Percaya Aku

2309 Words
VIO keluar dari kamar Disya dan Bram, kaki Vio langsung menuntunnya ke lift. Tapi lift terlalu lama bagi Vio, Vio ingin segera sampai dikamar Andra. Karna tidak sabar, Vio pergi menuju tangga darurat dan berlari naik kearah kamar Andra yang berada dua lantai diatas kamar Disya dan Bram. Sesampai di depan kamar Andra, dengan nafas terengah-engah Vio terus memencet bel kamar Andra dengan cepat dan tak sabaran. Vio benar-benar ingin langsung bertatapan dengan pria nya itu. Vio langsung memeluk Andra begitu pintu kamar itu terbuka. Vio memeluk Andra dengan erat, sangat erat. Seakan dia tidak ingin melepaskan Andra lagi. "Vi." Panggilnya. "Jangan pergi, aku gak mau. Kamu gak boleh pergi dari sini an." Pinta Vio sambil menangis di pelukan Andra. "Vi, gini, hmm lepas dulu boleh?" Vio mendongakkan kepalanya menatap Andra dengan mata berkaca-kaca nya. "Kenapa? Aku gak boleh peluk kamu lagi ya? Kamu gak suka aku lagi?" Tanya Vio sambil terisak. Andra menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vio. Andra menarik masuk Vio kedalam kamar nya dan menutup pintu kamarnya. Vio masih terisak dan masih enggan melepaskan pelukannya. Andra mendorong pelan tubuh Vio menjauh kemudian mendudukkan Vio dikasur king size nya. Lalu berlutut didepan Vio. "Bukan, bukan gak boleh atau bukan karna aku gak suka kamu lagi." Ujar Andra berikutnya. "Jadi kenapa?" Tanya Vio masih menangis. Andra menghapus air mata vio, seraya berkata. "Kamu gak lihat aku baru siap mandi, aku masih pake handuk. Badan aku juga masih basah. Kamu datang disaat yang kurang tepat Vi." Ujarnya lagi. Vio melihat Andra yang berlutut didepannya. Andra benar-benar masih menggunakan handuk dan badannya masih terlihat basah. Vio langsung membulatkan matanya lebar. "Andra!!!" Pekik Vio. Andra menggelengkan kepalanya melihat Vio yang kini menutup matanya seakan melihat hal yang tidak-tidak. Andra langsung berdiri, mengacak rambut Vio lalu pergi kekamar mandi untuk memakai baju. Setelah berpakaian lengkap Andra keluar dari kamar mandi dengan satu handuk untuk mengeringkan rambutnya. Vio berjalan mendekat pada Andra, kemudian memeluk Andra erat. "Vi." "Jangan pergi." Pinta Vio manja. Andra merapikan rambut Vio yang menghalangi wajah cantik Vio. "Emang aku mau kemana?" Tanya Andra lembut. Vio menggedikkan bahunya singkat. "Aku udah punya jawabannya, aku gak mau tunggu besok. Aku mau jawab sekarang aja." Ujar Vio lembut. Badan Andra menegang seketika, ada rasa takut untuk mendengar jawaban Vio saat ini tapi pelukan Vio yang semakin erat melunakkan hati Andra lagi. "Aku mau ngeringin rambut dulu ya, siap itu baru kita bicara soal itu." Ucap Andra mengulur waktu. "Sini aku keringin." Ucap Vio menarik handuk dari tangan Andra kemudian duduk ditempat tidur Andra. "Sini duduk." Ujar Vio sambil menepuk-nepuk tempat disampingnya. Mau tidak mau Andra menurut pada Vio. Vio berdiri didepan Andra, mengeringkan rambut Andra dengan telaten. Kemudian menyisirnya dengan jari-jari lentiknya. "Udah." Ucapnya bangga sesudah itu. Andra memeluk pinggang Vio dan menutup wajahnya diperut Vio. "Apa jawabannya?" Tanya Andra pelan. Vio memainkan rambut Andra. "Kamu mau aku jawab apa?" Tanya Vio. "Mau aku gak penting Vi, yang penting itu mau kamu. Aku gak mau kamu terbebani dengan mau aku nantinya." Ujar Andra lembut. "Lihat aku An." Pinta Vio. Bak anak anjing yang lucu, Andra langsung menurut saat mendengar permintaan Vio. Membuat Vio tersenyum lebar. "Hubungan kita bukan cuman ada aku aja an, ada kamu juga didalam nya. Jadi mau aku dan mau kamu itu sama pentingnya." "Kamu kayak lagi ngejelasin sama Bagas barusan. Aku gak suka." Kesal Andra. Vio menaikkan alisnya. "Kamu kenapa sensi gitu sama Bagas? Jangan bilang kamu cemburu sama Bagas?" Andra bergeming, wajahnya masih menunjukkan ketidaksukaannya pada Bagas. "Kamu beneran cemburu Bagas, An? Bagas keponakan kamu yang umur 7 tahun itu an?" Tanya Vio tidak percaya. Andra masih diam tidak menjawab dan merespon pertanyaan Vio. Bukan cemburu, Andra hanya kesal sama. Bagaimana tidak, disaat Andra tidak bisa menelpon Vio, Bagas malah hampir tiap hari menelponnya. Dan parahnya lagi, hp yang digunakan untuk menelpon Vio adalah hp pemberian Andra. Andra kesal karna dia memfasilitasi Bagas untuk menghubungi Vio disaat dia sendori tidak bisa menghubungi Vio. "Astaga An, Bagas masih 7 tahun. Beda umur aku sama dia 20 tahun an. Dia lebih cocok jadi anak aku dari pada orang yang aku suka." Cerca Vio panjang. Andra masih tidak menggubris. Vio menghela nafas panjang. "Mau mau kemana kalau aku tolak?" Tanya Vio membuka percakapan baru. "Singapore, aku udah punya beberapa plan disana." "Ini yang kamu urus dua bulan kemaren?" Tanya Vio Andra diam sesaat, kemudian andra mengangguk mengiyakan. "Kalau ternyata aku terima?" "Berarti aku gak jadi pergi. Aku akan tetap disini, dimana ada kamu." Ucap Andra santai. "Aku takut An." Ucap Vio tiba-tiba. Andra menoleh pada Vio dengan tatapan bertanya-tanya. "Aku takut untuk nerima kamu. Aku takut cuman bisa megang status itu tanpa merasakan status itu. Aku takut kalau aku harus berbagi hak atas kamu." "Aku takut kalah An, Kiara punya Faris untuk ngambil kamu sedangkan aku gak punya apa-apa buat nahan kamu. Aku udah bilang kan, aku gak sekuat itu. Aku lemah." Andra tersenyum tipis, Andra paham ketakutan Vio. Andra membawa Vio duduk disampingnya, kemudian memeluk dan menepuk-nepuk punggung Vio lembut. "Percaya aku Vi, percaya sama aku kali ini." "Coba untuk percaya sama aku sekali ini, aku janji aku gak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya. Aku gak sanggup kalau harus kehilangan kamu lagi. Aku gak bisa tanpa kamu Vi." "Saat aku minta kamu jadi istri aku, itu artinya aku udah memutuskan untuk memilih salah satu diantara kalian berdua." "Aku manusia biasa Vi aku bukan malaikat, aku gak pandai untuk bersikap adil. Jadi kalau aku ajak kamu menikah itu berarti aku memilih mempertahankan kamu dan melepaskan Faris." Vio melihat Andra kaget. "Tapi tetap aku harus bertanggung jawab atas Faris. Aku harus tunaikan kewajiban aku atas dia yaitu kebutuhan dia secara finansial. Bukan secara perhatian seperti bayangan kamu." Jelas Andra lagi. "An." "Percaya sama aku Vi, aku mohon." Kalimat itu berkali-kali tergiang difikirkan Vio. Sepertinya, kali ini Vio harus menurunkan sedikit gengsinya dan menaikkan sedikit egonya. "Seberapa yakin kamu akan tetap disisi aku walaupun ada Faris yang datang ke kamu untuk minta perhatian kamu?" Tanya Vio. "98% Vi." "Dua persennya?!" Pekik Vio tidak terima, Vio mengharapkan jawaban 100% tadinya. "Dua persen nya untuk situasi darurat." Vio mengendus kesal. "Kamu punya 98% Diri aku Vi. Faris cuman 2%. Itupun bukan tiap harinya, hanya disaat darurat." Jelas Andra. "Kenapa kamu jelasin ke aku?! Emang aku udah bilang terima apa?!" Kesal Vio. Andra terkekeh dengan reaksi Vio. "Jadi apa aku pergi aja?" Tanya Andra Vio langsung menatap Andra takut. "Jangan. Jangan pergi. Kamu disini aja." Jawab Vio lucu. "Aku gak punya alasan untuk menetap disini Vi." "Aku?" Jawab Vio sambil menunjuk dirinya. "Kamu nolak jadi istri aku. Umur aku udah 30, aku gak pengen main-main lagi. Aku capek kabur dari tujuan." Terang Andra. "Aku gak nolak kamu." Elak Vio "Jadi kamu terima ajakan aku?" Tanya Andra memastikan. "Enggak juga." Elak Vio lagi. "Vi, jangan bercanda." Sinis Andra. Vio tersenyum tipis. "Jujur, ketakutan aku akan Faris gak sekecil itu an. Ketakutan itu besar, kamu tau aku orangnya gimana. Aku sangat takut untuk ngambil keputusan sekarang." "Terus kenapa kamu gak berdiam dikamar terus mikir matang-matang? Kenapa kamu malah datang kesini?" Tanya Andra. "Karna ketakutan aku akan kehilangan kamu jauh lebih besar. Aku tau kamu, kamu gak pernah main-main sama ucapan kamu. Kalau kamu bilang, kamu pergi. Kamu memang akan pergi." "Jadi udah bisa ngasih jawaban ke aku?" Tanya Andra memastikan. Vio menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan. "Udah." Andra menatap wajah Vio dalam, hati Vio benar-benar sulit ditakar saat ini. "Apa?" Vio tersenyum sambil mengangguk pelan. "Aku terima kamu dengan masa percobaan 3 bulan." Ucap Vio mantap. Andra mengernyitkan dahinya. "Vi, sebelumnya aku mau bilang, aku ngelamar jadi suami kamu bukan jadi pegawai di resort papa kamu." Jawab Andra mengoreksi Vio. "Iya aku tau. Tapi emang kamu mau jadi pegawai papa? Papa galak loh." Jawab Vio polos. "Terus kenapa pake masa percobaan 3 bulan coba?" Tanya Andra lagi. "Aku mau lihat dan survey kamu selama 3 bulan. Kalau kamu lebih banyak ninggalin aku dari pada milih aku, aku gak mau lanjutin. Aku gak mau makan hati kedepannya. Cukup 10 tahun aku menderitanya an." Ucap Vio dengan nada sedih. "Jadi aku harus ikut masa percobaan 3 bulan dari kamu nih, baru kamu benar-benar mau aku ajak ke pelaminan?" Tanya Andra memastikan. Vio mengangguk. "Kamu mau kan?" Tanya Vio polos. "Demi kamu mau nerima aku lagi, demi kamu mau jadi istri aku dan demi supaya kamu gak lari lagi dari aku, aku terima. Aku mau ikutin kemauan kamu." Ujar Andra sambil menyentuh hidung mancung Vio. "Oke, dimulai dari besok ya." "Apanya yang dimulai dari besok?" Tanya Andra dengan alis yang menyatu. "Mulai besok, kita mulai lagi semua dari awal." Ucap Vio tenang. "Kenapa gak mulai dari sekarang?" Vio menggelengkan kepalanya, "Hari ini aku udah banyak nangis karna kamu, jadi gak boleh dihitung. Aku mau lembaran baru kita nanti tanpa banyak nangis." Andra mengelus mata Vio lembut, "Maaf mata Vio, hari ini aku banyak bikin kamu nangis." Pinta Andra pada mata Vio. "Hati aku?" "Hati kamu kenapa?" "Sakit." Ujar Vio sambil menunjukkan ekspresi sakitnya. "Mau diapain hatinya, hmm?" Tanya Andra menatap Vio dalam. "Dibahagiain?" "Dengan senang hati. Besok, aku akan belajar sama El sama Marko gimana cara membahagiakan wanita yang satu ini." Ujar Andra sambil mencubit gemas hidung Vio. "Andra hidung aku jangan dicubit terus." kesal Vio. "Biar mancung Vi." Vio mengandus kesal. "Aku udah mancung An!" "Biar lebih mancung lagi kalau gitu Vi." "Yayaya terserah kamu." Andra terkekeh melihat kekesalan Vio. "Hmm tapi An." Andra melihat Vio sambil bergumam. "Kamu beneran milih aku?" Tanya Vio serius. "Iya Vi, aku benar-benar milih kamu." "Kiara?" "Kenapa Kiara? Bukannya dari awal gak ada option buat Kiara ya? Optionnya kamu atau Faris." "Kenapa kamu gak jadi nikah sama dia 3 tahun yang lalu?" "Jujur Vi, aku udah lama banget pengen kamu nanya ini sama aku, aku udah nyiapin jawaban ini dari 3 tahun yang lalu. Tapi kamu gak pernah nanya." "Jawabannya?" "Aku sama Kiara udah sepakat untuk gak menikah. Tetapi kami berdua sepakat untuk tetap jadi orang tua buat Faris." Vio membelalakkan matanya, Vio kaget mendengar penuturan Andra. Bagaimana bisa ada plot twist seperti ini. Selama ini Vio selalu mengira jika Kiara akan memaksa untuk dinikahi dan Andra akan memaksa untuk tidak jadi menikah. "Sejak Kiara tau kamu mantan aku, dan Kiara tau gimana keluarga aku ke kamu. Dia udah tau jika akhirnya dia bukan sama aku. Dia tau kalau kamu ancaman buat dia." Vio menggelengkan kepalanya tidak mengerti. "Kalau gitu kejadiannya, kenapa kalian tetap jalan sampai 3 tahun?" "Ala bisa karena biasa. Kiara berfikiran kalau aku terbiasa sama dia, aku akan lupa sama kamu dan mulai terbiasa sama dia. Dia mengira nantinya dia akan menggantikan posisi kamu dihidup aku. Tapi sejauh mana pun hubungan aku sama dia. Dia tetap gak bisa gantiin kamu." Vio terdiam sebelum akhirnya angkat bicara lagi, "Kenapa bisa sampai sejauh itu an dan kenapa sampai ada kecelakaan?" Andra terdiam kali ini. Andra takut jika jawabannya akan membuat Vio marah padanya dan membatalkan keputusannya tadi. "An." "Kamu gak akan marah kan?" "Tergantung jawaban kamu." Andra bergumam sambil menggaruk alisnya. "Hmm, gini Vi. Hmm waktu itu kan." "Andra, aku mau jawaban serius bukan hmm hmm hmm." Kesal Vio. "Tapi Jangan marah ya Vi." "Tergantung jawaban kamu Andra!" Kesal Vio sekali lagi. "Jadi gini Vi, pas gitu-gitunya itu aku mikirnya lagi gitu nya sama kamu Vi bukan sama Kiara, jadi diakhirnya itu aku kelepasan. Makanya kecelakaan." Jawab Andra pelan. Wajah Vio memerah seketika. Bukan, bukan malu atas jawaban Andra. Tetapi, Vio marah. Itu artinya Andra berfantasi tentang dirinya saat melakukan hal itu dengan orang lain, saat dia melakukannya dengan Kiara. "Andra!!!" Pekik Vio marah. "Maaf Vi." Vio menangis dan menutup matanya dengan kedua tangannya. Andra panik seketika, benar-benar lucu jika Vio membatalkan keputusan nya hanya karna Andra menggunakan Vio sebagai fantasi liarnya. "Maaf Vi." "Berapa kali!" Tanya Vio sambil menangis. "Vi, ud-" "Berapa kali Andra." Rengek Vio. Andra menghela nafas panjang. "2 kali Vi." Vio menghentakkan kakinya sambil menangis. "Itu sama Kiara aja, sama yang lain berapa? Atau pas kamu sendiri juga berapa?" Andra menggaruk kepalanya meski tidak gatal. "Vi, udah ya ngomongin itunya. Gak usah dilanjut ya." Bujuk Andra. Tapi bukannya diam, Vio malah merengek makin kencang, sehingga mau tidak mau Andra tetap menjawabnya. "Berhubungan gitu-gituan cuma 2 kali itu. Tapi kalau sendiri jangan tanya Vi. Aku gak pernah ngitung." "Sering?" "Maaf Vi, sering." Kali ini wajah Vio memerah bukan hanya karna marah, tapi karna malu juga. Vio malu saat membayangkan Andra menggunakan dirinya untuk berfantasi selama hubungan aneh mereka terjalin itu tandanya sudah 10 tahun.  "Vi." "Jangan panggil aku! Aku malu sekarang!" "Bukan marah?" "Aku marah dan malu. Aku malu, rasanya kayak aku lagi ditelanjangi sekarang." Ujar Vio sambil menangis. Andra memeluk Vio. "Maaf ya Vi. Kamu sih bandel, aku udah bilang jangan dilanjut tadi. Tapi kamu mau tetap dilanjutin." Ujar Andra lembut. "Kamu lihat aku sekarang gimana?" Tanya Vio. "Cantik, lucu, gemesin." "Gak lagi berfantasi kan?" Tanya Vio polos. "Enggak Vi, otak aku gak semesum itu." Sinis Andra. "Tapi aku ngerasa lagi ditelanjangi sekarang." "Apa iyain aja?" "Andra!!!" "Bercanda Vi. Maaf ya, udah buat kamu ngerasa kayak gitu tadi." "An." "Iya Vi." "Ini alasan kamu gak mau pacaran sama aku?" Andra tersenyum tipis pada Vio lalu mengangguk mengiyakan. "Pergaulan aku bukan pergaulan yang baik-baik Vi. Teman aku beragam, walaupun aku gak terjerumus ke yang aneh-aneh kayak alkohol atau drugs. Tapi cara berpacaran disekitar aku aneh-aneh." "Aku udah bilang sama kamu kan, dari awal aku kenal kamu, kamu wanita baik-baik buat aku. Dan aku mau kamu jadi istri aku dari awal aku kenal kamu, jadi lebih baik kita putus dengan aku ngejaga kamu. Aku mau saat aku dapat kamu seutuhnya nanti, masih dalam keadaan baik." "Gimana kalau seandainya waktu itu pergaulan aku salah. Terus aku ngalamin yang Kiara alamin. Ter-" "Aku gak suka mikir seandainya yang udah lewat dan gak akan terjadi Vi." "Seandainya itu terjadi." "Aku akan tetap terima kamu. Karna yang aku butuhkan itu kamu, bukan title baik-baik kamu." "Tapi, tetap aja vi. Kamu masih wanita baik-baik sekarang. Itu artinya aku berhasilkan jaga kamu." Ujar Andra bangga. "Iya kamu berhasil. Berhasil nyakitin!!"    “Tutup lembaran lama, lupakan semua kenangan buruk diantara kita. Dan mari mulai lembaran dan ciptakan kenangan indah bersama.” •••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD