya dengan Kiara? Ingin rasanya Vio mencubit pipinya untuk memastikan dia sedang bermimpi atau tidak, tapi sayangnya tangannya dikunci didalam genggaman Andra. Melihat tidak ada respon apapun dari Vio setelah pengakuan besarnya, Andra mencubit pipi Vio gemas. Dan benar saja, Vio langsung merespon dengan berdesis sakit. "Sakit Andra!" Protes Vio. "Jawab makanya, jangan ngelamun." Bela Andra. Vio menoleh pada El dan Marko yang masih duduk setia menonton dramanya dengan Andra. Menatap keduanya seperti meminta pembenaran atas ucapan Andra barusan. "Kenapa lihat-lihat kesini dek?" Tanya Marko jual mahal. "Kak El." Panggil Vio berharap, tapi El hanya menggedikkan bahunya. Andra mengarahkan kepala Vio untuk melihatnya. "Lihat yang disini aja, yang disana udah pada punya istri. Istrinya galak lagi." Seru Andra dengan nada perintah. "Kamu juga udah punya." Tuduh Vio. "Aku? Siapa? Kamu? Udah pengen banget apa makanya ngaku-ngaku, padalah belum dinikahi?" Tuduh Andra balik. "Bukan aku tapi Kiara!" Kesal Vio. Andra tersenyum tipis mendengar penuturan Vio. "Dengar baik-baik Vi, aku gak mau ngulangin hal ini berkali-kali." "Haaa?" "Haa, haaa, haaa. Gua cium juga Lo lama-lama." "Kok Lo Gua?!" Kesal Vio pada Andra. Andra tersenyum lagi melihat Vio. Sejak tujuh tahun lalu, dari sebelum mereka berpacaran, saat mereka berpacaran bahkan setelah mereka putus, mereka tetap konsisten memanggil "aku-kamu" satu sama lain. Gak pernah berubah menjadi "Aku-Kau", "Lo-Gua" atau lebih kasar lagi. "Aku gak pernah nikah sama Kiara, Vi. Seperti yang aku sebutkan 9 bulan lalu. Aku mau bertanggung jawab atas perbuatan aku, aku mau bertanggung jawab atas anak itu. Aku mau jadi ayah dari anak itu tapi tidak menjadi suami bagi Kiara." Vio menatap Andra dalam mencari kebohongan dimatanya. Tapi hasilnya nihil, Andra jujur saat ini. Andra jujur atas ucapannya. "Kenapa aku gak boleh ikut kerumah Kiara waktu itu? Kalau emang kamu gak jadi nikahin Kiara?" "Satu, aku gak mau kamu menghalangi keputusan aku dengan meminta aku menikahi Kiara. Kamu tau, dibalik bebalnya aku. Aku selalu nurut apapun kata kamu." Ya memang, Andra memang selalu tidak mau mengalah saat bicara atau berdebat dengan Vio, tapi disaat Vio meminta Andra akan mengalah. Andra akan diam dan tidak berkutik lagi. Andra memang bebal tapi tidak didepan Vio dan tidak bagi Vio. "Dua, aku gak bisa fokus kalau lihat kamu nangis. Aku benci saat ngeliat kamu nangis. Itu alasan kenapa aku minta kamu tinggal, karna aku sama sekali gak mau lihat kamu nangis dijalan atau disana." "Kamu selalu bilang gak suka lihat aku nangis, tapi kenapa kamu selalu jadi alasan aku nangis. Kenapa kamu selalu buat aku nangis!" Rengek Vio lucu. Hampir saja Andra dan kedua abangnya tertawa melihat tingkat Vio. Bagi Andra, rengekan Vio sangat menggemaskan sedangkan bagi kedua abangnya rengekan Vio terlihat lucu, minta untuk ditertawakan. "Itu bukan salah aku, kamu aja yang cengeng terus kamu nya aja yang terlalu cinta sama aku makanya kamu dikit-dikit nangis karna aku." Ucap Andra dengan PD nya. "Kamu juga pernah nangis waktu itu, berar-" "Iya aku cinta sama kamu." "Aku bukan mau bilang itu, aku mau bilang kamu cengeng." Elak Vio. Kali ini kedua Abang Andra tertawa, setelah drama sedih. Andra dan Vio mempertontonkan sitkom untuk kedua abang Andra. "Terus apa lagi alasannya?" Tanya Vio sambil menghapus jejak air mata di pipinya.  "Tiga, aku gak tau kalau kamu udah nyiapin untuk pergi dari sisi aku. Kalau aku tau rencana kamu untuk pergi aku akan ikat kamu. Aku gak akan biarin kamu jauh dari aku selangkah pun." Vio menatap Andra lembut dan dalam. Begitupun dengan Andra, tatapan mata nya tidak lepas dari mata vio. Keduanya seakan sedang saling menyelami jiwa mereka satu sama lain melalui mata mereka. Tatapan mereka terputus saat seseorang memanggil nama Andra. "Kak andra." Andra dan Vio menoleh pada sumber suara. Seorang wanita muda sedang berdiri diujung ruangan sambil menggendong seorang bayi. "Kiara?" Panggil Vio sambil menatap Andra meminta penjelasan dan melepaskan tangannya yang digenggam Andra.   “Aku bukan takut akan kamu dan perasaan mu. Tetapi aku takut, jika nantinya hati ku tidak sanggup untuk bersikap seakan baik-baik saja.” ••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD