Engagement

2637 Words
SETELAH kemarin Vio akhirnya menerima pinangan Andra. Seluruh anggota keluarga mereka menjadi sibuk, tak lain dan tak bukan adalah sibuk mengurus perihal acara lamaran mereka yang dadakan. Dalam seminggu memang hanya 7 hari, tapi akan sangat lama bagi Andra untuk menunggu seminggu lagi. Andra ingin segera melangsungkan lamaran resmi mereka, atau nama lainnya pertunanganm. Hari ini Andra sudah tidak tinggal dirumah Vio. Andra menginap di resort milik papa Vio. Karna sesuai dengan keputusan akhir, mereka akan melaksanakan lamaran 2 hari setelah Vio menerima ajakan nya, yaitu besok. "An." Panggil Vio yang sedang duduk di sofa kamar Andra. "Iya sayang." Jawab Andra tanpa menoleh pada Vio. "Kamu yakin mau besok? Gak buru-buru An? Gak bakal nyusahin orang nanti An?" Tanya Vio memastikan keputusan Andra untuk melamar Vio pada keluarganya besok siang. Andra menoleh pada Vio, "Yakin sayang." Jawab Andra mantap. "Aku udah siapin beberapa hal dari 3 bulan yang lalu, yang disiapin mama ini cuman yang kecil-kecil kok. Jadi ini gak terburu-buru dan gak nyusahin orang." Ucap Andra memberi penjelasan. Vio menarik hp yang sedang dimainkan oleh Andra. "Maksudnya gimana? Aku gak ngerti." Ucapnya setelah mengunci dan menyimpan hp Andra di tas nya. "Sayang, aku lagi main game!" Dengus Andra kesal. "Pentingan aku atau game sekarang?" Tanya Vio kesal. Andra menghadapkan badannya pada Vio, "Kamu lebih penting dari apapun Vi, tapi jangan tanya gitu kalau aku lagi main game ya." Ujar Andra lembut. "Itu artinya game lebih penting Andra!!" Pekik Vio kesal. Andra terkekeh kecil. "Aku udah siapin semuanya dari 3 bulan lalu, sejak kamu terima aku walaupun waktu itu masih pakai masa percobaan. Aku udah beli set perhiasan buat acara lamaran besok dari sebulan yang lalu. Pokoknya aku udah siapin semuanya. Kamu cuman perlu dandan yang cantik terus terima aku. Oke?" "Andra." Panggil Vio memelas. "Gak ada nangis Vi!" Tegas Andra mengingatkan. "Kam-" "Vi, mungkin aku pernah jadi pernah pria paling jahat yang dihadirkan dihidup kamu. Aku menyesal akan kejahatan aku ke kamu. Dan sekarang aku mau nebus semua kesalahan aku. Aku mau jadi pria paling baik yang ada disisi kamu." Ucap Andra tulus sambil menggenggam tangan Vio. "Makasih An." "Aku belum ngasih ke kamu semua yang aku siapin, jadi makasihnya simpan dulu ya." "Makasih karna udah ngasih kepastian buat aku,  kepastian atas kita." Andra tersenyum tipis kemudian menganggukkan kepalanya. ••••• Saat ini Vio sedang menatap pantulan dirinya di kaca meja rias yang ada di kamarnya di resort papa nya. Hari ini adalah hari pertunangan Vio dan Andra. Acaranya masih berlangsung 5 jam lagi, tapi Vio sudah merasa tidak tenang dari tadi. Jantungnya benar-benar berdetak dengan sangat kencang, seperti sedang menaiki rollercoaster. "Vi." Panggil Disya yang sudah berada dikamar Vio sejak tadi. "Kenapa dis? Jangan bilang Lo mual lagi?! Kalau iya jangan ngadu ke gua dis, gua lagi stress,  gak tenang nih jantung dari tadi." Dengus Andra kesal pada Disya. "Bukan, bukan, bukan. Gua cuman mau nanya." "Apa?" "Lo serius mau nikah sama Andra? Ya gua tau dia udah banyak banget berubah. Dan gua juga tau semuanya. Cuman gua pengen tau Lo serius kan mau nikah sama dia?" "Iya bumil yang riweh, gua serius mau nikah sama sepupu ipar Lo itu. Gua gak tau apa yang terjadi kedepannya, gua capek menerka-nerka masa depan. Saat ini gua cuman pengen jalanin apa yang mau gua jalanin." "Kenapa gak ngelakuin itu dari dulu Violetta Oriviera!" Geram Vio. "Karna gua baru sadar, kalau gua harus menurunkan sedikit hati nurani gua dan menaikkan sedikit ego gua. Sedikit, gua hanya perlu sedikit untuk ngerasa bahagia." Ungkap Vio jujur dengan senyum di bibirnya dan mata yang menerawang jauh. "Harusnya Lo lakuin itu dari dulu Vio!" Geram Disya tak henti. "Gua bukan tuhan Dis, gak bisa mengatur takdir. Selama ini gua selalu berusaha menerka-nerka kalau takdir gua bukan dengan Andra. Tapi kemana pun gua pergi, Andra masih jadi tempat pemberhentian gua." "Gua harap dia bukan pemberhentian sementara Lo kali ini Vi, gua harap kalian adalah pemberhentian terakhir. Pemberhentian terakhir, gua harap takdir dipihak kalian saat ini." "Gua juga berharap hal itu terjadi." Ujar Vio dengan nada berharap didalamnya. "Jauh di dalam hati aku, aku juga berharap itu An. Aku berharap kalau kamulah pemberhentian terakhir aku, dan aku adalah pemberhentian terakhir kamu." Batin Vio. ••••• Pintu vanue tempat diselenggarakannya pertunangan Vio dan Andra terbuka. Andra dapat melihat Vio yang berbalut kebaya maroon dengan bawahan kain batik yang senada dengannya. Rambut panjang Vio tidak terurai seperti biasanya, kali ini rambut itu disanggul. Tak lupa riasan diwajah Vio sangat memukau perhatian Andra. Ingin rasanya dia menjadikan wanita pujaannya ini sebagai istrinya dengan segera, agar tidak ada yang mengambil wanita ini dari sisinya. Dengan diapit oleh Disya dan Laras, Vio berjalan maju selangkah demi selangkah menuju tempat Andra berdiri. Vio harus berada disana untuk menjawab pinangan Andra. Andra tersenyum pada Vio begitu gadis itu tepat berada dihadapannya. "You look perfect." Ujar Andra tak bisa menyembunyikan rasa terpukau nya. Membuat Vio tersenyum malu-malu mendengar pujian Andra. MC kembali berbicara meminta agar Andra untuk mengulang kata-kata meminang Vio. Andra menarik nafas dalam-dalam berusaha menenangkan rasa gugupnya. Andra berdehem pelan sebelum kembali berbicara. "Vi, tahun ini adalah tahun ke 10 perkenalan kita. Udah 10 tahun kita menjalin hubungan pertemanan yang cukup aneh. Tapi aku senang kita sampai pada titik ini sekarang." "Dalam 10 tahun perkenalan kita, ada banyak hal yang aku dapat dari kamu. Baik itu tentang keluarga, kehidupan bermasyarakat, pertemanan, percintaan dan masih banyak lagi." "Aku sadar aku bukan laki-laki sempurna, aku punya sangat banyak cacat celah. Mungkin kamu lebih tau itu dibandingkan aku. Kamu jauh lebih mengenal diri aku dibandingkan aku sendiri." "Vi, selama pertemanan kita selama 10 tahun ini, ada sangat banyak kata maaf dan terima kasih yang belum terucap dari mulut aku untuk kamu." "Maka dari itu aku berniat untuk membahagiakan kamu sebagai bentuk permintaan maaf atas segala kesalahan yang aku lakukan ke kamu dan sebagai ucapan terimakasih karna kamu masih mau nerima aku disisi kamu dengan baik buruknya aku." "Hari ini aku disini dengan didampingi oleh orang tua dan keluarga besar, datang dengan niat tulus untuk meminang kamu menjadi istri aku." "Violetta Oriviera maukah kamu menjadi istri aku? Menjadi wanita yang mendampingi dan melengkapi hidup aku. Dan untuk menyempurnakan hidup dan agamaku?" Vio benar-benar tidak sanggup menahan detak jantungnya saat mendengar ungkapan Andra. Jika tidak sedang dalam acara pertunangan keluarga, mungkin Vio sudah menubrukkan badannya pada Andra memeluk erat prianya tersebut. Tetapi, untungnya Vio bisa menahannya. Vio menarik nafas dalam sebelum berbicara menjawab pertanyaan Andra. "Atas ridho dan restu orang kedua orang tua aku dan orang tua kamu. Iya, aku mau jadi istri kamu." Ujar Vio sambil tersenyum malu-malu. ••••• Vio dan Andra sudah resmi bertunangan. Setelah pacaran tanpa tembak-menembak, kini status mereka sudah naik menjadi tunangan. Acara pernikahan meraka akan dilaksanakan 2 bulan lagi dengan akad dan 2 kali resepsi. Akad mereka akan dilakukan dibali, menimbang jika Bali merupakan tanah kelahiran dan tempat Vio tinggal bersama orang tua nya. Saat ini keduanya sedang mengitari pantai yang ada didekat resort sambil bergandeng tangan. Vio akan menaikkan tangannya untuk melihat cincin yang disematkan dijari manisnya. Vio akan menatap jarinya sambil tersenyum lebar. "Belum puas-puas Vi ngeliat cincinnya?" Tanya Andra menahan tangan kiri Vio untuk naik sejajar dengan matanya. "Belum, dan gak akan puas. Jujur An, aku masih gak percaya sama apa yang aku alami hari ini." Ujar Vio menatap Andra tanpa mengurangi senyumnya sedikitpun. "Senang?" "Banget An. Makasih ya udah buat sejarah yang manis dihidup aku hari ini." "Aku akan terus buat sejarah manis dan bahagia di sepanjang hidup kamu mulai sekarang." Ujar Andra mantap. "Aku tunggu sejarah manis dari kamu." Ucap Vio semakin melebarkan senyumnya. "Harus." Ujar Andra menyentuh ujung hidung Vio lembut. "An, mana bagian yang kamu suka dari aku?" Tanya Vio tiba-tiba membuat Anda terkejut. Bagaimana bisa otaknya tiba-tiba serandom itu. "Pertanyaan kamu random banget Vi." "Jawab An, gak random kok." "Aku suka semua yang ada di diri kamu. Semua yang ada di diri kamu terlihat sempurna." Puji Andra. "Tapi kenapa kamu cuman megang hidung aku?" Tanya Vio sambil menatap Andra dengan tatapan sangat polos. Anda terkekeh mendengar pertanyaan Vio, "Aku suka semuanya, tapi hidung kamu selalu narik aku buat disentuh dan dicubit kaya gini." Ujar Andra sambil mencubit gemas hidung Vio. "Terus bibir aku gimana?" Tanya Vio tak kalah polos dengan yang sebelumnya.  "Jangan pancing aku Vi." Vio melingkarkan tangannya di leher Andra, menjinjitkan kakinya agar sejajar dengan Andra. Setelahnya Vio memanyunkan bibirnya didepan anda. "Vio." Tegus Andra keras. "Kamu gak suka bibir aku ya, atau malah kamu gak suka aku." Ujar Vio sambil menatap Andra sedih. Andra melingkarkan tangannya di pinggang Vio, "Gila apa aku gak suka! Aku suka Vi, sangat suka bahkan. 10 tahun aku main melalang buana buat ngehindari rasa pengen aku atas bibir kamu." Ungkap Andra tulus. "10 tahun aku nahan rasa pengen aku buat bibir kamu. Aku pengen banget nyentuh kamu lebih dari pegangan tangan dan pelukan kayak gini, tapi nanti Vi, setelah kamu benar-benar jadi istri aku. Aku gak mau 10 tahun aku sia-sia, karna kamu bertingkah kayak gini." Vio tersenyum lebar, ternyata Andra sesuai dengan ekspektasinya. Dia tau jika Andra tidak akan berlaku lebih pada Vio selain pegangan tangan dan pelukan. "Aku tau kamu pasti pegang omongan kamu, dan aku suka kamu masih konsisten dengan itu sampai detik ini. Aku harap kamu terus pegang omongan kamu an, terutama omongan kamu yang mau buat sejarah manis dan bahagia dihidup aku." "Kamu bisa pegang omongan aku Vi, aku akan wujudin omongan aku." "Makasih An." Ucap Vio sambil memeluk erat tubuh tunangannya itu. "Apapun itu untuk kamu." Jawab Andra yang juga memeluk Vio. Setelah itu mereka kembali berjalan-jalan di pantai masih sambil bergandengan tangan. ••••• Entah sudah berapa kali Vio mengendus kesal karena telponnya tidak diangkat oleh Andra tunangannya. Saat ini Vio sangat ingin menelan tunangannya itu bulat-bulat. Bukan tanpa alasan, pernikahan keduanya sudah semakin dekat. Namun bukannya makin lapang, Andra malah semakin sibuk berkerja. Sering kali Vio harus meeting sendiri dengan WO mereka karna Andra harus kerja. "Halo sayang." Ucap Andra begitu telpon mereka tersambung. "Akhirnya." Batin Vio. "Kali ini alasannya apa An?" Tanya Vio to the piont tanpa basa-basi. "Ma-" "Kalau kamu gak bisa juga kali ini, aku mau batal aja nikahnya!" Ucap Vio kesal memotong ucapan Andra. "Sayang." "An, ini pernikahan kita. Bukan pernikahan aku sendiri, kalau sekedar fitting baju kamu juga gak bisa. Aku gak ngerti lagi mau bilang apa sama kamu. Bagus batal aja nikahnya sekalian! Kamu nikah sama kerjaan kamu!" "Aku udah dibawah sayang." Ujar Andra lembut. "Kok udah dibawah?" "Buruan turun, nanti aku jelasin." Vio langsung mengambil tas tangannya dan segera keluar dari apartemennya. "Bentar aku turun." Andra hanya mengiyakan sebelum akhirnya menutup telpon tersebut. "Kok kamu udah dibawah aja?!" Kesal Vio begitu masuk mobil Andra. "Pipi." Ujar Andra singkat. Dengan perasaan kesal yang masih menggebu-gebu, Vio mendekatkan wajahnya pada Andra dan membiarkan Andra mencium kedua pipinya. "Maaf aku telat, tadi macet parah karna ada yang kecelakaan. Dan maaf aku gak angkat telpon kamu, karna hp aku silent." Terang Andra sambil mengambil bucket bunga mawar putih dari jok belakang da memberikan pada Vio. "Dan ini salah satu yang buat aku telat, aku mampir beli bunga buat kamu." "Wahh, makasih An. Tapi kenapa kamu tiba-tiba ngasih bunga? Kamu gak mau ninggalin aku meeting sendiri kan?" "Enggak sayang. Negatif thinking mulu sama aku. Ujar Andra mengacak lembut rambut panjang Vio. "Habisnya kamu sih, selalu aja biarin aku meeting sendiri, padahal kan yang nikah bukan cuman aku." Rajuk Vio sambil memanyunkan bibirnya. "Maaf ya sayang, aku lupa banget buat undur tanggal pembukaan cafe yang di Bandung." Jelas Andra. Andra memiliki beberapa coffe shop, cafe dan distro. Makanya Andra bebas menghampiri vio saat jam kerja, karna Andra gak perlu kerja tiap hari. Dia hanya datang buat ngecek keadaan beberapa hari dalam seminggu. "Tapi habis ini kamu bakal ikut terus kan? Ini udah benar-benar tinggal finishing An. Kalau kamu masih mau kesana-kemari ngurus cafe dari pada nikahan kita yaudah kamu nikah sama cafe kamu." Andra terkekeh mendengar rajukan Vio, entah mengapa dimatanya Vio seperti anak kecil saat ini. "Enggak sayang, udah siap urusan cafe. Sekarang aku mau nemenin kamu ngurus pernikahan kita." "Beneran kan? Bukan cuman janji manis kan?" "Bukan, aku janji kali ini beneran nemenin." "Yaudah." "Jadi ini mau kemana?" Tanya Andra sambil menjalankan mobilnya pelan. "Fitting baju di butik Q habis itu ke gedung nikahan kita buat mastiin dekorasi." "Baik tuan putri." Ujar Andra sambil menarik tangan Vio untuk digenggamnya. Menggenggam tangan Vio seperti sudah kebiasaan bagi Andra. Andra akan merasa ada yang kurang jika belum menggenggam tangan Vio. Setelah segala urusannya selesai untuk hari ini, Andra memutuskan untuk ngedate sama Vio. Karna Vio akan kembali ke Bali tiga hari lagi. Mereka akan masuk tahap pingit sebentar lagi. Bukan hanya itu akad nikah keduanya akan dilangsungkan dibali, mengingat memang tempat tinggal Vio di Bali. "Vi, aku mau bilang sesuatu. Tapi kamu janji jangan marah ya." Ucap Andra membuka percakapan. "Apa An? Asal gak aneh-aneh aku gak marah." "Hmm jadi aku undang Kiara ke nikahan kita." "Ooh." "Ooh? Cuman ooh?" Pekik Andra kaget melihat respon tunangannya itu. "Ya terus aku harus apa? Wah?" "Kamu gak marah?" "Enggak, toh dia udah nikah sama orang lain. Dia udah punya anak sama suaminya itu dan dia udah terikat disitu. Kalau cuman datang ke resepsi gak masalah kok." "Nah itu dia masalahnya." "Jangan bilang kamu undangnya ke akad?" Tanya Vio panik. "Sebenarnya aku undang buat yang di Jakarta. Tapi dia nanya boleh datang buat yang akad apa enggak. Aku belum jawab, karna aku mau nanya kamu dulu." Vio diam menimbang jawaban mana yang akan diberi pada Andra. Vio takut jika memberi jawaban iya, karna semakin lama egonya akan Andra semakin tinggi. Vio terkadang masih menganggap Kiara dan Faris sebagai ancaman baginya. "Kalau kamu gak mau, bilang gak mau. Aku gak suka kamu bimbang terus sampai mikir kemana-mana Vi. Karna jujur aku gak mau kalau buat akad, tapi aku mau dengar penilaian kamu dulu." "Aku gak tau An." "Aku bilang gak usah aja ya." "Tapi nanti dia mikir yang enggak-enggak lagi sama aku." Jawab Vio sedih. "Kan yang bilang aku sayang bukan kamu." "Aku takut dia mikirnya aku yang gak ngasih, aku takut dikira sensi sama dia." "Wajar sih, kan dia hampir ngambil aku dari kamu." "Dia udah ngambil kamu dari aku! Bukan hampir!" Ujar Vio dengan nada marah. "Hati enggak Vi, hatinya masih punya kamu waktu aku pacaran sama dia." "Hmm, jadi kalau hati kamu punya aku waktu itu. Kenapa nomor aku diblokir Andra? 2 tahun lebih loh kamu buka tutup blokiran kamu ke aku." Ujar Vio mengingatkan. "Yakan Vi-" "Apa? Takut gak dikasih jatah kamu sama dia waktu itu?" Tanya Vio to the point. "Vi, heran deh, kenapa kamu bisa santai banget ngomongin kayak gitu sama aku?" "Karna udah lewat, dan karna sekarang aku tunangan kamu, calon istri kamu." "Hati baik-baik aja nanya itu? Gak ada getar-getar cemburu?" Tanya Andra dengan wajah penasaran nya. "Baik dikit." "Gak usah bahas aku sama mantan-mantan aku lagi. Aku gak suka hati kamu gak baik-baik aja. Aku mau nya hati kamu baik, senang, bahagia. Dengar Vio?" "Tap-" "Masa lalu gak penting untuk di ingat dan diobrolin, apalagi buat didebatin Vi. Masa lalu cukup dijadiin pelajaran supaya gak mengulangi kesalahan yang sama." "Oke aku ngalah, aku gak bahas itu lagi." Pasrah Vio. "Good. Itu baru tunangan aku. "Jadi kamu bilang apa ke Kiara?" "Enggak. Kalau mau datang ke resepsi yang dijakarta aja. Nanti aku tinggal bilang kalau yang dibali itu cuman buat keluarga dan kerabat dekat aja." "Gak papa gitu?" "Gak papa lah, kenapa harus kenapa-napa." "Aku gak enak tapi An." "Gak perlu ngerasa gak enak sayang." "Kalau dia pakai alasan Faris sebagai keluarga kamu? Kamu kan papanya." "Aku om buat dia sayang." "Tapi tetap aja Andra." "Kamu punya porsi lebih dihati aku. Perasaan kamu prioritas aku sekarang. Aku gak mau kamu ngerasa gak enak saat kita akad nanti cuman karna ada mereka disana." Vio mengedipkan mata tak percaya. "Gak perlu ngerasa gak enak sama mereka. Aku hak milik kamu sepenuhnya." Ujar Andra tegas. "Yaudah. Tapi beneran gak papa kan?" "Iya sayang." Vio menganggukkan kepalanya, "Makasih an." Ucap Vio sambil senyum. "Untuk?" "Memprioritaskan aku diatas mereka." "Diatas segalanya sayang, bukan cuman diatas mereka." Ucap Andra memperjelas keadaan. "Pokoknya makasih." "Iya sama-sama." Hari-hari berikutnya Andra menepati janjinya untuk menemani Vio dalam persiapan pernikahan mereka. Andra menemani dan selalu menggenggam tangan Vio saat meeting, tinjau lokasi, cek sana sini, pokoknya disemua urusan persiapan pernikahannya.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD