VIO terbangun karna bunyi bel yang terus berdering sejak hampir satu menit yang lalu. Dengan malas vio berdiri dari tempat tidurnya dan membuka pintu. Dan dengan nyawa yang belum kumpul seutuhnya ini, Vio sudah bisa menebak siapa yang datang ke kamarnya pagi-pagi. Siapa lagi jika bukan pria pujaan hatinya, Andra.
"Ken-"
"Astaga Vio, kamu baru bangun?" Pekik Andra saat melihat Vio membuka pintu dengan mata tertutup.
Vio mendekat pada Andra memeluk laki-laki nya itu, kemudian menghirup dalam aroma Andra. Kemudian tersenyum senang.
"An, aku gak lagi mimpi kan?" Tanya Vio sambil mendongakkan kepalanya tapi masih dengan mata tertutup.
"No, tapi bisa gak matanya dibuka Vi."
Vio membuka matanya, lalu mengedipkanya beberapa kali. Kemudian tersenyum senang.
"Aku beneran gak lagi mimpi?" Tanya Vio lagi.
"Kamu mimpi apa, hmm?" Tanya Andra sambil mendorong masuk tubuh Vio kedalam kamar vio.
"Mimpi kamu ngasih bunga, kalung dan kita ngedate seharian."
"Mau diulang lagi hari ini?" Tanya Andra sambil merapikan rambut Vio.
"Mau, tapi aku hari ini balik ke Bali." Ujar Vio sambil menatap sedih Andra.
"Kalau gitu kamu mandi dan siap-siap. Aku gak mau beberapa jam aku sia-sia karena kamu malas bangun." Ujar Andra sambil mencubit pipi Vio.
"Sshh sakit An."
"Pipi kamu tirus, aku gak suka. 2 Minggu lagi aku ke Bali pipi kamu harus udah tembem lagi kayak dulu ya Vi." Perintah Andra.
"Kamu mau ke Bali?" Tanya Vio kaget.
"Iya, aku mau kebali 2 Minggu sekali buat jenguk pacar aku ini. Biar dia gak bisa kabur lagi." Ucap Andra santai.
Pipi Vio memerah seketika, jantungnya berdetak sangat kencang serasa jantungnya akan meledak saat itu juga.
"Mandi sana, kita sarapan bareng." Perintah Andra sambil mendorong vio masuk ke kamar mandi."
"Kamu jangan kemana-mana!"
"Enggak Vi. Lagian aku mau pergi kemana, kalau kamu nya disini." Ujar Andra membuat pipi Vio menjadi semakin meras seperti kepiting rebus.
"Andra jangan gitu, aku malu!!"
"Di biasain Vi, aku gak mau jadi aku yang 10 tahun kemarin buat kamu sekarang. Aku mau jadi Andra yang baru, Andra yang menunjukkan sayang dan cintanya buat kamu, Violetta Orieri."
Dengan secepat kilat vio berlari kekamar mandi. Wajahnya sangat panas sekarang, jika dia berada di depan Andra lebih dari 10 detik lagi. Mungkin Vio bisa mati berdiri mendengar gombalan Andra. Vio sangat malu ketika mendengar gombalan Andra. Hal itu sangat aneh bagi Vio, karna ini pertama kalinya.
Ya, ini benar-benar pertama kalinya buat Vio. Pertama kalinya Vio melihat Andra bersikap romantis dan mengeluarkan gombalan padanya. Selama 10 tahun ini, Andra tidak pernah berbuat seperti itu pada Vio.
Bukan hanya pertama kalinya dari andra. Tetapi ini pertama kalinya vio merasakan hal itu. Andra adalah cinta pertama dan pacara pertamanya. Dan vio terjebak pada pusaran ini selama 10 tahun lamanya.
Berbanding terbalik dengan Vio, bukannya merasa bersalah Andra malah tertawa senang.
"Ya ampun Vi, kayaknya benar kata Disya. Otak kamu emang semurni itu. Baru digombalin aja udah merah pipinya. Gimana pas ijab kabul? Sampai pingsan apa?"
Setelah menyelesaikan sarapannya, Vio dan Andra langsung check out dari hotel. Karna vio sudah akan pulang ke Bali, tidak ada alasan Andra untuk tetap menginap disitu. Alasannya menginap karna ada Vio disana. Kini keduanya sedang dalam perjalanan ke bandara. Ya untuk mengantar Vio pulang ke kandangnya.
"An."
"Iya Vi?"
"Hmm, gini An hmm."
"Apa sayang?"
"Jangan pakai sayang An, aku malu."
"Gini nih kelamaan jomblo, dengar kata sayang aja malu."
"Jangan ngeledek An!"
"Oke oke, jadi kenapa Vi? Tadi mau ngomong apa?"
"Aku penasaran An."
"Penasaran apa?"
"Faris?" Ucap Vio pelan.
Andra menoleh pada Vio sekilas.
"Hmm, kamu gpp ngomongin ini? Kalau pake nangis aku gak jawab Vi."
"Gpp An, kan aku yang nanya. Cukup jawab pertanyaan aku, jangan bahas yang lain."
"Faris kabarnya baik, dia tinggal sama Kiara, hmm aku ketemu dia paling cuman 6 bulan sekali."
"Kok?"
"Kiara gak stay di Jakarta lagi, dia sama Faris tinggal di Jogja sekarang. Jadi ibu Violetta gak perlu masang banyak cctv bernyawa buat ngawasin pacar kamu ini."
"Aku gak masang cctv bernyawa buat ngawasin kamu."
"Hmm, jadi kenapa Bagas tiba-tiba minta tinggal dirumah mama? Terus kenapa Bagas bilang kalau dia disuruh anty Vio buat ngawasin om Andra?"
"Huuh, salah aku ngajak Bagas jadi sekutu." Kesal Vio.
"Bagas emang sayang sama kamu, tapi dia gak dipihak kamu kayak papa mamanya. Dan dia gak dipihak aku juga, jadi kamu gak perlu khawatir."
"Bagas?"
"Dia netral. Mau aku ceritain gak, gimana Bagas pas kamu pergi 2 tahun lalu. Terus gimana dia selalu ngejek aku kalau dia gak sengaja dia liat aku nangis."
"Kamu beneran suka nangis kalau lagi sendirian?" Kaget Vio dengan mata yang membulat sempurna.
"Hmm, iya."
"Kenapa?" Tanya Vio polos
"Karna ternyata sesakit itu Vi. Tapi aku pikir itu belum ada apa-apa deh kayaknya. Aku ngerasa sakit itu 3 tahun sedangkan kamu 10 tahun. Aku nangis karna aku mikir sakitnya jadi kamu."
"Kamu cuman pergi dari sisi aku, kamu pergi sendiri. Sedangkan aku, setelah aku ninggalin kamu, kamu ngeliat aku pergi sama cewek lain. Dan parahnya aku selalu cerita tentang mereka semua ke kamu. Aku bodoh kan ya Vi?"
"Alhamdulillah, akhirnya laki-laki ini dibukakan mata hatinya. Terima kasih ya Allah atas penyesalan yang diberikan pada Andra." Ucap Vio sambil menatap Andra.
Andra tersenyum tipis mendengar doa vio.
"Maaf, aku terlambat sadar." Ucap Andra tulus.
"Kalau kamu sadar nya cepat, mungkin aku gak ngerasa kayak gini saat ini. Gak banyak pelajaran yang aku atau kamu dapat dari hubungan kita." Ucap Vio tak kalah tulus.
"Aku pasti bakal jadi laki-laki yang paling merugi. Kalau aku kehilangan kamu lagi karna kesalahan bodoh aku."
"Dan aku bak-"
"Stop Vi, jangan dilanjut."
Vio mengendus kesal.
"Jadi, kenapa Kiara dan Faris pindah ke Jogja? Pikir jawaban yang gak nyakitin perasaan aku An."
Andra terdiam sejenak, berfikir kata apa yang pas untuk diucapkannya.
"An?"
"Ikut suami?" Jawab Andra dengan nada bertanya.
Jawaban Andra sontak membuat Vio terkejut. Dia selalu saja mendapat jawaban tak terduga jika bertanya tentang Kiara pada Andra.
"An."
"Hmm, kalau aku lanjut. Mungkin kamu akan nangis nantinya." Ucap Andra tenang.
"Gak papa." Jawab Vio cepat.
"Gak papa, gak papa. Aku yang ada apa-apa! Aku gak mau kamu nangis cuman karna ini!" Kesal Andra.
"Kamu buat aku pengen nangis karna gak mau ngasih tau setelah buat aku penasaran."
Andra menghela nafas panjang.
"Kiara udah nikah 2 tahun yang lalu. Dia dijodohin sama orang yang baik, sangat baik bahkan. Suaminya mau menerima Faris dan sayang sama Faris layaknya anak sendiri. Dan kalau gak salah sekarang Kiara lagi hamil."
Waaah. Itu kata pertama yang terlintas dibenak Vio. Bagaimana bisa ada plot twist seperti ini. Vio benar-benar tidak menyangka akan mendapat alur yang seperti. Tapi sebentar dua tahun, itu tandanya?
Vio menoleh cepat pada Andra, bertepatan saat Andra mengerem pelan mobilnya setelah parkir dengan benar diparkiran bandara.
"An." Panggil Vio takut.
"Iya Vi." Jawab Andra sambil menatap teduh kearah Vio.
"Kiara nikah 2 tahun?" Tanya Vio memastikan
"Iya." Ujar Andra singkat tanpa mengubah pandangan teduhnya pada Andra.
Lidah Vio kelu seketika, Vio takut akan kenyataan yang didapatkannya saat ini. Vio menelan ludah nya dengan susah payah. Nafasnya menjadi berat seketika.
"Jangan bilang." Ucap Vio terbata-bata sambil terus mengedipkan kedua matanya untuk menahan air matanya turun.
"Sesuai pikiran kamu." Ujar Andra sambil mengelus pipi Vio.
"Kiara datang kerumah saat itu untuk ketemu kamu, dia mau minta maaf atas apa yang terjadi antara aku dan dia. Dia juga datang untuk nganter undangan nikah dia sama suaminya sekarang."
Tes... Satu bulir air mata Vio jatuh. Satu kenyataan yang didapat Vio kembali menyakitkan hatinya. Tidak kali ini bukan Andra lah yang menyakiti nya, tetapi Vio sendiri yang menyakiti hatinya. Bahkan bukan hanya hatinya yang disakiti, tetapi juga hati Andra.
"Tuh kan aku bilang apa, kamu pasti nangis." Ucap Andra panik sambil menghapus air mata nya.
"An, maaf." Isak Vio sambil menatap sendu ke arah Andra.
Andra menggelengkan kepalanya,
"Bukan salah kamu Vi, emang udah jalan kita harus kayak gini. Udah takdir kita buat jalanin hubungan kayak gini Vi."
Bukan makin tenang, vio semakin terisak kencang. Fikirannya kembali ke saat 2 tahun yang lalu. Kesaat otak dan hatinya yang menganggap bahwa dialah yang paling tersakiti. Ternyata dia salah, bukan dia yang tersakiti tetapi dia yang menyakiti. Selama ini Vio selalu berusaha menakar apa yang terjadi kedepan. Vio pikir dia bisa menakar masa takdirnya. Tetapi ternyata Vio salah, selamanya dia tidak bisa menakar masa depan. Selamanya takdir akan menjadi rahasia.
"Udah jangan nangis, nanti make up kamu luntur loh" Bujuk Andra lembut.
"Aku jahat kan An?" Tanya Vio pada Andra.
"Enggak, kamu gak jahat. Kamu gak pernah jahat dalam sepuluh tahun aku kenal kamu. Kamu wanita paling baik yang hadir dihidup aku."
"Enggak An, aku jahat 2 tahun yang lalu. Aku salah sama kamu. Harusnya aku gak seegois itu dulu."
"Gak ada yang salah Vi. 2 tahun yang lalu, kita sama-sama gak salah. Aku gak salah begitupun juga kamu. Cuman, waktu kita gak tepat saat itu. Saat itu bukan waktu kita untuk dipersatukan."
"Aku udah bilang kan, bukan kita yang gak ditakdirkan bersama. Tapi belum takdir kita buat bersama. Jadi stop menyalahkan diri sendiri untuk kejadian yang lalu. Kita udah janji kan mau buka lembaran yang baru." Ujar Andra tak henti membujuk Vio.
"Kamu gak benci aku?" Tanya Vio polos.
"Enggak, dengan adanya kejadian itu. Aku malah makin sayang sama kamu. Dan aku semakin sayang sama kamu terus dari waktu ke waktu."
Vio semakin merengek kencang.
"Udah ya jangan nangis lagi, katanya mau lembaran baru tanpa banyak tangisan."
"Maaf."
"Kamu sebenarnya gak salah Vi. Tapi oke, aku maafin. Jadi udah bisa berhenti minta maaf kan sayang?" Ujar Andra sambil mencubit gemas hidung Vio.
Vio memandang Andra sedih sambil sesenggukan. Melihat itu, Andra membawa Vio kedalam pelukannya.
"Lupain semua kejadian udah lalu, gak ada gunanya ditangisin. Jadiin itu pelajaran dan buka lembaran baru. Oke?"
"Kamu tetap mau aku jadi istri kamu?"
"Ohh itu jelas. Itu paling penting, kamu harus jadi istri aku. Jangan ditarik lagi omongan kamu."
Vio menggelengkan kepalanya.
"Aku gak bakal narik kok. Tapi kamu gak papa kan kita LDR? Kamu gak masalah kan? Kamu bakal lihat aku aja kan? Gak lihat cewek lain kan?"
Andra tersenyum tipis mendengar penuturan Vio. Andra tidak menyangka jika Vio akan setakut itu kehilangan dirinya bahkan setelah Vio menolak ajakan Andra untuk menikah sebanyak dua kali.
"Andra." Desak Vio tak sabaran.
"Enggak Vi, aku gak masalah kalau harus LDR-an beberapa bulan sama kamu. Aku cuman akan lihat kamu sekarang, gak akan ada cewek lain diantara kita sekarang. Dan aku juga gak akan biarin ada yang berusaha masuk diantara kita." Ucap Andra lembut berusaha menenangkan ketakutan Vio.
Semua yang dikatakan Andra bentar adanya. Andra tidak akan membiarkan siapapun masuk diantaranya lagi seperti tahun dulu dan Andra tak mau jika harus kehilangan tujuannya ini untuk kesekian kalinya.
"Beneran kan? Kamu datang ke Bali 2 Minggu lagi? Kamu-"
"Iya Vio, percaya kan sama aku?"
"Enggak, kamu bukan Allah. Musrik aku percaya sama kamu."
"Vi." Tatap Andra tajam.
"Aku percaya."
"Kamu juga dibali jangan ngelirik siapapun! Kalau aku tau kamu lirik-lirikan sama dosen disana atau sama mahasiswa kamu! Aku gantung mereka hidup-hidup." Ancam Andra.
"Kamu gak perlu khawatir soal aku. Kamu cinta pertama aku dan kamu akan jadi cinta terakhir aku." Nada bangga.
"Yakin kamu?"
"Udah terbukti klinis dan praklinis an. Coba lihat lagi gimana aku sama kamu 10 tahun ini."
Begitu lah perpisahan sementara mereka kali ini. Tak ada air mata seperti sebelumnya. Mereka hanya sibuk berdebat masalah hal yang tidak terlalu penting. Tapi itu lebih baik dari pada haru berlinang air mata bukan?