Fakta Baru

1436 Words
“Kufikir hanya aku sendirilah yang terluka dari hubungan ini. Tapi ternyata aku salah, ada kamu yang juga terluka disini.” ••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••• ENTAH sudah berapa kali Vio mondar-mandir dikamar Disya dan Bram. Vio mendatangi kamar Disya tepat 30 menit setelah keduanya masuk kedalam kamar pengantin mereka. Kebetulan pernikahan Disya dilaksanakan dihotel yang sama di tempat Vio menginap, dan kamar ini tepat 2 lantai dibawah kamar vio. "Vi, Lo mau mondar-mandir berapa kali ha? Udah tadi sore ngilang gitu aja. Sekarang mondar-mandir gak jelas." Omel Disya. "Vi, Lo tau kan gua sama Disya baru nikah. Kit-" "Ini lebih urgent Bram. Lebih penting dari malam pertama Lo. Lo masih bisa malam pertama besok. Tapi gua kayaknya gak bisa bertahan hidup sampai besok." Cerca Vio panjang lebar. "Aku bukan mau ngomong itu padahal." Bisik Bram pada Disya. "Lo kenapa Vi? Kenapa Lo gak bisa bertahan hidup sampai besok? Lo gak lagi frustasi kan?" Tanya Disya beruntun. "Kalau gua lompat dari situ mati gak ya dis?" Tanya Vio sambil menunjuk jendela. Disya dan Bram terkejut saat mendengar perkataan Vio. "Vio!" Pekik Disya. Vio kembali mondar-mandir sambil menggigiti kuku nya dengan wajah cemasnya. "Vi, Lo kenapa? Coba cerita sama gua." "Bunda pengen gua nikah, dan katanya dia mau jodohin gua kalau gak belum punya calon suami sampai tahun depan." Ucap Vio frustasi. "Sama siapa?" Tanya Disya. "Gak tau." Ucap Vio kalang kabut. "Jadi, kenapa Lo kalang kabut kayak gini kan masih ada beberapa bulan lagi Vi?" Tanya Disya lagi. Vio diam memikirkan kata apa yang harus diucapkan nya untuk menjawab pertanyaan Disya. "Jangan bilang Lo masih nunggu Andra, Vio!!" Vio menggelengkan kepalanya sambil mondar-mandir gak jelas seperti sebelumnya. "Jadi apa vio!" Desak Disya. Vio berhenti tepat didepan Disya, menatap mata Disya dengan tatapan penuh makna. Ingatan tentang obrolannya dengan Andra tadi siang kembali terulang di otak nya. ••••• -Flashback- "Aku akan buat kamu jadi satu-satunya istri aku,  satu-satunya yang dapat perhatian dari aku. Dan aku akan pastiin kamu akan merasa melengkapi dan dilengkapi." Ujar Andra dengan nada yang sangat lembut. "Kali ini, untuk yang ketiga kalinya.  Please Vi, jadi istri aku ya. Aku benar-benar mau kamu jadi satu-satunya istri aku." Pinta Andra tulus. "An, kam-" "Ini yang terakhir Vi, ini yang ketiga kalinya aku ngajak kamu nikah dan ini akan jadi kesempatan terakhir aku untuk ngajak nikah kamu." Ucap Andra memotong ucapan Vio. Vio memandang Andra penuh tanya. "Pertama kalinya aku ngajak kamu nikah 3 tahun lalu. Sesaat sebelum aku pergi kerumah Kiara.-" "Kiara? Kalau Andra ngajak aku nikah, Kiara gimana? Faris gimana?" Batin Vio. "Dan hari itu juga kamu ninggalin aku. Kamu pergi gitu aja tanpa pamit. Itu bukan yang pertama di hubungan kita, tapi itu menyakitkan buat aku." Vio masih diam saat mendengar pernyataan Andra. Otak Vio masih berfikir tentang Kiara dan Faris. "Yang kedua, aku ajak kamu nikah 2 tahun lalu. Aku sangat serius sama kau detik itu. Tapi-" Andra menggantung kalimatnya. Kini suaranya berubah menjadi serak, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi, kamu pergi besoknya. Kamu pamit pergi sama aku untuk pergi jauh. Itu yang lebih menyakitkan buat aku Vi. Kepergian kamu kali itu sangat menyakitkan buat aku." Sambung Andra. "Aku gak akan memaksa kamu, apapun jawaban kamu aku terima. Entah itu kamu terima atau enggak aku terima. Tapi tolong, jangan kabur lagi. Jangan memperparah sakit aku." Pintanya tulus. "Tolong jangan kabur kali ini. Biar aku aja yang pergi dari hidup kamu, jangan kamu yang pergi. Biar aku aja Vi. Kamu tetap disini dan jalanin hidup kamu seperti biasa. Jangan pernah pergi lagi." "Ngeliat kamu pergi sambil nangis ngelukain hati aku Vi. Jadi jangan lakuin itu kali ini, kalau kamu menolak aku, cukup tolak aku. Jangan ada air mata, jangan ada kepergian lagi." Andra bicara sambil menangis. Ternyata ucapan Bagas benar, om Andra nya lebih mudah nangis sekarang. Melihat Andra menangis, hati Vio ikut sedih. Air matanya mulai keluar dengan derasnya, sepertinya mata Vio sudah berubah menjadi sumber mata air dalam beberapa detik. "An." Andra tidak menjawab, Andra menghapus air mata dipipi lembut Vio. "Jangan ada air mata Vi. Kamu boleh tolak aku, tapi mohon jangan ada air mata. Hati aku hancur lihatnya." Vio menggelengkan kepalanya. "Air matanya gak mau berhenti." Rengek Vio lucu membuat Andra tersenyum. "Jangan mengalihkan pembicaraan Vio. Udah dua kali kamu tolak aku dengan cara kabur. Kali ini aku mau dengan kata-kata, bisa kan?" Tanya Andra tegar. "An." "Kamu gak perlu jawab sekarang Vi. Aku mau kamu fikirin dulu semuanya dengan matang. Ingat, apapun jawaban kamu aku terima. Asal itu semua karna kemauan kamu." Ujar Andra lagi.  Vio hanya menatap Andra sambil mengedipkan matanya. "Aku tunggu jawabnya besok siang, bisa kan? Besok sebelum makan siang, jam 11. Aku tunggu kamu  dikolam renang hotel." Pinta Andra Vio masih bergeming. Vio sama sekali tidak menjawab dan memberi respon. "Satu lagi, minta nomor bunda atau papa. Aku mau ajak makan siang besok." Mata Vio membelalak dengan sempurna. "An!" Andra tersenyum tipis. "Kamu spoiler jawaban Vi." Ujar Andra santai sambil mencubit hidung Vio lembut. "Aku cuman pengen makan siang bareng kok. Udah lama banget gak ketemu bunda sama papa, udah berapa lama ya." "Lima tahun!" "Hmm? Serius lima tahun?" Tanya Andra kaget. "Kamu ketemu mereka pas aku wisuda S1 an!" Jelas Vio. "Dasar sok tau." "Ihh beneran An!" Andra memberikan hpnya pada Vio. "Iya terserah kamu, aku ikut. Sekarang kasih nomor kamu, bunda atau gak Papa." Ujar Andra. Vio mengambil hp Andra. Baru saja Vio mengetik 08 dilayar hp Andra, Andra kembali bicara. "Nomor papa sama bunda aja." "Hmm?" "Nomor kamu gak usah." Vio melihat Andra bingung. "Jadi kalau kamu nolak aku besok, kamu gak perlu ganti nomor karna aku tau nomor kamu." Ucap Andra santai dan berusaha sak tegar. "An-" "Buruan itu diketik nomornya." Perintah Andra pada Vio. Vio tidak mengikuti ucapan Andra, Vio tetap menatap andra. "Kamu mau aku nolak kamu lagi?" Tanya Vio yang  masih konsisten menatap Andra. Andra tersenyum tipis dan menatap Vio lembut. "Dua kali Vi, setiap aku ngajak kamu nikah kamu selalu kabur. Pergi kamu selalu menyakitkan buat aku. Jadi aku gak mau berharap kali ini. Aku udah menyiapkan hati kalau besok kamu tolak aku lagi." Ujar Andra lembut. Deg!! Vio meneguk ludah nya dengan susah payah. Satu fakta yang didapatnya hari ini. Dalam sepuluh tahun hubungan nya dengan Andra. Vio selalu berfikir bahwa hanya dirinya sendirilah yang terluka. Ternyata Vio salah, bukan hanya dia sendiri yang terluka. Ada Andra, ada Andra yang juga terluka dihubungan ini. Cubitan lembut dihidung Vio berhasil membawa nya kembali pada kenyataan. Vio berdehem pelan lalu menuliskan nomor bunda dan papanya di hp Andra. Kemudian Vio mengembalikan hp tersebut pada pemiliknya. -Flashoff- ••••• "Vio!" Pekik Disya sambil melempar bantal gulingnya. Vio kembali tertarik dari kenyataan. "Lo gak kesurupan kan?" Tanya Disya setelah melihat pergerakan dari Vio. "Enggak." "Jadi apa vio? Kenapa Lo uring-uringan bahkan sebelum Lo tau siapa orang yang dijodohin sama Lo!" Tanya Disya mengulang pertanyaan nya. Vio menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. "Andra ngajak gua nikah tadi sore." "Lagi?" Tanya Disya. "Iya, dan ini untuk yang terakhir kalinya dia ngajak gua nikah. Dia gak memaksa untuk gua menerima dia, dan dia terima apapun pilihan dan keputusan gua." "Jadi Lo uring-uringan karna bingung mau ngasih jawaban apa?" "Dia minta gua untuk gak kabur kali ini, dia mau jawaban kata-kata, mau atau tidak. Kalau gua pilih tidak dia mau gua gak kabur lagi, katanya biar dia aja yang pergi dari hidup gua." Jelas Vio panjang lebar. "Hmm pantesan." Ucap Bram tiba-tiba. "Pantesan apa?" Tanya Disya. "Gak ada." Elak Bram. "Bram!" Panggil Vio sambil menatap tajam Bram. "Gak ada Vi." "Bram!!" Bram menghela nafas panjang. "Jadi gini, gua kan pernah tinggal di Singapore nih." "Gua gak nanya itu Bram!" Tanya Vio kesal. "Sejalan Vio, jadi Andra pernah nanya gua. Gimana rasanya tinggal lama di Singapore. Dan dia nanya kalau mau tinggal disana dalam waktu lama worth it atau enggak. Katanya dia mau pindah kesana kalau semuanya udah beres." Jelas Bram. Vio berusaha mencari suara nya. Entah mengapa rasanya susah sekali baginya untuk bersuara kali ini. "Vi." Panggil Disya. "Bram, gua minta nomor telepon Andra." "Andra disini, dihotel ini. Dia tau Lo ke Jakarta dan selama Lo dijakarta dia ngawasin Lo dari dekat. Dia sengaja tinggal disini, supaya bisa lihat Lo." Vio melihat Bram menyeledik. "Dia dikamar seberang kamar Lo." Ucap Bram lagi. Vio hendak keluar dari kamar Disya dan Bram. Namun tangannya ditahan oleh Bram. Vio menoleh pada Bram dan mempertanyakan kenapa? "Vi, gua gak ada hak ikut campur urusan Lo berdua. Ini hubungan kalian, kalian lah yang lebih tau. Tapi gua mau Lo tau, bukan hanya Lo yang terluka disini. Andra juga terluka dalam hubungan kalian ini. Jadi, gua harap kalian berhenti saling menyakiti satu sama lain. Pikirin lagi semuanya matang-matang." Ya, vio sadar itu hari ini. Dalam hubungannya dengan Andra, bukan hanya dia yang terluka dan tersiksa. Andra juga mengalami hal yang sama. Mereka sama-sama menyakiti hati mereka satu sama lain.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD