Masa Percobaan

2704 Words
HARI ini adalah hari ke 80 setelah perpisahan penuh perdebatan dibandara. Keduanya menjalani hidup yang lebih baik dari pada sebelumnya. Singkat kata, kehidupan mereka kali ini lebih berwarna dari pada sebelumnya. Mereka selalu bertukar kabar 3 kali sehari layak nya jadwal minum obat, mereka juga akan saling bersayang-sayang ria melalui face time setiap malamnya sampai terlelap. Tak lupa mereka akan bertemu setiap 2 Minggu sekali. Entah itu Andra yang menghampiri Vio ke Bali atau vio yang akan kejakarta pada waktu weekend.  Semuanya sudah lebih baik dari pada 10 tahun yang mereka jalani sebelumnya. Tak lupa, hubungan antara Vio dan keluarga Andra, buka hanya dalam telpon genggam seperti 2 tahun kepergiannya. Kini mereka sudah lebih intens bertemu nya. Tinggal 10 hari lagi masa percobaan Andra yang diberikan oleh Vio. Sejauh ini menurut survey dan penilaian Vio, Andra sudah sangat jauh berbeda. Andra benar-benar mewujudkan kata-kata nya. Tidak banyak tangisan dilembaran baru keduanya. Hari ini, Vio akan menjemput Andra ke bandara. Andra mengatakan bahwa dia akan menghabiskan 10 hari terakhir masa percobaannya di kota kelahiran Vio. Dia ingin memberi lebih banyak kebahagiaan secara langsung pada Vio. Andra yang sekarang jauh lebih sweet dari pada Andra yang sebelumnya. "Andra." Teriak Vio sambil berlari ke arah Andra. Andra tersenyum sambil membuka tangannya lebar-lebar, untuk membiarkan Vio masuk kedalam pelukannya. Benar saja, setelah berada tepat di depan Andra, vio langsung memeluk Andra tanpa bertanya kabar prianya itu terlebih dahulu. "Aku kangen." Ujar Vio manja. "Aku jauh lebih kangen kamu Vi." Ujar Andra setelah mengecup kening Vio lembut. "Kamu beneran bakal tinggal disini 10 hari kan?" Tanya Vio masih tidak percaya pada Andra. "Iya, lihat itu koper aku segede apa." Ujar Andra sambil menunjuk kopernya. Vio langsung tersenyum senang. "kalau kamu bawa koper kecil juga gak masalah. Kan bisa beli baju disini." Ujar Vio santai. "Anak Sultan beda emang." "Aku bukan anak Sultan. aku anak bapak Candra." Ujar Vio polos. "Merdeka kamu Vi, merdeka kamu." Pasrah Andra. Satu fakta yang tertinggal. Andra sudah banyak mengalah pada Vio. Tidak ada rasa ingin menang sendiri seperti waktu itu, kini hanya ada rasa ingin membahagiakan Vio wanitanya. "Jadi ibu Vio, bisa antar aku ke resort papa kamu, aku capek banget rasanya." Ujar Andra memelas. "No no no." Andra menaikkan alisnya. "Kata papa bawa Andra kerumah aja. Papa minta kamu tinggal dirumah selama kamu dibali." Andra tersenyum genit menggoda Vio. "Gak seperti bayangan kamu An, papa udah buat kartu khusus buat naik ke lantai aku. Gak ada yang bisa naik kelantai aku kalau tanpa izin papa." "Emang aku mikir apa?" Jawab Andra terkekeh. "Kalau aku mau, aku bisa goda kamu dari 10 tahun yang lalu Vi. Aku gak mungkin sia-siain usaha aku 10 tahun ini buat jaga kamu." "Aku tau, karna itu tadi aku bohong sama kamu." Ujar Vio melepaskan pelukannya pada Andra dan pergi berlalu meninggalkan Andra. "Wah, first time gua dibohongin sama orang. Bagus orang nya kamu Vi, coba kalau bukan kamu. Aku sleding juga kamu." Ujar Andra sambil menarik kopernya dan menyusul Vio. Disepanjang perjalanan vio tersenyum melihat Andra yang mengenggam tangannya posesif. Bahkan disaat Andra sedang sibuk menghadapi kemacetan kota. "An." "Iya sayang?" "Seberapa porsi aku dihati kamu sekarang?" Tanya Vio sambil menatap Andra lembut. Andra menoleh sekilas pada Vio, "Utuh. Kamu punya porsi utuh hati aku, Vi." "Faris?" Tanya Vio. "Vi." Tegur Andra dengan menatap tajam Andra. "Kenapa?" Tanya Vio polos. "Gak usah ngeledek!" Terus Andra. "Kenapa?" Tanya Vio meledek Andra. "Kamu tau ceritanya Vi." Rengek Andra. Selama 80 hari masa percobaannya, Andra bercerita banyak hal pada Vio. Bercerita tentang apa saja yang dilewatinya selama 2 tahun ini, begitu juga dengan Vio sebaliknya. Salah satu cerita yang dibagikan Andra adalah tentang Faris. Sejak Faris masih dikandungan Kiara, Andra mengaku tidak pernah memperdulikannya. Andra tidak pernah datang saat Kiara mengatakan dia mengidam atau bahkan saat Kiara kontrol kehamilannya. Dan yang lebih parahnya lagi, Andra tidak ada pada saat Kiara melahirkan. Saat itu Andra memilih untuk pergi ke Bali daripada menemani Kiara dirumah sakit. Setelah kelahiran Faris barulah dia mulai ada saat Kiara memanggilnya, karna Andra selalu diancam mamanya bahwa selamanya Vio tidak akan kembali jika dia terus bersikap seperti itu. Dan benar saja dua bulan kelahiran Faris, Vio kembali. Entah itu berkat dukungan semesta atau berkat doanya. Berlanjut saat vio memutuskan pergi kembali ke Bali, kota kelahirannya. Andra kembali acuh pada Kiara dan Faris tapi dia tetap memberi tunjangan bulanan untuk kehidupan Faris. Menurutnya itu adalah hak Faris. Sampai setelah Kiara menikah dan membawa Faris ikut dengannya dan suaminya tinggal dijogja. Andra masih acuh dan tak perduli. Enam bulan setelahnya, Kiara berlibur kejakarta bersama keluarga kecilnya. Andra datang menemui Faris. Sampai detik ini kejadian itu masih membekas diingatkan nya. Bagaimana tidak, anaknya tidak memanggilnya dengan sebutan papa, ayah, papi, atau Daddy tetapi om. Sejak saat itu Andra dan Kiara memutuskan untuk mengikuti alur baru kehidupan mereka. Bukan memutus hubungan ayah dan anak. Tetapi mengganti status nereka, Andra menjadi om bagi Faris dan Faris menjadi keponakan bagi Andra. "Enggak kok, aku gak tau." Elak Vio. "Sayang!" Kesal Andra. "Maaf om Andra." Ejek Vio sambil terkekeh senang. "Vio." Rengek Andra. "Maaf sayang maaf." Ujar Vio sambil mengelus tangan Andra. Vio sudah mulai terbiasa lagi dengan kata sayang. Semua berkat kerja keras andra yang tak henti membuatnya malu sepanjang hari.   "Aku pengen dipanggil Papa Vi." Ujar Andra setelahnya. Vio memandang Andra sedih, "An." Panggil Vio terdengar takut. Vio takut jika Andra ingin mulai membagi perhatiannya pada Faris. "Bisa gak masa percobaan aku diudahin aja? Bisa gak kita cepat nikahnya? Bisa gak Vi? Aku pengen anak kayak Bagas Vi." Ujar Andra beruntun, membuat Vio tanpa sadar menghela nafas lega. "Tinggal 10 hari lagi an, sabar ya." "Berarti 11 dari sekarang kita bisa langsung ke KUA?" "Enggak gitu juga An." Dengus Vio kesal. "Aku pengen punya anak kayak Bagas Vi.  Aku pengen dipanggil papa." Rengek Andra pada Vio. "Kan kamu udah ada Faris." Goda Vio ragu-ragu. "Aku bukan mau Faris. Aku mau anak dari kamu, aku mau anak kayak Bagas nya dari kamu. Anak aku sama kamu." Jelas Andra. "Apa kita bawa kabur Bagas aja ya An?" "Hmm oke, boleh juga. Tapi kita nikah besok ya." "Bikin anak sendiri sana!" Ujar Vio sambil melepaskan tangannya yang sedari tadi digenggam Andra. "Gak bisa sendiri Vi." Ujar Andra kembali menarik tangan Vio untuk digenggamnya. "Usaha An." Vio kembali melepaskan tangannya. "Vi." "Dududu." Vio menutup telinganya dengan kedua tangannya. "Vio." "Aye aye." Vio masih memilih menutup telinganya dengan kedua tangannya dari pada mendengar rengekan Andra. "Apa aku buat sam-" "Andra!" "Jadi nikah nya bisa dipercepat sayang?" "Gak!" "Oke bisa." "Enggak Andra!" " Iya Vio, kamu tenang aja." "Andra!" Pekik Vio kesal. Lagi, kali ini lagi dan lagi keduanya berdebat tentang hal yang tidak penting. ••••• Sudah dua hari Andra dirumah Vio, di Bali. Kerjaan Andra hanya duduk menatap Vio yang sibuk dengan laptopnya. Menurut info dari Vio, saat ini dia tengah disibukkan membuat soal untuk ujian akhir semester. Bukan hanya itu, karna sebelumnya dia memegang jabatan sekpro (sekretaris prodi). Ada banyak tugas yang harus diselesaikannya sebelum dia berhenti dari pekerjaannya. Yap, ini adalah semester terakhir Vio mengajar di kampus yang menjadi tempat kerjanya selama 2 tahun ini. Masa percobaan Andra suda mau berakhir, itu artinya dia akan menikah dengan Andra dalam waktu dekat. Itupun jika Andra memiliki hasil yang memuaskan saat penilaian dan survey 3 bulan ini. "Vi, masih lama?" Tanya Andra dengan wajah suramnya. "Dikit lagi An, kenapa? Kamu bosen?" Tanya Vio tanpa menoleh pada Andra. "Iya, ini Bali Vi. Aku udah dua hari di Bali. Tapi aku belum liat pantai." Vio menjauhkan jarinya dari keyboard MacBook nya. Lalu menatap Andra disebelahnya. "Kamu ke Bali, buat aku atau buat pantai?" Tanya Vio menuntut. Andra menghela nafas panjang, "Pertanyaan menjebak. Dijawab A salah, dijawab B salah." "Aku atau pantai An?" Tanya Vio sekali lagi. "Lihat kamu untuk dibawa romantis romantisan dipinggir pantai." Vio tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya. "Oke, aku bakal save kerjaan aku sekarang. Ayo kita kepantai." Ajak Vio. "Kerjaan kamu?" "Kamu ninggalin kerjaan kamu buat aku, masa aku disini biarin kamu bosen lihat aku kerja. Jadi nanti aja aku kerjain pulang dari pantai." "Kalau dibandingkan sama kerjaan kamu, aku terhitung gak kerja gak sih?" Tanya Andra. "Hmm, bisa dibilang iya. Yang gak tau kamu, pasti bakal ngira kamu pengangguran. Karna gak pernah kelihatan pergi kerja." "Siapin dulu kerjaan kamu. Aku gak mau nanti malah jadi terbengkalai cuman karna pantai." Ujar Andra sambil mencubit pipi tembem Vio. "Tap-" "Aku lebih suka ngeliat kamu ketimbang ngeliat pantai. Pantai bali dari dulu gitu-gitu aja. Pasir, air, ombak, orang, rame." "Aku juga dari dulu gitu-gitu aja." "Hmm no no no. Kamu beda sama yang dulu. Kamu sekarang senyum, senang, bahagia, makin cinta, bucin." Ucap Andra sambil tersenyum senang. "Aku gak bucin!" Teriak Vio tidak terima. "Kamu bucin Vi dan aku suka." "Andra!" "Yes honey." "Jangan buat aku salah tingkah, kerjaan aku banyak." Andra menarik tangan Vio dan meletakkannya didada nya. Membuat Vio merasakan detak jantungnya. "Gimana Vi?" Vio terkejut saat merasakan detak jantung Andra. Detaknya benar-benar diluar batas wajarnya. Jujur Vio sering merasakan detak jantungnya seperti Andra saat ini. Namun itu saat Andra mulai memberikan asupan keromantisan dan gombalan pada Vio. "Kamu gak punya sakit jantung kan an?" Tanya Vio panik. "Enggak, tapi detaknya selalu kayak gini kalau aku ngeliat kamu senyum. Aku tiba-tiba kelebihan hormon adrenalin kalau kamu senyum. Aku salah tingkah Vi  ngeliat kamu senyum." "An, kalau aku minta kita nikah sekarang gimana?" "Ayok." Ujar Andra sambil berdiri dengan semangat Vio terkekeh melihat Andra. Mungkin bisa dibilang saat ini Andra sedang ngebet pengen nikah sama Vio. "Aku gak mau cuman nikah di KUA An, masa iya aku nunggu kamu 10 tahun cuman buat pergi KUA aja." Rajuk Vio "Gak mungkin lah Vi. Aku udah setengah mati, jatuh bangun nunggu kamu, yakali cuman buat diajak ke KUA." "Sekarang, aku cuman butuh jawaban lulus tidaknya masa percobaan aku ini. Habis itu aku langsung bawa orang tua aku ngelamar kamu. Setelah itu ngurus pernikahan. Sebulan cukup lah kayaknya, terus kita nikah." "Kalau gitu, tunggu 8 hari lagi ya." Ujar Vio sambil mengelus kepala Andra. "Gak bisa sekarang Vi?" Tanya Andra memelas. "Enggak, maaf ya." "Vi. "Aku lanjut ini bentar, habis itu kita jalan-jalan ya." Ucap Vio tanpa menoleh pada Andra. Tak ada yang bisa dilakukan Andra selain sabar dan pasrah. Kana dia sudah berjanji akan mengikuti apapun kemauan Vio. Butuh 3 hari sampai Vio benar-benar menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Dan selama 3 hari itu Andra hanya bisa pasrah menikmati pemandangan Vio yang sedang berkerja. Hari ini sudah hari ke 4 Andra di Bali. Selain berencana untuk menikmati pantai hati ini, Vio harus kekampusnya untuk mengantarkan seluruh berkas yang dikerjakannya 3 hari lalu. "An, kamu mau tunggu dimobil atau ikut turun?" Tanya Vio sambil membuka safebelt nya. "Ikut. Aku mau lihat gimana kamu kehidupan kamu dikampus!" Tegas Andra "Kehidupan kampus aku flat." Ucap Vio sambil mengingat-ingat. "Aku mau lihat berapa pasang mata yang ngelirik suka sama kamu." Alibi Andra. "Gak ada kayaknya." Ujar Vio lagi. "Aku mau lihat sendiri Vi." "Yaudah iya." Andra dan Vio memasuki kawasan gedung kampus tempat Vio mengajar. Vio menjelaskan setiap hal yang ditanya oleh Andra, bahkan jika pertanyaan itu tidak penting sekali pun. Tapi untungnya Vio sangat mencintai laki-laki ini, jika tidak mungkin Vio akan mencampakkan Andra ketengah laut sana sebagai santap siang hiu. "Bu Vio." Sapa seorang pria dengan setelan rapi begitu Vio masuk kedalam kantor. Hal itu membuat Andra memasang mata elangnya untuk mengamati laki-laki yang menyapa pacarnya itu. "Mister Alex." Sapa Vio ramah yang membuat Andra mengendus kesal. Kekesalan Andra semakin menjadi-jadi saat Vio terlihat asik mengobrol dengan laki-laki bernama Alex itu. "Hmm, i have the go. Saya harus menemui Bu Mayang, untuk memberikan soal ujian." "Ahh iya iya Bu. See you soon, semoga kita bisa berkerja sama lagi kedepannya." Ujar Alex sambil mengulurkan tangannya. Vio tersenyum dan menyambut uluran tersebut. Membuat Andra menatap Vio tajam dari kursi yang didudukinya sejak awal pertemuan Vio dan Alex. Vio mengernyit bingung saat menoleh pada Andra, sorot mata yang tajam dan ekspresi wajah yang datar mewarnai pemandangannya. "Kamu kenapa?" Tanya Vio dengan polosnya. "Gpp!" "Hmm yaudah, bentar ya. Aku antar ini dulu, gak lama kok." Andra tidak menjawab pertanyaan Vio dan langsung mengalihkan pandangannya. Kemudian mengendus kesal saat Vio pergi tanpa menyadari kekesalan nya dan pergi begitu saja tanpa membujuknya. Berselang 10 menit dari masuknya vio kedalam salah satu ruangan yang berada dikantor itu. Vio keluar dengan seorang wanita paruh baya, jika ditebak mungkin seumuran dengan mamanya. Wanita itu keluar sambil sambil merangkul hangat Vio, kemudian mereka berpelukan dan saling berjabat tangan, seperti sebuah perpisahan. "Ayok An." Ajak Vio begitu sudah berada didepan Andra. "Udah?" Tanya Andra lembut. Dia ingin mempertahan kan kesalnya, tapi tidak bisa karna melihat mata Vio berkaca-kaca menahan tangis. "Udah." Jawab Vio sedih. Dengan cepat Andra berdiri dari duduknya dan langsung pergi ke mobil. Kali ini keduanya lebih diam, tidak heboh seperti tadi. "Kenapa nangis Vi?" Tanya Andra begitu keduanya sudah berapa didalam mobil. Vio tidak menjawab, tetapi langsung memeluk Andra. Vio sedang menangis disana, Andra mengelus rambut Vio untuk menenangkan tangis pacar sematawayangnya itu. "Aku sedih." Ucap Vio sambil mendongakkan kepalanya menatap andra. "Kenapa sayang?" Tanya Andra lembut. "Kenapa perpisahan selalu menyakitkan?" "Karna jika kita sudah mencintai hal sesuatu, kita akan terbiasa akan itu dan kita tidak akan pernah siap untuk yang namanya perpisahan." "Kalau kita nikah, kamu masih izinin aku ngajar gak?" Tanya Vio dengan muka tegang. "Aku gak akan membatasi ruang gerak kamu. Lakuin semua hal yang kamu suka. Aku jadiin kamu istri aku bukan untuk mengekang dan membatasi ruang kamu. Aku nikah sama kamu untuk menyempurnakan hidup aku." "Tapi-" "Kok pake tapi?" "Enggak jadi dosen yang gila kerja Vi. Aku gak akan melarang kamu kerja, tapi jangan lupa kalau kamu udah jadi istri. Kamu punya tanggung jawab buat ngurus suami." Vio tidak menimpali ucapan Andra, Vio hanya mengedipkan matanya berulang kali saat mendengarkan ucapan Andra. "Jadi kenapa kamu sedih?" "Aku mengundurkan diri dari kampus." Ujar Vio dengan nada sedih. "Kenapa?" Tanya Andra sedikit kaget, karna Vio tidak pernah mengatakan bahwa dia akan mengundurkan diri dari pekerjaannya. "Kamu gak mau kita nikah?" "Maulah! Tapi kenapa kamu mengundurkan diri, kan aku mengizinkan kamu kerja sayang." "Kerjaan kamu dijakarta semua An. Kalau aku mau jadi istri kamu, itu artinya aku harus milih antara kamu dan Bali." "Aah gitu, iya sih. Hmm, berarti kamu udah mau nikah sama aku ya." Goda Andra sambil mencolek dagu Vio. "Enggak." Elak Vio sambil menepis tangan Andra yang ada di dagu nya. "Pake gak mau ngaku." "Tapi An, kenapa tadi muka kam-" "Aahh iya aku baru ingat, aku harusnya marah sama kamu!!" Dengus Andra sambil menatap Vio tajam. "Kenapa?" "Kamu ngabaikan calon suami kamu karna laki-laki lain, siapa tadi namanya? Alex? Mana pakai jabat tangan lagi!" Curahnya kesal. "Hmm jadi calon suami aku lagi cemburu tadi, mana ngambeknya kayak cewek. Ditanyain kenapa jawabnya gpp." Ledek Vio mencolek lengan andra. "Vi aku masih marah!" "Berarti kita gak jadi nikah?" "Jadi!" "Pilih ngambek atau nikah?" "Nikah Vi." "Yaudah ayok nikah." Ajak Vio santai. Andra membulatkan matanya lebar. "Hmm v-vi, k-kamu serius?" Ucap Andra terbata-bata. Rasa kaget atas ajakan Vio membuatnya tidak bisa berbicara dengan lancar. "Iya, kapan kamu mau lamar aku?" "Lusa Vi, aku telpon mama hari ini buat nyiapin semuanya." Ujar Andra dengan semangat yang menggebu-gebu. Vio terkekeh melihat andra, andra benar-benar bersemangat kali ini. "Yaudah, nanti pulang kamu bilang juga sama bunda. Biar bunda nyiapin yang disini." "Vi kamu beneran?" "Iya Andra." "Katanya jawabannya masih 5 hari lagi." "Hmm, aku bilang masa percobaan 3 bulan karna aku masih ada kontrak kerja sampai 3 bulan ini. Aku gak enak ninggalin kerjaan gitu aja. Dan masa percobaan ini juga buat ngeliat seberapa sabar kamu ngehadepin aku, dan seberapa seberapa seriusnya kamu sama aku. Dan kamu udah nunjukin itu semua." "Kenapa aku jawabnya sekarang. Karna tugas dan kerjaan aku udah siap. Aku udah resmi jadi pengangguran, jadi aku harus nikah sama kamu biar dapat uang jajan bulanan." Seru Vio sambil tersenyum. Andra memeluk Vio erat sambil mengucapkan terima kasih karna Vio mau menikah dengannya. Andra pun sempat menangis bahagia sesaat, Katanya dia gak bisa buat menyembunyikan kebahagiaannya. "Jadi udah bisa kita kepantai An?" Tanya Vio setelah entah berapa lama Andra memeluknya. "Gak, aku gak mau ke pantai sekarang. Aku mau nelpon mama, aku mau ngurus pernikahan aku sama kamu. Aku mau cepat nikain kamu." "Tapi kan biar mer-" "Vi, mumpung aku disini sama kamu. Kita belanja buat seserahan ya. Kalau ada yang kamu mau tapi gak ada disini, telpon kak putri minta dia beliin di Jakarta." Jelas Andra memotong ucapan Vio. "An." "Oke kita cari seserahan sekarang." "Nyesel aku ngasih tau kamu." Ucap Vio sambil mengendus kesal.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD