Akhir Penantian

1895 Words
“Belum, aku belum mempercayai mu. Aku hanya mencoba menerka-nerka apa pilihan ku sudah benar atau pilihan ku salah." ••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••• SEPERTI janjinya dengan Disya saat Disya mengantar undangan pernikahannya sebulan lalu kerumah Vio. Saat ini Vio sudah berada dijakarta, tepatnya dihotel yang sama saat Vio menginap 2 bulan yang lalu. Vio sangat malas untuk pergi keapartment miliknya atau rumah papanya, karna kedua tempat itu lumayan jauh dari rumah Disya. Dan Vio juga malas jika harus menginap dirumah Disya, karna sudah dipastikan jika disana sangat ramai oleh keluarga Disya. Saat ini Vio sedang menikmati secangkir teh di balkon hotelnya. Raga Vio memang berada disini tapi fikirannya sedang melalang buana entah kemana. Pandangannya menatap jauh ke langit. Sampai akhirnya dering telpon menariknya kembali ke kenyataan, tertera nama Disya disitu. "Vio Lo dimana! Kenapa gak jadi nginep dirumah gua coba! Gua kan udah nyiapin kamar buat Lo!" Teriak Disya begitu Vio mengangkat telponnya. "Gua dihotel yang kemaren dis. Gua nginap disini aja, papa udah pesan buat seminggu. Gua gak enak disana pasti banyak keluarga Lo. Lo kan ta sendiri gua gak bisa tidur bareng orang lain." Bela Vio "Oke alibi Lo gua terima, tapi kenapa Lo belum datang juga. Pengajian gua udah mau mulai vio!" "Disya, pengajian Lo masih 3 jam lagi. Gak usah lebay deh." "Jalan dari hotel itu kerumah gua hampir satu jam kalau macet Vio, belum Lo siap-siapnya lagi. Yang ada nanti Lo telat." "Masalah nya apa? Kan bukan gua yang mau nikah, jadi gpp datang telat pengajian nya. Gua kesana cuman mau numpang makan." "Kesini sekarang! Gua gak mau tau, sejam lagi Lo harus udah disini vio!" Geram Disya kemudian mematikan telponnya. Setelahnya dengan segenap jiwa dan raga Vio berjuang melawan rasa malas nya untuk bersiap-siap ke rumah Disya. ••••• Hari ini adalah hari pernikahan Disya dan Bram, dan menjadi hari dimana dia akan bertemu lagi dengan Andra dan juga keluarga Andra. Bagaimana pun Bram adalah keluarga nya, pasti mereka akan ada disana. "Kenapa muka Lo tegang gitu Vi, perasaan yang mau nikah gua deh." Tanya Disya sambil mengamati wajah Vio. "Gua takut ketemu keluarga Andra, dan gua sangat takut kalau harus ketemu Andra hari ini." Jujur Vio. "Santai aja kali Vi, kalau ketemu sapa kalau gak ketemu bersyukur." Saran Disya. "Kalau gua pura-pura sakit perut terus balik ke kamar gua Lo marah gak?" Tanya Vio polos. Disya menatap tajam teman semata wayangnya ini. Bagaimana bisa Vio si manusia dewasa muda berumur 27 tahun punya otak yang murni layaknya anak berumur 5 tahun.  "Vi, pernah ngerasain kena H2SO4 pekat gak Vi? Kalau gak pernah, biar gua realisasikan." "Pernah, rok gua sampai bolong waktu itu. Padahal kan dis cuman setetes kenanya, tapi setetes itu bisa ngerusak rok gua, mana roknya mahal lagi gua beli waktu itu. Sedih gua ngingatnya dis."  Curhat Vio yang menambah kekesalan Disya. Harusnya Disya ingat kalau Vio udah merasakan asam manisnya laboratorium. "Sabar Disya bentar lagi Lo mau nikah. Gak usah perdulikan manusia kayak Vio. Tenang diysa tenang, sabar." Ujar Disya pada dirinya sendiri, vio hanya menatap bingung Disya. ••••• Bram sudah menyebutkan ijab kabul nya, dan kini Disya sudah resmi menjadi istri Bram. Bukannya merasa senang, Vio malah terlihat gelisah. Ya Andra masih lah menjadi ketakutannya saat ini. "Tenang Vio, kalau ketemu sapa. Tapi kalau bisa hindari pertemuan." Ujar Vio menenangkan diri. Baru saja menenangkan diri, Vio sudah dihadapkan dengan Andra. Andra tiba-tiba muncul dihadapannya. Bukan, Andra bukan sengaja datang untuk Vio. Pertemuan ini benar-benar tidak disengaja. Saat ini Vio sedang berusaha terlihat biasa saja. Vio baru saja hendak pergi tanpa menghiraukan Andra. Tapi Andra menahan tangannya. "Bisa bicara sebentar?" Tanya Andra canggung. "Kenapa lagi An?" Tanya Vio malas. Entahlah hatinya hanya merasa malas dan jenuh jika harus mendengar janji dari Andra lagi. "Aku-" "An, aku penasaran. Sangat penasaran." Potong Vio cepat. "Penasaran apa?" Tanya Andra. Vio menghadap ke arah Andra, menatap lekat laki-laki pujaannya itu. "Apa pernah sedetik aja aku berharga dimata kamu?" Tanya Vio tenang. "Vi, kam-" "Apa pernah sedetik aja kamu takut kehilangan aku?" Potong Vio lagi. "Vi, deng-" "Apa pernah sedetik aja kamu merasa menyesal atas apa yang kamu lakuin ke aku selama ini?" Sambung Vio tanpa memberi ruang Andra berbicara. Andra menyerah, Vio benar-benar sedang tidak ingin mendengarkan nya. Saat ini vio hanya ingin jawaban jujur, bukan kalimat penenang yang biasa dilontarkan Andra. "Apa aku harus pergi ketempat jauh An? Apa aku harus pergi ketempat yang gak bisa kamu jangkau baru kamu akan ngerasa benar-benar bersalah dan menyesal?" Tanya Vio lagi. Tidak ada air mata kali ini. Bukan karna Vio tidak sedih atau sudah melupakan Andra. Mungkin karna kini stok air matanya sudah habis. Hening, tidak ada jawaban dari Andra. Vio menghela nafas panjang. "Gak ada jawaban? An, aku kenal kamu udah 10 tahun. Selama 10 tahun ini aku gak tau udah berapa kali aku pamit sama kamu. Tapi kali ini kayaknya aku benar-benar harus pamit." "Vi." "Aku akan terima perjodohan yang bunda atur." Ucap Vio tenang. Sebulan yang lalu setelah Disya pulang, bunda menanyakan kapan Vio akan menyusul Diysa. 27 bukan umur yang muda lagi. Di Indonesia, sedikit tabu jika seorang anak perempuan yang belum menikah diumur mendekati 30an. "Vi." "Bulan ini udah sepuluh tahun aku nunggu kamu. Aku fikir kayaknya udah saatnya untuk aku benar-benar mengakhiri semua. Penantian aku akan kamu adalah penantian tak berujung. Kalau aku ikuti ego aku untuk terus nunggu kamu. Selamanya aku akan berdiri disini sendiri, karna aku gak akan pernah sampai untuk berdiri disamping kamu." Andra hanya mendengarkan tanpa menimpali ucapan Vio. Membuat Vio tersenyum tipis, beranggapan bahwa Andra menyetujui permintaannya. Dan ini benar-benar akhir baginya. Vio mendekat pada Andra, memeluk Andra tanpa meminta izin seperti biasanya. Seraya berkata, "An, makasih. Makasih untuk 10 tahunnya, aku senang bisa kenal kamu. Makasih udah ngajarin aku banyak hal dari hubungan kita. Makasih udah pernah hadir dihidup aku. Kamu tangis yang aku sukai selama 10 tahun ini." Ucap Vio tulus. "Maaf Vi, maaf karna 10 tahun ini aku jadi tangis bukan jadi tawa buat kamu. Maaf karna aku terus berjalan menjauh disaat kamu berusaha untuk mendekat. Dan maaf aku gak bisa melepaskan kamu kali ini." Ucap Andra jujur Pernyataan yang keluar dari mulut Andra membuat Vio membelalakkan matanya kaget. "Apa kamu gak ngizinin aku pergi An? Tapi kenapa? Kenapa kamu harus nahan aku, tapi kamu gak pernah ngasih kepastian akan kita." Batin Vio. "Selama 10 tahun ini aku udah ngelepasin kamu berkali-kali Vi, tapi enggak kali ini. Kali ini aku gak akan bodoh lagi. Aku gak akan pernah ngelepasin kamu lagi." Jelas Andra lagi. Vio mendongakkan kepalanya menatap Andra. Andra tersenyum saat mata Vio berada dititik yang sama dengan matanya. "Kenapa An? Kenapa kamu harus nahan aku untuk tetap disini, tapi kamu pergi menjauh dari aku?" Tanya Vio sambil menatap Andra. Andra hanya diam, dia tau jika Vio bertanya bukan untuk mendapatkan jawaban. Tapi bertanya untuk mengurangi beban berat yang tertumpuk dihatinya. "Kenapa kamu nahan aku disini kamu tanpa kamu ngasih kejelasan. Kamu selalu nempatin aku ditempat yang menyakitkan buat aku?" Tanya Vio lagi dengan air mata. Entah dari mana dia mencari air matanya, kali ini manik coklat itu mengeluarkan air  untuk Andra lagi dan lagi. "Maaf aku selalu menempatkan kamu ditempat yang menyakitkan. Maaf aku selalu aja mengulangi kesalahan aku lagi dan lagi. Maaf aku selalu mengulang kedalam setelah aku minta maaf. Maaf atas segala kebodohan aku Vi." Pinta Andra tulus. Vio menutup wajah cantiknya didada Andra. Vio tidak perduli lagi dengan make up nya yang akan luntur. Vio tidak perduli lagi dengan acara pernikahan Disya yang belum selesai. Dia hanya ingin menangis, menangisi kebodohannya kali ini. "Vi, kali ini aku gak mau membual tentang bagaimana perasaan aku ke kamu, karna aku yakin kamu udah tau semua perasaan itu masih sama dan gak pernah berubah. Aku juga gak mau membual bagaimana aku tanpa kamu, karna kamu udah tau semuanya terasa menyakitkan buat aku. Kali ini aku cuman mau minta maaf sama kamu." "Maaf karna kamu terlalu banyak membual janji dan gak bisa nepatin?" Tanya Vio disela tangisannya. Andra terkekeh mendengar Vio. "Itu salah satunya." Jujur Andra. Mendengar itu Vio kembali menangis kencang. Andra mendorong tubuh Vio pelan dan menatap wajah cantik Vio sambil tersenyum. "Tahun ini kamu 27 tahun kan?" Vio menganggukkan kepalanya. Andra mengeluarkan hp dan memberikannya pada Vio. "Aku minta nomor kamu, boleh?" Tanya Andra lembut. "Buat apa?" "Mau nanya alamat rumah." Jawab Andra singkat. Vio menatap Andra kaget. "Aku gak mau datang, aku gak bisa datang, aku sibuk. Aku udah ambil cuti buat nikahan Disya. Jadi gak usah kirim undangan apapun." Lanjutnya. Andra semakin terkekeh mendengar celotehan dan ekspresi kaget Vio. "Aku gak mau ngirim undangan apapun Vio." Jawab Andra Sambil tertawa. "Kamu bukan mau ngirim undangan nikah?" Tanya Vio lagi. "Mau, tapi bukan itu alasan aku minta alamat rumah kali ini." Jawab Andra santai "Jadi buat apa?" "Buat nepatin semua janji yang aku ke kasih kamu selama ini. Aku udah capek membual ini itu sama kamu, jadi aku fikir udah waktunya buat nepatin satu persatu." Ujar Andra pelan tapi ada kepastian didalamnya. Vio menatap manik coklat milik Andra. Tidak satupun kebohongan yang terdeteksi didalamnya, membuat Vio semakin kebingungan. "Aku lagi gak mau nyubit pipi kamu Vi, jadi jangan coba-coba mikir ini mimpi apa enggak." Tegas Andra. Vio hanya mengedipkan matanya tanpa menimpali. "Kamu gak lagi mimpi, aku minta alamat rumah karna aku mau minta izin sama bunda dan papa kamu untuk menjadikan kamu istri aku." Vio masih diam tidak menjawab. "Aku gak membual kali ini. Maaf karna aku terlalu lama untuk datang ke kamu. Dua bulan ini, aku ada urusan yang penting. Jadi aku gak bisa menghubungi kamu, lagian aku gak punya nomor kamu." "Kamu bisa minta nomor aku sama Tante Aliya atau gak papa kamu, atau kak el, kak Marko, kak putri atau kak Nia, atau Bagas juga bisa! Kamu memang gak mau ngehubungi aku!" Ujar Vio tiba-tiba penuh amarah. Ini adalah hal yang ingin dikeluarkannya sejak tadi. Bukannya takut, Andra semakin terkekeh. "Kamu nungguin aku hubungin?" Goda Andra. "Enggak! Ngapain juga!" "Tapi bentar, Bagas punya nomor kamu?" "Punya, Bagas nelpon aku setiap mau kesekolah atau mau kemana pun." Ujar Vio sambil senyum. "Jadi itu tujuan dia minta beliin hp." "Kamu yang beliin hpnya kan?" Andra mengangguk pelan. "Dia minta itu buat hadiah ulang tahun, dengan alasan semua temannya udah punya." Curhat Andra. "Makasih udah beliin Bagas hp, aku jadi bisa sering telponan sama Bagas tanpa ganggu kak putri." Ujar Vio tulus. Andra melihat wajah Vio, tidak ada air mata setiap dia membahas Bagas. Bagas dan Vio memang sangat dekat. Kemudian Andra tersenyum tipis. "Apa aku bisa buat kamu senyum kayak gini kedepannya Vi?" Tanya Andra tiba-tiba. Vio memasang ekspresi datarnya lagi. "Enggak, kamu cuman bisa buat aku nangis, nangis dan nangis." "Kala gitu aku mau buat kamu nangis lagi, lagi dan lagi kedepannya." Ujar Andra mengikuti nada bicara Vio. "Tapi bukan nangis sedih kayak biasnya, aku mau kamu nangis karna senang kedepannya." Ujar andra saat mendapat tatapan tajam Vio. Vio mengendus kesal. "Nomornya?" "Bunda sama papa lagi disini kok. Kalau kamu emang beneran, bukan cuman bualan. Silahkan temuin papa dan bunda." Tantang Vio. "Hmm. Yaudah, Telpon bunda. Ajak buat makan malam bareng atau gak lunch besok." Ucap Andra santai. "An." Tegur Vio. "Aku serius, aku mau kamu berhenti disini. Udahin penantian panjang kamu, karna kamu udah sampai di tujuan kamu." Jelas Andra sambil merapikan anak rambut Vio. "Ak-" "Aku akan buat kamu jadi satu-satunya istri aku,  satu-satunya yang dapat perhatian dari aku. Dan aku akan pastiin kamu akan merasa melengkapi dan dilengkapi." Ujar Andra dengan nada yang sangat lembut. "Kali ini, untuk yang ketiga kalinya.  Please Vi, jadi istri aku ya. Aku benar-benar mau kamu jadi satu-satunya istri aku." Pinta Andra tulus. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD